
Jacob Oetama adalah pewaris tunggal dari group Sanhai. Salah satu perusahaan yang hampir menguasai seluruh pasar Asia.
Jacob tinggal bersama kakeknya, satu-satunya keluarga yang ia punya. Ayah dan Ibunya telah tiada sejak Jacob berusia sembilan tahun akibat kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya.
Sejak saat itu Jacop tumbuh menjadi laki-laki yang pendiam dan penyendiri. Jacob di didik dan dilatih menjadi pengusaha muda untuk mewarisi perusahaan milik keluarganya.
Jacob tak pernah merasakan bangku sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Ia selalu mendapat pendidikan dengan home schooling ditambah dengan pembelajaran bisnis.
Ana adalah teman masa kecil sekaligus teman satu-satunya bagi Jacob selain Reno asisten sekaligus sekretarisnya yang sering mengikutinya kemana-mana.
Saat sudah dewasa Jacob dan Ana menjadi sepasang kekasih. Ana bekerja menjadi seorang artis yang cukup terkenal. Saat ini Ana sering sibuk dengan tuntutan kerja yang semakin besar karena namanya yang sedang naik daun.
Hal itu membuat Jacob bersedih karena kehilangan sosok teman yang selama ini selalu menemaninya. Jacob berfikir jika ia melamar Ana mungkin keadaan bisa berubah seperti dulu. Ana bisa berhenti dengan kesibukan kerjanya dan menghabiskan waktu utuk keluarga barunya.
Sebuah angan-angan yang sudah direncanakan Jacob agar bisa hidup bahagia dengan gadis yang selalu ada untuknya itu. Demi mewujudkan keinginannya, Jacob sudah mempersiapkan sebuah lamaran yang romantis yang ia persiapkan sendiri khusus untuk Ana.
Kali ini Jacob bahkan tidak melibatkan Reno untuk membantunya. Jacob pergi sendiri ke pulau Bali dengan keyakinan Ana akan menerima lamarannya.
Setiba di pulau Bali, Jacob memesan kamar yang ternyata berada di seberang kamar milik Salisa. Entah mendapat sial dari mana namun hari itu merupakan hari yang tak pernah Jacob bayangkan seperti harapannya.
Saat Jacob memastikan cincin yang ia siapkan berada dalam kotak dan tidak terjadi apa-apa terhadapnya justru disitulah kemalangan mulai muncul. Dua orang anak kecil sedang berlarian kesana-kemari dan tak senganya menabrak Jacob yang sedang memegang cincin ditangannya.
Tanpa sengaja hal itu membuat cincin terlepas dari tangannya dan terjatuh tepat di atas kue yang saat itu sedang disantap Salisa.
"Astaga ada apa lagi sekarang. Nona kenapa kamu mengunciku di dalam sini?" Jacob berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja. Tadi saya hanya kaget karena tuan tiba-tiba memeluk saya."
Mendengar hal itu Jacob menjadi mengingat kembali adegan beberapa menit yang lalu. "Benar juga, kenapa tadi aku tiba-tiba memeluknya." Gumam Jacob dalam hati.
"Maafkan saya nona. Semua itu salah paham, tadi saya hanya merasa simpati dan kasian kepadamu. Selama ini saya belum pernah melihat seorang gadis menangis dihadapanku secara langsung seperti itu. Saya hanya bingung harus berbuat apa agar nona berhenti menangis."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Jacob membuat Salisa tersenyum kecut. Dengan perlahan Salisa membuka kembali pintu kamar mandi dan mendongakan kepalanya kedalam.
Didalam kamar mandi Jacob terlihat kebingungan. Namun hal itu membuat Salisa merasa terhibur dengan tingkah konyol laki-laki itu.
Suasana berubah menjadi kikuk diantara keduanya. Mereka tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini. Jacob masih berdiri mematung di dalam kamar mandi. Begitu pula dengan Salisa.
Salisa akhirnya tersadar jika saat ini ada seorang laki-laki asing sedang berada di kamarnya.
"Maaf tuan, bisakah tuan keluar dari kamar saya sekarang. Sepertinya tidak baik jika kita berada dalam satu kamar seperti ini."
"Ah benar juga." Dengan gugup Jacob segera keluar dari kamar itu. Salisa juga ikut mengantarnya sampai di depan pintu.
"Sekali lagi maafkan saya tuan. Saya pasti akan mencari cara untuk melepas cincin ini dan mengembalikannya kepada tuan."
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku juga akan mencari cara untuk mendapatkan kembali cincin itu sebelum esok hari. Ana pasti akan kecewa jika tau cincinya dipakai orang lain."
"Saya mengerti tuan." Salisa berjanji dalam hatinya untuk segera mengembalikan barang yang seharusya dipakai orang lain itu.
Jacob kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Salisa. Didalam kamar, Salisa segera merebahkan dirinya diatas kasur dan memejamkan mata untuk rehat sejenak setelah mengalami kejadian yang cukup menguras tenaga dan pikirannya.
"Ah benar juga. Aku bahkan belum mempersiapkan bahan-bahan untuk meeting nanti malam. Sebaiknya aku bergegas."
Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, Salisa segera beranjak dan mulai melakukan berbagai hal berhubungan dengan tujuan awal ia datang ke Bali.
Kini malam telah larut. Selesai meeting dengan klien. Salisa kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas sofa dan menyeduh secangkir kopi kesukaannya. Salisa memeriknya ponselnya dan tersadar jika seharian ini ia tidak bertemu dengan Johan kekasihnya. Salisa bahkan tidak tau apa yang dilakukan laki-laki itu. Johan juga tidak memberinya kabar walau hanya dengan mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Apa yang sebenarnya dilakukan Johan seharian ini?" Salisa hendak pergi menjumpai Johan dan pergi ke kamarnya. Namun hal itu Salisa urungkan karena mengingat waktu sudah cukup larut.
Salisa kembali mengamati cincin yang masih melingkar di jari manisnya dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil bersandar pada sandaran sofa. Salisa menghela nafas berulang kali. "Apa yang harus aku lakukan untuk bisa melepas cincin ini?" Pertanyaan yang sedari tadi menjadi prioritas dan menghantui pikirannya.
Karena begitu lelah, akhirnya Salisa memutuskan untuk tidur dan berharap semua masalahnya bisa terpecahkan esok hari.
__ADS_1
Deburan suara ombak dan cahaya matahari yang menerobos dari sela-sela jendela membuat Salisa terbangun dari tidurnya. Pagi itu salisa harus berkunjung ke beberapa tempat untuk survey langsung proses produksi perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan ayahnya. Namun ia juga mempunyai beban tersendiri untuk bisa mengembalikan cincin milik pria asing yang bahkan belum ia ketahui namanya itu.
Setelah selesai bersiap-siap. Salisa segera keluar dari kamarnya. Di depan pintu Salisa berpapasan dengan Jacob yang juga baru saja keluar dari kamarnya yang berada di seberang kamarnya.
"Selamat pagi nona. Apa yang ingin kamu lakukan hari ini? Apakah nona sudah berhasil melepas cincin saya?"
"Eh, selamat pagi juga tuan. Maaf sekali saya belum bisa mengembalikan cincin tuan. Masalahnya hari ini saya harus melakukan perjalanan bisnis ke beberapa tempat yang sudah dijadwalkan. Setelah selesai nanti saya pasti akan segera kembali ke hotel dan menemui anda lagi."
"Jam berapa nona selesai bekerja?"
Jacob bertanya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Belum tau tuan. Mungkin akan sampai sore, karena saya harus ke beberapa tempat sekaligus dan ada beberapa yang saya belum ketahui keberadaannya."
Mendengar hal itu Jacob terlihat semakin panik. "Saya akan ikut dengan nona dan mengantar nona ke tempat itu."
"A apa? Apa maksud tuan?" Salisa sedikit ragu dengan ucapan yang baru saja ia dengar.
"Jangan salah paham nona. Saya hanya ingin membuat waktu hari ini lebih efisien. Bukankah tadi nona bilang ada beberapa tempat yang belum nona ketahui. Saya cukup familiar dengan kota ini, mungkin saya bisa membantu. Apalagi nona seorang perempuan, pasti akan lama jika harus menyetir sendiri di lingkungan yang asing."
"Tapi."
"Jangan salah paham lagi nona. Saya hanya ingin cincin saya cepat kembali. Saya sudah merencanakan untuk melamar pacar saya nanti malam. Jadi cincin itu harus kembali pada saya secepatnya. Dengan saya membantu nona kali ini tentu akan semakin menghemat waktu yang dibutuhkan."
"Baiklah kalau begitu." Salisa tidak bisa menolak permintaan itu. Lagi pula jika dipikirkan hal itu cukup masuk akal. Terlebih lagi semua itu juga merupakan kesalahannya juga. Jadi Salisa merasa harus bertanggungjawab atas perbuatannya.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*