
Jacob masih saja dibuat jengkel dan dipenuhi rasa amarah di dalam dirinya. Akan tetapi Jacob juga tidak bisa menarik kata-katanya kembali dan membiarkan Salisa tidur di sofa lagi. Jacob sadar jika dirinya harus sedikit mengalah kepada seorang wanita. Apalagi wanita itu sedang hamil dan mengandung darah dagingnya sendiri.
Sambil bersungut-sungut Jacob akhirnya mengalah dan menepati janjinya untuk menggantikan Salisa tidur di sofa. Jacob menukar selimut dan juga bantal yang telah ia gunakan dengan selimut dan bantal Salisa yang saat ini masih telipat rapi di ujung sofa.
Jacob duduk di atas sofa kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Salisa. Rasanya Jacob sudah malas untuk berdebat dan meladeni perkataan Salisa lagi. Apalagi saat ini tenggorokannya terasa sakit dan seperti ada biji kedondong di dalamnya.
"Kali ini aku akan memaafkanmu Salisa, sebagai penebusan bawakan aku segelas air hangat yang diberi satu sendok madu dan juga perasan jeruk nipis." Jacob kemudian mengirimkan pesan itu kepada Salisa.
Salisa yang saat itu sedang membaca buku sengaja mengabaikan bunyi notifikasi ponselnya.
Jacob yang melirik ke arah Salisa hanya bisa semakin dibuat ngedongkol dan memutuskan utuk tidur. Karena tenggorikannya terasa begitu kering, akhirnya Jacob menuang segelas air putih yang selalu tersedia dikamarnya dan kemudiang menenggak habis air putih itu dan kembali berbaring dengan balutan selimutnya yang tebal.
Jacob merasa sulit sekali untuk tidur. Mungkin karena Jacob tak terbisa tidur di sofa. Berkali-kali Jacob berbalik dan mencari posisi ternyamannya untuk tidur. Sayangnya usahanya selalu sia-sia. Disaat dirinya ingin sekali tertidur dengan nyenyak tapi dirinya malah selalu terjaga.
Jacob juga beberapa kali batuk-batuk dan berdehem untuk menghilangkan rasa tak nyaman di tenggorokannya.
Salisa yang mendengar Jacob batuk-batuk jadi merasa sedikit bersalah dan menjadi iba karenanya. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tak mungkin mengijinkan Jacob untuk tidur seranjang bersamanya.
Akhirnya Salisa memutuskan untuk mengabaikan Jacob dan membuang jauh-jauh rasa kemanusiaannya. Alisya berencana untuk tidur dan melanjutkan baannya besok lagi. Salisa merebahkan tubuhnya dan kemudian menarik selimut sampai menutupi dadanya.
Salisa menatap langit-langit kamar itu dan membayangkan dirinya menikah dengan seorang laki-laki tampan yang amat mencintainya. Hidup bersama sampai tua dan melahirkan tiga orang anak yang imut dan lucu. Sayangnya seharapannya itu sepertinya sudah sirna. Apalagi semenjak kejadian di pulau Bali itu membuat Salisa menjadi trauma dan tak berencana utuk menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki.
Saat Salisa masih terhanyut dalam lamunannya, Salisa teringat dengan notifikasi pesan yang sempat ia abaikan tadi. Salisa kemudian kembali duduk dan memeriksa kotak pesan dalam ponselnya.
"Jacob? Untuk apa dia mengirimiku sebuah pesan. Bukankah saat ini Jacob ada dalam satu ruangan denganku. Kenapa Jacob tak mengatakannya secara langsung saja? Mungkinkah Jacob ingin meminta maaf padaku? Tapi karena malu ia kemudian mengirimkannya lewat pesan." Imajinasi halunya menghentikan sesaat niatnya untuk membuka pesan yang menutnya misterius itu.
"Ha... minta tolong dibawakan air hangat? Tapi kenapa malah tidur?" Salisa kemudian memperhatikan Jacob yang sudah memejamkan matanya. Alhasil Salisa tak berniat mengambilkan air sesuai permintaan Jacob. Ia berencana untuk besok pagi melakukannya saat Jacob sudah terbangun.
Salisa memperhatikan Jacob yang tertidur dengan cukup lama. Beberapa pertanyaan kembali memenuhi pikirannya. "Apakah Jacob sedang sakit? Kenapa tadi dia tak bilang kepadaku?"
Terdengar kembali Jacob batuk-batuk dan seperti sedang gelisah dalam tidurnya dengan beberapa kali berganti posisi namun tetap dengan mata yang terpejam.
"Sepertinya Jacob belum bisa tidur tapi dirinya memaksakan diri untuk memejamkan matanya agar bisa lekas tidur. Sebaiknya aku membuatkan minuman herbal itu sekarang saja." Ucap Salisa yang kemudian beranjang dari tempat tidur dan keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuatkan Jacob air hangat dengan Madu dan juga perasan air Jeruk Nipis. Salisa juga sengaja menambahkan sedikit selasih untuk menambah khasiat minuman herbalnya.
Saat sudah siap, Salisa kemudian kembali ke kamar dan mencoba untuk membangunkan Jacob.
"Jacob, Jacob, apakah kamu sudah tidur? Kata Salisa Sambil meketakan minuman itu di atas meja. Namun sepertinya Jacob tak berniat untuk menjawab pertanyaan Salisa.
"Jacob, bangunlah. Aku sudah membawakanmu air hangat dengan Madu." Kata Salisa sekali lagi untuk membanhunkan Jacob.
Sepertinya tebakan Salisa memang benar bahwa Jacob memang belum tidur dan masih mendengarnya berbicara. Jacob membuka matanya dan kemudian duduk. Jacob mengambil air dalam gelas itu dan menghabiskannya. Lagi-lagi Jacob tak berbicara dan langsung kembali berbaring tanpa berterimakasih atau hanya sekedar basa-basi mengucapkan selamat malam untuk Salisa.
__ADS_1
Karena merasa di acuhkan dan tak dihargai, Salisa akhirnya kembali ke kasurnya sambil menhgerutu dan mengambil sumpah serapah untuk mengatai Jacob.
Salisa kemudian mematikan lampu Utama dan segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Salisa ingin menikmati tidurnya yang berkualias di atas kasur yang begitu empuk dan nyaman itu. Tak butuh waktu lama bagi Salisa untuk tertidur pulas dan hanyut dalam mimpi indahnya.
Sementara Jacob masih saja dibuat teramat sempit untuknya bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi kini, Jacob semakin dibuat terganggu dengan hidungnya yang mendadak jadi tersumbat dan kepalanya aterasa sedikit pusing.
Malam semakin larut, akan tetapi Jacob semakin tak bisa tidur dengan badannya yang menjadi menggigil dan merasa kedinginan. Jacob juga merasa ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air. Mungkin saja karena tadi sebelum tidur Jacob menghabiskan dua gelas air.
Kembali dari kamar mandi. Jacob dibuat tergiur dengan kasurnya yang masih tersisa space yang cukup lebar untuk bisa bibuatnya tidur. Karena Jacob sungguh ingin bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil selimut dan bantalnya dan tidur di samping Salisa yang kelihatannya tidak akan menolak karena sudah tertidur dengan nyenyak.
Jacob segera membaringkan tubuhnya dan membalut dengan rapat tubuhnya yang kedinginan dengan selimut. Sepertinya Jacob baru bisa terlelap saat menjelang pagi. Itupun karena tubuhnya yang benar-benar lelah dan menjadi mengantuk karenanya.
Pagi harinya saat Slisa terbangun, ia dibuat terkejut dengan Jacob yang sudah ada di sampingnya. Salisa mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi.
Salisa kemudian membangunkan Jacob dengan kasar dengan mengguncang tubuh Jacob dan memaksanya untuk kembali pindah ke sofanya.
"Jacob, bangun Jacob. Baru semalam aku tidur di kasurmu tapi kenapa kamu sudah tidak tau malu ikut tidur disini bersamaku" Teriak Salisa sambil terus menggoyang- nggoyangkan tubuh Jacob agar segera terbangun.
"Kenapa kamu begitu berisik Salisa? Sepertinya aku baru saja berhasil terlelap tapi kamu malah menggangguku dan memaksaku untuk bangun. Apakah kamu itu tidak punya hati nurani?" Jawab Jacob sambil membetulkan selimutnya untuk membungkus tubuhnya yang kedinginan.
Jacob sedikit menggigil dan sesekali batuk-batuk. Hal itu membuat Salisa dengan kejadian semalam yang membuat dirinya curiga bahwa Jacob sedang sakit.
Salisa kemudian mengecek sehu tubuh Jacob denhan menempelkan tangannya di dahi Jacob dan membandingkannya dengan suhu tubuhnya sendiri.
Salisa meminta Jacob untuk menahan termometer itu di mulutnya. Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi tanda pengukuran suhu tubuh sudah selesai.
Tertera angka 38,9° di layar kecil termometer. Pertanda Jacob benar-benar demam tinggi dan segera memerlukan pertolongan dokter.
"Kamu istirahatlah sembali Jacob. Aku akan memanggilkan dokter untukmu. Sebaiknya kamu hari ini istirahat total dan tidak pergi bekerja." Kata Salisa dengan lembut.
Jacob menahan Salisa dengan memegang tangannya dengan erat. "Jangan panggil Dokter Salisa. Aku tak mau minum obat. Aku juga tak mau jika nantinya harus di suntik karena tak mau minum obat." Kata Jacob dengan begitu polos.
Salisa sempat ingin tertawa namun ia menahannnya. Salisa tak menyangka seorang Jacob Oetama takut minum obat dan juga jarum suntik.
"Apa yang kamu bicarakan Jacob? Saat ini kamu sedang sakitndan membutuhkan seorang dokter. Aku akan tetap menelfonnya. Kamu tidak perlu khawatir. Nanti aku akan berada disisimu saat Dokter sudah datang." Paksa Salisa yang tak begitu yakin Jacib takut dengan kedatangan Dokter.
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau. Kenapa kamu terus saja memaksaku. Lebih baik kamu keluar saja. Suaramu yang cerewet membuatku semakin pusing karenanya." Jawab Jacob dengan nada yang sedikit tinggi.
"Baiklah-baiklah, terserah kamu saja. Aku akan keluar sekarang. Tapi kamu harus menurut untuk istirahat kembali dan jangan pergi bekerja."
Jacob tak menyauti perkataan Salisa dan kembali memejamkan matanya. Salisa kemudian keluar dan mempersiapkan kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh Jacob. Salisa juga membuatkan kembali minuman herbal untuk Jacob. Kali ini Salisa membuatnya dengan merebus Jahe dan menuanhkannya kedalam gelas. Setelah hangat Salisa kemudian menambahkan Madu, Jeruk Nipis, dan juga biji Selasih untuk meredakan batuk, pilek serta menyegarkan tenggorokan Jacob yang kelihatannya tidak nyaman sedari kemarin malam.
__ADS_1
Salisa kembali ke mamar dengan membawa kompres dan juga minuman herbalnya. Terlihat Jacob sudah kembali terlelap dan tak akan membuat keributan dengannya seperti biasanya saat Jacob terjaga dan selalu mencari masalah dengannya.
Salisa berkali-kali mengganti kompresnya dan mengecek suhu tubuh Jacob dengan menempelkan tangannya didahi Jacob.
Salisa menempatkan sebuah kursi untuk memudahkannya mengompres. Jacob terbangun dan mendapati Salisa berada disampingnya.
"Kamu sudah bangun Jacob? Kebetulan sekali obatmu masih hangat. Ayo minumlah dulu. Nanti aku akan membuatkannya lagi untukmu." Salisa kemudian membantu Jacob mengambilkan minuman herbalnya dan memberikannya kepada Jacob.
Jacob menuruti Salisa dengan meminumnya sampai habis. Lagi pula Jacob juga tidak mau jika ia smpai dibawa ke rumah Sakit.
"Trimakasih Salisa."
"Sama-sama. Tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkanmu Bubur. Tadi aku sudah meminta Bi Yani untuk membuatkan Bubur untukmu." Tanpa menunggu jawaban dari Jacob. Salisa sudah beranjak dan meninggalkan kamar itu.
Tak lama kemudian, Salisa kembali dengan semangkuk bubur. Kali ini Salis bahkan berbaik hati dengan menyuapi Jacob dengan sabarnya. Karena Bubur itu masih sedikit panas, sesekali Salisa juga meniupnya untuk Jacob.
Jacob juga menghabiskan buburnya dan kembali berterimakasih kepada Salisa.
"Kamu istirahatlah kembali Jacob. Aku akan membangunkanmu nanti siang saat jam makan siang tiba."
Jacob yang memang merasa masih pusing dan menggigil akhirnya kembali menuruti Sakisa dengan kembali beristirahat.
Salisa kembali mengompres Jacob dengan air hangat yang baru. Saat itu Salisa memang ingin membalas kebaikan Jacob dengan merawatnya sampai sembuh.
Karena terlalu jenuh dan lelah mengganti kompresnya. Salisa tertidur dengan tetap berada di kursinya dan kepalanya yang ia benamkan di lipatan tangannya di atas kasur.
Jacob terbangun karena meras haus. Ia melihat Salisa tertidur dengan nyenyak. Karena Jacob merasa kasian, maka ia tidak tega membangunkan Salisa. Jacob mengambil sendiri air minumnya.
Karena sudah merasa agak baikan. Jacob kemudian keluar dari kamar untuk membuat air madu sendiri. Di dapur ada Bi Yani dan juga Bi Surti yang sedang menyiapkan makan siang.
"Sudah baikan Tuan Muda?" Tanya Bi Surti dengan ramah.
"Iya Bi."
"Tentu saja sudah baikan Tuan. Karena sedari tadi Nyonya muda merawat Tuan dengan begitu sabarnya. Bahkan tadi Nyonya sampai membawa sarapannya ke kamar karena tidak ingin membangunkan Tuan muda." Saut Bi Yani sepertinya bahagia melihat majikannya semakin dekat.
"Benarkah Bi?"
"Iya Tuan. Sepertinya Nyonya muda sangat khawatir dengan kondisi Tuan. Kenapa Tuan kemari? Adakah yang bisa saya bantu Tuan" kata Bi Surti menawarkan bantuannya.
"Aku mau membuat air madu Bi, biar aku sendiri saja. Bibi lanjutkan saja pekerjaan memasaknya." Kata Jacob dengan ramah.
__ADS_1
"Baiklah begitu Tuan."
Jacob kemudian kembali ke kamar. Ia masih melihat Salisa tertidur di atas kursi. Akhirnya Jacob membopong Salisa dan menidurkannya di atas ranjang. Jacob menyelimuti Salisa dengan selimutnya yang lebih tebal. Karena Jacob masih merasa tidak enak badan, akhirnya ia juga memutuskan untuk kembali beristirahat dengan tidur di samping Salisa.