
Saat Salisa sedang duduk di kursi taman, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dengan nama kontak Jason terlihat di layar ponselnya. Salisa segera menjawab panggilan dari Jason, teman masa SMA yang sempat bertemu kembali di dalam pesawat ketika Salisa pulang dari Bali.
"Ya Jason, ada apa kamu menelpon ku?" Tanya Salisa santai.
"Aku mau mengajakmu pergi ke pameran buku Salisa. Apakah kamu ada waktu? Di sana akan ada pameran novel Sharelock Holmes juga. Aku yakin kamu suka, jadi aku ingin mengajakmu ke sana."
"Apa? Sharelock Holmes. Baiklah aku segera berangkat. Kamu share lokasinya ya!" Jawab Salisa penuh semangat.
"Ok" saut Jason merasa senang rencananya untuk bisa bertemu dengan Salisa berhasil.
Salisa memang suka sekali membaca Novel dan juga Komik. Terutama yang berbau tentang kisah detektif seperti Sharelock Holmes ataupun Komik Conan.
Karena suasana hatinya sedang tidak baik, Salisa berpikir mungkin dirinya akan bisa sedikit terhibur dengan datang ke pameran buku itu. Salisa segera kembali ke kamarnya dan mengambil tas ransel kecil yang sering ia gunakan untuk hang out. Salisa tak melihat pesan dari Jacob yang ditulis dengan kertas Notes dan ditempelkan di beberapa tempat itu karena terlalu buru-buru.
Salisa menghentikan sebuah taksi dan menaikinya. Ia kemudian membuka ponselnya untuk melihat lokasi yang telah di berikan oleh Jason. "Ke Sun Plaza ya pak" kata Salisa kepada supir taksinya.
"Siap Nona." Jawab supir taksi dengan melihat Salisa dari balik kaca spion.
"Lebih baik aku mendengarkan musik saja dari pada harus merasa jengkel karena mengingat ulah Jacob yang sok itu. Memangnya siapa juga yang ingin melihat tubuhnya." Gerutu Salisa dalam hati. Kini di telinganya sudah terpasang headphone, Salisa memutar musik-musik slow rock untuk menghibur hatinya yang masih saja merasa geram karena Jacob mengatainya wanita cabul.
Setiba di Sun Plaza, Salisa mencari keberadaan temannya Jason yang ternyata sudah menunggunya di loket pembelian tiket masuk.
"Disini Salisa." Teriak Jason sambil melambaikan tangannya.
Salisa buru-buru menghampiri Jason dan menyapanya dengan ramah. "Apakah kamu sudah menunggu lama Jason?"
"Tidak. Aku bahkan juga belum membeli tiketnya. Ayo kita antri dulu, kamu tidak keberatan kan?" Ucap Jason mencari alasan. Sebenarnya dirinya sudah menunggu cukup lama.
"Tentu saja."
Setelah membeli tiket, Salisa dan Jason pergi berkeliling untuk melihat-lihat buku apa saja yang mungkin akan membuat mereka tertarik untuk membelinya. Tentu saja Salisa membeli Novel Sharelock Holmes keluaran terbaru dan juga beberapa novel bergenre romantis yang tak kalah digemari wanita itu.
"Wow lihatlah Jason. Novel mu juga terpajang apik disini. Aku bangga karena hanya aku yang tau siapa penulis aslinya." Kata Salisa sambil menunjuk tumpukan buku-buku yang tertata dengan rapi dengan penulis yang berinisial J. Starman itu.
"Hey Salisa apa yang kamu lakukan? Jangan bicara keras-keras! Bisa-bisa ada orang yang akan mendengarnya." Bisik Jason sambil membungkam mulut Salisa dengan tangannya. Jason memang tak pernah ingin mempublikasikan identitas aslinya karena alasan pribadinya.
"Iya-iya. Lepaskan dulu tanganmu. Aku tidak bisa bernafas dengan baik Jason." Tutur Salisa dengan nada yang kurang jelas karena mulutnya yang dibingkam dengan tangan Jason yang besar itu hingga menutup hidungnya juga.
"Oh. Maafkan aku Salisa." Ucap Jason langsung melepaskan tangannya. "Kamu sudah pernah aku beri tau alasannya bukan? Jadi aku harap kamu bisa menjaga janjimu Salisa."
Salisa tersenyum dan meninggalkan Jason begitu saja dengan melanjutkan hunting bukunya. Jason yang merasa diabaikan dan belum puas dengan jawaban Salisa kemudian menyusul wanita yang telah mengambil beberapa karya Novelnya itu dan memasukannya dalam tas belanjaannya.
"Hey Salisa, tunggu aku. Kenapa kamu jalannya cepat sekali, padahal kamu itu seorang wanita." Ucap Jason yang sekarang telah berada disamping Salisa. "Kamu harus berjanji padaku lagi Salisa. Jangan-jangan setelah ini kamu berencana untuk membeberkan identitas asliku." Kata Jacob sambil berjalan mundur di depan Salisa.
"Kamu ini lucu sekali Jason. Mana mungkin aku tega melakukan hal itu. Aku sangat menyukai karyamu, bahkan aku menjadi terinspirasi untuk menjadi seorang Novelis juga berkat karya-karyamu itu. Jika aku membeberkan identitas aslimu maka aku juga akan kecewa karna sudah pasti aku tak bisa membaca lagi Novel-novelmu. Kamu pasti akan dihukum berat oleh kedua orang tuamu yang galak itu."
"Trimakasih Salisa. Karena kamu telah mengerti keadaanku. Tadi kamu bilang bahwa kamu juga berminat menjadi seorang penulis. Bagaimana jika aku mengajukan diri sebagai mentormu? Anggap saja karena aku berterimakasih padamu karena telah merahasiakan identitasku."
"Sungguh? Kenapa aku tidak kepikiran dari dulu ya. Berulang kali aku ingin menjadi penulis hebat sepertimu, sayangnya semangatku tiba-tiba sering down dan malas untuk melanjutkan karyaku. Aku rasa jika ada kamu yang menjadi mentorku maka aku juga bisa menjadi penulis hebat sepertimu."
"Baiklah, kalau begitu mulai besok jika kamu sudah mulai menulis karyamu, maka bawa atau kirimkanlah kepadaku. Aku akan merevisi dan juga memberi masukan untukmu."
__ADS_1
"Ahh senangnya. Tentu saja Jason. Aku juga sangat berterimakasih padamu karenanya. Eit's tunggu dulu. Tapi semua itu gratis kan Jason? Aku tidak mau jika harus membayar lagi."
"Hahaha, kamu ini aneh Salisa. Tentu saja gratis, tadi kan aku sudah bilang padamu bahwa aku melakukan itu karna aku ingin berterimakasih padamu." Ucap Jason sambil mengacak-acak rambut Salisa.
"Hei. Jangan sentuh rambutku. Aku sudah menyisirnya dengan rapi tadi." Salisa menyingkirkan tangan Jason dari kepalanya. "Karena kamu sendiri yang menawarkan diri, maka aku tidak akan sungkan lagi kepadamu. Mulai hari ini aku akan memanggilmu Sifu yang artinya guru. Apakah kamu suka Jason?"
"Terserah kamu saja."
Tiba-tiba terdengar suara perut Salisa yang mengaung karena lapar. Ini semua karena Salisa bahkan tadi tak sempat memakan sesuatu saat di rumah. Bangun tidur sudah ia gunakan untuk berdebat dengan Jacob. Setelah itu Salisa juga langsung pergi menemui Jason dan tak sempat mengganjal perutnya.
"Keras sekali bunyi perutmu Salisa. Ayo ikut denganku, aku akan mentraktir makanan yang kamu sukai."
Salisa terdiam dengan malu, kini ia hanya bisa mengikuti langkah kaki Jason yang akan membawanya menyantap makanan yang akan membuat cacing-cacing di perutnya berhenti demo.
"Astaga, kenapa aku sampai lupa jika saat ini aku sedang hamil. Maafkan Mama ya nak. Kamu pasti sudah begitu kelaparan. Mama janji setelah ini Mama akan makan yang banyak untukmu." Gumam Salisa sambil mengelus perutnya dengan lembut.
Salisa bangkan tak menyadari jika ternyata Jason sedang menoleh dan memperhatikan tingkah aneh Salisa yang mengelus perutnya berulang kali.
"Kamu itu lucu sekali Salisa. Apakah karena begitu lapar sehingga kamu mengelus perutmu seperti itu agar perutmu bisa sedikit bersabar?" Kata Jason yang belum tau jika Salisa telah menikah dan kini sedang hamil.
"Ah tidak-tidak, aku hanya sedang menenangkan para cacing yang sedang demo." Jawab Salisa dengan gugup. Salisa sudah berjanji kepada Jacob bahwa ia akan menyembunyikan setatus pernikahan mereka dihadapan orang luar. Termasuk teman-temannya sekalipun.
Jason membawa Salisa ke sebuah restoran western yang sangat terkenal akan kelezatan masakannya.
****
Sementara Jacob baru saja selesai meeting dengan para investor. Pertemuan kali ini berjalan dengan mulus, para penanam saham itu dengan senang hati menggelontorkan dananya untuk perusahaan Jacob yang hampir gulung tikar itu. Semua itu juga berkat bantuan dari Aldo, para investor itu percaya bahwa projek yang sedang digarap oleh Jacob dan Aldo kali ini akan berbuah manis. Tentu saja karena jejak prestasi Aldo yang sudah terdengar dan menjadi nilai tambah kerja sama mereka kali ini.
Hari itu Aldo mulai bekerja setelah satu bulan lamanya cuti dirumah dan menemani Alisya istri teecintanya sepanjang hari. Setelah selesai meeting, Aldo berpamitan kepada Jacob bahwa ia akan pulang kerumah untuk makan siang bersama istrinya yang sudah memasak menu special untuknya.
Entah kenapa tiba-tiba Jacob teringat pada Salisa. Sejak Salisa memutuskan untuk keluar dari kamar, Jacob belum melihat batang hidungnya sama sekali. Jacob jadi bertanya-tanya kemana Salisa pergi pagi tadi. Jacob khawatir jika Salisa akan pulang ke rumah orang tuanya dan mengadukan perbuatannya kepada keluarganya.
"Sudahlah Jacob, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh kepada wanita itu. Paling-paling sekarang Salisa juga sedang makan bersama dengan Kakek Wisnu." Gumam Jacob menenangkan hatinya sendiri.
Jacob kemudian keluar untuk mencari makan siangnya. Akan tetapi sepertinya makan yang selama ini menjadi menu favoritnya itu mendadak terasa hambar dan tak seenak biasanya. Jacob tak menghabiska makanan yang bahkan belum setengahnya Jacob makan. Laki-laki itu hatinya terasa tidak tenang dan ingin memastikan keberadaan Salisa saat ini.
Mungkin itu semua karena Jacob telah menyesal dengan kelakuannya pagi tadi yang memang keterlaluan teehadap Salisa. Jacob kemudian menyerahkan kendali perusahaan kepada asistannya Reno.
"Mau kemana kamu Jacob? Tak biasanya kamu akan pergi begitu saja meninggalkan pekerjaan seperti ini." Tanya Reno penasaran.
"Aku mau pulang."
"Apa? Pulang? Apakah sekarang kamu sudah mulai jatuh cinta dengan gadis itu Jacob? Jangan-jangan tebakanku benar. Dan sekarang kamu mau pulang karena kamu sudah tidak bisa berlama-lama jauh darinya." Goda Reno kepada bos sekaligus sahabatnya itu.
Reno adalah satu-satunya orang yang sudah tau mengenai pernikahan atara Jacob dan Salisa. Akan tetapi Jacob juga berpesan kepada Reno agar asistannya itu merahasiakannya kepada semua orang. Terutama Ana yang sampai saat ini masih menyandang gelar sebagai kekasih Jacob.
"Apakah kamu sudah bosan hidup Reno? Atau kamu mau aku menendangmu dari perusahaanku? Ayo katakan saja mana yang akan kamu pilih." Jawab Jacob dengan ketus.
"Aku kan hanya bertanya saja, kenapa kamu harus marah jika kamu tak merasa seperti yang aku pikirkan." Ucap Reno mencari pembelaan akan dirinya.
"Hah, benar juga. Asal kamu tau saja Reno. Aku tidak akan pernah suka apalagi sampai jatuh cinta kepada Salisa. Kamu kan tau sendiri jika hatiku ini hanya milik Ana memenjak aku masih anak-anak. Mana mungkin hatiku akan berpindah ke lain hati. Apalagi kepada wanita super aneh seperti Salisa."
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, terserah kamu saja. Asal bapak senang saja lah." Ucap Reno sambil menahan senyumannya.
"Reno."
"Iya-iya, aku tidak berani lagi Tuan Jacob. Ayo sana cepat pulang! Istrimu sudah menunggumu di rumah." Lagi-lagi Reno bermain dengan kata-katanya. Reno begitu suka melihat ekspresi wajah Jacob yang kelimpungan saat dirinya menyinggung masalah wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Jacob sudah malas dan kehabisan kata-kata untuk menanggapi ocehan asistanya yang kini telah mendorongnya keluar dari ruangannya sendiri dan menyuruhnya segera pulang.
"Jika bukan karena merasa bersalah, mana mungkin aku akan pulang dan mengkhawatirkan wanita cabul itu." Gerutu Jacob yang kini sedang mengendarai roda empatnya menuju ke rumah. Jacob juga sedikit takut jika Salisa mungkin saja akan mengadukan perbuatannya kepada Kakek Wisnu. Untuk itulah jacob segera pulang dan mencari tau kebenarannya.
Sesampai di rumah. Jacob langsung naik ke atas menuju kamarnya. Ia melihat bahwa catatan yang sempat ia tinggalkan untuk Salisa kelihatannya belum tersentuh sama sekali. Jacob kemudian mencari Salisa disetiap sudut rumahnya. Sayangnya Jacob tak menemukan keberadaan wanita itu.
Jacob akhirnya melihat Kakek Wisnu yang sedang duduk di teras sambil merawat burung-burung peliharaannya.
"Dimana Salisa kek? Kenapa Jacob tak melihatnya?" Tanya Jacob dengan duduk di samping Kakek dan membantu Kakeknya memberi makan salah satu burung perkutut koleksi Kakeknya.
"Mana Kakek tau. Yang jadi suaminya itu kan kamu. Kenapa kamu malah bertanya kepada Kakek." Jawab Kakek dengan santai. Sebenarnya Kakek tau kemana perginya Salisa, karena tadi Salisa sudah berpamitan bahwa Salisa akan pergi ke oameean buku. Hanya saja tadi Salisa juga berpesan bahwa Kakek harus pura-pura tidak tau jika ditanya oleh cucunya.
Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, akhirnya Jacob pergi meninggalkan Kakek begitu saja.
"Dasar anak nakal, seharusnya kamu harus lebih peduli dengan istrimu. Suami macam apa yang bahkan tidak tau keberadaan istrinya saat ini." Teriak Kakek kepada Jacob yang sudah berlalu meninggalkannya.
Jacob begitu kesal terhadap Salisa yang sepertinya pergi dari rumah begitu saja. Jacob kemudian kembali ke kamarnya. Jacob kemudian mengambil semua catatan yang tadinya ingin ia berikan kepada Salisa sebagai permohonan maafnya. Jacob bahkan menyobek kecil-kecil catatan itu yang salah satunya berbunyi bahwa Mulai Malam ini Jacob akan berbaik hati kepada Salisa dan memintanya untuk tidur di ranjang. Sedangkan dirinyalah yang akan menggantikan Salisa yang selama ini tidur di sofa.
Serelah di sobek, Jacob kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah. Hatinya begitu tak suka karena Salisa sepertinya mengabaikan dirinya begitu saja.
Jacob merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mengendurkan dasinya.
"Awas saja kamu Salisa. Kamu bahkan tak menghormatiku sebagai seorang suami. Kamu berani sekali keluar rumah tanpa berpamitan padaku. Walaupun aku bukan suami sungguhan, setidaknya kamu juga harus menghormatiku di depan keluargaku." Jacob tak senang karena tadi Kakeknya sepat marah dan berteriak padanya.
Jacob tau jika Kakek sedang marah maka laki-laki tua itu tidak akan membuat hari-hari di rumahnya menjadi tenang. Jacob mengambil ponselnya dan hendak menelepon Salisa, namun lagi-lagi ia mengurungkan niatnya. Jacob takut ketahuan bahwa identitasnya sebagai biang kerok teror telepon di pagi tadi adalah dirinya.
"Ah biarkan saja Salisa pergi kemanapun ia mau. Toh semua itu juga tak ada kaitannya denganku. Jadi kenapa aku harus mengkhawatirkannya." Gumam Jacob yang kemudian menutup matanya untuk tidur lagi. Efek mabuk semalam yang membuat kepalanya pusing memang belum sepenuhnya hilang. Akhirnya Jacob terlelap dengan sepatu yang masih terpasang di kakinya.
Saat Jacob terbangun hari telah berubah menjadi gelap. Jacob turun dari kamarnya dan bertanya kepada salah satu pembantu di rumah itu apakah Salisa sudah pulang atau belum.
Pelayan itu menjawab bahwa sedari tadi dirinya belum melihat Nyonya Salisa sepanjang hari.
Jacob kemudian mencari Mang diman yang mungkin saja tadi mengantar Salisa pergi ke rumah orang tuanya. Sayangnya Mang Diman juga bilang jika dirinya tidak mengantar kepergian Nyonya Salisa. Mang Diman juga berkata bahwa tadi Nyonya Salisa bersikeras untuk naik taksi dan tidak mau di antar.
Jacob memarahi Mang diman karena seharusnya dirinya meyakinkan majikannya untuk pergi diatar olehnya. Jacob juga marah karena tak Mang diman juga tidak tau kemana perginya majikannya.
Jacob kemudian mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju rumah Aldo. Mungkin saja ia akan menemukan Salisaa di sana. Jacob tau bahwa Salisa biasanya akan curhat kepada Kakaknya jika sedang terjadi masalah dengannya.
kali ini Jacob beralasan pergi ke rumah Aldo dan Alisya untuk membawakan obat herbal yang diberikan khusus oleh Kakek Wisnu untuk mereka. Kali ini Jacob juga tak menemukan Salisa di rumah Kakaknya. Jacob semakin dibut bingung kemana sebenarnya Salisa peegi. Jacob juga tak bisa bertanya kepada Alisya maupun Aldo secara terang-terangan karena tidak ingin membuat mereka khawatir terhadap adiknya.
*
*
~ Bersambung~
__ADS_1
*
*