CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KEGUGUPAN ALDO


__ADS_3

"Alisya ayo kita turun. Semua orang pasti sudah menunggu kita. Apa yang harus aku katakan nanti Alisya? Ini hari pertamaku setelah aku menjadi suamimu. Tetapi aku merasa bersalah karena malah membuat putri kesayangan keluarga Antoni melewatkan sarapan dan juga makan siangnya. Paman Antoni dan tante Maria pasti sangat kecewa padaku."


"Kenapa kamu berpikir seperti itu Aldo? Papa mama tak akan memarahi kita hanya karena hal seperti itu. Mulai sekarang kamu juga tak boleh memanggil mereka dengan sebutan paman dan tante. Bukankah sekarang mereka juga orang tuamu."


"Astaga benar sekali Alisya. Kenapa aku bisa jadi sebodoh ini. Ayo kita turun. Pasti mereka semua juga sudah memahami keadaan kita."


Walaupun masih dihantui rasa bersalah akhirnya Aldo mengumpulkan seluruh nyalinya untuk turun dan siap menerima konsekuensinya.


Alisya dan Aldo menuruni anak tangga dengan bergandengan, kemudian mereka menuju ruang keluarga untuk ikut berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.


"Kenapa sepi sekali ya Al? Kemana perginya semua orang. Apakah mereka sudah pulang duluan meninggalkan kita? Kemarin kan kita semua sudah sepakat untuk pulang setelah jam makan siang."


"Atau jangan-jangan mereka marah kepadaku karena mengurung mu di dalam kamar sejak kemarin sore."


Alisya yang mendengar perkataan Aldo hanya bisa tersenyum geli. Tapi Alisya juga penasaran kemana perginya semua orang. Alisya kemudian menuju ke kamar Salisa untuk mengeceknya. Di dalam kamar Salisa juga tidak ada di sana. Namun barang-barangnya masih ada disana. Menandakan mereka masih tinggal di villa. Kemudian Alisya juga mengecek kamar orang tuanya namun mendapati hal yang sama.


"Sepertinya mereka tidak ada disini. Sebaiknya kita bertanya saja kepada penjaga villa. Barangkali dia bisa memberi tau kita kemana perginya mereka."


"Tuan dan nyonya sudah bangun?" Suara terdengar dari arah luar mengagetkan mereka berdua.


"Ah iya pak. Apakah bapak tau kemana perginya semua orang?"


"Iya tuan. Tadi tuan besar berpesan jika tuan muda sudah bangun untuk menyampaikan bahwa mereka semua sedang berkeliling kebun teh dengan berkuda. Tuan besar juga berpesan untuk menyiapkan makan siang untuk tuan dan nyonya. Mereka sudah makan terlebih dulu tuan. Tadi mereka sengaja tidak membangunkan tuan muda karena takut mengganggu. Silahkan tuan dan nyonya makan siang dulu. Saya sudah menyiapkannya di ruang makan."


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih untuk semuanya pak. Kami akan segera makan."


Seusai makan, keduanya ingin menyusul untuk berkuda. Namun belum sempat Alisya dan Aldo keluar rumah, semua orang sudah kembali dan segera menghampiri pengantin baru itu.


"Halo kakakku yang cantik. Sayang sekali kaka baru bangun. Kami baru saja selesai berkeliling kebun teh dengan menaiki kuda. Sangat seru ka. Pemandangan di sini juga sangat indah. Pokoknya kaka akan menyesal karena sudah melewatkannya." Ucap Salisa percaya diri dengan wajah polosnya.


"Maafkan kami. Harusnya kami bangun pagi dan ikut berkumpul bersama kalian. Harusnya kali ini bisa dimanfaatkan untuk waktu kebersamaan keluarga. Aku juga minta maaf karena membiarkan Alisya melewatkan jam makannya. Maafkan aku papa Antoni." Aldo berkata panjang lebar untuk meminta maaf kepada keluarganya.

__ADS_1


"Apakah kamu begitu takut aku akan memarahi mu Aldo?" Tanya Antoni dengan nada serius.


"Aku sangat menyesalinya paman. Maksud saya papa."


Antoni tertawa melihat ekspresi anak mantunya itu. "Baiklah, kalau begitu jangan mengulanginya lagi. Kali ini papa memaafkan mu. Tapi papa juga sedikit mendukungmu. Karena papa ingin segera menimang cucu yang menggemaskan. Benar kan ma?"


"Papa ini kenapa begitu terang-terangan seperti itu. Lihatlah betapa canggungnya mereka." Ucap Mama maria mencubit suaminya.


"Tapi papa juga setuju dengan perkataan Antoni. Bukankah kita sudah tak sabar untuk menggendong bayi gemuk dan lucu." Imbuh Winata tak mau kalah. "Oh iya Aldo. Tadi kami sudah sepakat untuk menunda kepulangan sampai besok pagi. Sore nanti kamu ajaklah Alisya untuk berkeliling kebun teh. Pasti Alisya akan menyukainya. Benarkan Alisya?"


"Benar sekali papa Winata. Terimakasih atas perhatiannya."


****


Pemandangan senja di perbukitan yang dipenuhi dengan hamparan hijau itu membuat hati tenang dan memanjakan mata bagi penikmatnya.


Alisya dan Aldo berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Semilir angin menyibak dedaunan yang menghijau. Menambah suasana romantis di sore itu. Aldo menyelipkan bunga liar berwarna kuning yang tumbuh disekitaran bukit-bukit itu. Aldo juga membuatkan cincin dari untaian bunga itu dan memakaikannya di jari Alisya.


Alisya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alisya baru menyadari jika Aldo sebenarnya juga seorang yang begitu romantis. Selama ini Alisya hanya sering menerima tingkah jahilnya.


"Aldo, apakah kamu masih ingat ketika dulu kita sedang berolah raga dengan bermain basket di sekolahan? Saat itu kita tabrakan dan hampir berciuman saat kita sedang berebut untuk menerima umpan bola."


"Tentu saja aku ingat. Ada apa Alisya? Apakah setelah itu, kamu tidak bisa tidur dimalam hari karena terus memikirkannya?"


"Iya. Tapi bagaimana kamu bisa menebaknya? Jangan-jangan kamu juga mengalami hal yang sama."


"Siapa bilang. Malam itu bahkan aku bisa tidur dengan nyenyak. Dan bangun dengan bugar."


Alisya terlihat kecewa dan menampakan wajah murungnya.


"Hah, sepertinya kamu itu susah sekali diajak bercanda. Besok lagi aku harus mencari dan menyusun kata-kata yang begitu manis agar istriku yang cantik ini nggak manyun lagi."

__ADS_1


"Tuh kan. Berarti kamu berbohong."


"Siapa yang berbohong. Aku berkata jujur. Malam itu aku memang tidur dengan nyenyak karena aku memimpikan mu. Adegan itu terulang di mimpiku. Bahkan aku merubahnya menjadi adegan ciuman yang panas hingga mengakibatkan mimpi basah. Bukankah itu sangat konyol."


"Kenapa kamu menceritakannya dengan begitu terang-terangan. Bagaimana aku bisa membayangkannya. Itu pasti sangat..."


"Tapi bukankah kamu ingin tau kebenarannya. Lagi pula sekarang kita sudah jadi suami istri. Apa yang perlu ditutup-tutupi lagi. Lagi pula aku hanya ingin kamu tau bahwa kamu sudah ada di hatiku sejak lama. Tapi bodohnya aku tak berani mengungkapkannya. Andai dari dulu aku sudah mengutarakannya, pasti sekarang kita sudah memiliki beberapa anak yang menggemaskan."


"Aldo." Sekali lagi Alisya mencubit pinggang Aldo.


"Ahh sakit. Kenapa kamu suka sekali mencubit ku. Sakit tau."


Tanpa basa-basi Aldo memeluk Alisya dan mencium bibir wanita dihadapannya itu. Alisya meronta dengan memukul-mukul dada Aldo.


"Aldo, hentikan. Ini kan di tempat umum. Bagaimana kalau ada orang yang melihat kita."


"Salah sendiri tadi mencubit ku. Itu sebagai balasannya. Mulai sekarang jika kamu mencubit ku maka aku tak kan segan-segan untuk langsung mencium mu. Walaupun itu didepan papa Antoni sekalipun. Aku tidak takut."


"Benarkah? Siapa tadi yang begitu nervous ketika harus berhadapan dengan papa."


"Tentu saja itu bukan aku. Sebaliknya aku akan jadi menantu yang disayangi dan dimanja dikeluarga mu. Dan kamu akan diperlakukan seperti putri raja di keluargaku. Mama Rahma bahkan mungkin akan lebih menyayangimu ketimbang aku sebagai anak kandungnya."


Mereka melanjutkan kembali langkah mereka. Sampailah mereka di dekat bukit dimana tadinya Alisya dan Adrian berencana untuk membangun rumah di atasnya.


*


*


~Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2