CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MERANCANG MASA DEPAN


__ADS_3

Hari ini adalah kali pertama bagi Alisya tinggal di kediaman keluarga Winata sebagai istri Aldo. Pagi itu Alisya bangun pagi-pagi untuk ikut membatu Rahma menyiapkan sarapan. Alisya mengingat rambutnya dan segera pergi ke dapur.


"Mama Rahma, Apa yang bisa Alisya bantu?"


"Eh Alisya, kamu sudah bangun. Ayo sayang kemarilah. Kamu buatkan kopi saja untuk Aldo dan bawakan ke kamarnya."


"Baiklah ma, setelah itu Alisya akan kembali lagi kesini untuk membantu mama."


"Tidak perlu Alisya. Kamu bantu Aldo saja untuk bersiap pergi ke kantor ya. Tante yang akan buatkan sarapan untuk kalian."


"Tapi ma, bagaimana mungkin Alisya membiarkan mama menyiapkan sarapan sendiri. Bukankah itu sangat tidak sopan."


"Sudahlah sayang, tidak papa. Begini jasa kalau kamu merasa tak enak hati, bagaimana kalau untuk setiap makan malam kamu yang memasak untuk kami. Mama dengar kamu pandai memasak. Mama juga mau dimasakin sama kamu."


"Baiklah ma, Alisya akan masak yang spesial untuk kalian." Alisya tersenyum dengan manisnya.


Setelah selesai membuat kopi, Alisya segera kembali ke kamar dan memberikannya kepada Aldo.


"Terimakasih istriku sayang" Aldo segera menyeruput kopi hitam buatan Alisya, dan memakan beberapa keping biscuit yang dibawakan Alisya.


"Alisya, apakah kamu yakin tidak ingin berkerja lagi?"


"Tentu saja. Lagi pula sekarang perusahaan juga sudah di pegang papa lagi. Kemarin Alisya juga sudah bilang kepada papa Antoni jika aku ingin fokus mengurus rumah tangga saja."


"Baiklah jika itu pilihanmu, aku akan selalu mendukungmu, lagi pula aku juga tidak mau kamu kecapekan. Dengan begitu kita juga bisa lebih fokus untuk segera mendapatkan momongan."


Aldo mendekati Alisya kemudian tanpa aba-aba langsung mencium bibir Alisya. Aldo meringsek tubuh Alisya dan membimbingnya ke atas ranjang. Alisya terbuai dengan ciuman dan kecupan-kecupan lembut Aldo yang membuat degup jantungnya semakin kencang. Dalam sekejap saja tanpa Alisya sadari, Aldo sudah berhasil membuka kancing baju yang dikenakan Alisya. Aldo segera membenamkan wajahnya di salah satu area favoritnya itu. Aldo akan melepas dasi yang melilit di lehernya. Namun Alisya menghentikannya.


"Astaga Aldo hentikan, kamu kan mau berangkat kerja. Nanti bisa-bisa kamu terlambat bekerja."


Seperti tak mendengar ucapan dari istrinya, Aldo tetap saja melanjutkan aktivitasnya. Namun Aldo kembali teringat bahwa ia akan menyampaikan beberapa hal penting kepada papanya pagi itu. Dengan terpaksa Aldo menghentikan cumbu mesra dengan istrinya.

__ADS_1


"Kalau saja tak ada hal penting yang harus kukatakan kepada papa, aku rela untuk melewatkan sarapanku untuk tetap bersamamu Alisya."


Alisya tersenyum geli melihat raut wajah Aldo yang terlihat begitu kecewa. "Tersenyumlah Aldo, nanti malam kita kan masih bisa melanjutkannya lagi."


Aldo melirik ke arah istrinya itu dan tersenyum. Kemudian Aldo mencium kening istrinya itu. "Kamu yang terbaik Alisya, mungkin nanti aku tidak akan bisa fokus bekerja karena selalu memikirkan mu." Aldo kemudian membantu mengaitkan kembali kancing baju yang dilepasnya tadi.


"Sebelum aku mengatakannya kepada papa, aku akan memberitahukannya terlebih dulu kepadamu Alisya. Aku ingin membangun sebuah pabrik teh di dekat perkebunan dan mengolah sendiri hasil panen dari perkebunan teh. Dengan begitu kita juga bisa membangun rumah kita sendiri di tempat yang kamu inginkan itu. Jika kita sudah tinggal di sana sendiri, aku juga tidak perlu jauh-jauh meninggalkanmu untuk bekerja di perusahaan papa yang ada disini. Setiap jam makan siang aku bisa pulang ke rumah karena jarak tempat kerja yang lebih dekat. Bagaimana Alisya, apakah kamu setuju dengan rencana ku?"


Alisya tersenyum dan merangkul kan kedua tangannya di bahu Aldo. "Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu Aldo. Aku juga akan ikut kemanapun kamu mengajakku pergi."


Aldo sangat puas mendengar jawaban dari istrinya itu. Aldo kembali mencium bibir Alisya dan ********** dengan lembut. Tangan Aldo mulai bergerilya menyusuri lekuk tubuh Alisya dengan penuh perasaan.


"Jangan pancing-pancing lagi Aldo. Nanti Aku juga tak bisa menghentikan mu lagi jika kamu terus saja seperti ini. Bisa-bisa nanti aku yang akan menahan mu jika aku sudah tak bisa mengendalikan hasrat ku sendiri."


Aldo tertawa mendengar perkataan dari istrinya itu. "Baiklah-baiklah, sebaiknya kita segera turun untuk sarapan. Aku juga tak bisa menahannya lagi jika terus-terusan berdua saja denganmu Alisya."


Aldo dan Alisya bergandengan tangan menuruni setiap anak tangga dan menemui papa Winata yang sedang duduk sambil membaca koran.


Aldo meminta waktu sebentar kepada papanya untuk menyampaikan semua rencana seperti yang dikatakannya tadi kepada Alisya. Ayah dan anak itu terlihat begitu serius dalam berdiskusi. Sedangkan Alisya membantu mama Rahma menyiapkan meja makan untuk sarapan.


"Tentu saja papa. Merintis perusahaan dari awal sendiri adalah impian Aldo sejak lama. Aldo ingin mengasah kemampuan Aldo dalam berbisnis. Aldo juga ingin seperti papa yang dulu merintis perusahaan dari nol sampai bisa sebesar sekarang ini."


"Papa bangga kepadamu Aldo." Papa Winata menepuk-nepuk bahu dan merangkul anak laki-lakinya itu.


Tak lama kemudian Alisya datang menghampiri sepasang ayah dan anak yang masih berbincang itu dan meminta keduanya untuk segera sarapan.


Setelah mengantar kepergian Aldo berangkat kerja, Alisya datang menghampiri mama Rahma utuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.


Berulang kali mama Rahma melarang Alisya untuk membantunya. Namun Alisya terap saja mengerjakan beberapa pekerjaan bersih-bersih dan tak mau berdiam diri.


"Alisya sudah tidak bekerja di perusahaan lagi ma, jadi biarkan Alisya membantu mama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga ini. Lagi pula Alisya juga ingin belajar agar nanti Alisya bisa terampil seperti mama Rahma dan mama Maria dalam mengurus rumah tangga."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Mama juga tidak akan melarang mu lagi. Tapi jagan biarkan kamu kelelahan Alisya. Kerjakan dengan santai saja. Pilih perkerajan yang kamu suka."


Rahma mengambil beberapa kepingan piringan hitam dan menunjukannya pada Alisya."Kamu mau diputarkan lagu yang mana Alisya? Pasti akan menyenangkan jika bekerja sambil mendengarkan musik."


Alisya kemudian memilih salah satu dari piringan hitam itu. Album dari lagu-lagu Queen Bohemian Rhapsody menjadi pilihannya.


"Ternyata selera musikmu dengan Aldo sama ya Alisya."


"Hehehe, sebenarnya dari dulu Alisya jadi ikut sering mendengarkan lagu- lagu slow rock karena Aldo. Mungkin karena Alisya suka dengan orang yang mendengarkannya, Alisya jadi ikut tertarik dan terbiasa mendengarkan lagu-lagu seperti ini."


"Huum benar juga katamu Alisya. Dulu tante adalah orang yang tidak suka masakan pedas. Tapi karena papamu suka pedas, mama sering masak makanan pedas untuknya. Terkadang mama juga ikut mencicipinya. Lama-kelamaan mama juga ikut suka masakan pedas. Bahkan sekarang mama lebih jago melahap masakan super pedas ketimbang papamu."


"Benarkah itu ma?"


"Tentu saja. Mungkin saja nanti kamu juga akan terbiasa untuk menerima tingkah jail Aldo itu dan merubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kamu akan merasa rindu dan aneh jika Aldo tak lagi jail seperti dulu."


"Iya mama Rahma. Walaupun sekarang Alisya sudah menjadi Istrinya, tapi Aldo masih saja sering bertingkah usil dan tak henti menjahili Alisya. Dulu Alisya akan mengadu pada mama Rahma, tetapi sekarang Alisya akan membalas tingkah usil Aldo itu ma."


"Baguslah kalau begitu. Kamu bantu mama membalaskan tingkah jail anak itu. Karena mama yang jadi ibunya saja sering dibuat jengkel dengan keisengannya itu."


"Hah. Aldo juga pernah iseng ngerjain mama?"


"Tentu saja. Dari dulu Aldo memang sering membantu mama mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi suatu hari Aldo sengaja berulang kali mematikan kompor yang sedang mama gunakan untuk memasak. Waktu itu mama sampai dibuat bingung kenapa masakan mama tak kunjung matang. Setelah mama cek ternyata apinya mati. Berulang kali hal itu terjadi. Sampai mama kira kompornya yang rusak. Tapi ternyata itu semua ulah anak nakal itu."


Alisya tak dapat menahan gelak tawa mendengar cerita dari mama Rahma. Keduanya asik bercanda tawa menceritakan beberapa kelakuan jail dari Aldo dari masa kecil sampai sekarang ini.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2