
"Ka Adrian, kenapa Aldo belum juga datang menjemputku? Apakah dia sedang terlalu sibuk? Bagaimana Aldo tadi membalas pesanmu?"
"Mungkin Aldo sedang dalam perjalanan kemari Alisya."
"Huum, baiklah kalau begitu. Apakah aku bisa meminjam pengisi daya ka? Ternyata baterai ponselku habis. Aku ingin segera menghubungi Aldo."
"Tentu saja. Bawa kemari ponselmu." Adrian memanggil salah satu pembantunya dan memintanya untuk mengisikan daya ponsel Alisya. "Apakah kamu ingin merangkai bunga Alisya? Bukankah kamu sangat suka dengan bunga. Kaka punya taman bunga yang sangat indah di Vila kaka. Apakah kamu mau kesana?"
"Uum, sebenarnya Alisya ingin sekali kesana, tetapi Alisya harus menunggu Aldo disini untuk menjemputku."
"Baiklah kalau begitu. Kamu istirahatlah kembali, jika nanti Aldo sudah datang Kaka akan memberitahumu." Kata Adrian dengan lembut.
"Tidak Ka, Alisya sudah bosan dari tadi istirahay terus. Alisya mau membaca buku saja. Bukankah Ka Adrian mempunyai koleksi buku yang banyak?"
"Tentu saja. Ayo kita ke perpustakaan. Disana ada koleksi serial Sherlock Holmes kesukaanmu."
"Bernarkah? Wah keren sekali."
Adrian kemudian mengantar Alisya ke ruang perpustakaan di apartemennya. "Bersenang-senanglah Alisya. Aku akan membawakan buah potong kemari, Aku juga akan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk kita."
"Terimakasih banyak ka Adrian. Alisya akan membaca buku ini sambil menunggu kedatangan Aldo."
Sambil berlalu, Adrian terus saja merasa iri kepada Aldo karena sedari tadi walaupun Alisya terlihat sibuk dengan kegiatannya, akan tetapi gadis itu tetap saja selalu mengingat dan selalu menyebut nama Aldo di dalam bicaranya. Sepertinya Alisya memang tidak bisa terlepas dari Aldo, ia sudah menyerahkan seluruh hati dan pikirannya hanya untuk Aldo seorang. Walaupun selama ini Adrian selalu memberikan perhatian dan segalan yang terbaik untuk Alisya, namun nyatanya Alisya tidak bisa menerima cintanya. Gadis itu hanya menganggap dirinya sebagai Kaka laki-lakinya.
Dengan berat hati, Adrian harus menerima dan mengiklaskan sekali lagi wanita yang selama ini menjadi penyejuk dihatinya. Adrian pergi ke dapur dan mengupas beberapa buah untuk Alisya. Seorang pelayan ingin mengambil alih pekerjaan itu, tapi Adrian menolaknya. Adrian sengaja ingin menyiapkan buah itu sendirian. Hal yang tidak pernah Adrian lakukan seumur hidupnya.
Setelah selesai mengupas buah, Adrian memotong buah-buahan itu menjadi kecil-kecil agar Alisya bisa memakannya dengan lebih mudah. Adrian kemudian mengantarkannya ke ruang perpustakaan.
"Alisya, makanlah dulu buahmu, Aku sengaja mengupasnya sendiri untukmu."
"Terimakasih banyak Ka Adrian." Alisya kemudian menusuk potongan buah Apel dan memasukannya ke dalam mulutnya. "Manis sekali Apel ini Ka, Alisya suka."
"Benarkah? Kalau begitu kamu harus menghabiskannya. Oh iya Alisya, Kaka baru saja menerima pesan dari Aldo jika dia tidak jadi datang kemari. Ada pekerjaan mendadak yang harus ia lakukan."
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu? Tidak biasanya Aldo bersikap seperti ini Ka, Biasanya Aldo akan sangat panik jika terjadi sesuatu kepadaku. Seharusnya Aldo sudah menjemputku dari tadi setelah mendengar kabar Alisya masuk rumah sakit." Alisya merasa jika Aldo seharusnya tidak melakukan hal seperti itu.
"Entahlah Kaka juga tidak tau. Mungkin perkerjaannya memang sangatlah penting. Bukankah ia sedang berusaha mati-matian untuk mengembangkan bisnisnya? Aldo juga berpesan jika ia akan pulang sangat larut, jadi Aldo memintamu agar sementara tetap disini. Besok pagi Aldo baru akan menjemputmu." Adrian terpaksa berbohong untuk menutupi kebenarannya bahwa ia telah meminta Aldo untuk pulang serta membuatnya merasa bersalah kepada Alisya dan tidak pantas menjadi suami untuk Alisya.
Dengan kecewa, Alisya mempercayai kata-kata dari Adrian. Walau sebenarnya Alisya merasa sedikit aneh dan janggal.
"Bolehkah, aku mengambil ponselku kembali Ka? Alisya ingin memastikannya sekali lagi, dan bertanya pekerjaan penting apa yang harus ia lakukan hingga harus menitipkanku disini."
"Tidak bisa, maksud Kaka tentu saja. Tapi sepertinya baterainya belum terisi penuh Alisya, sebaiknya tunggu sampai dayanya terisi penuh."
Alisya semakin merasa aneh dan meragukan perkataan Adrian. "Kenapa sepertinya Kaka menyembunyikan sesuatu dariku. Sebenarnya apa yang terjadi Ka? Apakah terjadi sesuatu hal dengan Aldo? cepat katakan yang sejujurnya ka! Jika tidak, Alisya tidak mau menganggap Ka Adrian sebagai Kaka lagi jila Kaka menyembunyikan sesuatu dari Alisya." Alisya mengancam Adrian Karena ia tau ada sesuatu yang Adrian sembunyikan darinya.
"Baiklah, Kaka akan berkata jujur. Saat pulang ke Indonesia, kaka sengaja mencari tau tentangmu. Dan Kaka sangat kecewa ketika mengetahui bahwa kamu tinggal di rumah kecil yang sangat memprihatinkan itu. Kaka sangat marah dan kecewa kepada Aldo karena tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu. Terlebih saat Kaka mendapatimu pinsan di pinggir jalan denhan kondisi yang sedang hamil. Semua itu membuat Kaka marah dan tidak rela jika kamu harus menderita seperti itu Alisya. Tadi Aldo memang sudah kemari, tapi Kaka memaksanya untuk pulang dan membiarkanmu tinggal disini. Aldo sepertinya memang sangay terpukul dan menyadari kesalahannya. Kaka berjanji akan mengurusmu dengan baik Alisya. Karena Aldo merasa tidak bisa memenuhi semua keinhinanmu dan membuatmu bahagia, Aldo akhirnya harus pulang dan menerima kenyataan itu."
Mendengar semua perkataan itu membuat Alisya sangat tercengang. Alisya memang sangat perasa dan hatinya sensitif. Butiran-butiran bening berjatuhan dari ujung matanya. "Tapi kenyataannya tidak seperti itu Ka Adrian. Selama ini Alisya sangatlah bahagia. Aldo juga memperlakukan Alisya dengan sangay manis. Aldo tidak pernah membuatku merasa sedih dan tak membiarkanku melakukan pekerjaan yang berat-berat. Setiap hari Aldo yang mencuci pakaian kami, Mengepel dan melakukan pekerjaan rumah yang sekiranya berat untukku. Jika ada waktu luang Aldo juga menyempatkan diri untuk mengajakku jalan-jalan. Ia selalu berusaha yang terbaik untukku." Alisya berusaha meyakinkan Adrian bahwa pandangannya selama ini terhadap Aldo tidaklah benar.
"Kalau Aldo benar-benar mencintaimu, lalu kenapa ia tidak datang kembali untuk menjemputmu Alisya."
"Alisya yakin, Aldo saat ini sedang benar-benar terpukul. Apalagi Aldo juga belum tau jika Alisya sedang hamil. Tapi Alisya yakin Aldo akan segera menjemput Alisya kembali."
"Baiklah ka, Alisya akan ikut. Tetapi jika sampai tiga hari Aldo tidak datang maka setidaknya biarkan Alisya pulang dan bertemu dengan Aldo untuk berbincang." Dalam hati Alisya sangat yakin jika suaminya akan segera datang dan menjemputnya untuk pulang bersama.
****
Malam itu Aldo tak bisa beristirahat dengan tenang, ia terus saja teringat akan Alisya. Seharian tadi Aldo mencoba untuk menghubungi nomor istrinya itu, namun tak ada hasilnya.
"Suami macam apa aku ini? aku harus segera menjemput Alisya apapun yang terjadi." gumam Aldo dalam hati. Aldo kemudian menyaut baju hangat yang tergantung di dalam almari kemudian memakainya. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan kembali ke apartemen Adrian untuk mengajak Alisya pulang bersamanya.
Jalanan cukup lengang dan tak seramai siang tadi, hari itu memanh sudah cukup larut. Aldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampai di kediaman Adrian, Aldo merasa heran karena di depan pintu tak ada lagi pengawal yang berjaga. Aldo membunyikan bel berkali-kali namun tak kunjung ada yang datang dan membukakan pintu.
"Kenapa tidak ada yang menyaut, dimana mereka gerangan. Jangan-jangan Andrian membawa Alisya pergi. Tapi kemana mereka membawanya?" Aldo semakin gelisah dan begitu cemas.
Aldo mencoba membunyikan bel lembali dan mengetuk pintu beberapa kali. "Sepertinya memang tidak ada orang disini." Aldo kemudian berpikir dimana kira-kira Adrian akan membawa istrinya itu. "Apakah terjadi sesuatu hal lagi kepada Alisya dan mereka kembali ke rumah sakit? Semoga saja hal itu tidak terjadi. Sebaiknya aku coba memeriksa ke rumah sakit lagi." Gumam Aldo dengan harap-harap cemas semoga tidak terjadi hal buruk kepada Salisa.
__ADS_1
Saat Aldo hendak meninggalkan tempat itu, seorang pria tua menghampiri dan menyapanya. "Hei anak muda, apakah kamu hendak mencari Tuan Andrian?"
"Iya Kakek, apakah Kakek tau dimana Tuan Adrian?"
"Sepertinya saya tau anak muda, tadi sore saya melihat Tuan Adrian bersama seorang wanita dan beberapa bodyguard nya pergi meninggalkan tempat ini. Dan saya tak sengaja mendengar Tuan Adrian menelfon seseorang untuk menyiapkan kamar di Vilanya. Akan tetapi, saya tidak tau dimana Vila itu anak muda."
"Trimakasih sekali Kakek, saya sepertinya tau dimana Vila itu, saya pergi dulu ya Kek, saya harus segera ke Vila itu."
"Apakah kamu akan kesana selarut ini?" Tanya Kakek itu dengan mengerutkan dahinya yang sudah keriput dan berkerut.
"Iya Kek, Ada hal penting yang harus saya lakukan disana."
"Baiklah kalau begitu, tapi kamu harus hati-hati. Karena ini sudah larut sekali. Apakah wanita itu istrimu?"
"Trimakasih Kakek, bagaimana kakek tau kalau wanita itu istruku? Apakah terjadi sesuatu kepadanya Kek?" Terlihat sekali sirat kecemasan dan kekhawatiran di wajah Aldo.
"Kakek hanya menebaknya saja. Tadi Kakek juga mendengar mereka sempat berdebat. Istrimu terus saja memohon agar bisa menghubungimu dan meminta agar ia di antar pulang ke rumahnya. Istrimu juga bilang jika ia harus segera memberitahumu jika dia sedang hamil."
"Apa Kek? Alisya Hamil." Aldo merasa sangat bahagia segaligus merasa semakin khawatir kepada istrinya itu. "Baiklah Kek, terimakasih sekali atas kebaikan Kakek. Sepertinya saya harus segera menjemput Alisya dan membawanya pulang apapun resikonya dan apapun yang harus saya hadapi."
"Berjuanglah Anak muda. Kamu harus memperjuangkan wanita yang kamu sanyangi." Kata Kakek itu sambil menepuk bahu Aldo untuk memberi semangat.
"Sekali lagi terima kasih Kek." Aldo kemugian berlalu meninggalkan Kakek itu. Dalam perjalanan Aldo terus saja kepikiran tentang Alisya. Aldo berjanji dalam hatinya bahwa ia harus membawa pulang Alisya. Apalagi setelah Aldo tau jika saat ini Alisya sedang hamil. Walaupun saat ini kondisi keuangan dan bisnisnya sedang tidak baik, namum Aldo sekarang sudah bertekat, apapun yang terjadi ia akan selalu bersama dengan Alisya dan memperjuangkan kebahagiannya dengan istri tercinta.
Aldo mulai membayangkan ketika nanti ia akan menggendong anaknya, menimang dan bermain bersamanya. "Tunggu papa nak, papa akan menjemputmu dan mama agar kita selalu bersama terlepas dari apapun yang terjadi. Papa akan bekerja lebih giat lagi untuk membahagiakan kamu dan mamamu." Tanpa ia sadari Aldo meneteskan airmata kebahagian.
Aldo berkendara dengan lebih lambat dan hati-hati. Walaupun hari sudah larut dan jarang sekali ia berpapasan dengan kendaraan lain, namun jalan menuju Vila itu tidaklah mudah. Jalannya naik turun dan berkelok-kelok.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*