CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KHAWATIR


__ADS_3

Ketika Aldo beranjak dari duduknya hendak ke dapur membuatkan kudapan untuk kedua tamunya, Alisya juga ikut berdiri.


"Aku saja yang masak untuk kalian. Lagi pula aku kan cewe. Masa membiarkan cowok yang pergi ke dapur. Kamu disini saja Aldo."


"Nggak papa kok. Lagi pula kalian kan yang jadi tamu disini. Aku juga sudah terbiasa memasak. Kamu temani Adrian saja Alisya."


Aldo langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka yang duduk di depan televisi.


Di ruang dapur, Aldo mulai memasak air untuk membuatkan susu jahe. Ia juga menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sup daging merah yang cocok disantap saat hujan dengan hawa dingin yang menembus kulit seperti saat ini.


Sedangkan Alisya dan Adrian masih di ruang tamu. Karena merasa bosan Alisa mencoba mengambil beberapa buku yang tersusun rapi di atas rak dan berniat membacanya.


"Ka Adrian, kamu tak keberatan kan kalau ku tinggal baca buku. Kelihatannya buku ini menarik."


Alisya memperlihatkan buku yang ia pegang.


"Baiklah, kalau begitu aku nonton TV dulu saja."


Mungkin karena kelelahan Adrian malah ketiduran di atas sofa dengan TV yang masih menyala.


Alisya yang baru dapat beberapa lembar halaman mulai merasa bosan juga. Karena rata-rata buku yang ada di sana tetang bisnis semua. Alisya merasa kali ini ia sedang liburan dan tak ingin memikirkan tentang bisnis dulu.


"Astaga, Ka adrian sampai ketiduran." Alisya yang jenuh kemudian melihat-lihat isi villa itu. Sesekali Alisya juga melihat ke arah luar jendela. Hujan yang sangat lebat masih mengguyur kawasan itu.


"Dimana dapurnya ya? Sebaiknya aku datang membantu Aldo saja."


Alisya mencoba untuk mencari letak dapur di villa yang cukup luas itu dengan mengikuti kemana arah Aldo tadi saat hendak ke dapur.


Setelah mendengar suara berisik seperti orang memasak, Alisya menuju ke ruangan yang ia rasa lebih luas dua kali lipat dari dapurnya itu.


"Adakah yang bisa aku bantu? "


Suara Alisya mengagetkan Aldo yang terlihat sedang sibuk mengiris bawang merah itu.


Aldo tersentak dan langsung menghapus air mata di pipinya karena tak biasa mengiris bawang.


"Alisya kenapa kamu kemari. Bukankah aku sudah bilang kalau temani Adrian saja. Aku bisa menghandle sendiri pekerjaan ini. Kamu itu tamu, jadi aku yang harus melayani mu."


"Ka Adrian tertidur di sofa dan aku tak tega membangunkannya. Aku juga merasa bosan di sana. Jadi ku putuskan untuk membantumu di dapur saja. Kamu bilang sudah terbiasa memasak, tapi mengiris bawang saja sampai menangis begitu. Sini bir aku saja."


Alisya merebut pisau itu dari tangan Aldo.


Aldo tersipu malu karena ketahuan berbohong. Ia memang sering membatu ibunya, tapi hanya sebatas bersih-bersih rumah saja. Sedangkan memasak ini adakah kali pertamanya.


Pekerjaan Aldo kini digantikan oleh Alisya. Membuat laki-laki itu bingung mau berbuat apa.


"Kenapa sekarang jadi kamu yang memasak? Ya sudahlah kalau begitu aku buatkan susu jahe untukmu saja."

__ADS_1


"Kamu bikin susu jahe Al? "


"Iya, Kamu suka kan?"


"Suka lah. Pas banget dingin banget hawa disini. Nggak kaya di rumah yang super panas walau lagi hujan sekalipun."


Aldo tersenyum menanggapi gadis itu. Saat hendak menuang air panas dari panci tak sengaja tangan Aldo mengenai panci yang masih begitu panas itu. Karena kaget, Aldo justru melepaskan pegangan tangannya hingga air panas di panci itu tumpah dan mengenai kakinya.


"Auw ah ah auw. Panas"


Suara panci yang jatuh ke lantai juga mengagetkan Alisya.


"Astaga Aldo. Kenapa bisa sampai tumpah? Kakimu juga tersiram. Bagai mana ini?"


Alisya begitu panik melihat Aldo seperti kesakitan.


"Ayo sini dulu Aldo. Tinggalkan saja dulu semuanya."


Alisya menyeret kursi dan membantu Aldo untuk duduk. Sementara ia memeriksa kaki Adlo yang tersiram air panas.


punggung kaki Aldo terlihat memerah . Celana Aldo juga basah. Alisya curiga kaki bagian atas Aldo juga tersiram.


"Ya ampun Aldo. Kenapa kamu tak hati-hati. Ayo lepas celana mu. Akan aku periksa juga kakimu. Jika cukup parah sebaiknya kita bawa ke Dokter saja."


"Apa ? buka celana? Kamu bercanda ya?"


"Eh iya, Aku pakai kok."


"Ya sudah ayo cepat buka!"


Karena Aldo juga merasakan panas dan perih di area pahanya. Akhirnya Aldo menuruti perintah Alisya.


Saat ini Alisya memang hanya memikirkan tentang kondisi Aldo. Ia takut jika luka Aldo cukup parah.


"Tuh kan bener. Paha mu juga memerah. Tapi lebih parah yang di punggung kaki karena tak terhalang oleh celana mu. Lukanya cukup parah Aldo, sebaiknya kita ke dokter saja."


"Dengan cuaca hujan seperti ini? Kamu bercanda ya? Aku tidak mau."


"Lalu bagaimana dengan lukamu. Jika dibiarkan nanti bisa melepuh dan meninggalkan bekas. Apa kamu mau?"


"Tak masalah. Ini kan cuma luka biasa saja. Aku yakin rasa perih dan panasnya juga bakalan segera sembuh."


"Aldo..!! Kamu jangan anggap enteng lukamu. Ayo kita ke dokter. Aku akan membangunkan ka Adrian agar bisa mengantar kita."


Alisya sudah mau beranjak namun tangan Aldo menahannya.


"Tidak usah Alisya. Aku nggak papa kok."

__ADS_1


Alisya menatap Aldo dengan nanar.


"Oh iya Alisya, coba kamu ambil kotak obat di almari itu. Sepertinya di sana ada salep untuk luka bakar. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya."


Alisya segera mengambil kotak obat di almari yang ditunjukan oleh Aldo. Ia segera membukanya dan mencari salep yang dimaksud. Alisya membuka tutup kemasannya dan hendak mengoleskan ke luka di kaki Aldo.


"Biar aku sendiri saja Alisya." Tangan Aldo hendak merebut salep itu dari tangan Alisya."


"Biarkan aku yang mengolesnya. Kamu diam saja."


Alisya menjauhkan tangannya agar Aldo tak bisa meraih salepnya. Akhirnya Aldo menuruti Alisya dan membiarkan Alisya yang mengoleskan krim itu di kakinya.


"Aah sakit Alisya. Pelan sedikit kenapa"


"Iya-iya ini juga sudah pelan." kini Alisya berusaha mengoleskannya dengan lebih lembut.


Bekas luka di bagian punggung kaki sudah dioles. Kemudian Alisya berpindah di luka yang ada di bagian paha.


Kali ini Aldo bukanya berusaha untuk menahan rasa sakitnya, justru ia berusaha menahan sekuat tenaga libidonya yang semakin meninggi karena sentuhan lembut dari tangan Alisya di pahanya.


Aldo hanya meringis karena takut Alisya tau apa yang sedang menyerangnya saat ini. Tanpa Aldo sadari hal itu membuat salah satu bagian tubuhnya mengeras.


Alisya yang tak sengaja melihat ukuran di bagian itu membesar juga pura-pura tidak tau karena merasa malu dan jadi kikuk karenanya. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.


"Akhirnya selesai juga. Untuk sementara kamu pakai celana pendek saja Aldo. Agar lukamu juga tidak sakit tergesek kain. "


Alisya berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri dan menjauhkan pandangannya dari penampakan yang sedari tadi mengotori mata polosnya.


"Terimakasih banyak Alisya."


Aldo yang libidonya masih tinggi tak bisa menahannya lagi. Aldo mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Alisya dengan lembut.


Tak ada perlawanan dari gadis itu. Keduanya menikmati ciuman itu dengan saling membalas satu sama lain. Ciuman yang begitu mendalam dan penuh arti.


Keduanya memang saling cinta. Tapi keadaan yang tak mendukung mereka untuk bersatu.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat semua kejadian yang mereka lakukan. Ternyata Adrian terbangun karena kaget mendengar suara panci yang terjatuh di lantai.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2