CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
APA MAUMU?


__ADS_3

Mendapat pesan singkat dari Adrian yang memberitahunya, bahwa istrinya sedang berada di rumah sakit, membuat Aldo meninggalkan begitu saja pekerjaannya.


Aldo langsung tancap gas dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikiran Aldo begitu kalut dan hatinya merasa tak tenang.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Alisya? Kenapa kamu bisa berada di rumah sakit?" Aldo terus saja berdoa di dalam hatinya agar istri yang begitu dicintainya itu tak mendapatkan masalah yang cukup serius dengan kesehatannya.


Aldo dengan gesit mencari setiap celah di perjalanannya yang cukup ramai agar ia bisa secepat mungkin tiba dirumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari tempat kerjanya itu. Aldo ingin segera menjumpai istrinya dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Sesampai di rumah sakit, Aldo langsung menuju ke receptionis dan menanyakan dimana keberadaan pasien yang bernama Alisya.


Petugas yang berjaga menanggapinya dengan santun. Petugas itu mulai mencari di basis data dalam komputernya.


"Apakah maksud anda pasien yang bernama Alisya Pricilia Putri Tuan?" Tanya petugas untuk mastikan kevalidtan datanya.


"Iya, benar sekali Nona."


"Maaf sekali Tuan, tetapi pasien yang bernama Alisya baru saja meninggalkan rumah sakit ini dengan seorang laki-laki bersamanya."


"Benarkah? Sudah berapa lama mereka meninggalkan rumah sakit ini?"


"Kurang lebih sekitar satu jam yang lalu Tuan. Apakah ada lagi yang bisa kami bantu Tuan?"


"Baiklah kalau begitu, tidak Nona. Terimakasih banyak untuk informasinya."


Aldo segera mengambil ponsel yang berada di tas jinjingnya untuk menghubungi Adrian.


"Halo Adrian. Aku baru saja tiba di rumah sakit, tetapi ternyaya petugas bilang bahwa Alisya sudah pulang. Apakah saat ini Alisya sedang bersamamu?"


"Oh iya Aldo. Tadi Alisya bilang terlalu bosan dan tidak suka jika harus berlama-lama di rumah sakit. Jadi aku mengajaknya untuk pulang ke apartemenku terlebih dulu. Maafkan aku karena aku lupa memberitahumu bahwa Alisya pergi denganku." Sebenarnya Adrian memang sengaja tidak mengabari Aldo, karena ia ingin memberi sedikit pelajaran kepada laki-laki yang tega membuat wanita yang disayanginya itu menderita.


"Oh begitu. Tidak masalah Adrian yang penting Alisya baik-baik saja dan merasa lebih nyaman ketimbang harus berlama-lama di rumah sakit. Kalau begitu tolong kirimkan alamatmu, aku akan segera kesana untuk menjemput Alisya."


Setelah menerima alamat tempat tinggal Adrian, Aldo segera menuju parkiran dan tancap gas agar ia bisa menjeput Alisya dan pulang kerumah.


Sekarang hati Aldo sudah tak terlalu khawatir, setidaknya ia tau bahwa Istrinya sudah aman dan dalam keadaan yang baik-baik saja.

__ADS_1


Aldo tiba di area pemukiman elit dengan apartemen dan perumahan mewah yang hanya bisa ditinggali oleh kaum borju saja.


Aldo melihat ke samping kiri dan kanannya. Ia amat kagum dengan arsitektur bangunan dan keindahan taman-taman disekitar tempat itu. "Andai aku bisa segera memboyong Alisya ke rumah mewah seperti rumah-rumah ini. Pasti Alisya akan sangat senang." gumam Aldo dalam hatinya.


Mobil Aldo beehenti disebuah apartemen mewah, ia kemudian memarkir mobilnya kemudian masuk ke bangunan tinggi yang mungkin mempunyai lebih dari sepuluh tingkat itu.


Aldo menekan angka enam di lift utuk bisa sampai di kediaman Adrian. Sesampai di depan pintu rumah Adrian dijaga dengan ketat oleh dua orang bodyguard dengan setelan jas hitamnya.


"Maaf Tuan, apakah anda sudah ada janji dengan Tuan Adrian? Jika belum maka Tuan tidak boleh berkunjung dan menemui Tuan kami."


"Aku sudah membuat janji dengan Adrian, lagi pula aku kesini untuk menjemput istruku. Jadi tolong bukakan pintu untukku." Aldo sedikit keheranan dengan pengamanan Adrian yang begitu ketat dan ia pikir sedikit berlebihan untuk seorang laki-laki sepertinya.


"Silahkan Tuan. Anda tunggulah di ruangan ini dulu. Nanti Tuan Adrian akan datang menemui Tuan."


Tanpa menjawab, Aldo kemudian duduk di sofa dan menunggu kedatangan Adrian. Tak lama kemudian Adrian datang seorang diri menemui Aldo.


"Adrian, bagaimana kabarmu? sudah cukup lama aku tidak berjumpa denganmu." Sapa Aldo sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Kabar baik Al." Adrian menyambut jabat tangan itu kemudian meminta Aldo untuk duduk kembali.


"Kamu tenanglah dulu. Alisya saat ini sedang tidur dan beristirahat. mungkin ia masih kelelahan."


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alisya, Adrian? kenapa ia harus dibawa ke rumah sakit?"


"Itulah yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah Alisya selama ini selalu bekerja keras dan kamu membiarkannya begitu saja?"


"Apa maksudmu Adrian, aku kira selama ini Alisya baik-baik saja dan tidak kelelahan dengan pekerjaan rumahnya. Selama ini aku juga selalu membantu sebisaku utuk bersih-bersih rumah? terkadang jika aku libur, aku juga meminta Alisya untuk beristirahat dan aku yang akan memasak makanan untuknya."


"Lalu kenapa Alisya bisa sampai pingsan dijalan saat ingin pergi berbelanja. Apakah kamu ini tidak bisa membayar seorang pembantu untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang melelahkan itu?"


Aldo terdiam dan mengingat keseharian Alisya selama ini. "Apakah memang menar jika selama ini ia telah membuat istrinya itu bekerja dengan keras dan membuat wanita yang dicintainya itu kelelahan." Aldo teringat di dalam benaknya bahwa Alisya selalu melakukan pekerjaan rumah dengan senyuman. Bahkan Aldo sering mendengar Alisya melakukan pekerjaan rumahnya sambil bernyanyi ataupun bersenandung. Alisya juga melarang Aldo untuk mempekerjakan pembatu untuknya.


Namun dengan kejadian hari itu membuat Aldo merasa begitu bersalah dan menyesali keputusannya. Aldo berpikir mungkin Alisya ingin membantunya agar lebih berhemat dan bisa mengurangi jumlah pengeluaran keluarganya. Hal itu membuat hati Aldo semakin terluka. Ia merasa gagal menjadi seorang suami yang baik untuk Alisya.


"Apakah kau tau jika Alisya juga harus bekerja keras dan hidup menderita dimasa kecilnya?"

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku juga tumbuh dengannya." Aldo kembali mengingat masa kecil mereka, dulu keuangan keluarga Antoni memang cukup memprihatinkan. Aldo masih ingat betul ketika dulu ia sering berpura-pura tak menyukai bekal yang dibawakan mama rahma dan meminta Alisya untuk bertukar dengannya. Waktu itu Alisya hanya sering berbekal nasi, sayur, dan lauk tahu, tempe, ataupun telur dadar saja.


"Lalu kenapa kamu tega membuat Alisya harus mengalami kesulitan yang sama dengan masa kecilnya. Ingatlah Aldo, dulu aku melepaskan Alisya karena kamu telah berjanji kepadaku bahwa kau akan membuat Alisya bahagia selalu tersenyu. Tapi apa yang sekarang telah kau perbuat."


Aldo hanya bisa terdiam dan membenarkan semua perkataan Adrian.


"Mulai hari ini aku tidak akan membiarkanmu membuat Alisya menderita lagi. Sebelum kamu sadar dan yakin bisa membuat Alisya bahagia, kamu jangan pernah berharap bisa mendapatkan Alisya kembali. Kamu tenang saja, aku akan menjamin kebahagian Alisya bersamaku. Aku akan memperlakukan Alisya seperti seorang putri raja. Tak akan kubiarkan tangan Alisya digunakan untuk melakukan hal-hal yang melelahkan. Aku akan mempekerjakan enam pelayan khusus unyuk memenuhi dan melayani keinginan Alisya."


Perkataan Adrian memang tak bisa Aldo pungkiri, kali ini hati Aldo semakin merasa sakit bagai tertusuk tombak besi, ia mulai mengutuki dan menyalahkan dirinya. Tubuhnya lemas bagai tak bertenaga.


"Sekarang kamu pulahlah ke tumahmu. Aku tidak ingin Alisya sedih melihatmu disini."


Dengan berat hati, Aldo melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Hati dan pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Aldo terus saja menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi dengan istrinya itu.


Sesampai di rumah, Aldo mencoba menghubungi nomor Alisya. Aldo berharap bisa mendengar suara Alisya dan memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja. Namun sayangnya Aldo harus mengalami kekecewaan. Berulang kali Aldo mencoba menghubungi Alisya, tetapi nomor istrinya itu tak dapat dihubungi.


"Mungkinkah Alisya kecewa kepadaku dan tidak ingin bertemu denganku lagi?" Aldo mulai berpikir yang aneh-aneh karena ketakutannya akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu. Namun Aldo juga merasa tak berdaya karena memang saat ini, ia di dalam kondisi yang menurutnya tak bisa membahagiakan istrinya.


Aldo sedih karena belum bisa mengabulkan semua keinginan Alisya. Ia belum bisa membuatkan rumah di puncak. Bahkan selama ini ia juga menyadari jika istrinya itu tidak pernah meminta kepada dirinya untuk membelikan barang-barang kesukaan wanita seperti tas,sepatu, ataupun baju-baju branded yang pasti akan sangat cantik jika dikenakan oleh Alisya.


Selama ini Alisya sering mengingatkan Aldo untuk berhemat dan menabung sebanyak mungkin untuk menyelesaikan projek pembangunan pabrik teh yang menjadi impian Aldo selama ini.


*


*


~Bersambung~


*


*


Pembaca yang budiman, jangan pelit-pelit kasih dukungannya ya! Kasih like, koment, vote, dan jadikan favorit biar kalian bisa dapat pemberitahuan kalau novel ini sudah update.


Thanks and enjoy the read \(^_^)/

__ADS_1


__ADS_2