CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PENGHIANATAN


__ADS_3

Salisa mencoba memastikan kembali bahwa laki-laki yang terlihat sedang bermesraan dengan seorang perempuan itu adalah kekasihnya Johan.


"Sepertinya kata-kata anda benar tuan Jacob. Saya harus memastikannya agar tak penasaran dan menyesal di kemudian hari." Salisa bergegas menghapiri laki-laki yang mirip dengan Johan itu.


Entah mengapa Jacob merasa khawatir, ia mengikuti Salisa dari belakang. Jacob takut akan terjadi hal besar jika memang benar laki-laki itu adalah kekasih Salisa.


Hati Salisa begitu sakit melihat Wanita seksi itu terus saja bergelayut dan menempel kepada Johan. Parahnya lagi Johan terlihat sangat bahagia. Mereka berjalan beriringan sambil melihat pameran lukisan yang di pajang disepanjang jalan oleh seniman lokal. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil foto dan pamer kemesraan.


"Johan, Siapa wanita ini?" Salisa berdiri di hadapan Johan dengan tangan mengepal menahan amarahnya.


"Salisa, kenapa kamu bisa sampai disini?"


"Jawab saja pertanyaanku Johan."


Johan terdiam cukup lama dengan hanya menatap Salisa dalam-dalam, namun akhirnya ia berucap juga "Memangnya apa masalahnya denganmu. Terserah padaku dengan siapa aku harus pergi." Johan menjawab dengan ketusnya.


"Jadi dari kemarin aku tidak melihat dan menerima kabar darimu itu karena kamu sedang sibuk berselingkuh dengan wanita ini."


"Aku tidak pernah berselingkuh Salisa, tapi sekarang ini aku memang sedang bersama dengan wanitaku."


Wanita yang sedang bersama Johan itu tiba-tiba meginjak kaki Johan sambil mengedipkan mata seolah sedang memberi isyarat.


"Apa maksud dari semua ini Johan? kamu sedang bercanda kan? cepat katakan jika semua ini hanyalah gurauan semata." Salisa masih tak percaya dengan apa yang baru saja Johan katakan.


"Maaf nona, kamu pasti Salisa kekasih Johan ya? Kenalkan, saya Mita sekretaris Johan." Wanita itu bertutur dengan begitu lembut sambil menyodorkan tangan kepada Salisa.


"Kamu itu lucu sekali Salisa, mukamu sampai merah padam dengan semua leluconku. Aku kesini memang sengaja mengajak mita karena ingin meminta tolong padanya untuk mencarikanmu hadiah. Aku berencana untuk membuat surprise untukmu. Tadi aku berbohong karena takut rencanaku akan gagal. Tapi melihatmu seperti itu membuat aku tak tahan lagi. Maafkan aku Salisa."


"Tapi kenapa aku lihat tadi kalian terlihat begitu mesra?"


"Aku dan Johan sudah berteman sejak kecil Salisa, jadi kami memang sudah begitu akrab." Mita kembali meyakinkan Salisa dengan kata-katanya.


"Benarkah itu Johan?"


"Te tentu saja." Johan tertawa ringan sambil menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lalu siapa laki-laki yang sedang bersamamu itu Salisa?" Johan menunjuk Jacob dengan dagunya.


"Oh iya, kenalkan ini tuan Jacob. Tuan Jacob kenalkan ini pacar saya Johan. Aku berhutang sesuatu kepada Tuan Jacob,ceritanya lumayan panjang. Nanti aku akan menceritakannya kepadamu."


Kedua laki-laki itu bertatapan dengan sinis.


"Salisa, bukankah kamu harus menyelesaikan pekerjaanmu. Hari juga sudah semakin sore. Kita harus segera bergegas."


"Oh iya, aku sampai lupa. Maafkan aku Johan. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa kembali di hotel. Nanti aku akan menghubungimu."


"Baiklah Salisa. Aku akan menunggumu."

__ADS_1


Salisa dan Jacob pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke perusahaan konveksi dimana Salisa harus menyelesaikan kunjungan bisnisnya.


Setelah selesai. Mereka berencana kembali ke hotel dan mencari cara lain untuk melepas cincin kembali. Dalam perjalanan Salisa terlihat biasa saja seperti tak ternadi apa-apa setelah perjuampaannya dengan Johan tadi. Hal itu membuat Jacob keheranan. Sepertinya Salisa tak menaruh rasa curiga sedikitpun dengan kekasihnya itu. Berbeda dengan Jacob yang tak suka dengan gelagat Johan dan mia yang terlihat bersandiwara.


"Salisa, apakah kamu percaya begitu saja dengan semua ucapan dari kekasihmu itu?"


"Huum, tentu saja. bukankah tadi mereka sudah memberi penjelasan. Dan menurutku semuanya terdengar masuk akal."


"Kamu ini memang terlalu polos Salisa. Jika aku boleh memberi saran, sebaiknya kamu mulai berhati-hati dan sedikit beri rasa curiga dengan pacarmu itu."


"Trimakasih atas nasehatnya tuan Jacob. Tapi aku masih percaya dengan Johan. Selama ini hanya dia laki-laki yang perhatian dan mengejarku dengan sungguh-sungguh." Salisa mengingat-ingat kembali bagaimana dulu Johan bisa meluluhkan hatinya dengan setiap perhatiannya. Walaupun ada sedikit rasa curiga, tetapi Salisa mencoba untuk meyakinkan hatinya kembali.


"Baiklah, kalau begitu. Terserah padamu saja. Dan lagi, kenapa kamu masih saja memanggilku tuan Jacob. Bukankah kemarin kita sudah sepakat. Lagipula sepertinya kita sudah semakin akrab."


"Trimakasih Jacob, kalau begitu sekarang kita berteman ya." Salisa menyunggingkan senyuman manisnya.


"Apa rencanamu untuk bisa melepas cincin itu? Aku berharap kamu sudah memikirkannya dengan baik."


"Tenang saja tuan, maksudku Jacob. Tadi aku sudah mencoba mencari beberapa ulasan di situs pencarian."


"Bagaimana hasilnya?"


"Nanti kita bisa mencoba dengan memakai minyak goreng, Lotion, air dingin atau dengan benang."


"Baiklah, nanti kita akan mencobanya satu persatu."


Pertama mereka mencoba dengan body lotion, namun usaha itu gagal. Kemudian merika mencoba dengan air es, bukanya berhasil malah hanya membuat tangan Salisa seperti membeku.


Semangat mereka masih belum padam. Mereka menelfon layanan hotel dan meminta untuk dibawakan sedikit minyak goreng kekamar Salisa. Pelayan yang mengantar merasa sedikit keheranan dan bertanya-tanya untuk apa minyak itu mereka gunakan.


"Bagaimana Salisa, apakah bisa dilepaskan?" Jacob bertanya dengan penuh harap. Sedangkan Salisa hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan raut wajah kecewa.


"Kemarilah Salisa. Aku akan mencoba menariknya." Salisa mengikuti perintah Jacob yang sedang duduk di sofa.


Mereka berdiri berhadapan dan Jacob mulai mengambil ancang-ancang untuk menarik cincinnya. "Pada hitungan ketiga aku akan menariknya. Mungkin akan sedikit sakit. Kamu tahan sebentar ya." Salisa menganggukan kepala tanda setuju dengan ucapan Jacob.


"Satu, dua, tiga." Bruk.


Bukannya berhasil melepas cincin, tapi justru karena Jacob terlalu kuat menarir jari Salisa, ia justru terjatuh di atas sofa. Salisa juga ikut tertarik dan jatuh menimpa tubuh Jacob.


Tanpa sengaja bibir mereka bertemu dan hal itu membuat Keduanya mematung tak bergerak bak waktu di dunia ini berhenti berputar.


Dug dug, dug dug. Keduanya bisa merasakan degub jatung mereka yang semakin kencang. Salisa yang tadinya memejamkan mata mulai membukanya. Saat tatapan meraka bertemu suasana berubah menjadi canggung.


Salisa segera mengangkat tubuhnya dari tubuh kekar itu dan mengelap bibirnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Jacob. Aku benar-benar tidak sengaja."


"Kamu tidak perlu meminta maaf Salisa. Tadi itu juga merupakan salahku juga yang menariknya terlalu kuat."


Karena masih terlalu canggung dan tidak tau lagi apa yang harus mereka perbuat untuk mengatasi situasi itu akhirnya Jacob memutuskan untuk kembali dulu ke kamarnya.


"Emm, sebaiknya kita istirahat dulu saja Salisa. Lagipula kamu pasti juga lelah karena seharian bekerja. Kita lanjutkan nanti saja."


"Baiklah kalau begitu." Salisa juga berpikir keputusan itu paling tepat untuk mencairkan suasana. Jacob beranjak untuk kembali ke kamarnya. Saat hendak membuka pintu, Salisa memanggilnya kembali.


"Tunggu Jacob. Bukankah kekasihmu akan datang malam ini. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Lalu bagaimana dengan cincinya. Bagaimana acara lamarannya bisa berlangsung jika tidak ada cincin."


Jacob melihat jam di tangannya. Dan memang benar. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. "Masih ada waktu satu jam lagi. Aku akan mencoba mencari toko perhiasan di dekat sini. Nanti aku akan menjelaskan semuanya kepada Ana. Pasti dia akan memahami situasinya."


"Huum, aku juga akan mencoba cara yang terakhir dengan benang. Apapun yang terjadi aku berjanji pasti akan mengembalikan cincin ini Jacob."


Jacob tersenyum dan meninggalkan kamar Salisa. Sesampai di kamarnya Jacob memeriksa ponselnya yang sedari tadi ia tinggalkan di kamar. Ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ana. Ana juga mengirim beberapa pesan untuknya.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telefonnya Jacob. Kamu sedang dimana?"


Jacob kembali membuka pesan kedua.


"Angkat telefonnya Jacob. ada hal penting yang harus aku katakan."



"Maafkan aku kali ini Jacob. Aku tak bisa menepati janjiku untuk bertemu denganmu di Bali. Tadi saat dalam perjalanan, aku mendapat panggilan dari sutradara di Paris. Aku mendapat tawaran untuk menjadi pemeran utama dalam film yang sangat aku inginkan. Jadi aku memutuskan untuk bertolak dan langsung terbang ke Paris."



"Aku yakin kamu pasti bisa memahamiku dan mau menungguku setahun lagi. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan ini, aku berjanji akan langsung menemuimu. Aku mencintaimu Jacob."



"Hubungi aku setelah kamu membaca pesan ini, Ana."


Hati Jacob menjadi hancur. Malam itu Jacob memutuskan untuk pergi ke bar dan menghabiskan beberapa botol minuman keras.


*


*


~Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2