
"Maafkan aku Alisya, aku sangat bersalah kepadamu." Ucap Aldo sambil tak henti-hentinya menciumi Alisya.
"Tidak Aldo, kamu tidak bersalah. Justru aku yang harus minta maaf kepadamu karena tidak pulang kerumah dan membuatmu cemas." Keduanya saling enggan melepaskan pelukan mereka. Sampai akhirnya Adrian ikut masuk ke ruangan itu dan membuat Alisya dan Aldo terpaksa menunda keinginan mereka untuk tetap saling melepas rindu.
"Kenapa kalian bisa sejahat itu kepadaku, hentikan mesra-mesraan di depanku. Hal itu membuatku menjadi ingin muntah." Ucap Adrian dengan nada menyindir.
Alisya dan Aldo hanya tersenyum. Mereka tak menyalahkan Adrian, justru mereka setidaknya jarus berterimakasih. Karena perbuatan Adrian itulah mereka bisa semakin memahami dan memupuk cinta mereka hingga menjadi semakin subur diatara keduanya.
"Terimakasih Adrian, kamu sudah merawat Alisya dengan sangat baik selama Alisya tidak bersamaku. Aku tau bahawa sebenarnya kamu adalah orang yang sangat baik." Kata Aldo sambil berdiri hendak memeluk Adrian. Akan tetapi Adrian menolak karena harga dirinya masih terlalu tinggi.
"Sudah-sudahlah, jangan terlalu melow. Ini semua aku lakukan hanya demi kebahagiaan Alisya semata, jadi kamu jangan terlalu tinggi hati." Tutur Adrian mencoba membenarkan tindakannya.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi aku dan Alisya tetap berterimakasih padamu. Kini aku menyadari, jika tadinya mungkin aku hanya jatuh cinta kepada Alisya, namun mulai hari ini aku berjanji juga akan bangun cinta setiap harinya. Jadi mulai sekarang kamu tidak perlu mencemaskan Alisya lagi, karena dia sudah berada di tangan yang tepat." Kata Aldo dengan sedikit menyombongkan dirinya.
"Baiklah-baiklah. Mulai hari ini kuserahkan sepenuhnya Alisya kepadamu. Jadilah suami dan ayah yang baik untuk keluargamu." Ucap Adrian memberi wejangan. "Hahaha bukankah kata-kataku ini terlalu sempurna diucapkan oleh anak muda nan tampan seperti diriku. Aku juga tak percaya aku bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Seharusnya perkataanku ini hanya diucapkan oleh bapak-bapak yang sudah tua dan cukup umur." Ucap Adrian dengan gelak tawa dan kebanggaan akan dirinya sendiri.
"Tentu saja, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Dan aku sudah siap dengan gelar baruku itu." Jawab Aldo tak kalah membanggakan dirinya yang sebetar lagi akan dipanggil papa oleh buah hatinya.
"Tunggu dulu, kenapa sepertinya kamu sudah tau jika aku sedang hamil Aldo? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Ka Adrian, apakah ini perbuatanmu? Aku kan sudah bilang jangan memberitahunya. Gagal semua rencanaku untuk memberi surprise." Kata Alisya yang kini tengah cemberut dan menggoyang-nggoyangkan tubuhnya layaknya anak kecil.
"Tidak, itu bukan aku. Aku tidak pernah melanggar janjiku Alisya." Jawab Adrian untuk meyakinkan Alisya.
"Memang bukan Adrian yang memberitahuku Alisya. Panjang ceritanya, nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu." Jawab Aldo sambil mengelus perut Alisya, tanpa segan dan malu Aldo juga mencium perut istrinya itu. Aldo memang sengaja ingin memamerkan kemesraannya dengan Alisya di depan Adrian. "Ini balasan karena kamu telah membuatku babak belur Adrian." Gumam Aldo dalam hatinya.
"Baiklah, sebaiknya kalian segera pulang dan meninggalkan tempat ini. Bisa-bisa aku dibuat mati muda karena cemburu." Kata Adrian yang sebenarnya merasa hatinya sudah baik-baik saja melihat pasangan suami istri itu bermesraan. "Aku akan meminta ajudanku untuk mengantar kalian sampai ke rumah. Jadi untuk kali ini kalian harus banyak berterimakasih kepadaku."
"Tenang saja Adrian. Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu." Tutur Aldo sambil mendekap istrinya dari samping.
__ADS_1
"Iya ka Adrian, pintu kami selalu terbuka untukmu." Imbuh Alisya melengkapi perkataan suaminya.
"Tidak-tidak, yang benar kamu harus tetap meminta ijin dulu kepadaku jika ingin berkunjung kerumah." Kata Aldo yang tetap saja cemburu dan tidak suka jika Alisya bisa dengan leluasa bertemu laki-laki yang sempat mencinyainya itu. Aldo juga masih takut jika Adrian akan menggunakan kesempatan untuk merayu Alisya jika dirinya sedang tak bersama dengan mereka.
"Tenang saja Aldo, aku sudah berjanji untuk membuka hati untuk wanita lain dan menyimpan rasa cintaku kepada Alisya di hatiku yang paling gelap hingga aku yak bisa menemukannya lagi." Jawab Adrian yang tak ingin suasana kembali memanas.
Setelah berpamitan, Alisya dan Aldo pulang dengan diantar oleh dua orang ajudan Adrian. Satu orang bertugas untuk mengendarai mobil milik Aldo dan satu lagi mengikuti mereka dengan mobil Adrian.
Sesampai di rumah. Aldo dan Alisya berterimakasih kepada Ajudan yang diutus Adrian. Setelah mobil milik Adrian menghilang dari pandangan, Alisya dan Aldo berjalan menuju ke rumah sederhana mereka. Aldo membopong Alisya sampai ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
"Apakah kamu tidak lelah Al? seharusnya kamu tidak perlu menggendongku." Ucap Alisya sambil mempersilahkan tempat untuk suaminya ikut berbaring disampingnya.
"Bilang saja jika kamu suka aku gendong. Jika kamu memang berniat untuk berjalan seharusnya kamu mengatakannya dari tadi. Jadi aku tidak terlanjur menggendongmu seperti ini." Jawab Aldo dengan sengaja ingin mengerjai istrinya.
"Ih nyebelin, seharusnya tadi aku tidak ikut pulang dan tetap tinggal bersama ka Adrian." Jawab Alisya sambil memukul-mukul dengan pelan tubuh suaminya.
"Aw aw aw, sakit Alisya. Tubuhku ini penuh dengan memar saat berkelahi tadi. Tapi kamu malah berbicara seperti itu. Sakit sekali rasa hatiku. Lebih sakit dari rasa dipukuli oleh bodyguard-bodyguard kekar itu." keluh Aldo yang merasa senjatanya malah berbalik ke arahnya. Aldo yakin jika ia berkata seperti itu Alisya sudah tidak bisa menyerang kembali dan berganti menjadi merasa bersalah kepada dirinya.
Tangan Aldo menggenggam tangan Alisya dan menahan istrinya itu untuk meninggalkan dirinya. "Kamu mau kemana? hari ini pokoknya kamu tidak boleh kemana-mana dan harus selalu berada disampingku." Kata Aldo penuh penekanan.
"Aku kan hanya ingin mengambil kotak obat dan mengobati luka-lukamu Aldo." Jawab Alisya yang terkejut dengan sikap suaminya saat ini.
"Tidak boleh. Kamu harus tetap disisiku dan hanya menemaniku." Tolak Aldo yang kini memeluk istrinya itu dengan erat.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan selalu berada disisimu. Tapi setidaknya ijinkan aku mengobati lukamu. Luka lebam-lebam ini juga perlu dimompres agar segera membaik."
"Aku bilang tidak perlu. Obat yang aku butuhkan saat ini hanyalah dirimu. Taukah kamu Alisya, aku sangat merindukanmu walau hanya semalam tak berjumpa denganmu. Hati dan rumah ini terasa begitu hampa dan tak ada artinya." Ucap Aldo sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Alisya terharu dan membalas pelukan dari suaminya. "Aku juga sangat merindukanmu Aldo." Alisya kemudian mencium dan mengecup bagian wajah Aldo yang terluka dan memar-memar. "Tapi aku benar-benar harus merawatlukamu ini Aldo. Jika tidak aku khawatir lukanya akan inveksi dan tak kunjung sembuh." Paksa Alisya yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan suaminya.
"Baiklah, jika kamu memang mau menhobatiku, maka kecup dan ciumlah setiap luka dan lebam disekujur tubuhku." Goda Aldo yang kemudian melepas pakaiannya.
"Aldo, kenapa hari ini kamu nakal sekali? Kamu salah makan apa?" Ucap Alisya yang sedikit merasa malu membayangkan dirinya menciumi seluruh tubuh suaminya yang babak belur dan tentu saja penuh dengan luka dan memar itu.
"Ayolah Alisya, lukaku tadi benar-benar merasa membaik saat kamu mengecupnya dengan lembut."
"Iya-iya baiklah." Akhirnya Alisya menuruti kemauan suaminya yang diluar nalar itu.
Saat Alisya mulai menciumi luka-luka ditubuhnya, Aldo sebenarnya tidak kuat menahan gejolak hasratnya yang semakin tinggi. Tetapi ia ingat jika istrinya itu tengah mengandung. Aldo benar-benar tidak tau menau tentang kehamilan. Dalam benaknya jika ia bersetubuh dengan Alisya, maka akan membahayakan calon anaknya. Hal itulah yang memaksa Aldo untuk menahan dan memperkuat dinding pertahanannya.
"Terimakasih Alisya, sekarang lukaku sudah benar-benar sembuh." ucap Aldo yang kemudian meminta Alisya untuk kembali dalam pelukannya.
Alisya meronta dan meminta sekali lagi kepada suaminya itu untuk merawat lukanya dengan metode dan cara yang benar. Namun Aldo tetap saja tak mengijinkannya. Aldo meminta Alisya untuk melakukannya nanti setelah ia puas memeluk dan melepas rasa rindunya.
Akhirnya Alisya kembali menuruti kemauan Aldo yang kekanakan itu. Alisya sebenarnya juga merasa sanyat nyaman dan hangat berada dipelukan suaminya. Tanpa sadar Alisya tertidur dengan pulas di pelukan Aldo.
Menyadari Alisya tertidur. Aldo kemudian mengangkat tangannya yang menjadi tumpuan kepala Alisya dengan hati-hati. Aldo bangun dan menyelimuti istrinya itu dengan selimut disusul dengan kecupan di dahi dan pipi Alisya.
Aldo berjalan dengan hati-hati meninggalkan kamar itu dan menuju ke dapur. Aldo mengambil es batu dan membungkusnya dengan kain. Aldo mulai menemperkan kain dingin itu diwajahnya dan beberapa luka ditubuhnya yang bisa ia jangkau denhan tangannya. Neberapa kali Aldo mengernyit kesakitan. Sebenarnya sedari tadi Aldo menahan rasa ngilu, sakit, dan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Akan tetapi ia tidak ingin memperlihatkan rasa sakitnya di depan Alisya. Aldo tidak ingin membuat istrinya itu terlalu khawatir.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*