
Setelah makan siang, kakak beradik itu memutuskan untuk nonton drama korea di televisi. Keduanya begitu asik dan tenggelam dalam alunan cerita drama tersebut. Beberapa kali mereka tertawa bersama dan sesekali menangis ketika melihat adegan yang memilukan.
"Andai kehidupan cintaku juga seperti kisah-kisah di drama itu ya ka. Selalu saja ada beberapa cowok ganteng yang dengan tulus hati mencintai kita dan rela mengorbankan segalanya."
"Ah kamu ini halu sekali. Jangan terlalu berharap kehidupan kita seperti di drama-drama itu. Nanti yang ada malah jadi galau karena tak sesuai ekspektasi."
"Iya-iya Salisa ngerti. Tapi kisah cinta kaka juga keren seperti di drama-drama itu kok. Suatu saat mungkin Salisa akan menuliskannya menjadi sebuah novel. Pasti banyak yang suka."
"Kamu ini ada-ada aja. Tolong ambilkan toples itu dong, akhir-akhir ini kaka sering merasa lapar. Makanya berat badan kaka juga bertambah beberapa kilogram."
"Ih kaka nggak takut gemuk. Dari dulu kan kaka sering banget diet ketat karena takut melar."
"Abisnya sekarang kaka nggak bisa tahan laper sih. Kaka juga bingung kenapa bisa begini. Andai saja kaka bisa seperti kamu. Makanya banyak tapi nggak gemuk-gemuk."
"Hehehe, iya juga ya ka." Salisa juga ikut mengambil salah satu toples berisi nastar dan mulai melahap satu persatu kue kering dengan isian nanas itu.
Sementara Alisya meletakkan toples berisi kastengel di pangkuannya. Keduanya masih asik berbincang, nonton, sambil ngemil di depan televisi.
"Oh iya ka, minggu depan Salisa akan pergi ke bali selama dua hari untuk melakukan perjalanan bisnis. Tapi Johan bilang dia ingin ikut untuk berwisata, katanya juga agar kami bisa semakin mengenal satu sama lain nantinya. Selama ini kan Salisa sering sibuk dan menolak ketika diajak ngedate. Jadi mungkin kali ini Salisa akan menyetujui renjana Jihan. Salisa memutuskan untuk mengambil cuti dan tinggal satu hari lagi di sana."
"Kamu yakin bisa jaga diri Salisa?" Alisya tampak cemas dan sedikit meragukan keputusan adiknya itu.
"Tenang saja kaka. Kami akan menginap di hotel yang berbeda kok. Salisa juga ingin memanfaatkan kesempatan ini agar bisa mengenal Johan dengan lebih baik. Tapi ada satu masalah penting ka. Salisa minta tolong kerjasamanya ya."
"Tuh kan, pasti kamu nggak berani ngomong sama mama kan?"
"Hehehe, kok tau sih ka. Kaka kan tau kalau mama pasti bakalan melarang Salisa pergi jika tau keadaan yang sebenarnya. Jadi Salisa minta kaka merahasiakan tentang masalah ini. Salisa bilang ke mama jika perjalanan bisnisnya sampai tiga hari. Jadi mama tidak akan curiga."
__ADS_1
"Kaka nggak mau. Kalau nanti terjadi sesuatu denganmu bagaimana? Kaka nggak mau itu terjadi. Mama dan papa pasti juga akan marah dan kecewa jika sampai tau."
"Ayolah ka, Please. Salisa janji akan jaga diri dengan baik. Salisa juga janji nggak akan melakukan hal yang membahayakan diri." Salisa meraih tangan Alisya dan menggenggamnya. Seolah memohon dengan tulus dan memasang mata kelincinya.
Alisya tak tahan melihat ekspresi adiknya yang begitu memelas. Akhirnya Alisya menyetujui permintaan Salisa.
"Tapi kamu harus janji pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Ok!"
"Terimakasih kakakku sayang." Salisa kemudian memeluk erat Alisya dan mencium pipinya.
Selama ini Salisa memang belum pernah pacaran. Dari dulu gadis polos ini selalu cuek jika menyangkut dengan lawan jenis. Tak banyak teman lelakinya. Bahkan sampai lulus kuliah dan bekerja, Salisa tak pernah menanggapi jika ada yang berusaha mendekatinya.
Salisa sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan berdiam diri di rumah bermanja-manja ria dengan kaka dan ibunya.
Kini siang telah berganti malam. Alisya masih terjaga menunggu kepulangan Aldo. Sementara Salisa memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya, gadis berkacamata itu akhirnya tertidur pulas di kamar Alisya setelah selesai menghabiskan lembar terakhir novel yang dibacanya.
Dari luar rumah terdengar suara mobil masuk ke halaman. Alisya bergegas mengambil kunci dan membukakan pintu karena tau jika itu adalah Aldo suaminya.
"Tidak papa Aldo. Lagipula aku juga tidak bisa tidur jika belum melihatmu pulang."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk dulu. Udara di luar sangat dingin. Nanti kamu bisa masuk angin." Aldo melingkarkan tangannya di pinggang Alisya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah."
"Di kamar ada Salisa sudah tertidur pulas, ayo kita ke kamar tamu saja. Aku akan mengambilkan baju ganti untukmu."
Aldo kemudian menuju ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Aldo memejamkan mata sebentar untuk mengurangi sedikit lelahnya karena bekerja.
Alisya menyusul dengan membawa handuk dan pakaian ganti untuk suaminya. Ia meletakan baju yang masih terlipat rapi itu di atas meja kemudian duduk di samping Aldo. Alisya mulai memijit kaki suaminya itu setelah melihat Aldo yang begitu tampak kelelahan.
__ADS_1
Aldo tampak menikmati pijatan dari Alisya. Ia masih memejamkan mata sambil menikmati sentuhan tangan Alisya yang memijit tak begitu kuat dan tak sebanding dengan tukang pijit langganannya. Tapi Aldo tetap menghargai ketulusan dari istrinya itu.
Aldo segera beranjak dan mencium kening Alisya. Aldo tidak ingin jika tangan Alisya terlalu capek memijit.
"Terimakasih istriku sayang. Semua lelah hari ini sudah hilang karena mu." Aldo kembali mencium Alisya. Kali ini di pipi kanan dan pipi kiri Alisya.
Pipi Alisya jadi memerah setelah beberapa kali di cium Aldo. Walau sudah berkali-kali hal itu dilakukan tetapi entah mengapa Alisya masih saja merasa malu jika digoda suaminya.
"Ayo sana lekas bersihkan badanmu dan segera kembali kesini. Pasti hari ini kamu kelelahan karena lembur. Sebaiknya kita segera beristirahat agar besok kamu juga bisa bangun dengan badan yang sudah kembali segar."
Tanpa basa-basi Aldo segera menuruti kemauan istrinya itu. Aldo segera mandi dan kembali ke pelukan Alisya yang sedari tadi menunggu di ranjang.
"Taukah kamu Alisya. Akhir-akhir ini hati dan pikiranku berkecamuk memikirkan kamu. Sebenarnya aku tak tega melihat kamu harus tinggal di tempat seperti ini. Aku merasa aku telah gagal sebagai seorang suami. Setelah menikah, sepertinya aku belum pernah membuatmu bahagia. Hal itu membuat hati ini begitu sakit. Maafkan aku Alisya. Aku akan bekerja lebih giat lagi agar kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita."
"Siapa bilang aku tak bahagia. Asalkan itu bersama kamu, keadaan seperti apapun akan terasa indah Aldo. Selama ini aku tak pernah merasa sedih ataupun susah menjalani bahtera rumah tangga kita. Sebaliknya aku merasa bahagia karena hari-hariku dipenuhi dengan cinta dan perhatianmu. Baik itu tinggal di sebuah gubuk sekalipun atau di sebuah istana akan sama saja bagiku. Kamu jangan merasa terbebani dengan keadan kita sekarang ini. Ayo senyum lah Aldo. Jangan bersedih lagi."
Alisya meletakan kedua jari telunjuknya di ujung bibir Aldo. Setelah melihat Aldo tersenyum Alisya kemudian mengelus dengan lembut dahi Aldo yang tampak berkerut dengan sejuta pikiran yang membebaninya.
Alisya mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aldo dengan lembut. Aldo menyambutnya dengan senyuman dan membalas setiap kecupan dari Alisya. Keberadaan Alisya disampingnya memang seperti sebuah charger di hidup Aldo. Ia bisa kembali mengisi penuh daya baterai tubuhnya jika berada di dekat Alisya.
Rasa lelah setelah seharian bekerja mendadak sirna berganti dengan kehangatan cinta yang menggelora. Mereka tak pernah bosan untuk mengutarakan luapan cinta mereka dengan setiap tindakan yang membuat mereka merasa saling memiliki. Detak jantung yang semakin meninggi dan keringat yang membasahi tubuh mereka menjadi saksi betapa membaranya api cita diantara mereka.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*