
Walaupun Mama Maria menerima dan menyetujui pernikahan itu, akan tetapi hatinya masih belum rela sepenuhnya jika Salisa harus menikah dengan orang yang sama-sama belum begitu mengenal, apalagi saling cinta. Mama Maria masih begitu mengkhawatirkan anak bungsunya itu. Keadaanlah yang memaksa Mama maria untuk menyetujui pernikahan Salisa dengan Jacob.
Mungkin saja jika posisis saat ini sama seperti ketika dulu Papa Antoni menyetujui perjodohan Alisya dengan Bastian anak Paman Doni, tentu saja Mama Maria akan berusaha untuk membatalkan pernikahannya. Saat ini Mama Maria hanya bisa berdoa yang terbaik untuk putrinya.
Di dapur, Jacob menghampiri Salisa yang sedang memasak. Jacob merasa saat ini Salisa terlihat lebih pendiam. Berbeda sekali dengan Salisa yang dulu Jacob kenal. Semenjak Jacob berada disana tak sepatah katapun Salisa ucapkan.
Jacob sangat bingung mau memulai pembicaraan mereka dari mana. Yang jelas tujuan utama Jacob saat ini adalah untuk meminta maaf kepada Salisa. "Ada yang bisa aku bantu lagi Salisa?" tanya Jacob setelah selesai memotong kacang panjang.
Salisa hanya diam saja dan tidak menyauti pertanyaan dari Jacob. Salisa masih sibuk dengan kegiatannya mengiris bawang merah, sambil sesekali mengelap matanyanya yang pedih karenanya.
Jacob semakin bingung harus bagaimana bersikap dengan wanita yang saat ini malah menjadi menangis karena keharirannya. "Maafkan aku Salisa, aku mohon. Jika kamu bersedia memaafkanku maka aku berjanji akan mengabulkan semua permintaanmu." ucap Jacob sambil memegangi tangan Salisa dan memaksa gadis itu berhentindari aktifitasnya.
"Jangan menagis lagi Salisa, aku mohon! Aku memang laki-laki yang pengecut karena begitu takut menghadapi masalah kita ini. Jika kau mau tampar saja pipiku sebanyak yang kau mau. Tapi aku mohon kamu jangan menangis lagi." Jacob memang paling tidak tahan jika melihat ada seorang wanita yang menangis dihadapannya. Dengan lembut, Jacop mengelap air mata Salisa yang menggenang di pelupuk matanya.
Sementara Salisa malah kebingungan sendiri karena ia menangis bukan karena sedang meeasa sedih. Melainkan akibat dari bawang merah yang diirisnya. Setelah tadi disemangati oleh Mama Maria, Slisa memang sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan menerima semua kenyataan pahit yang dialaminya dan tidak akan menangisinya lagi.
Sedari tadi, Salisa tidak menanggapi Jacob karena ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu akibat headset yang dipakainya untuk mendengarkan musik agar hatinya bisa sedikit terhibur dan tak bersedih lagi. Bahkan sedari tadi Salisa tidak menyadari kedatangan Jacob yang berada dibelakangnya. Salisa begitu fokus dengan kegiatan memasaknya yang tak ingin gagal seperti biasanya.
Salisa menatap lekat mata Jacob yang memantulkan gambar dirinya. Mata yang terlihat sayu dengan bola bening berwana kecoklatan menyiratkan kesedihan dan penyesalan. Salisa segera melepas headset yang menyumpal telinganya.
"Sejak kapan kamu berada disini Jacob? aku tidak apa-apa, hanya saja mataku pedih karena mengiris bawang. Kenapa kamu terlihat begitu khawatir seperti itu?" ucap Salisa dengan polosnya. Selama ini Salisa memang tidak pernah membenci Jacob, sebaliknya ia malah merasa bersalah juga karena masalah rencana pernikahan mereka. Salisa merasa bersalah karena ia harus menjadi orang ketiga bagi hubungan kekasih antara Jacob dengan Nona Ana. Apalagi sampai sekarang cincin pertunangan yang seharusnya berada di tangan wanita lain itu malah masih terus melingkar di jarinya.
"A a apa? Jadi sedari tadi aku salah paham? Apakah kamu dari tadi tidak mendengar apa yang aku katakan?" tanya Jacob dengan sedikit malu.
"Maafkan aku Jacob. Tapi lagu yang aku putar terlalu berisik dan aku menyetelnya dengan volume yang keras. Maaf jika aku tak bisa mendengarmu. Bisakah kamu mengulang perkataanmu?" pinta Salisa dengan ramah.
"Emm em, tidak kok. Aku tadi hanya bertanya apa ada yang bisa aku bantu." jawab Jacob dengan gugup.
"Oh... baiklah, jika kamu inhin membantu. Apakah kamu bisa memasak?"
"Tentu saja, walaupun tak sehebat koki, tapi setidaknya masakanku sering mendapat pujian dari para penikmatnya." ucap Jacob dengan bangganya.
"Benarkah? keberulan sekali. Kalau begitu bisakah kamu mengajariku? Selama ini aku belum bisa memasak dengan baik. Jika tidak gosong, maka mungkin masakanku akan berasa seperti garam atau manis seperti gula atau malah hambar sama sekali. Aku juga tidak tau kenapa masakanku bahkan tak bisa disebut sebagai makanan." kata Salisa dengan cemberut.
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu tak menangis lagi. Maka aku akan menjadi gurumu dengan senang hati."
"Kamu meledekku ya? Aku juga tidak mengerti kenapa bawang harus diciptakan dimuka bumi ini dan membuatku menangis." ucap Salisa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu ini lucu sekali Salisa. Tetapi aku salut kepadamu. Kamu benar-benar wanita yang tegar dan tak seperti yang aku bayangkan sebelunya."
"Jadi kamu mau aku jadi seperti apa? tidak mungkin juga aku akan menangis berhari-hari dan tidak membiarkan hidupku menjadi tak berwarna lagi. Saat ini mungkin aku hanya ingin fokus untuk..." Tiba-tiba Salisa terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Fokus untuk apa Salisa?" tanya Jacob penasaran.
"Emmm fokus untuk belajar memasak." jawab Salisa yang sebenarnya tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Ohhh. Kalau begitu ayo kita mulai. Aku lihat dari bahan-bahan yang ada disini sepertinya kita akan membuat sayur asem. Kalau begitu kita akan memotong-motong semua sayuran yang dibutuhkan. Aku akan membantumu memotong jagung ini Salisa, batang jagung ini cukup keras, mungkin kamu akan kesulitan karenanya."
"Benarkah? tapi bolehkah aku mencobanya? aku juga ingin mencoba semua langkah-langkahnya agar aku benar-benar bisa disebut sudah bisa memasak." ucap Salisa dengan beraungguh-sungguh.
"Kamu yakin? Baiklah kalau begitu. Kamu boleh mencobanya. Tapi kamu harus berhati-hati dengan pisaunya."
"Tenang saja Jacob, kamu tidak perlu khawatir."
"Kalau begitu kamu cobalah! aku akan memanaskan airnya terlebih dahulu." ucap Jacob yang kemudian berpaling untuk mengambil panci dan mengisinya dengan air. Setelah dirasa airnya sudah cukup, Jacob kemudian menumpangkannya diatas kompor dan menyalakan apinya.
Baru saja Jacob ingin kembali memeriksa pekeejaan Salisa, namun laki-laki itu sudah mendengar jeritan dari Salisa.
"Aww sakit." Jerit Salisa membuat Jacob merlari kepadanya.
"Ada apa Salisa?" tanya Jacob panik.
"Tanganku berdarah tergores pisau." jawab Salisa dengan menunjukan ujung jarinya yang sedikit terluka karena pisau. Tanpa buang waktu lagi Jacob segera menyaut tangan Salisa yang berdarah dan memasukannya kedalam mulutnya. Jacob menghisap sedikit darah Salisa yang keluar dari jarinya.
Salisa hanya bisa melongo melihat perlakuan Jacob kepadanya. Salisa menarik tangannya dengan paksa. "Aku tidak apa-apa Jacob. Ini hanya luka kecil saja." kata Salisa gugup.
"Dimana kotak obatnya Salisa. Aku lupa jika ini bukan rumahku." tanya Jacob dengan polosnya.
Salisa tersenyum dan sebisa mungkin menahan tawanya. "Di dalam almari itu. Apa kamu melihatnya?" kata Salisa sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Jacob mengikuti kemana arah jari Salisa menunjuk dan melihat kotak berwarna putih dengan lambang berwarna merah khas kotak P3K di dalam almari kaca yang tak jauh dari sana. Jacob segera mengambil kotak itu dan membawanya keoada Salisa.
Jacob membantu Salisa dengan membubuhkan alkohol pada luka di jari Salisa kemudian disusul dengan memberi sedikit obat merah dan menutupnya dengan plester. "Kamu seharusnya lebih berhati-hati Salisa. Tadi aku kan sudah bilang kalau batang jagung ini sedikit keras."
"Maafkan aku Jacob, tadi aku hanya sedikit bersemangat saja." ucap Salisa dengan penyesalannya.
"Bawa kemari, biar aku saja yang melakukannya untukmu. Kamu perhatikan bagaimana caranya agar kelak kamu tak terkuka lagi." Jacob kemudian mengambil alih pisau yang tadi digunakan Salisa.
Jacob memotong melingkar di permukaan bonggol Jagung itu namun tidak sampai terputus. Kemudian Jacob meletakan pisaunya dan memegang dengan tangannya di kedua ujung Jagungnya. "Lihatlah ini Salisa." Jacob kemudian mematahkan Jagung yang dipegangnya hingga terbagi menjadi dua bagian.
"Kenapa tadi kamu tidak bilang jika ada tekniknya seperti itu? Pantas saja dari tadi aku mencoba untuk memotong Jagung itu dengan pisau tetapi sepertinya keras sekali."
"Hehehe, aku lupa memberitahumu. Kamu jangan cemberut lagi seperti itu." kata Jacob melanjutkan lagi memotong jagung yang kedua.
__ADS_1
"Bolehkah aku mencobanya?" bujuk Salisa kembali.
"Tidak boleh. Tanganmu kan sedang terluka. Mana bisa aku mengijinkanmu melakukannya lagi."
"Ayolah jacob. Bagaimana aku bisa belajar memasak kalau kamu tidak mengijinkanku untuk mencobanya lagi."
"Baiklah baiklah. Tapi kamu harus melakukannya dengan hati-hati dan dibawah pengawasanku."
"Trimakasih." ucap Salisa yang kemudian sudah mengambil lagi Satu binggol jagung untuk ia potong. Salisa mempraktekkan persis seperti tadi yang dilakukan oleh Jacob. Namun saat Salisa mencoba untuk mematahkan Jagung itu dengan kedua tangannya, Salisa tetap merasa itu terlaku keras dan tak bisa dipatahkan semudah Jacob melakukannya tadi.
Salisa mencobanya berulang kali dengan memutar-mutarnya dan membolak-balik Jagung yang ada ditangannya. Salisa juga sudah mengerahkan seluruh tenaganya namun tetap saja Jagung itu masuh utuh seperti sebelumnya.
Jacob hanya bisa tersenyum geli melihat tikah Salisa yang dirasanya teekihat imut dan menghemaskan itu. "Apakah kamu sudah menyerah Salisa? jika sudah, serahkan semuanya kepadaku." kata Jacob sambil tak henti-hentinya tersenyum.
"Tunggu dulu, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Tadi aku lihat kamu melakukannya dengan begitu mudah, tetapi kenapa sekarang aku tidak bisa melakukannya semudah yang aku pikirkan." jawab Salisa ang tetap tidak mau menyerah dengan Jagungnya.
"Aku tau, sepertinya aku harus sedikit berimprofisasi sendiri." kata Salisa dengan percaya diri. Salisa kemudian menjadikan kututnya sebagai tumouan agar ia bisa lebih menghemat tenaga dan mematahkan Jagung itu dengan lebih mudah. Dan benar saja Salisa berhasil melakukannya.
Tiba-tiba Salisa berjoget-joget kegirangan karena berhasil membuktikan bahwa ia bisa melakukan pekerjaan yang dianggapnya begitu sulit itu.
Jacob tak bisa lagi menahan tawanya melihat tingkah absurd wanita dihadapannya. Disatu sisi Jacob juga kagum dengan kegigihan Salisa kali ini. "Kamu itu lucu sekali sih Salisa." tanpa sadar, jacob tiba-tiba mencubit pipi cuby Salisa.
Salisa yang merasa gugup dengan perlakuan Jacob, hendak menghindar dengan mundur dan menjauhi laki-laki yang membuat jantungnya berdebar itu. karena tidak hati-hati Salisa sedikit terhuyung dan tanganya hendak menyenggol panci panas yang berada di atas kompor.
Untung saja Jacob segera menyadari dan menarik tangan Salisa agar jangan sampai Salisa terkena luka bakar karena menyenggol panci yang panas itu. Karena Jacob menariknya dengan begitu kuat, Salisa tak bisa lagi mengendalikan tubuhnya hingga membuat dirinya menabrak tubuh pria duhadapannya.
Karena takut Salisa akan terjatuh, Jacob mendekap tubuh Salisa dengan kedua tangannya hingga membuat keduanya seperti sedang berpelukan dengan erat. Dalam sejenak dunia seperti berhenti berputar bagi keduanya. Mereka saling pandang dengan jarak yang teramat dekat dan nyaris saja berciuman.
Setelah Salisa dan Jacob kembali tersadar, mereka kemudian saling melepas tangan mereka yang memegang dengan erat tubuh di dekapannya.
Suasana berubah menjadi begitu canggung bagi Salisa mauoun Aldo. "A,aku akan memeriksa Airnya." Kata Jacob sebagai alasnnya agar bisa menghindar dari suasana yang membuatnya berdebar itu.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan bunbunya." jawab Salisa yang tak kalah merasa canggung dengan pelukan yang tak disengaja itu.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*