
Setelah pernikahan Alisya dan Aldo, Adrian memutuskan untuk kembali ke Swiss ke tempat keluarga besarnya tinggal.
Sudah cukup lama Adrian tidak mendengar kabar tentang Alisya ataupun hanya sekedar berkirim pesan untuk menanyakan kabar semenjak pernikahan Alisya, gadis yang dicintainya itu memilih Aldo sebagai pasangan hidupnya.
Adrian memang masih mencintai Alisya dan belum bisa melupakannya namun ia memilih untuk merelakannya demi kebahagian gadis yang dicintainya itu.
Kali ini Adrian datang ke Indonesia untuk urusan bisnis. Adrian sempat menanyakan kabar tentang Alisya kepada teman-temannya. Mereka bilang Alisya sekarang menderita dan hidup di rumah kecil yang sederhana. Mendengar hal itu membuat Adrian menjadi iba dan merasa tak rela jika Alisya harus hidup dengan kesulitan.
Saat punya waktu senggang Adrian menyempatkan diri untuk mencari kediaman Alisya saat ini. Adrian beberapa kali memarkir mobilnya tak jauh dari rumah Alisya dan Aldo. Ia mengamati dari jauh apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar seperti yang dikatakan teman-temannya itu. Terutama saat Adrian bertemu dengan paman Doni kolega bisnisnya itu berkata yang buruk-buruk tentang Aldo. Adrian ingin memastikan sendiri bahwa kekhawatirannya itu tak benar adanya.
Adakalanya Adrian melihat Alisya sedang menyirami bunga di depan rumahnya. Menyapu halaman, mencabuti rumput, mengelap jendela. Atau sesekali juga melihat Aldo yang akan berangkat bekerja.
Begitu banyak pikiran dan pertanyaan dalam benak Adrian. Apakah Alisya baik-baik saja? apakah Alisya bahagia? haruskah aku datang menemuinya dan menanyakan keadaannya? Bagaimana bisa Alisya mau melakukan semua pekerjaan rumah yang begitu melelahkan itu?
Suatu hari Adrian melihat sosok Alisya yang sedang berjalan sendiri menyusuri jalan dengan menenteng sebuah tas belanja. Dilihat dari penampilannya, sepertinya Alisya sedang ingin belanja ke pasar.
Adrian masih belum berani mendatangi Alisya dan menanyakan kabar tentangnya. Walaupun Adrian masih memiliki rasa terhadap Alisya, namun semua niatnya ia urungkan agar tak menjadi penggangu dalam hubungan orang lain.
Siang itu langkah Alisya terlihat begitu berat. Akhirnya Adrian memutuskan untuk mengikuti Alisya secara diam-diam dengan mobilnya. Berulang kali Alisya terlihat berhenti sejenak dan menyeka keringat di wajahnya. Dan benar saja, tiba-tiba Alisya terjatuh dan pingsang di tepi jalan. Dengan sigap, Adrian langsung berlari mendatangi Alisya dan membopongnya masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung membawa Alisya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Alisya dibawa ke ruang ICU. Adrian mondar-mandir di depan pintu dengan wajah yang begitu cemas dan khawatir.
Selang beberapa waktu seorang dokter dan perawatnya keluar dari dalam ruangan itu. "Bagaimana keadaan Alisya dok? apakah terjadi sesuatu kepadanya?" Tanya Adrian dengan menggeggam tangannya dengan erat.
"Bapak tenang saja. Saat ini kondisi pasien sudah setabil. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Setelah infus habis, pasien sudah boleh pulang. Hal ini wajar terjadi pada seorang wanita yang sedang hamil muda. Daya tahan tubuhnya cenderung melemah. Sehingga harus lebih berhati-hati dan tidak boleh bekerja terlalu berat agar calon ibu tidak kelelahan."
"Maksud dokter?"
"Ahh, sepertinya bapak belum mengetahui kalau istri bapak sedang hamil ya? Selamat ya pak. Anda akan segera menjadi seorang ayah."
"Te te terimakasih dokter. Saya akan menjaganya dengan baik."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu kemudian meninggalkan Adrian.
Setelah dipindah ke ruang perawatan. Adrian masih menunggu Alisya terbangun dari tidurnya. Adrian memandangi wajah Alisya yang tampak masih pucat. Saat itu Adrian dibuat bimbang dengan apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus menelefon Aldo dan pergi merelakan Alisya seperti dulu lagi? Ataukah ia harus memperjuangkan cintanya kembali dan membuat Alisya hidup bahagia.
Begitu banyak pertanyaan kembali memenuhi isi kepalanya. Namun setelah mengingat kembali Alisya berjalan sendiri dan terjatuh hingga tak sadarkan diri itu membuat hati Adrian tergerak. Ia beranggapan bahwa Aldo suami yang tidak baik dan tega membuat Alisya menderita. Hal itu membuat Adrian menjadi geram dan kecewa kepada Aldo.
"Ka Adrian, kenapa kaka bisa ada disini? Lalu dimana Alisya sekarang ini ka? Kenapa sepertinya ini di rumah sakit?" Setelah tersadar, Alisya mencoba untuk duduk dan mengingat tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Alisya. Kamu sudah bangun? Jangan duduk dulu. Tetaplah berbaring agar kamu bisa lekas pulih."
"Huum baiklah." Alisya kembali berbaring dengan dibantu Adrian. "Tapi ka, apa yang sebenarnya terjadi? Seingat Alisya, tadi Alisya sedang berangkat ke pasar untuk berbelanja. Tapi Alisya merasa sedikit pusing dan tiba-tiba sekarang Alisya sudah ada di rumah sakit. Lalu kenapa kaka ada di sini? bukannya ka Adrian harusnya ada di Swiss?"
"Iya Alisya, Papaku memintaku untuk meninjau bisnis yang ada di Indonesia. Tadi tanpa sengaja aku melihat ada wanita yang pingsan di tepi jalan, dan ternyata itu kamu. Jadi kaka langsung membawamu ke rumah sakit."
"Ooh begitu, kebetulan sekali ya ka. Untung ada ka Adrian. Trimakasih banyak ka Adrian. Tapi kenapa aku bisa langsung pingsan ya. Padahal Alisya merasa akhir-akhir ini Alisya sehat-sehat saja. Bahkan nafsu makan Alisya juga semakin bertambah." Alisya mengerutkan dahinya mencoba untuk mencari tau apa yang terjadi dengan dirinya.
"Benarkah? Tapi kenapa kamu itu ceroboh sekali. Lalu dimana Aldo? Kenapa dia tidak mengantarmu? Seharusnya kamu harus lebih hati-hati dan tidak boleh terlalu lelah saat sedang hamil. Kenapa kamu malah pergi ke pasar sendirian dengan berjalan kaki?"
"Apa tadi kaka bilang, hamil? Siapa yang hamil ka?"
"Benarkah ka? Waah Alisya senang sekali." Alisya terlihat begitu bahagia dengan memperlihatkan senyum bahagianya sambil bertepuk tangan layaknya seorang anak kecil. Hal itu membuat Adrian kembali terpesona dengan Alisya yang terlihat begitu polos dan menggemaskan.
"Aku harus segera memberi kabar kepada Aldo. Pasti dia juga sangat senang mendengar kabar ini. Aku akan segera menelfon Aldo agar dia segera kesini dan menjemputku."
Mendengar kata-kata itu membuat hati Adrian begitu hancur dan menjadi sedih. "Tunggu dulu Alisya, biar aku saja yang menelfonnya. Lagi pula ponsel dan tasmu saat ini berada di dalam mobilku. Tadi aku tidak kepikiran untuk membawa kesini karena begitu khawatir kepadamu."
"Uum, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak ka Adrian. Tapi bisakah kaka jangan memberi tahu Aldo dulu jika Alisya sedang hamil. Alisya ingin menjadikan kehamilan ini sebagai surprise untuk Aldo."
"Baiklah. Kamu tenang saja." Dengan berat hati Adrian harus menerima kenyataan jika saat ini Alisya bukan lagi seorang gadis seperti dulu lagi. Kini Alisya adalah istri orang lain dan bahkan mereka akan menjadi keluarga kecil bahagia dengan kehamilan Alisya kali ini.
"Kalau begitu kamu istirahatlah kembali agar cepat pulih kembali. Aku akan memberi kabar untuk Aldo dan membeli air minum di depan."
__ADS_1
Alisya menganggukan kepalanya dan kembali beristirahat. Sedangkan Adrian keluar dari kamar itu dengan hati yang begitu hancur. Adrian duduk di bangku depan kamar Alisya. Ia memikirkan ada apa dengan hatinya saat ini. Bukankah dulu ia sudah merelakan Alisya untuk Aldo. Tapi kenapa kali ini hatinya terasa begitu sakit.
Adrian mencoba untuk menerima kenyataan itu. Tetapi melihat Alisya yang terlihat hidup kesusahan dengan tinggal di rumah yang kecil dan sederhana itu ditambah dengan pekerjaan rumah tangga yang begitu berat membuat Adrian merasa marah dan kecewa kepada Aldo. Kenapa Aldo tega membuat hidup Alisya menderita seperti itu. Apalagi sekarang Alisya sedang hamil. Adrian berpikir Alisya tidak boleh tinggal di rumah kecil itu dan harus mengerjakan pekerjaan rumah.
Adrian berencana untuk membawa Alisya ke apartemen mewahnya. Ia juga berencana untuk memanjakan Alisya dengan menyediakan beberapa pelayan untuknya.
Setelah membeli minum dan memberi kabar kepada Aldo, Adrian kembali ke kamar rawat Alisya. Mendengar pintu kamar terbuka, Alisya terbangun dan mengira Aldo sudah datang menjemputnya.
"Ka Adrian, dimana Aldo? Apakah Aldo sudah datang? Alisya sudah bosan disini, Alisya tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Alisya ingin segera pulang ka."
"Aldo belum sampai Alisya. Jarak kantor Aldo ke sini kan cukup jauh. Mungkin Aldo akan sampai beberapa jam lagi. Jika kamu bosan disini, bagaimana kalau kamu ikut kaka pulang ke apartement kaka dulu. lagi pula kita sudah lama tidak bertemu. Kaka ingin mengundangmu untuk makan siang dirumah. Nanti aku akan meminta Aldo untuk menjemputmu dirumah. Lagi pula akan lebih dekat jika Aldo menjemputmu di apartemenku."
"Benar juga kata kaka, baiklah kalau begitu. Alisya ikut kaka ke rumah."
"Baiklah kalau begitu, kamu tunggu dulu di sini. Kaka akan mengambil kursi roda untukmu."
"Tidak perlu ka Adrian, Alisya sudah bisa jalan sendiri kok."
"Jangan keras kepala Alisya. Kaka tidak mau kamu sampai pinsan lagi. Lagi pula saat ini kamu sedang hamil, kamu harus benar-benar menjaga kondisimu dengan baik."
"Baiklah, kali ini Alisya turuti kemauan kaka. Lagi pula apa susahnya mengikuti kemauan kaka sendiri yang sedang khawatir dengan adiknya."
"Nah gitu dong" Adrian mengusap kepala Alisya dengan lembut. Kemudian segera mengambil kursi roda untuk membawa Alisya ke parkiran mobil.
Mendengar Salisa yang menganggap dirinya sebagai kaka membuat hati Adrian kembali pedih. Dulu Adrian memang meminta Alisya untuk mengangapnya sebagai kaka. Tapi entah mengapa saat ini kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*