
Sesampainya di rumah, Aldo langsung mengabarkan berita bahagia itu kepada kedua orang tuanya. Saat itu Rahma dan juga Winata sedang bersantai menonton televisi sambil menunggu kepulangan anak laki-lakinya itu.
Aldo begitu antusias menceritakan setiap detail kejadian dan hal apa saja yang terjadi di hari itu. Bahkan sesekali Aldo memperagakan dan seolah menirukan beragam ekspresi yang membuat kedua orang tuanya tersenyum geli melihat tingkah Aldo yang tak seperti biasanya itu.
"Baiklah kalau begitu, papa dan mama sangat mendukungmu. Besok kita akan langsung datang kerumah Antoni untuk melamar Alisya. Papa akan menyiapkan semuanya untukmu."Winata dan Rahma terlihat sangat bahagia dan terharu mendengar kabar yang begitu mengembirakan itu. Keduanya bergantian memeluk dan menepuk bahu Aldo. Saking terharunya, tanpa sadar Rahma sampai menitihkan air mata bahagianya.
"Tidak perlu pa. Besok Aldo sendiri yang akan menyiapkan segala sesuatunya. Papa dan mama cukup datang dan memberikan doa restu untuk kami saja, itu sudah sangat cukup." Aldo memang anak yang begitu berbakti kepada orang tuanya. Ia tidak ingin membuat orang tuanya kerepotan.
"Lihatlah anak lelakimu ini pa. Sepertinya Aldo memang sudah siap untuk menikah dan menjadi kepala rumah tangga. Mama ikut bangga nak. Kemarin mama melihat kamu tampak murung, tetapi sekarang bagaikan anak kecil yang begitu kegirangan mendapat sebuah permen."
Saat ini Aldo memang mirip seperti orang kurang waras yang tersenyum sendiri sambil memeluk bantal sofa dan menciuminya.
"Haah. Cinta memang bisa merubah seseorang yang berwibawa menjadi seperti seekor anak kucing yang menggemaskan." Winata juga heran dengan tingkah Aldo kali ini. Berulang kali ia menggelengkan kepala dan menyenggol istrinya. Mengisyaratkan untuk ikut melihat tingkah anak bujangnya itu.
Sadar dirinya melakukan hal konyol, Aldo kemudian berpura-pura tak terjadi apa-apa dan kembali menampakkan wajahnya yang sok cool.
"Ya sudah sana! kamu tidur saja dulu nak. Bukankah besok harus menyiapkan banyak hal utuk lamaran?" Rahma menepuk bahu Aldo sambil mengelusnya dengan lembut.
"Mama juga mau ke kamar untuk menyiapkan cincin warisan turun-temurun keluarga kita untuk kamu berikan kepada Alisya besok. Ayok pa, temenin mama ke kamar. Mama juga pengen ngobrol berduaan sama papa."
Kemudian mereka pergi ke kamar mereka masing-masing. Di dalam kamar, Aldo langsung mengambil ponselnya dan membuat panggilan vidio kepada Alisya.
"Hai cintaku, sayangku, permaisuriku, bidadari tak bersayapku, belahan jiwaku, Sedang apakah engkau disana?" Begitu tersambung Aldo langsung menghujani Alisya dengan kata-kata gombalnya.
"Sedang memikirkanmu, suamiku"
Mendengar Alisya menyebut dirinya dengan sebutan suami, Aldo terlihat kegirangan dan malah merasa kikuk. Namun sebenarnya didalam hatinya bagaikan di bom atom. Suaranya yang menggelegar seolah ikut mendengungkan kebahagiaannya.
"Terimakasih istriku tercinta. Besok malam aku akan datang bersama keluarga untuk melamarmu Alisya."
"Kenapa cepat sekali Aldo. Bagaimana aku harus menyiapkan segala sesuatunya."
"Apa yang perlu disiapkan Alisya? Aku hanya butuh jawaban bersedia darimu ketikan besok aku menanyakannya. Lagipula ini semua juga ide papa yang begitu antusias dan tak sabar menjadikanmu anak mantu."
__ADS_1
"Tapi Aldo, kami kan juga harus bersiap-siap untuk menyambut tamu kehormatan."
"Tenang saja Alisya, orang tuaku juga tidak mengharapkan perlakuan yang istimewa. Bilang saja kepada paman Antoni dan tante Maria. Kami ingin berkunjung untuk makan malam bersama."
"Baiklah jika itu permintaanmu. Aku juga lebih suka dengan suasana yang kekeluargaan. Mama dan papa pasti juga setuju untuk tidak membuat acara khusus untuk lamaran kita."
"Alisya sepertinya aku sudah tak bisa menahan rasa rindu ini. Besok pagi aku akan menjemputmu kerumah."
"Rindu? Bukankah baru beberapa jam yang lalu kita berpisah? Mau kemana kita Al?"
"Memangnya kamu tidak kangen ya?" Aldo menampakkan wajah sedihnya. "Pokoknya besok kamu bersiap saja. Aku akan memberikan sebuah kejutan untukmu"
"Tentu saja aku juga kangen. Tapi aku baru tau jika seorang Aldo bisa bersikap manja seperti ini." Alisya tersenyum geli melihat tingkah Aldo dari layar ponselnya.
"Kalau begitu kita bobo dulu ya. Tapi aku mau vidio call ini jangan dimatikan. Letakkan saja ponselnya agar aku tetap bisa memandang wajahmu sebelum tidur."
Alisya semakin geli mendengar permintaan Aldo yang aneh-aneh itu. Namun ia tetap menurutinya. Cukup lama mereka terdiam dan hanya saling pandang di layar ponsel masing-masing. Alisya yang mulai mengantuk sampai menguap beberapa kali namun ia tetap berusaha untuk terjaga.
"Tidurlah Alisya, Aku akan menjagamu sampai kamu tertidur lelap. Nanti aku yang akan mematikan poselnya."
"Baiklah kalau begitu. Ayo cepat pejamkan matamu!"
Mereka memejamkan mata bersama-sama. Namun hanya Alisya yang tak lagi membuka matanya dan terhayut dalam tidur lelapnya. Sementara Aldo membuka matanya kembali untuk memandangi Alisya yang sudah tertidur dengan lelap.
Aldo membelai rambut Alisya dari layar kaca sambil bergumam dihatinya. "Trimakasih Alisya. Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Tanpa sadar Aldo akhirnya ikut terlelap dan terbuai dalam mimpi indahnya.
Di esok hari, Alisya dan Aldo pergi berbelanja segala macam kebutuhan utuk lamaran. Diam-diam Aldo sudah bertanya terlebih dulu kepada kakaknya Rendi, mengenai apa saja yang biasanya dibutuhkan untuk melamar.
Malam harinya kedua keluarga tersebut berkumpul di rumah Alisya untuk makan malam bersama sekaligus melaksanakan prosesi lamaran utuk Aldo dan Alisya. Lamaran itu lebih terasa seperti sebuah pertemuan dua keluarga yang sudah begitu akrab. Dipenuhi kehangatan dan canda tawa dari mereka semua. Hanya Alisya dan Aldo yang masih merasa kikuk ketika tanpa sadar mata mereka saling bertemu. Tak seperti biasanya, justru keduanya menjadi malu hanya untuk saling memandang atau sekedar berbincang.
Ketika makan malam telah usai. Alisya berdiri dan hendak membereskan piring kotor untuk dibawa kedapur. Aldo juga ikut berdiri untuk membantu Alisya.
__ADS_1
"Ayo Alisya. Aku Akan membantumu membereskan semua ini." Tanpa dikomando Aldo sudah ikut memereskan piring-piring kotor dan ikut membawanya ke dapur untuk dicuci.
"Biarkan saja mereka berdua yang membereskan semuanya. Ayo kita berpindah ke ruang keluarga untuk membicarakan rencana pernikahan mereka." Antoni kemudian mengajak semua tamunya untuk beranjak ke ruang keluarga.
"Tuan putri duduklah dikursi saja, biar saya yang mengerjakan semua ini."
Aldo memaksa Alisya agar Alisya beristirahat saja dan cukup memperhatikan. Sedangkan ia yang akan mencuci semua peralatan makan yang kotor itu.
Awalnya Alisya menuruti permintaan Aldo itu dan duduk di kursi sambil memperhatikan Aldo yang mulai sibuk dengan aktifitasnya. Alisya tersenyum melihat kesungguhan Aldo, Ia tau jika sejak kecil Aldo memang sering membantu tante Rahma dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Alisya beranjak dari duduknya kemudian memekuk Aldo dari belakang. Aldo tersetak kaget dan memutar badannya menghadap ke arah Alisya.
"Kamu ini mengagetkanku saja." Aldo mencubit hidung Alisya dengan tangan yang penuh dengan busa sabun.
"Iih Aldo, kotor tau." Alisya yang tak terima hidungnya terkena busa sabun kemudian membalas Aldo dengan menggelitiki pinggang Aldo.
"Nih rasain. Sekarang aku juga bisa membalas semua tingkah jailmu."
"Iya ampun-ampun tuan putri. Saya mengaku kalah." Aldo yang belum pernah digelitiki meronta bagai cacing kepanasan sambil memohon ampun kepada Alisya.
Setelah Alisya menghentikan tangan jailnya. Aldo langsung menggangkat tubuh Alisya dan mendudukannya di atas meja keramik disamping washtafel. Aldo kemudian mencium bibir Alisya. "Ini sebagai hukuman karna sudah berani membalasku dan yang ini untuk ucapan terimakasihku karna tadi sudah menerima lamaranku." Sebelum Alisya sempat berkata-kata Aldo sudah mendaratkan kembali bibirnya dan mengecup berulang kali bibir dengan lipstick merah merona itu.
Mendengar langkah kaki menuju ke arah dapur. Mereka langsung menghentikan ciuman yang semakin panas itu. Aldo kembali mncuci piring, sedangkan Alisya buru-buru mengambil kain lap untuk membantu mengeringkan piring yang sudah dicuci dan meletakkannya ke dalam almari. Ternyata yang datang adalah mama Maria yang sengaja kedapur untuk mengambil buah di dalam kulkas dan memanggil Alisya dan Aldo untuk segera bergabung di ruang keluarga.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menggelar resepsi pernikahan secara sederhana di villa milik keluarga Aldo yang terletak di puncak. Mereka hanya akan mengundang kerabat dan keluarga terdekat saja. Acara pernikahan akan dilaksanakan sebulan setelah acara lamaran itu, tepat di hari ulang tahun Alisya yang ke dua puluh empat.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*