
Walaupun kondisi jalanan yang masih licin dan gerimis masih mengguyur, Adrian berusaha melajukan mobilnya agar sampai ditujuan lebih cepat.
Adrian tidak pergi menuju bandara seperti yang ia katakan kepada Alisya dan juga Aldo. Kali ini Adrian justru mengarahkan mobilnya ke rumah Alisya.
"Apa yang sebenarnya akan aku lakukan? Semoga ini adalah keputusan terbaik untuk semua orang." Berulangkali Adrian bertanya dalam hatinya untuk memantapkan tujuannya.
Tidak seperti di puncak, cuaca di kota itu justru didominasi dengan awan cerah dan sore hari yang indah dengan mega berwarna jingga. Sang Surya juga terlihat mengintip dari balik perbukitan hendak kembali ke peraduannya dan tak menunjukan lagi keagungan nya.
Mama Maria sedang sibuk mempersiapkan makan malam di dapur, sedangkan Salisa sibuk dengan tugas kuliahnya didalam kamar. Papa antoni sendiri juga sedang duduk di kursi kerjanya untuk kembali mempelajari setiap detail projek nya yang sudah lama ia serahkan tanggungjawabnya kepada putri sulungnya.
Antoni memang sudah cukup lama beristirahat di rumah. Akhir-akhir ini ia sudah merasa sehat seperti sedia kala dan memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaannya. Antoni juga tak ingin terlalu lama menyerahkan beban yang cukup berat itu kepada putrinya.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Membuat mama Maria menghentikan aktivitas memasaknya, ia mematikan kompor dan segera menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Siap ya, sore-sore begini bertamu?" Pertanyaan itu memenuhi kepala Maria. Karena Tak biasanya ada tamu berkunjung di sore hari seperti itu.
"Loh nak Adrian, bukannya tadi pergi bersama Alisya ya? Kenapa datang sendirian? dimana Alisya? Putriku nggak kenapa-napa kan?"
"Iya tante. Adrian tadi memang bersama Alisya. Tapi sekarang Adrian sengaja datang sendiri untuk bertemu dengan Tante, Om, dan Salisa. Adrian ingin berbicara hal penting menyangkut Alisya."
Jawaban dari Adrian semakin membuat Maria semakin khawatir akan putrinya.
"Memangnya ada apa dengan Alisya? Ayo cepat katakan Nak Adrian. Putri kami kenapa? Sekarang Alisya ada dimana?"
"Tante tenang dulu ya tan. Alisya baik-baik saja kok. Mungkin saat ini Alisya sedang dalam perjalanan pulang juga. Tapi karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan secara khusus terlebih dulu kepada Tante dan Om. Jadi Adrian sengaja pulang terlebih dulu."
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tante tidak tau kalau kalian ada masalah. Ayo masuk ke rumah. Tante akan memanggilkan Om Antoni dan Salisa kemari."
Setelah Adrian duduk di ruang tamu. Maria segera menuju ruang kerja suaminya dan memintanya menemui Adrian. Sama seperti istrinya, Antoni juga merasa kebingungan dengan kedatangan Adrian yang tak pulang bersama putrinya.
Maria juga memanggil Salisa untuk turun dan ikut bergabung bersama mereka. Suasana jadi begitu hening menunggu penjelasan dari Adrian atas kekhawatiran yang diciptakannya.
__ADS_1
"Adrian minta maaf sebelumnya jika kedatangan Adrian sore ini membuat kalian begitu khawatir dengan Alisya. Saat ini Alisya masih berada di puncak bersama Aldo. Dan kemungkinan besar mereka juga sedang dalam perjalanan pulang kesini."
Semua terdiam dan mendengarkan setiap ucapan dari mulut Adrian dengan pertanyaan dibenak mereka masing-masing.
"Adrian tau jika banyak sekali pertanyaan yang ingin kalian sampaikan. Tetapi ijinkanlah Adrian untuk berbicara terlebih dulu."
"Om, tante. Satu hal yang ingin Adrian tekankan disini. Bahwa Adrian sangat mencintai Alisya. Adrian juga tidak main-main saat ingin menjadikan Alisya sebagai pendamping hidup Adrian."
Antoni mengernyitkan dahinya. Ia menebak-nebak sebenarnya apa yang sedang terjadi antara Alisya dan Adrian. Sedangkan Maria sedikit banyak bisa menebak apa yang terjadi ketika Adrian bilang putrinya masih dipuncak bersama dengan Aldo. Berbeda dengan Salisa yang begitu Girang, akhirnya Adrian mengambil keputusan yang benar setelah sekian lama mencoba untuk tetap egois dengan cintanya, walaupun sebenarnya sudah tau hati Alisya bukan untuknya.
"Adrian tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini Om. Adrian tidak mau membuat Alisya bersedih karena tak bisa hidup berdampingan dengan pilihan hatinya yang sesungguhnya. Bukankah pernikahan itu harusnya dilandasi dengan hati yang sama-sama saling mencintai?"
Papa Antoni terlihat kaget dengan kata-kata yang diucapkan Adrian. Laki-laki yang dianggapnya dicintai oleh putrinya itu. Ternyata selama ini Antoni belum memahami putrinya sendiri. Antoni menjadi begitu sedih karena sadar putrinya telah banyak berkorban demi dirinya dan tak mementingkan egonya sendiri.
Mama Maria tersenyum sambil menepuk bahu Adrian.
"Tante sangat bangga terhadapmu Adrian. Hatimu sungguh baik dan tulus. Kamu bahkan mau berbesar hati dan merelakan Alisya bisa hidup dengan cintanya. Sebenarnya tante sedikit banyak sudah tau jika Alisya itu menyukai Aldo sejak lama."
"Iya pa, waktu itu ka Aldo memang mengenalkan pacarnya di depan ka Alisya. Tetapi semua itu hanya sandiwara. Itu hanya tindakan ka Aldo yang kurang dewasa karena begitu takut kehilangan ka Alisya. Ka Aldo takut untuk mengungkapkan cintanya kana takut ditolak dan membuat hubungan persahabatannya dengan ka Alisya jadi rusak dan justru membuat mereka saling menjauh. Makanya ka Aldo mencari tau apakah ka Alisya mencintainya atau tidak dengan mencoba membuatnya cemburu."
"Jadi kamu juga sudah tau Salisa? Kenapa kalian semua tidak bercerita yang sejujurnya kepada papa?"
"Maafin Salisa pa. Salisa takut kalau penyakit jantung papa kambuh jika menceritakan yang sebenarnya."
"Adrian juga minta maaf Om, Adrian baru berani mengungkapkannya sekarang. Tadinya Adrian berharap lambat laun Alisya bisa melupakan Aldo dan mulai mencintaiku. Tapi, ternyata Adrian salah. Hati Alisya sudah jadi milik Aldo dan selamanya akan seperti itu."
Papa Antoni menghela nafas begitu dalam. Suasana berubah menjadi sedikit tegang. Mereka menunggu bagaimana keputusan yang akan diambil oleh Antoni.
"Adrian mohon Om Antoni bisa memaafkan saya dan setuju jika rencana pernikahan ini dibatalkan. Adrian akan menjelaskan semuanya kepada keluarga di Swiss. Adrian yakin mereka dapat mengerti dan memaklumi setelah mengetahui cerita yang sebenarnya."
"Bagaimana mungkin papa akan membiarkan putriku merasa tertekan dan bersedih seumur hidupnya karena salah mengambil keputusan. Papa juga tak rela jika Alisya harus berkorban begitu besar untuk diriku. Papa menyetujui untuk membatalkan rencana pernikahan ini dan membiarkan putriku memilih sendiri kepada siapa ia akan menikah."
Kini suasana kembali menjadi hangat dan dipenuhi dengan senyuman.
__ADS_1
"Adrian mohon kepada kalian, walaupun akhirnya Adrian tak jadi menantu Om dan tante, Apakah boleh jika Adrian tetap dianggap sebagai anak kalian? Adrian sudah terlanjur sayang kepada kalian."
"Tentu saja Adrian. Siapa juga yang tidak mau mempunyai anak sebaik dirimu. Kamu akan kami anggap sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga ini. Apakah Adrian tak keberatan? Benar kan papa Antoni? Salisa?"
"Tentu saja sayangku. Kita kan belum mempunyai anak laki-laki. Kita sangat beruntung jika memiliki anak laki-laki sepertimu," Ucap Antoni sambil merangkul Adrian."
"Salisa juga seneng kok. Punya kakak cowok seganteng dan sebaik ka Adrian. Walaupun ka Adrian tak jadi menikah dengan ka Alisya, tetapi rumah ini akan selalu terbuka untuk kaka. Iya kan mah, pah?"
"Kamu benar sekali putriku yang manis. Nak Adrian harus tetap sering berkunjung kemari."
"Baiklah kalau begitu. Hati Adrian sekarang sudah begitu lega dan sangat senang mendengar kalian bisa memahami persoalan ini. Tadinya Adrian sangat takut jika apa yang Adrian sampaikan justru membuat kegaduhan dan memperburuk situasi."
"Sebaiknya kita tunggu Alisya dan Aldo sampai di rumah. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba di rumah. Adrian sudah membatalkan penerbangan untuk sore ini dan sudah menjadwalkan ulang untu besok sore."
"Baguslah kalau begitu ka. Salisa juga sudah begitu tak sabar menunggu kepulangan mereka."
*
*
~Bersambung~
*
*
Hei sahabat Readersku. Bagaimana pendapat kalian tentang jalan cerita kisah ini?
Kasih Komennya dong!!
Jangan kalian anggap konfliknya sudah berakhir ya. Setelah ini akan masih banyak konflik yang membuat hati kalian jadi gemes.
So... Baca terus kelanjutan ceritanya ya.. jangan lupa kasih dukungannya. Thanks..
__ADS_1