
Setelah merasa tak ada perlu dilakukan lagi di pulau Bali, Jacob memutuskan untuk memesan tiket penerbangan dan pulang menjalani rutinitasnya kembali di perusahaan Kakeknya Wisnu Oetama.
Setiba dirumah Jacob dimarahi oleh kakeknya karena dianggap masih kekanakan karena menyia-nyiakan waktu yang berharga hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Selama tiga hari bepergian, perusahaan menjadi morat-marit. Banyak projek yang tertunda dan tak sedikit pula klien yang membatalkan kerjasama.
"Sekarang bersiaplah dan cepat ikut Kakek ke perusahaan." Bentak Kakek Wisnu kepada cucu satu-satunya.
"Tapi Kek, Jacob kan baru saja sampai di rumah. Jacob masih capek, mau istirahat dulu. Lagi pula Jacob kali ini pergi juga sedang berusaha untuk memenuhi keingunan kakek yang ingin segera Jacob menikah dan memberikan cucu untuk Kakek. Jacob pergi ke Bali karena ingin melamar Ana Kek. Jadi Kakek jangan salah paham dan marah-marah seperti ini." Bantah jacob untuk membela diri.
"Kalau kamu memang melamar Ana, lalu kemana Ana sekarang ini? Kenapa dia tidak ikut denganmu dan menemui Kakek? Kamu jangan mengelak lagi, memangnya Kakek tidak tau kalau sekarang Ana sudah berada di Paris?" Tegas Kakek Wisnu dengan nada sedikit meninggi.
"Itulah sebabnya Kek, karena Ana malah pergi ke Prancis, maka acara lamarannya jadi gagal."
"Jika sudah gagal, lalu kenapa kamu masih saja tinggal di pulau itu dan bermain-main? Kamu ini hanya menyusahkan Kakek saja. Taukah kamu berapa kerugian perusahaan kita karena kelakuanmu yang kekanakan ini?" saut Kakek tak mau kalah.
"Tapi Kek, Jacob tidak bermain-main. Ada alasan kenapa Jacob tinggal sehari lagi disana."
"Benarkah? Lalu apa alasanmu kali ini? Membantu orang lahiran? Membantu mengejar pencopet atau apa lagi? Semua alasan-alasan itu sudah tidak mempan untuk menipu Kakek."
Jacob terdiam sejenak, ia menyadari jika alasan ia masih berada di Bali waktu itu karena seorang wanita yang tak sengaja memakai cincinnya dan menimbulkan kejadian yang tak mungkin Jacob jelaskan kepada Kakeknya. "Pokoknya Jacob punya alasan tersendiri kenapa Jacob tak segera pulang. Jacob sekarang ini sudah dewasa Kek. Jacob sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Sebaiknya mulai sekarang Kakek tidak perlu mengontrol dan memerintah Jacob lagi. Jacob juga yakin jika Jacob sudah bisa menjalankan perusahaan kita dengan baik tanpa bantuan dari kakek." ucap Jacob dengan nada yang tetap sopan kepada Kakek Wisnu.
"Oh begitu ya. Jika begitu ayo cepat sekarang juga kamu ikut Kakek ke perusahaan." Paksa Kakek kepada Jacob.
"Baiklah-baiklah. Jacob ikut, tapi setidaknya biarkan Jacob ganti baju dulu." jawab Jacob yang sebenarnya tidak pernah berpikiran untuk melawan Kakeknya yang selama ini merawatnya dan merupakan satu-satunya keluarga yang Jacob miliki saat ini. Jacob sangat menyayangi Kakek Wisnu. Namun kadang kala Jacob memang masih bersikap kekanakan dan sering kabur dari perusahaan untuk pergi bermain-main sebentar untuk menghilangkan rasa jenuhnya karena sedari kecil hari-harinya ia lakukan untuk berkutat di dunia bisnis.
Selesai berganti baju dengan setelan jas, Jacob menemui Kakek Wisnu yang sudah berada di dalam mobil menunggunya. Setelah Jacob duduk disampingnya, Kakek Wisnu meminta supirnya untuk segera berangkat.
Sesampai di perusahaan Kakek wisnu meminta kepada seluruh pegawai untuk berkumpul. Hal yang tidak pernah Kakek lakukan selama ini. Sedangkan Jacob hanya bisa mengikuti dan menuruti semua kemauan Kakeknya itu dengan terus berada disampingnya.
__ADS_1
Semua pegawai dan staf sudah berkumpul di Ballroom yang cukup luas dan bisa menampung sekitar seribu pegawai itu. Kakek Wisnu naik ke podium dan mengumumkan bahwa mulai saat ini cucunya Jacob tidak akan lagi bekerja di perusahaannya itu. Sebagai gantinya Jacob harus pergi ke daerah pedesaan dan menjalankan perusahaan sekaligus perkebunan kopi yang ada disana. perusaan itu tidaklah besar dan hampir gulung tikar karena kasus korupsi yang dilakukan beberapa pegawainya.
Jacob yang saat itu berdiri di samping Kakeknya hanya bisa melongo dan menoleh ke arah Kakeknya yang menyampaikan keputusan besar itu tanpa berdiskusi dan membeeitahukannya terlebih dahulu kepadanya. Jacob tidak bisa mengelak dan menolak mentah-mentah keputusan Kakeknya itu saat ini, apalagi di depan seluruh pegawai yang saat ini sedang menyaksikan dan mendengar pengumuman mencengangkan itu dari seorang Wisnu Oetama.
Tak sedikit para pegawai yang merasa terheran-heran dan tak percaya dengan keputusan dari CEO sekaligus pemilik dari perusahaan itu yang selama ini dikenal sangat menyayangi cucu satu-satunya itu. Terlihat di berbagai sudut banyak orang yang sepertinya saling berbisik-bisik membicarakan masalah yang baru saja mereka dengar.
Setelah selesai memberi pengumuman, Kakek Wisnu kembali keruangannya dan meminta untuk membubarkan seluruh karyawan untuk mulai bekerja kembali. Jacob langsung mengikuti Kakeknya ke dalam ruangan CEO.
Ketika pintu sudah tertutup Jacob langsung mempertanyakan keputusan Kakeknya yang dianggap hanya main-main saja dan tujuannya hanya untuk menghukumnya.
"Kenapa Kakek tega sekali. Bukankah Jacob sudah berjanji untuk menjadi penerus dan bertanggungjawab sepenuhnya atas perusahaan ini?" Ucap Jacob seketika, bahkan sang Kakek pun belum sempat duduk di kursi kerjanya.
"Kamu ini, memang masih kekanak-kanakan Jacob. Bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu sudah yakin jika bisa menjalankan groub Sanhai dengan baik? Kamu jangan menyepelekan tentang hal ini Jacob. Selama ini kamu kan hanya bekerja di perusahaan terbesar Kakek dan dengan embel-embel nama Kakek dibelakangmu."
"Tentu saja Kek, bukankah selama ini Jacob juga bekerja dengan baik dan bisa membuat perusahaan ini berkembang? Lagi pula wajar jika semua orang menghormati dan selalu memberikan yang terbaik untuk Jacob karena mereka tau jika Jacob adah cucu segaligus pewaris tunggal dari groub Sanhai." ucap Jacob mempertegas kata-katanya.
"Tapi tetap saja Kek. Kakek tidak perlu mengirim Jacob ke pedalaman itu."
"Siapa bilang pedalaman. Disana itu hanya tempatnya yang dibilang pedesaan. Tetapi Kakek tau jika kondisi disana sudah cukup maju layaknya seperti di kota. Hanya saja letaknya yang cukup jauh dari pusat kota. Kamu sudah tidak bisa menolak keputusan Kakek ini Jacob. Jika kamu berhasil menyelamatkan perusahaan kopi yang hampir bangkrut itu dan mengubahnya menjadi perusahaan yang besar, maka saat itu juga Kakek akan menyerahkan jabatan ini kepadamu."
Jacob semakin dibuat kesal dengan kelakuan Kakeknya itu. Tetapi disisi lain Jacob juga tidak bisa mengabaikan bahkan menolaknya karena lantaran tidak suka jika harus tinggal di pedesaan. "Baiklah-baiklah terserah kakek saja. Tapi kakek juga harus janji jika Jacob berhasil, maka Kakek harus benar-benar melepas dan mempercayakan semuanya kepada Jacob. Kakek juga tidak boleh mengatur-ngatur Jacob lagi." tutur Jacob memberi peringatan untuk Kakeknya.
"Itu pasti Jacob, lagi pula Kakek juga sudah tua. Diusia Kakek yang sudah tua ini, keinginan Kakek hanya ingin melihatmu bahagia dan dengan tenang meninggalkan dunia bisnis ini." Jawab Kakek dengan santainya.
"Tapi kamu harus ingat Jacob. Mulai saat ini kamu harus benar-benar berusaha mandiri dan tidak mengandalkan uang kakek. Semua kartu kredit dan ATM atas nama Kakek akan diblokir untuk sementara. Di perusahaan barumu, kamu juga tidak boleh memperkenalkan sebagai cucu Kakek dan menggunakan nama Kakek sama sekali." Imbuh Kakek Wisnu agar cucunya itu benar-benar bisa berjuang sendiri tanpa embel-embel namanya.
"Iya-iya." Jawab Jacob dengan ketus.
__ADS_1
Kakek hanya tersenyum melihat cucunya memasang wajah cemberut sedari tadi. "Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang kerumah. Malam ini adalah malam terakhirmu untuk bisa menikmati semua fasilitas Kakek. Besok pagi kamu harus berangkat ke perusahaan Oetama Kopi dan bekerja keras." tutur Kakek wisnu mengajak Jacob untuk oulang bersamanya.
Jacob juga merasa sangat lelah karena baru saja pulang dari Bali dan langsung diajak Kakeknya ke perusahaan. Apalagi ditambah dengan pekerjaan melelahkan yang sudah menantinya di depan mata. Jacob hanya ingin pulang dan segera berendam di air hangat kemudian tidur dengan nyenyak setelahnya.
Di perjalanan, Kakek masih saja membahas tentang perusahaan kopi yang akan didatangi Jacob esok hari. Ia meminta Jacob untuk mengatasi korupsi yang membuat perusahaan itu merugi dan hampir gulung tikar.
Jacob meminta kepada Kakeknya jika mulai besok, Kakeknya benar-benar harus percaya dan menyerahkan semua keputusan kepada dirinya.
"Ayolah Kek, bukanya Kakek ingin mengetes kemampuan Jacob dalam berbisnis. Jacob besok akan datang ke perusahaan dan mempelajari semuanya terlebih dahulu. Jacob juga akan memecat semua pegawai yang ketahuan telah koruosi." ucap Jacob meyakinkan Kakeknya.
"Kamu jangan memecatnya Jacob, kasian mereka. Bagaimanapun mereka telah bekerja cukup lama untuk perusahaan kita. Baik itu banyak atau sedikit, mereka juga sudah berkontribusi untuk perusahaan."
"Tapi Kek. Mereka kan sudah korupsi dan mengakibatkan perusahaan merugi. Apa yang pantas kita pertahankan untuk orang-orang seperti ini." Sangkal Jacob tak menyetujui pendapat Kakeknya.
"Berilah mereka satu kesemoatan lagi Jacob. Setidaknya jadikan mereka pekerja yang tidak akan bisa mengganggu dan mengajaukan keuangan perusahaan lagi. Mereka juga punya keluarga Jacob. Kasian keluarganya jika harus kesusahan karena tulang punggung keluarganya sudah tidak bekerja dan menghasilkan uang lagi."
Penjelasan Kakek cukup lugas dan membuat hati Jacob melunak. Baiklah Kek, Jacob tidak akan memecat mereka. Akan tetapi mereka akan tetap Jacob laporkan ke pihak berwenang. Mereka harus menerima hukuman sesuai aturan di Negara ini. Setidaknya mereka harus membayar denda ataupun bersedia dipenjara jika memang harus dipenjara. Jacob akan mempekerjakan mereka kembali mulai dari jabatan dan pekerjaan paling dasar yaitu menjadi petani dan pekerja yang bertugas di perkebunan."
"Baiklah, Kakek akan mendukungmu." Mendengar perkataan cucunya yang logis membuat Kakek merasa sedikit bangga dengan keputusan Jacob yang cukup bijaksana.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*