CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MENENANGKAN


__ADS_3

Adrian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. ia memandangi Alisya dengan penuh perhatian. Alisya yang menyadari keberadaan Adrian tak merespon sama sekali. Alisya masih menangis dengan tersedu-sedu. dadanya masih terasa sesak dan begitu sakit, bagai ditusuk dengan sebilah tombak.


"Tak apa Alisya, menagis lah. aku tidak akan menghentikanmu, keluarkan semua perasaan yang menyiksa hatimu, dengan begitu rasa sakit itu akan sedikit berkurang."


Alisya tetap saja masih menangis dengan sesenggukan. tak sedikit tisu yang berhamburan disana-sini bekas air mata Alisya, bahkan saat ini hidung alisya juga meler dan jadi terasa bumpet. sialnya stok tisu dihadapan Alisya kini telah habis.


Adrian yang menyadari hal itu, kemudian merogoh kantong celananya, mengambil sapu tangan dan mengulurkanya di hadapan Alisya.


"pakai ini Alisya, apa kau mau ke pantai..? Disana nanti kamu bisa berteriak dan menjerit sesuka hatimu."


Alisya tidak menjawab petanyaan Adrian. ia masih sibuk mengelap air matanya, sesekali Alisya juga membuang ingusnya dengan sapu tangan yang diberikan Adrian.


"Baiklah, jika kamu tak menjawabnya berarti kamu setuju." tutur Adrian dengan nada lembutnya.


Karna tak ada tanggapan dari Alisya, Adrian kemudian menyalakan mesin mobil dengan kunci yang sempat di serahkan padanya tadi sebelum Salisa meninggalkannya masuk kerumah.


Tak butuh waktu lama bagi Adrian untuk mengeluarkan mobil itu dari halaman rumah dan mulai mengendarai menuju pantai terdekat.


Butuh waktu satu setengah jam untuk mencapai lokasi yang mereka tuju. sepanjang perjalanan tadi Adrian membisu. memberikan ruang untuk Alisya agar bisa menenangkan hatinya.


"Kita sudah sampai Alisya. tunggulah disini sebentar, Aku akan membelikanmu air mineral." Adrian kemudian turun dari mobil dan berlalu meninggalkan Alisya menuju sebuah warung.


Adrian memarkirkan mobilnya tepat di tepi pantai. Alisya yang masih duduk di dalam mobil dapat melihat dengan jelas, deburan ombak menggulung-nggulung sejauh mata memandang. pemandangan yang begitu indah. langit berwarna biru cerah, dan burung-burung berterbangan diatas deburan ombak, menyambar-nyambar mencari mangsanya.


Kini Alisya mencoba untuk mengendalikan perasaannya. Alisya sudah berhenti menangis namun sesekali masih terdengar isakan yang keluar diluar kendalinya.


Adrian kembali dengan membawa sebuah kelapa muda yang sudah dikupas dengan sedotan diatasnya. Ia juga bembawa air mineral dalam botol.


" ini Alisya minumlah..!" Adrian menyodorkan keduanya. Adrian sangat lega melihat Alisya yang sudah tak menangis dan sepertinya sedikit lebih tenang.


"Aku mau air kelapa mudanya saja" tutur Alisya kemudian mengambil kelapa muda yang di berikan padanya.


"Baiklah, kalau begitu yang ini biar aku taruh disini saja. minumlah jika nanti kau haus." Adrian meletakan botol air mineral itu di depan Alisya.


Entah karena haus atau memang karna Alisya kehabisan tenaga setelah lelah menangis, Air kelapa di tangannya sudah habis dalam sekejab saja.

__ADS_1


"apa kau mau lagi Alisya..?" tanya Aldo yang tau jika air kelapa yang diminum Alisya sudah habis.


"tidak ka Adian. terimakasih, aku sudah tidak haus lagi."


"Krucuk.. krucuk.."


Suara perut Alisya terdengar begitu jelas. " Duh gawat, aku tadi tak sempat makan siang." gerutu Alisya dalam hatinya. " yang benar saja, tadi memang begitu banyak makanan mengundang selera di pesta ka Rendi, tapi nafsuku tiba-tiba hilang mendengar pengakuan Aldo tadi" Alisya menggerutu kesal dalam hatinya.


Adrian yang mendengar bunyi itu kemudian menawarkan makan kepada Alisya. " Apa kau mau menemaniku makan Alisya..? aku lapar sekali..!!"


"Aah kebetulan sekali ka, Alisya juga lapar." Alisya meringis malu.


"Kita makan seafood saja ya Alisya..? kamu suka kan..?"


"Aku mah apa aja mau ka.. hehehe"


Mereka berdua akhirnya makan bersama di rumah makan terdekat. di meja makan sudah terhidang sepiring penuh kepiting saus padang, kepiting saus tiram, kerang rebus, cah kangkung, cumi goreng tepung, dan sebakul nasi.


Alisya makan dengan begitu lahap, ia sama sekali tak jaga image di depan laki-laki yang sedari tadi tersenyum melihat cara makannya yang begitu menarik perhatian Adrian. bahkan Alisya tak sadar jika makannya belebotan disana-sini. kuas saus menempel di sekitar mulut Alisya.


"Kau ini makannya seperti anak kecil saja." Adrian tanpa ragu mengelap ujung bibir Alisya dengan tangannya.


"hehehe maaf ka, aku laper sekali. entah mengapa nafsu makanku jadi meningkat begini, mungkin karna sedang patah hati kali ya.." Alisya sedikit memundurkan tubuhnya karna terkejut dengan sentuhan tangan dari Adrian. ia kemudian mengelap sendiri mulutnya dengan tangannya, memastikan tak ada lagi noda yang tertinggal.


Akhirnya Alisya melanjutkan sesi makannya karna tak ingin menyinggung perasaan Adrian.


"Hah kau ini alasan saja. lalu kamu sebut apa Salisa yang selalu lahap dengan makanannya. apa iya adikmu itu selalu patah hati..?"


"hahahaha.... jangan bandingkan aku dengan Salisa yang tak bisa lepas dari piring dan toples itu lah ka."


Mereka berdua akhirnya tenggelam dalam gelak tawa yang begitu nyaring di dengar.


****


Setelah selesai makan, Adrian mengajak Alisya untuk mendaki bukit karang yang membetengi pantai itu.

__ADS_1


mereka menyurusi setiap anak tangga menuju bagian tertinggi dari bukit karang itu. dari atas mereka dapat melihat kapal-kapal kecil yang sedang melaut mencari ikan. disana begitu sunyi karna memang tak ada pengunjung lain selain mereka berdua. hanya suara gemuruh ombak yang menabak karang sesekali terdengar membuat hati begitu nyaman.


"Apa kamu mau berteroan bersamaku Alisya..?"


"Apa ka..? berteriak..? nggak salah tuh..?"


"Iya berteriak, aku biasanya akan berteriak sekuat tenaga di tempat yang sepi seperti ini jika sedang di landa masalah. Apa kamu mau mencobanya..? "


"Eemm baiklah ka,


"AAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"


Mereka berteriak berulang kali dengan sekuat tenaga.


"Terimakasih ya ka, sekarang hatiku terasa sedikit lebih baik." ucap alisya dengan senyum termanisnya untuk Adrian.


"Jangan terlalu sungkan Alisya, lagipula aku senang kok bisa liat kamu tersenyum kembali." saut Adrian.


"Ayo kita pulang ka, hari sudah sore sebentar lagi waktunya berkumpul dengan keluarga. aku tidak ingin melewatkan waktu berhargaku dengan keluarga tersayangku."


"Baiklah Alisya ayo kita turun."


Ketika Alisya sedang menginjakkan kakinya di anak tangga pertamanya, tiba-tiba ia terpeleset dan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Dengan sigap Adrian menyangga tubuh Alisya agar jangan sampai terjatuh.


"Eeh.. maaf ka, aku tak hati-hati" Alisya kemudian mencoba berdiri dengan tegak menyeimbangkan pijakannya. "aku sudah tidak apa-apa ka Adrian."


Kata-kata dari Alisya membuat Adrian melepaskan tangannya dari tubuh Alisya.


"Kau harus lebih hati-hati Alisya, jika kamu jatuh bagaimana aku akan mempertanggungjawabkan kecerobohanku yang tak bisa menjagamu. pasti nanti paman Antoni akan menguburku hidup-hidup." Adrian kemudian membantu Alisya menuruni tebing itu dengan memegangi tengan Alisya.


Alisya tak bisa menolak kebaikan dari Adrian, ia sudah menganggap Adrian seperti kakaknya sendiri.


Tidak begitu dengan Adrian yang dari dulu sudah menyukai Alisya, sayangnya ia harus ikut papanya ke swis, hingga membuat jarak yang begitu jauh dari wanita yang ia cintai. sekarang Adrian ingin menebus semuanya itu dengan mencoba mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk perhatian pada Alisya.

__ADS_1


__ADS_2