CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MAU KEMANA KITA?


__ADS_3

Johan menerima sebuah panggilan telepon yang membuatnya mengerutkan dahinya."Shit, kenapa juga pak tua ini harus menelfon disaat seperti ini."


Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya Johan menggeser icon berwarna hijau di layar ponsel pintarnya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo paman doni, bagaimana kabarnya? Johan baru saja ingin menelfon paman. Tetapi malah sudah keduluan paman."


"Sudah lah jangan banyak basa-basi. Bagaimana hasilnya? Aku sudah mengeluarkan banyak biaya untuk masalah ini. Kudengar kamu gagal meyakinkan gadis kampungan itu. Apa perlu aku menarik semua sahamku di perusahaanmu agar kamu bisa menangani hal sepele ini dengan benar?"


"Jangan dong paman. Paman tenang saja, walaupun kali ini keponakanmu ini gagal. Tetapi Johan sudah memdapatkan ide brilian untuk menebus kesalahan Johan."


"Kamu jangan coba-coba untuk mempermainkan pamanmu ini ya. Jika kamu berani macam-macam keluargamu yang akan menerima akibatnya. Kamu harus ingat jika keluargamu yang miskin itu sekarang bisa hidup mewah, semua karena paman yang menggelontorkan dana."


"Tenang saja paman, kali ini rencana kita pasti akan berhasil. Keluarga Antoni dan Winata pasti akan menerima akibatnya. Gadis kampungan itu akan membuat keluarganya malu dan tak punya muka lagi. Hebatnya lagi nama kita tidak akan ikut terseret dan tetap bersih, lagipula Johan juga ingin memberi pelajaran kepada laki-laki yang suka ikut campur itu."


"Apa maksudmu Johan?"


"Kali ini, paman harus mempercayakan semuanya kepada Johan. Johan yakin hasilnya tidak akan mengecewakan paman lagi."


"Baiklah, terserah kau saja, tapi ingat. Sebelum kau menjalankan rencanamu, kau harus benar-benar memikirkannya dengan matang."


"Siap paman, pokoknya mulai malam ini paman Doni sudah bisa tidur dengan nyenyak. Kalau begitu, Johan tutup dulu ya paman, Johan harus memastikan rencana kita akan berjalan dengan lancar."


Setelah percakapan itu, Johan kemudian memanggil Mita untuk ikut dengannya membuntuti Salisa dan Jacob.


****


Dalam perjalanan, Salisa hanya bisa menebak-nebak kemana Jacob akan membawanya pergi. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Salisa tau jika merka akan menuju ke pantai. Salisa ingat betul bahwa jalan itu yang akan membawanya ke pantai kuta. Hari sudah mulai senja, disepanjang perjalanan Salisa melihat ke sekeliling sejauh mana ia bisa memandang. Banyak bangunan-bangunan dengan ornamen khas bali layaknya bentuk candi-candi kecil, pepohonan yang dililit dengan kain bercork kotak putih dan hitam, dan pemandangan yang menyita perhatian Salisa adalah gundukan sesajen yang selalu terlihat di depan setiap bangunan ataupun di pinggir jalanan.


"Apakah kita akan menikmati Sunset?" tanya Salisa dengan nada datarnya.


"Bagaimana kamu bisa tau?" Jacob yang sedang mengemudi menoleh ke arah Salisa dengan senyuman di wajahnya. "Aku pikir, ini akan menjadi kejutan untukmu. Tapi ternyata Kamu lebih dulu mengetahuinya."


"Hahaha tentu saja, dulu aku sering berkunjung ke pantai ini bersama dengan keluargaku untuk menikmati indahnya Sunset sambil membawa gitar akustik dan menyayikan beberapa lagu bersama-sama. Namun lagu favorit kami adalah lagu Kemesraan milik Iwan fals."


"Benarkah? Jadi kali ini kamu sudah tidak tertarik lagi dong? Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain?"


"Siapa bilang aku tidak tertarik lagi. Justru karena di pantai ini banyak sekali kenangan indah bersama keluargaku, maka aku akan sangat bahagia jika bisa mengunjunginya lagi."

__ADS_1


"Ahh benar juga. Sepertinya hubungan diatara keluargamu sangat dekat ya. Senang sekali pasti rasanya masih mempunyai keluarga yang lengkap." Raut wajah Jacob berubah sendih dengan seketika.


"Apakah keluaramu sudah tidak lengkap? Atau apakah mereka bercerai?" Salisa memberanikan diri untuk bertanya mengenai hal pribadi itu dengan Jacob.


Jacob terdiam. Sepertinya ia enggan untuk bercerita mengenai kondisi keluarganya dengan orang yang masih baru ia kenal.


"Baiklah, jika kamu memang tidak ingin menceritakannya tak masalah. Lagi pula aku juga tidak akan memaksamu untuk bercerita."


"Kita sudah sampai, ayo turun kita turun." Tanpa sadar ternyata mereka sudah sampai di pantai Kuta. Salisa segera membuka pintu dan turun dari mobil. Hembusan angin sepoy-sepul menyambut dengan membelai lembut rambutnya yang panjang.


Terlihat banyak pengunjung di pantai itu untuk sekedar bersantai dan menikmati keindahan pemandangan ataupun menunggu di tepi pantai sampai saatnya matari akan terbenam dan menghilang di ujung lautan luas di hadapan mereka. Kebanyakan pengunjung adalah wisatawan lokal dan turis-turis asing berkulit putih dengan baju seksinya.


Jacob melepas sepatunya dan mulai berjalan di atas pasir pantai yang lembut. Walaupun pantai itu tak berpasir putih, namun tetap saja tak mengurangi keindahannya. Sementara Salisa mengekor dibelakangnya. Salisa juha ikut melepas alas kakinya dang menenteng dengan kedua tangannya.


Setelah berjalan cukup jauh menyusuri pantai itu, Jacob memutuskan untuk duduk di atas pasir pantai menghadap ke hamparan laut lepas. Tanpa instruksi, Salisa ikut duduk disamping Jacob dengan menggunakan sepatunya sebagai alas duduk.


"Sudah lama aku kehilangan kedua orangtuaku karena nyawa mereka dirunggut oleh kecelakaan maut saat mereka hendak pulang dari luar negeri untuk menjemputku. Sayangnya keinginan mereka itu tak pernah terwujut. Aku bahkan tak sempat mengucapkan betapa rindunya aku setelah ditinggal selama dua tahun di Amerika. Selama dua tahun itu aku tinggal bersama kakekku, namun ternyata harapanku untuk bisa tinggal bersama orang tuaku kembali telah pupus. Aku tetap saja hanya tinggal dengan kakekku sampai sekarang."


Entah kenapa tiba-tiba Jacob mau bercerita dengan Salisa tentang keluarganya itu. Padahal selama ini Jacob tidak pernah menceritakan kisah sedihnya itu kepada siapapun. Selama ini Jacob memang terkesan pendiam,dingin dan tertutup kepada semua orang. Tak banyak orang yang tau tetang kehidupan Jacob, siapa dia dan bagaimana ia menjalani hidupnya. Hanya orang-orang terdekatlah yang selama ini mengisi dan mewarnai keseharian Jacob.


Selama ini Kakeknyalah yang mengabil kendali memegang perusahaan groub Sanhai. Namun seiring berjalannya waktu Kakek Wisnu Oetama berencana untuk menyerahkan seluruh tanggungjawab itu kepada Jacob. Untuk itulah Jacob sudah didik dan dilatih sedari kecil untuk berbisnis. Menyadari usianya sudah tidak muda lagi, Kakek Wisnu juga ingin agar Jacob segera menikah dan memberikan cucu sebagai penerus groub Sanhai berikutnya.


Hampir sama dengan Salisa yang tak memiliki banyak teman, namun setidaknya Salisa selalu terlihat ceria dan terlihat seperti tak ada beban di hidupnya.


Momen yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Warna langit di ujung laut itu terlihat begitu indah dengan warna Jingga yang mendominasi. Secara perlahan benda bulat yang menyinari semesta ini mulai turun dari singgasananya. Suasana menjadi begitu teduh, dan langit mulai menjadi gelap, Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala seperti sedang mengintip dibalik selimut raksasa.


Salisa menyondongkan tubuhnya kebelakang sengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Hati Salisa terasa begitu tenang. Semua tragedi dan masalah hidupnya sirna dalam sekejab.


"Terimakasih Jacob, kamu sudah mengajakku ketempat ini. Suatu saat jika kita bertemu kembali, maka aku akan membalas semua kebaikanmu. Walaupun kamu oranh asing yang aku temui di tempat ini, namun saat ini hanya kamulah satu-satunya orang yang peduli dan dapat aku andalkan."


Jacob tersenyum tipis dengan tatapan mata yang masih mengarah jauh ke ujung laut lepas itu. Kini Matahari benar-benar sudah bersembunyi dan istirahat di belahan dunia tempat Salisa berada.


"Bagaimana kalau sekarang kita mencari tempat untuk makan malam? Sepertinya cacing di perutku sudah pada demo dan memakai toa untuk menyuarakan nasibnya yang kelaparan." Salisa yang doyan makan itu sudah membayangkan berbagai jenis menu masakan laut bergoyang di mulutnya.


"Baiklah, aku juga lumayan lapar karena seharian ini sudah ikut campur tentang masalahmu." Jacob menjawab dengan santainya.


"Ayo cepat bangun, aku punya tempat rekomendasi yang patut kamu coba. Restoran ini adalah tempat langganan keluarga kami jika sedang berkunjug kesini dan sedang ingin menikmati hidangan laut."

__ADS_1


"Jadi kamu suka seafood?"


"Tentu saja, apalagi jika bahan utamanya masih fresh dan baru saja ditangkap oleh para nelayan. Rasnya akan terasa lebih gurih dan manis yang alami."


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memesan beberapa menu ikan bakar dengan sambal matah khas pulau dewata itu.


Selesai makan mereka berencana untuk kembali ke hotel Eiden untuk beristirahat, dalam perjalanan Salisa tampak murung dan sedih lagi. Sepertinya Salisa teringat kembali dengan kejadian menyakitkan yang baru saja ia alami hari ini.


"Setelah ini kamu mau kemana Jacob?"


"Entahlah, sepertinya aku akan kembali ke bar seperti kemarin malam agar aku bisa melupakan sejenak masalah-masalah dalam hidupku."


"Apakah minuman keras itu, benar-benar bisa menghilangkan sejenak kepedihan dihati kita?" Salisa bertanya dengan polosnya, karena memang Salisa belum pernah menjamah minuman beralkohol seumur hidupnya.


"Jika kamu belum pernah minum, sebaiknya kamu jangan pernah mencobanya Salisa, Minuman keras tidak baik untuk kesehatan."


"Jika kamu tau itu tidak baik, lalu kenapa kamu meminumnya?" Salisa bertanya kembali karena begitu penasaran.


"Aku? Entahlah, aku juga tidak tau sejak kapan aku mulai menjadikan minuman keras sebagai temanku jika aku sedang kesepian ataupun merasa gelisah dan tidak ada satu orangpun yang bisa aku ajak bicara untuk mengurangi rasa sepi dan kegelisahan di hatiku."


"Bolehkah malam ini aku ikut denganmu, aku tidak ingin sendirian di hotel dan meratapi kesedihanku sendirian."


"Tidak boleh, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan segera tidur. Aku akan mengantarmu sampai di depan kamar."


"Tidak mau, pokoknya aku ingin ikut. Aku berjanji tidak akan ikut minum minuman keras dan akan menjadi anak yang baik. Ayolah Jacob, bukankah aku temanmu?"


"Baiklah-baiklah. Tapi kamu harus menepati janjimu. Aku tidak mau gadis polos dan lugu sepertimu mencicipi minuman keras sepertiku.


"Janji." Salisa mengangkat tanganya dan menjulurkan jari kelingkingnya untuk janji kelingking sebagai tanda bahwa ia tidak akan mengingkari kata-katanya.


Jacob yang sudah tau tentang kelakuan kekanakan itu, sepertinya mulai terbiasa dan secara otomatis ikut mengangkat tangannya dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking wanita disampingnya itu.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2