CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
TEGANYA


__ADS_3

Di dalam bar, Jacob sudah menghabiskan beberapa bolol minuman keras. Hati dan pikirannya menjadi kalut tak kala rencana lamaranya itu gagal begitu saja. Jacob bahkan harus menjalin hubungan jarak jauh dengan Ana yang akan tinggal setahun di Paris untuk mengejar karirnya.


Jacob terus saja berpikir, apa yang harus ia lakukan. Ia bahkan belum membalas pesan dari Ana atau menelfonnya kembali. Amarahnya masih tak terkendali. Namun anehnya di saat seperti itu, Jacob malah mengingat adegan disaat ia dan Salisa tak sengaja berciuman. "Sungguh konyol. Kenapa aku malah mengingat peristiwa itu." Jacob berguman dalam hatinya.


Hal itu membuat Jacob tak berniat untuk melanjutkan sesi minum-minumnya. Jacob memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tak seperti biasanya, Jacob akan menghabiskan waktunya untuk minum sampai tak sadarkan diri jika sedang dilanda kegalauan. Kali ini Jacob bahkan masih tersadar dan bisa berjalan dengan normal kembali ke kamarnya.


***


Tok... tok.. tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Salisa. Salisa yang baru saja selesai mandi mendengar samar-samar suara Johan yang memanggil-manggil namanya.


Ceklek.


Suara pintu terbuka. "Ada apa Johan? kenapa malam-malam datang mencariku?"


"Tentu saja untuk beremu dengan pacarku, apakah kamu tidak suka jika aku kemari?" Johan berdecak dengan kesal.


"Bukan seperti itu Johan, tapi ini sudah sangat larut."


Mamun sepertinya Johan tidak memperdulikan ucapan Salisa. Ia menyelonong masuk begitu saja ke kamar Salisa. Melihat rambut Salisa yang masih sedikit basah di tambah aroma wangi dari sabun itu membuat Johan berkhayal yang tidak-tidak bersama Salisa.


Johan mendekati Salisa dengan tatapan penuh hasrat."Salisa bolehkan aku meminta itu darimu?"


"Apa maksud kamu Johan? Maksudmu pelembab wajah ini?" Salisa menyodorkan wadah bulat berwarna putih itu kepada Johan.


"Aah percuma saja aku kemari, aku bahkan rela mengikutimu sampai kesini. Tapi sama sekali tak mendapatkan imbalan darimu."


"Kamu itu bicara apa sih Johan, aku sama sekali tak tau apa yang kau maksud." Salisa masih saja tak bergeming dari meja riasnya sambil meratakan krim malam pada wajahnya.


Johan semakin mendekat dan membisikan sesuatu kepada Salisa. "Aku ingin malam ini kita tidur bersama. Bukankah kita sudah menjadi sepasang kekasih?"


"Kamu gila ya? Sudah sana kembali ke kamarmu. Aku sudah mengantuk. Walau kita sepasang kekasih bukan berarti kita bisa melakukan hal itu Johan. Aku hanya akan memberikannya untuk suamiku saja."

__ADS_1


"Kau ini kolot sekali, bukankah nanti aku juga akan menjadi suamimu?" Johan masih belum menyerah dan mencoba merayu Salisa dengan memeluknya dari belakang.


"Jangan kurang ajar ya kamu, jika kamu tak segera keluar dari kamar ini aku akan berteriak dan mengataimu lelaki cabul."


Akhirnya Johan menyerah dan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar Johan, Mita sedang menunggunya diatas ranjang dengan balutan dress tidur berbahan satin yang minim bahan.


"Bagaimana Johan, apakah rencananya berhasil?" Tanya Mita dengan nada bicara yang mendayu-ndayu itu.


"Semua berantakan, Ternyata Salisa lebih sulit dihadapi dari apa yang kubayangkan." Johan melepas kemejanya dan membantingnya ke lantai begitu saja.


Kala itu Jacob yang baru saja kembali dari bar sedang berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke kamarnya. Saat melewati depan kamar Johan, Jacob tak sengaja mendengar percakapan Johan dengan seorang wanita yang dirasa bukan suara dari Salisa, wanita yang kini dianggap Jacob menjadi temannya itu.


"Apa yang sedang mereka bicarakan, kenapa mereka membicarakan tentang Salisa." Mengetahui ada yang janggal, Jacob segera mengambil ponselnya dan menyalakan rekaman suara. Jacob meletakan ponsel pintarnya di dekat pintu yang sedidit terbuka itu. Saat melihat Johan dan wanita itu pertama kali, Jacob memang sudah menaruh rasa curiga dengan keduanya. Jacob juga masih mendengarkan percakapan mereka dengan seksama di balik pintu.


"Sombong sekali Salisa, Aku bahkan sudah banyak menghabiskan banyak biaya untuk setiap makanan dan kado yang aku berikan untuknya. Kalau bukan karena perintah paman doni, mana mau aku mendekati gadis kampungan sepertinya." Johan masih saja mengumpat tak kala rencana yang selama ini ia jalankan terancam gagal.


Mita yang sedari tadi masih berbaring menyamping sambil menyyangga kepalanya dengan tangan itu hanya tertawa melihat Johan yang dilanda amarah itu. "Lalu apa rencanamu selanjutnya Johan. Kamu masih berjanji padaku untuk membelikanku mobil bukan, jika rencana ini berhasil?"


Mita kembali terkekeh mendengar perkataan dari Johan. "Lalu kenapa kamu tak mencoba untuk berpura-pura menjadi suaminya saja." Kata-kata Mita menuh dengan provokator. Wanita yang senenarnya adalah kekasih Johan itu berbicara sambil memainkan rambulnya yang ikal.


"Maksudmu? Aku harus menikahi gadis kampungan itu? aku tidak mau." Kata Johan dengan mendudukan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.


"Huum benar juga, aku juga tidak mau jika harus menjadi kekasih dari pria yang sudah beristri. Kalau begitu kamu tidak harus sampai menikahinya Johan. Bagaimana kalau kamu melamarnya dengan konsep yang romantis dan mewah. Biasanya wanita akan terpukau dan merasa dirinya akan segera dinikahi oleh pria itu. Mungkin saja kali ini berhasil. Bukankah kamu hanya bertugas untuk menghancurkan masadepan putri keluarga Antoni dan membuat aib yang memalukan bagi keluarga itu."


"Ahh benar juga, kalau begitu besok adalah hari terahir kita disini. Aku akan menyiapkan sebuah lamaran untuk Salisa. Kamu pintar sekali sayang, tak percuma aku memiliki kekasih sepertimu."


Mita tersenyum penuh kebanggaan. "Bukankah aku sudah membatumu memecahkan masalah ini? Bagaimana kalau sekarang kamu melayaniku?" Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil berpose di atas ranjang memperlihatkan lekuh tubuhkanya yang dianggapnya sexi itu.


"Tentu saja sayang, Kalau begitu aku akan mengunci pintu kamar ini terlebih dulu."


mendengar perkataan itu, Jacob langsung mengambil ponselnya dan segera kembali ke kamarnya. Sesampai di kamarnya, Jacob segera mengambil ponselnya kembali dari saku hendak memberi tau Salisa.


"Tidak-tidak, sepertinya besok saja aku memberitahu Salisa secara langsung. Lagipula sekarang sudah cukup larut. Mungkin Salisa juga sudah tidur." Jacob mengurungkan niatnya dan segera beristiahat.

__ADS_1


Pagi harinya Jacob mengetuk pintu kamar Salisa, namun sepertinya Salisa sedang tidak ada di kamarnya. "Shit." Jacob mengumpat dalam hati. "Kemana aku harus mencari gadis itu? aku bahkan tidak memiliki kontaknya sama sekali."


Karena tidak dapat menemukan Salisa, akhirnya Jacob memutuskan untuk pergi sarapan terlebih dahulu karena perutnya belum ia isi dari kemarin malam.


"Maafkan atas kelakuanku kemarin malam Salisa, aku tak nerniat sedikitpun untuk melecehkanmu. Semua itu kulalukan atas dasar aku yang teramat mencintaimu dan tak ingin kamu menjadi milik orang lain nantinya. Jika kamu sudah memaafkanku, temuilah aku di cafe bintang. Aku akan menunggumu disana jam sepuluh pagi ini. ~Johan."


Setelah membaca pesan dari Johan, Salisa segera bersiap- siap. Pagi itu masih menunjukan pukul 08.45 namun Salisa suadah pergi meninggalkan kamarnya untuk mencari sarapan terlebih dulu.


Saat Salisa sedang menikmati sarapannya. Jacob menghapirinya dan ikut duduk di meja yang sama dengannya.


"Kebetulan sekali Salisa, aku sedang mencarimu. Tak kusangka malah bertemu disini."


"Jacob. Kamu juga mau sarapan? Bagaimana lamarannya tadi malam? Kenapa sekarang kamu tak bersama dengan nona Ana? Apakah kamu mau mencoba cara lain untuk melepas cincin ini? Maafkan aku Jacob. Semalam aku sudah mencoba melepasnya dengan benang. Tapi tetap saja tak berhasil." Salisa sungguh merasa tak enak hati karena belum berhasil melepas cincin milik Jacob dan menhembalikannya.


"Banyak sekali pertanyaanmu, aku jadi bingung bagaimana menjawabnya. Intinya acara lamaranku gagal, dan ada hal penting lain yang harus kukatakan padamu."


"Kenapa bisa gagal? apakah karena cincin ini?" Salisa langsung memotong pembicaraan Jacob dan tak memberi kesempatan Jacob untuk melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa kamu sudah bertanya lagi Salisa, aku bahkan belum menjawab semua pertanyaan yang tadi kau ajukan dan menyelesaikan ucapanku. Sudah lah, intinya kali ini aku tak mau membahas masalah lamaran atau mengenai cincinku. Aku mau sarapan dulu. Aku sudah lapar sekali. Kamu sebaiknya juga selesailan makanmu. Aku yakin setelah ini kamu akan membutuhkan banyak energi untuk bisa menghadapinya."


Salisa semakin dibuat bingung dan penasaran dengan apa yang dimaksud Jacob dengan kata-katanya. Salisa ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi, namun ia urungkan. Makanan yang dipesan Jacob juga sudah datang, Jadi Salisa juga tidak mau mengganggu Jacob untuk menghabiskan sarapannya terlebih dulu.


*


*


~Bersambung~


*


*


Mohon dukungannya ya teman-teman pembaca, klik tombol favorit, like, coment, dan juga vote nya. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2