
Seharian penuh Adrian bertemu dengan cliennya yang berada di Indonesia. Sebenarnya Adrian ingin sekali selama tiga hari ini ia gunakan waktunya untuk bersama Alisya, tapi apa boleh buat, sederet pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan.
Saat selesai dengan pekerjaannya Adrian kembali ke hotel tempatnya menginap. Adrian segera membersihkan diri dan ingin sekali pergi ke rumah Alisya.
"Astaga, kenapa sudah jam sepuluh malam. Pasti tidak sopan jika aku datang bertamu ke rumah Alisya. Sebaiknya besok pagi aku baru kesana."
Adrian kemudian melepas kembali kemeja yang sudah melekat di tubuhnya dengan begitu rapi. Adrian lalu memnggantinya dengan baju santai, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Andai aku bisa memperpanjang waktuku untuk bisa lebih lama tinggal di sini. Bahkan aku sudah menjadwalkan ulang beberapa rapat penting dan janji temu bersama klien penting untuk tambahan waktuku disini. Bisa-bisa nanti tenderku lari semua jika aku tak segera kembali ke Swiss."
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya, Adrian kemudian mengirim pesan kepada Alisya, besok ia akan mengajak Alisya pergi jalan-jalan ke puncak.
****
Keesokan paginya Adrian menjemput Alisya dirumahnya.
Seperti biasa Alisya sudah berdandan rapi dan terlihat begitu cantik. Alisya menunggu Adrian sambil duduk di kursi gantung di teras rumahnya sambil membaca koran. Gadis itu memang tidak mau jika ada yang menjemputnya tapi dirinya belum bersiap. Ia tak mau membuat orang lain menunggunya.
"Oh Alisya, kau ini bahkan sudah bersiap sedari tadi bukan..? Sebenarnya tak masalah jika aku harus menunggumu sebentar untuk berdandan. Tapi itulah salah satu hal yang aku sukai darimu. Ayo kita berangkat..!!"
Alisya tersenyum sejuta watt dan meletakkan korannya.
"Ayo ka, kalau begitu kita pamit dulu ya..!"
Setelah berpamitan keduanya masuk ke mobil. dan berangkat ke puncak. Adrian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku sudah begitu tak sabar sampai ke puncak ka. Aku ingin segera merasakan udara disana yang masih begitu sejuk dan menyegarkan."
"Itulah alasanku mengajakmu kesana, Alisya. Aku tau betul kamu menyukai keindahan alam di pegunungan."
"Trimakasih ya ka. Terkadang aku berminpi mempunyai sebuah rumah yang menghadap ke hijaunya hamparan kebun teh dan jauh dari hiruk pikuk kota seperti ini."
"Benarkah..? Kalau begitu sebentar lagi mimpimu itu akan jadi kenyataan Alisya. Setelah kita menikah aku akan resmi menjalankan seluruh perusahaan dadyku yang berada di Indonesia. Jadi aku akan menetap disini. Aku akan membangunkan rumah impianmu itu Alisya."
Alisya tersenyum mendengar perkataan Adrian. Namun, pikiranya kini sedikit terusik. Ia belum pernah membayangkan hidup bersama dengan laki-laki yang sedang bersamanya itu.
Selama ini Alisya membayangkan membangun rumah itu bersama dengan Aldo, Ia ingin berhenti bekerja dan fokus merawat dan membesarkan anak-anak nya nanti.
"Trimakasih ka Adrian. Aku sangat menghargai semua yang kaka lakukan untukku." Alisya tertunduk. Sepertinya ada hal yang menggangu pikirannya.
"Ada apa Alisya..? Kenapa sepertinya kamu tidak gembira mendengar recanaku itu..? Apa kau tidak suka jika harus tinggal bersamaku..?"
"Ah tidak kok kak. Alisya pasti akan sangat bahagia bisa bersama orang yang begitu baik dan perhatian seperti ka Adrian."
Adrian tau betul jika saat ini Alisya pasti sedang memikirkan Aldo.
"Syukurlah Kalau begitu. Bagaimana jika kita sekalian cari lahannya saja..? Carilah tempat yang paling kamu sukai. Nanti aku akan segera membelinya, agar lahan itu tak jadi milik orang lain."
__ADS_1
"Benarkah..? Apa itu tidak terlalu berlebihan ka..? Aku bahkan baru mengatakannya. Bagaimana kaka bisa langsung ingin membeli lahan itu..?"
"Aku sudah berjanji untuk selalu membuatmu bahagia Alisya. Apapun itu jika hal itu membuatmu bahagia aku akan melakukannya."
Alisya tertunduk, karna sebernarnya kebahagiaannya adalah bisa menikah dengan orang yang juga ia cintai. Namun Alisya tidak mau menunjukan kesedihannya itu di depan Adrian. Alisya segera membuang harapannya itu dan menutupinya dengan senyuman.
"Ayo kita turun Aliya."
Tanpa Alisya sadari ternyata mereka sudah sampai di puncak. Adrian sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Ah iya ka."
Alisya kemudian turun dari mobil, Ia menghirup nafas dalam-dalam ketika udara nan sejuk ia rasakan masuk melalui hidungnya.
"Aku akan mengajakmu berkeliking dikebun teh dan area sekitar dengan menaiki kuda. dengan begitu nanti kamu bisa sambil melihat-lihat kesekeliling. Barang kali nanti akan kau temukan tempat yang pas untuk membangun rumah kita."
Alisya mengangguk. Ia begitu bersemangat diajak untuk mengelilingi kebun teh.
Mereka mulai berkekiling dengan menaiki kudanya masing-masing. Mereka melajukan kudanya dengan begitu pelan agar bisa menikmati keindahan pemandangan sekitar.
Setelah cukup lama berkeliling, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Alisya melihat sebuah bukit yang tak terlalu tinggi, dan bukit itu letaknya tak jauh dari kebun teh yang sedang mereka kunjungi.
"Apa ka Adrian lihat bukit itu..? Bukankah sangat indah jika bisa membuat rumah disana, letaknya kurasa sangat strategis. Dipagi hari rumah itu akan mendapat sinar Matahari yang cukup, pasti sangat menyenangkan bisa berjemur di hangatnya sinar matahari pagi sambil menikmati pemandangan hijaunya kebun teh dan melihat aktivitas para pemetik teh."
"Benar sekali Alisya. Aku sangat setuju denganmu. Aku juga akan membuatkan Gasebo seperti dirumahmu. Kita bisa menikmati teh disana. Ayo kita naik kesana. Kita akan lihat bagaimana dengan kontur tanahnya."
Adrian kemudian turun dari kudanya dan mengikatnya pada sebuah pohon. Ia juga mengikatkan kuda yang ditunggangi Alisya. Setelah itu mereka bedua menaiki bukit itu dengan berjalan kaki.
Alisya kembali melebarkan senyumannya mendengar pujian dari Adrian.
"Tunggu disini sebentar ya Alisya. Aku akan bertanya kepada bapak-bapak yang sedang mencari rumput itu. Barang kali dia tau siapa pemilik lahan ini."
Adrian menunjuk ke arah seorang laki-laki parubaya yang sepertinya sedang mencari rumput tak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Baiklah ka. Aku akan menunggu disini."
Adrian kemudian menuruni kembali bukit itu dan menghampiri laki-laki yang ia maksud tadi.
"Selamat siang pak. Maaf mengganggu. Apakah saya boleh bertanya sesuatu..?"
"Oh iya tuan, silahkan."
Bapak itu menghentikan aktifitasnya dan membuka topi caping yang ia kenakan di kepalanya.
"Apakah bapak tau, bukit di atas yang ada gadis sedang berdiri itu milik siapa..?
Bapak itu kemudian menoleh kearah bukit yang dimaksud. Terlihat seorang gadis sedang mengamati mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Oh bukit itu..? Tentu saja bapak tau. Ada apa memangnya Tuan..?"
"Begini pak, saya berencana untuk membeli bukit dan lahan di sekitarnya untuk membangun sebuah rumah. Bisakah bapak memberitahu saya siapa pemilik lahan ini..?"
"Ooh begitu. Semua lahan yang ada di area perkebunan ini milik keluarga Winata Tuan. Bahkan yang mengelola perkebunan dan membuat area wisata ini juga mereka. Jumlah kunjungan disini juga sangat dibatasi, karna Tuan Winata tidak ingin merusak keasrian tempat ini jika terlalu banyak pengunjung yang datang. Bukankah Tuan tadi juga harus membayar biaya yang cukup tinggi untuk masuk ke tempat ini..? Saya tidak yakin jika Tuan Winata akan menjual secuil lahannya itu untuk orang lain."
"Benarkah pak..? Sayang sekali. Tapi saya akan tetap mencoba untuk membelinya pak. Saya benar-benar menginginkan tempat itu. Sepertinya tidak masalah jika saya hanya membeli sedikit lahannya. Saya akan membelinya dengan harga yang sangat tinggi. Dengan begitu mungkin tuan Winata mau menjualnya kepadaku."
Bapak itu mengerutkan dahinya mendengar pemuda dihadapannya begitu bersikeras dengan tujuannya.
"Kalau begitu kebetulan sekali. Mungkin Tuan bisa menemui anak dari Tuan Winata. Biasanya setiap hari sabtu Tuan muda akan disini untuk meninjau perkebunan."
"Benarkah..? Dimana saya bisa menemuinya pak..?"
"Saya kurang tau Tuan, Mungkin Tuan muda sedang ada di villanya. Tapi Tuan muda biasanya lebih suka berkeliling ketimbang berada di Villa."
"Baiklah kalau begitu pak. Saya akan mencoba untuk mencarinya. Trimakasih atas informasinya."
Adrian kemudian menoleh ke arah keberadaan Alisya. Tapi ia melihat gadis itu sekarang sedang bersama seorang pemuda.
"Siapa pemuda itu..? Kenapa Aliya bisa bersamanya..?"
"Kalau begitu saya pamit dulu ya pak. saya akan kembali keatas."
"Baiklah Tuan. Selamat menikmati hari anda."
Bapak itu kemudian melihat kerah bukit yang dimaksud tuan itu.
"Tuan, Tunggu. Sepertinya anda sedang beruntung. Laki-laki yang sedang bersama dengan gadis yang bersama ada itu adalah anak dari Tuan Winata. Dengan begutu tuan bisa langsung bertanya kepana tuan muda."
"Baiklah pak. Sekali lagi terimakasih.
Adrian kemudian membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat dan berlalu meninggalkan bapak itu.
"Kenapa sepertinya anak dari tuan Winata itu tak asing bagiku..?"
Adrian mempercepat langkahnya, memastikan jika laki-laki yang sedang bersama dengan Alisya bukanlah orang yang sedang ada dalam pikirannya.
"Aldo... Ternyata benar itu kamu," Tutur Adrian tak percaya. Ternyata pemilik lahan itu adalah keluarga Aldo.
Adrian kemudian mendekati Alisya dan Aldo yang sepertinya sedari tadi sedang berbincang-bincang.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*