
Jacob baru saja sampai di kantornya. Ia melihat kalender di dalam ponsel pintarnya. Jacob merasa tidak senang karena hari ini adalah hari sabtu, hari dimana Salisa biasanya akan melakukan bimbingan menulis dengan laki-laki bernama Jason yang sepertinya selalu terlihat dekat dan akrab dengan Salisa.
Jacob berdecak kesal dan meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Reno yang baru saja masuk ke ruangan Jacob sampai mengelus dada karena kaget dibuatnya.
"Ada apa kawan? Kenapa pagi-pagi begini kamu sudah dibuat marah-marah seperti itu?" Tanya Reno yang sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja atasannya itu.
"Kenapa wanita selalu saja tidak bisa memegang kata-katanya. Mereka juga mudah tergoda dengan wajah yang tampan. Apa mereka itu tidak bisa setia dan hanya mencintai pasangannya saja?" Kata Jacob yang tadi pagi mendengar percakapan telepon antara Salisa dan Jason. Salisa tertawa berkali-kali dalam perbincangannya dengan laki-laki itu. Salisa bahkan meminta Jason untuk mencicipi hasil masakannya. Hal yang jarang sekali Salisa lakukan itu membuat Jacob merasa tidak senang. Jacob bahkan jarang sekali memakan masakan Salisa. Tapi entah mengapa, Salisa sepertinya ingin membuatkan masakan special untuk tamunya itu.
"Apa maksud ucapanmu itu Jacob? Siapa wanita yang kamu makasud? Aku rasa tidak semua wanita seperti itu. Contohnya saja Ana kekasihmu itu. Bukahkah Ana selalu setia bersamamu sedari kecil hingga sekarang?" Ucap Reno yang belum tau jika Ana ternyata meminta putus dengan Jacob dan lebih mementingkan karirnya.
"Hah, kamu belum tau saja Reno. Saat ini aku sudah tidak bersama dengan Ana lagi. Walaupun Ana selalu berada disampingku sejak kecil namun kami resmi menjadi sepasang kekasih baru dua tahun belakangan ini. Aku tidak ingin kamu mengungkit-ungkit nama Ana lagi didepanku Reno. Aku sudah tidak mau mendengar namanya lagi."
"Kamu bercanda ya. Mana mungkin Ana akan bertindak seperti itu. Jika tidak percaya ciba saja cek akun media sosialnya. Aku yakin Ana pasti sudah menghapus semua foto-foto kenangan atara aku dengannya."
Reno yang tidak percaya dengan perkataan Jacob kemudian merogoh ponsel dari celananya dan segera membuka instagram milik Ana yang juga menjadi sahabatnya itu. Di sana Reno masih melihat semua foto-foto yang sebagian besarnya adalah momen-momen tentang kebersamaannya dengan Jacob.
"Dugaanmu itu salah Jacob. Lihatlah, Ana tak menghapus satupun fotonya bersamamu. Jangan-jangan kamu yang meminta putus dengan Ana karena wanita yang kini menjadi istrimu itu ya? Bukankah terakhir kali kamu bilang akan menceraikannya demi Ana?" Tanya Reno yang masih tak percaya akan ucapan temannya.
"Kamu ingin menyangkal perkataanku? Jika kamu masih ingin bekerja disini, maka jangan lagi sebut namanya didepanku." Ucap Jacob penuh ancaman.
"Kenapa kamu sangat emosional seperti itu. Apa karena fotonya yang sedang berangkulan dengan laki-laki ini? Foto seperti ini tidak mengartikan bahwa Ana berselingkuh atau sudah memiliki pria idaman lain Jacob." Kata Reno sambil menunjukam foto Ana yang sedang menyenderkan kepalanya di bahu seorang laki-laki tampan yang merangkulnya.
"Kamu ini cerewet sekali. Cepat keluar dari ruanganku." Kata Jacob dengan nada yang tinggi sambil menggebrak meja dengan keras.
Reno tak berani lagi berkata-kata. Akhirnya Reno memilih untuk keluar dari ruangan Jacob dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Jacob sendiri masih merasa tidak tenang. Jacob ingin segera pulang seperti minggu sebelumnya. Tapi sepertinya ia tak punya alasan untuk pulang lebih awal dan ikut menimbrung kebersamaan Salisa dengan mentornya menulis.
"Aku harus bilang apa kepada Salisa jika nanti dia bertanya kenapa aku bisa pulang lebih awal. Bukankah akan memalukan jika Salisa tau bahwa aku hanya mencari alasan untuk pulang dan memata-matai kebersamaannya dengan laki-laki yang sok ganteng itu." Gumam Jacob kebingungan.
"Hahahaha, sepertinya jika aku pulang sekarang dan bilang kepada Salisa bahwa aku kembali karena merasa tidak enak badan, pasti Salisa tidak akan menaruh curiga. Lagi pula laki-laki itu datang saat siang hari. Dengan begitu nanti aku bisa memantau Salisa dari kejauhan tanpa sepengetahuannya." Jakob merasa sangat senang karena sudah menemukan cara untuk bisa mengawasi gerak-gerik Salisa saat dengan laki-laki lain.
Jacob segera menyaut tasnya dan berencana utuk segera pulang. Seperti biasa, Jacob meminta Reno untuk menghubunginya hanya jika ada hal penting dan mendesak saja.
Akhirnya Jacob tiba di rumahnya kembali. Belum ada dua jam Jacob berangkat bekerja namun ia sudah pulang hanya karena ingin memata-matai Salisa.
Jacob segera naik ke lantai atas dan membuka pintu kamarnya begitu saja. Tak disangka Salisa baru saja selesai mandi dan sedang memakai pakaiannya. Karena Salisa mengira bahwa tidak mungkin ada orang lain yang akan masuk ke kamar itu, maka Salisa sengaja memakai bajunya di kamar. Tidak seperti biasanya yang harus terlebih dulu menyiapkan pakaian ganti dan membawa bersamanya ke kamar mandi.
Salisa yang baru mengenakan celana dalam langsung menjerit sekuat tenaga karena mendengar bunyi pintu kamar terbuka. Begitu Salisa berbalik untuk memastikannya, ia sudah melihat Jacob berdiri di ambang pintu dengan mata yang terbelalak melihat dirinya.
__ADS_1
Tak sempat lagi memakai baju untuk menutupi tubuhnya, Salisa justru menutup bagian atas tubuhnya yang masih terekspose dengan kedua tangannya.
Jacob segera masuk dan menutup pintu kamarnya agar jeritan Salisa tak membuat geger seisi rumah. Jacob juga mengunci pintu kamarnya untuk mengantisipasi jika tiba-tiba salah satu pelayannya akan masuk secara tiba-tiba untuk mengecek keadaan Salisa jika mendengar jeritannya yang melengking. Tadi saat Jacob pulang ia memang tidak bertemu dengan satupun pelayan di rumahnya. Pasti mereka juga tidak akan menyangka jika Tuan mudanya akan pulang begitu awal.
Jacob masih saja melongo melihat keindahan tubuh Salisa yang baru tetutup oleh celana dalam dan kedua tangannya yang tidak bisa menutupi dengan sempurna bagian atas tubuhnya.
Jacob mendekati Salisa untuk menenangkan wanita yang sepertinya sangat syok dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Bukanya menjadi tenang, Salisa malah semakin takut dengan Jacob yang malah mengunci pintu kamar dan mulai mendekatinya. Salisa naik ke atas ranjang dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan mendekat Jacob. Jika kamu masih berani mendekat, maka aku akan menjerit lebih keras dari sebelumnya." Kata Salisa begitu panik.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Salisa. Aku tak berniat melakukan hal yang saat ini sedang berada di dalam pikiran mesummu itu. Aku mendatangimu karena ingin menenangkanmu." Ucap Jacob dengan polosnya.
"Jangan mendekat. Aku bilang jangan mendekat." Kata Salisa yang masih takut karena kini, Jacob malah duduk di tepi ranjang. "Kenapa kamu selalu saja tidak mengetuk pintu terlebih dulu Jacob? Lalu kenapa kamu juga pulang kerumah di jam seperti sekarang ini? Bukankah ini sesuatu yang aneh?" Tanya Salisa mengintrogasi Jacob dengan rentetan pertanyaannya.
"Aah itu karena aku sedang merasa tidak enak badan. Ya, benar. Aku sepertinya mengidap penyakit serius. Kepalaku begitu pusing saat ini Salisa. Seharusnya kamu merawatku saat ini, kamu jangan marah dan berpikir yang tidak-tidak tentangku." Ucap Jacob yang langsung memasang tampang melas sambil memijit-mijit pelipis matanya yang tidak sakit.
Jacob bangkit berdiri dan malah ingin membuka selimut yang saat ini sedang digunakan Salisa untuk menutupi tubuhnya. Jacob pura-pura sakit dengan ingin segera membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Apa yang ingin kamu lakukan Jacob. Kamu jangan tidur begitu saja dan menarik selimut ini. Apa kamu sengaja ingin melihat tubuhku?" Kata Salisa begitu ketus.
"Aku kan hanya merasa tidak enak badan Salisa. Seharusnya kamu juga tau. Selimut ini juga punyaku. Bukankah selimutmu sudah kamu lipat dan kamu letakkan di atas sofa itu." Kata Jacob yang sudah berbaring di atas kasur sambil merebut sebagian selimut untuk dirinya.
"Ah, baiklah-baiklah. Aku akan berbaik hati untuk mengambilkan pakaianmu. Setelah itu aku juga akan memejamkan mataku agar kamu segera memakai baju dan tinggalkan kamar ini. Aku hanya ingin segera beristirahat dengan tenang." Ucap Jacob yang segera beranjak dan menuju ke arah almari yang menyimpan baju-baju milik Salisa.
Jacob mengambil sebuah bra berwarna merah marun yang senada dengan celana dalam yang tadi sempat Jacob lihat dikenakan oleh Salisa. Jacob juga segaja memilihkan baju lengan panjang dan juga celana panjang untuk Salisa karena nanti Salisa akan bertemu dengan Jason yang sepertinya menyukai Salisa. Jacob membawa pakaian itu dan menyerahkannya pada Salisa.
"Kamu masih kurang mengenakan ini kan" kata Jacob sambil mengangkat bra milik Salisa tinggi-tinggi.
"Dasar pria mesum. Kenapa kamu bisa begitu santainya memegang barang pribadi milik wanita seperti itu. Jangan-jangan karena kamu sudah terlalu terbiasa dengan barang-barang seperti itu ya." Tutur Salisa yang sudah berprasangka yang tidak-tidak dengan Jacob.
"Apa kamu bilang. Kamu berani sekali mengataiku dengan sebutan pria mesum lagi. Asal kamu tau saja Salisa, hanya tubuhmulah yang pernah aku lihat tanpa busana. Kamu adalah wanita pertama yang tubuhnya pernah aku sentuh. Bahkan kamu juga wanita pertama yang bisa merasakan ciuman dari bibirku yang masih perawan. Jadi kamu jangan sebut aku sebagai pria mesum lagi." Jacob memang selalu berkata apa adanya. Tapi ia tak menyangka jika kata-kata nya itu sering kali diucapkan pada situasi yang salah.
Mungkin saja kata-katanya itu akan dianggap sebagai sesuatu hal yang begitu romantis jika diucapkan pada istrinya saat mereka sedang asik berduaan. Akan tetapi kali ini kata-katanya itu justru membuat Salisa semakin takut karena kondisinya saat ini yang masih bisa disebut sebagai telanjang.
Jacob mendekati Salisa dan sengaja ingin mengerjai Salisa dengan tak langsung menyerahkan bra milik Salisa. Jacob masih mengangkatnya tinggi-tinggi dan memaksa Salisa untuk mengambilnya jika bisa.
Tentu saja Salisa akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan barang pribadinya itu. "Cepat serahkan padaku Jacob. Bukankah tadi kamu bilang jika kamu sedang pusing. Kenapa kamu bisa seenergik seperti ini. Jangan-jangan kamu membohongiku ya?" Ucap Salisa dengan berusaha menyaut bra miliknya.
"Hahaha, tadi aku memang pusing Salisa. Tapi sepertinya rasa sakit dikepalaku itu mendadak beramgsur hilang karena bisa mengerjaimu. Ini sungguh mengasikan dan sangat menghibur diriku." Ucap Jacob dengan santainya. Jacob sengaja mengangkat tinggi-tinggi benda itu agar Salisa tidak bisa meraihnya.
__ADS_1
Waktu itu Salisa memang tidak bisa bergerak dengan leluasa karena kondisinya. Ia masih harus memegangi selimut dengan tangannya agar kain itu jangan sampai terlepas dari tubuhnya.
Salisa mulai outus asa karena ia tidak bisa meraih benda miliknya itu. Akhirnya Salisa memutuskan untuk berdiri di atas kasur agar ia bisa meraihnya. Dalam benaknya tentu ia bisa meraih benda itu karena nantinya ia akan lebih tinggi dari Jacob saat ini.
Akan tetapi. Siapa sangka ternyata Jacob bisa membaca pergerakan Salisa. Jacob segera ikut berdiri di atas kasur sehingga lagi-lagi Salisa tidak gagal dalam usahanya. Salisa bahkan sampai harus melompat-lompat untuk bisa meraihnya. Jacob masih saja tak mau mengalah dan ikut melompat untuk menghindari tangan Salisa yangbsemakin tinggi.
Tanpa sengaja. Saat Jacob melompat-lompat ia malah menginjak selimut yang dikenakan Salisa dan membuat kain itu tertarik ke bawah dan lepas dari genggaman Salisa yang hanya di pegangi dengan satu tangannya.
Saat selimut itu terlepas. Salisa sedang melompat. Karena terlalu dekat dengan tubuh Jacob maka tanpa Salisa sadari, dadanya sampai menempel di tubuh Jacob. Sensasi benturan empuk dan lembut dari dada Salisa membuat Jacob berdiri mematung karenanya.
Sedangkan Salisa yang juga menyadari hal itu justru menjadi hilang keseimbangan dan hampir jatuh. Untung saja dengan sigap, Jacob meraihnya dan memeluk tubuh Salisa agar jangan sampai terjatuh.
Lagi-lagi tubuh Salisa yang kini hanya memakai celana dalam seperti semula menempel di tubuh Jacob. Walaupun Jacob memakai baju, akan tetapi Jacob masih bisa merasakan empuknya kedua benda bulat yang menggantung di dada Salisa.
Jacob yang memegangi tubuh Salisa juga bisa merasakan lembutnya kulit Salisa. Aroma wangi dari sabun yang dipakai Salisa juga turut memanjakan hidung Jacob yang membuat suasana menjadi seperti di dalam surga.
Jacob inhin sekali segera mencium Salisa dan menikmati tubuh mulus dalam pelukannya itu yang begitu wangi. Pasti hal itu sangatlah menyenanhkan. Sayangnya hal itu hanya dalam benaknya saja. Jacob sebenarnya sudah berjanji untuk menahan nafsunya saat ia sedang bersama dengan Salisa. Jacob ingin melakukan hubungan badan dengan Salisa lagi saat nanyinya wanita itu juga menginhinkan hal yang sama. Dalam artian, Salisa bisa mencintai Jacob dan mau menjadi istri dalam arti yang sesungguhnya bagi Jacob.
Jacob langsung melepaskan pelukannya dan hal itu membuat Salisa terjatuh hingga kepalanya terantuk pada kepala dipan dengan cukup keras.
"Aaw... Ahh... Sakit sekali." Rintih Salisa sambil memegangi kepalanya.
Jacob jadi begitu panik. Ia segera melihat dan mengecek kepala Salisa yang ter bentur. Untungnya tak ada luka ataupun darah di kepala wanita itu. Jacob begitu lega dan bersyukur tidak terjadi hal yang buruk dengan kepala Salisa. Tanpa sadar, Jacob kembali memeluk Salisa karena begitu senang. Lagi-lagi ia bisa merasakan seperti ada pijatan lembut menyentuh dadanya.
"Maafkan aku Salisa. Aku tidak sengaja. Hal itu aku lakukan karena aku begitu gugup karena kamu."
"Jika memang gugup kenapa sekarang kamu malah menindih dan memelukku seperti ini. Cepat angkat tubuhmu. Dadaku sangat sesak dan bahkan sampai sulit bernafas karena tubuhmu yang begitu berat ini." Keluh Salisa yang seperti habih terjatuh masih harus tertumpa tangga.
Saat Jacob menyadarinya. Ua segera bangun dan mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Salisa. Jacob kemudian juga menyerahkan pakaian Salisa. Begitu pula dengan bra yang sepat mereka perebutkan itu.
"Pakailah pakaianmu. Aku akan keluar dari kamar ini." Ucap Jacob yang merasa begitu menyesali tindakannya.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*