CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
JALARAN SOKO KULINO (KARENA DARI TERBIASA)


__ADS_3

Jacob amat merasa sedih dan pikirannya menjadi kalut. Wanita yang selama ini selalu ada bersamanya, menemaninya, dan tak pernah meninggalkannya. Mulai saat kepergiannya ke Itali itu Jacob memang sudah merasa sedikit jauh dan hubungan mereka sedikit merenggang.


Awalnya Jacob mengira bahwa semua itu karena hubungan mereka yang terpisah jarak dan waktu. Jacob juga masih percaya dengan perkataan Ana yang ingin pergi untuk mengejar impiannya. Namun hari itu sepertinya semua kepercayaan dan cintanya dihianati. Dengan mudahnya ana bilang ingin mengakhiri hubungan mereka. Hubungan yang sudah terjalin sejak kecil berakhir begitu saja hanya dengan satu kata putus.


Jacob tak lagi berselera untuk makan siang. Jacob segera pergi dari kantornya dan meminta Reno untuk menggantikannya sementara. Lagi-lagi Jacob pergi ke bar dan segera memesan arak untuk menghilangkan gundah gulana dalam hatinya. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Jacob mabuk dan tak sadarkan diri.


Salisa yang sedari bangun tidur tak melihat Jacob merasa sedikit sedih. "Kenapa aku kecewa hingga harus seperti orang kehilangan seperti ini? Apakah karena aku sudah terbiasa melihat jacob saat bangun tidur dan mengantar kepergian Jacob saat ingin berangkat bekerja." Gumam Salisa sambil menonton TV.


Kakek Wisnu yang baru saja pulang dari luar kota kemudian datang menghampiri cucu menantunya. "Kamu ingin nonton apa Salisa? Kenapa dari tadi kamu memindah-mindah canelnya tanpa henti?" Tanya Kakek dengan lembut.


"Oh iya kek. Salisa sedang mencari sinetron kesukaan Salisa. Tapi sepertinya pindah jam tayang. Jadi Salisa mencari tontonan lain yang sekiranya menarik." Jawab Salisa yang sebenarnya sedari tadi tidak fokus dengan TV nya dan terus memencet tombol remot karena sedang suntuk dan tak bersemangat.


"Kakek baru pulang ya? Sebaiknya Kakek istirahat saja dulu. Kakek pasti lelah karena baru pulang melakukan perjalanan yang cukup jauh." Ucap Salisa dengan sopan.


"Baiklah Salisa, kalau begitu Kakek minta tolong kamu telepon Jacob untuk membeli bunga tabur saat pulang kerja nanti. Nanti malam kita akan berangkat ke pemakaman Papa Rendra dan juga Mama Renata. Karena makamnya cukup jauh jadi kita akan berangkat malam hari."


"Baik Kek. Kalau begitu Salisa akan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan segera memberi tahu Jacob."


"Terimakasih Salisa. Kalau begitu Kakek juga akan kembali ke kamar untuk istirahat."


Salisa memberi hormat dengan membungkukkan badan ketika Kakek berlalu meninggalkannya. Salisa kemudian mematikan televisi dan juga bergegas kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Salisa mencari kontak Jacob dalam ponselnya yang ia beri nama Kuman Dekil. Salisa menunggu sesaat sampai akhirnya ada yang mengangkat teleponnya dan mengucapkan hallo. Tapi suara itu bukanlah suara Jacob. Melainkan suara dari sang penjaga Bar yang kemudian memberitahukan bahwa saat ini sang pemilik ponsel telah mabuk hingga tak sadarkan diri.


Setelah mendengar hal itu, Salisa kemudian segera bergegas untuk menjemput Jacob di alamat yang diberikan oleh penjaga Bar. Salisa pergi dengan mobil yang diantar oleh Mang Diman salah satu sopir keluarga Oetama.


Selama perjalanan Salisa cukup cemas dan gelisah memikirkan keadaan Jacob. Salisa bertanya-tanya, hal apa yang membuat Jacob hingga harus minum-minum hingga mabuk. Salisa tak bisa tenang dengan selalu menggetarkan kakinya karena khawatir.


Setiba di Bar, Salisa langsung mencari keberadaan Jacob. Salisa kemudian membayar tagihan minuman yang dihabiskan Jacob. Kemudian Salisa membawa Jacob yang tak sadarkan diri dengan dibantu oleh Mang Diman untuk pulang ke rumah.


Seperti biasa Mang Diman yang selalu membantu Salisa memapah Jacob hingga sampai ke kamar dan segera meninggalkan kamar majikannya itu dan kembali bekerja.


Jacob terkapar tak berdaya di atas ranjang dan belum sadar diri juga. Tubuhnya sangat bau dengan aroma khas dari arak yang diminumnya.


Salisa melepas sepatu dan kaus kaki yang dikenakan Jacob. Salisa kemudian juga melepas dasi Jacob agar suaminya itu bisa beristirahan dengan lebih nyaman. "Aku mohon kali ini kamu jangan muntah di sini. Aku tidak mau jika harus mengganti bajumu dan membantumu untuk mandi lagi. Jangan-jangan besok kamu akan benyebutku sebagai wanita cabul lagi." Ucap Salisa sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Percuma saja aku memohon seperti ini jika orangnya tak sadarkan diri. Bagaimana ini? Aku tidak mau jika harus menjadi babunya lagi dengan membersihkan muntahannya yang menjijikan. Atau sebaiknya aku membuat Jacob sadar diri dan memintanya untuk muntah di kamar mandi. Dengan begitu aku tidak akan lagi dibuat lelah karenanya." Ucap Salisa sambil memikirkan cara bagaimana agar Jacob bisa bangun dan tak membuat ulah dengan muntah di sembarang tempat.


Salisa mengambil air yang ada di dalam gelas tepat di sampingnya saat ini. Salisa kemudian memcelupkan ujung jaringa ke dalam gelas berisi air putih itu dan kemudian menjentikkannya di wajah Jacob.


Jacob perlahan mulai bereaksi dengan mengerutkan matanya. Salisa mengulangi perbuatannya hingga akhirnya Jacob membuka matanya dengan pandangan yang menyipit.


"Hei kamu kemarilah. Berteduh bersamaku. Hari sedang hujan, kenapa kamu tak berteduh dan malah hujan-hujanan." Ucap Jacob yang sepertinya masih dibawah kontrol minuman keras.


Salisa hanya bisa menahan tawa dan menuruti permintaan Jacob. Salisa yang tadinya berdiri, kemudian duduk di samping Jacob dan menanyakan keadaan Jacob saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu minum-minum lagi Jacob? Apakah ada hal buruk yang menimpamu?" Tanya Salisa dengan lembut.


Jacob yang juga duduk di hadapan Salisa, tiba-tiba menangis dengan meneteskan air mata. "Kenapa kamu tega meninggalkanku?" Ucap Jacob sambil terus meneteskan air matanya.


"Siapa yang meninggalkanmu Jacob. Lihatlah, aku ada disini dan akan selalu menemanimu." Kata Salisa yang merasa iba dan kasian melihat Jacob bisa menangis seperti sekarang ini.


"Benarkah? Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku lagi." Pinta Jacob dengan lirih. Jacob kemudian memeluk Salisa yang dalam bayangannya adalah seorang Ana yang sudah ia kenal sedari kecil. Ana memang selalu ada dan menjadi orang terdekat bagi Jacob. Dulunya Ana adalah orang yang selalu bisa diandalkan oleh Jacob. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Sayangnya saat Jacob hendak melamar Ana, gadis itu malah pergi ke kuar Negeri untuk mengejar impiannya menjadi aktris internasional.


Tadinya Jacob ingin menunggu hingga Ana pulang kembali dan menjelaskan semuanya. Jacob juga berencana untuk menceraikan Salisa ketika Salisa telah melahirkan Anak yang saat ini dalam kandungannya.


Dengan rela, Salisa tak menolak pelukan dari Jacob karena suasana tati Jacob yang sepertinya sedang sedih. Salisa bertanya -tanya dalam hati. Siapa sebenarnya orang yang dimaksud Jacob saat ini.


Salisa hanya diam dan tak berani bertanya lagi karena takut Jacob akan merasa semakin sedih. Salisa membalas pelukan dari Jacob sambil menepuk-nepuk punggung Jacob dengan lembut untuk menenangkan hati Jacob.


Tak lama kemudian. Terdengar suara dari mulut Jacob yang sepertinya ingin muntah. Salisa yang menyadarinya lqngsung melepaskan pelukannya dan menyeret paksa Jacob ke kamar mandi. Salisa membawa Jacob ke dekat kloset dan membantu Jacob agar bisa memuntahkan isi perutnya ke dalam Kloset dan segera menyiramnya.


Salisa menghela hafas lega karena hari ini ia tidak akan lagi direpotkan dengan kegiatan melelahkan sekaligus mengandung unsur porno yang memaksanya untuk menutup mata dan menahan keteguhan hatinya kuat-kuat.


Kejadian yang belum lama Salisa alami karena Jacob yang mabuk seperti sekarang ini. Setelah dirasa Jacob tak lagi ingin muntah. Salisa kemudian membantu laki-laki itu untuk kembali ke kamar dan membaringkannya lagi.


"Sebaiknya kamu tidur Jacob. Nanti aku akan meminta Bi Surti untuk membuatkan sup anti pengar untukmu. Aku harus pergi ke suatu tempat demi pesan Kakek yang sepertinya tak bisa kamu kerjakan."


Jacob yang masih setengah sadar untungnya tak lagi membuat onar dan menurut seperti anak kecil yang diperintah ibunya. Jacob memejamkan matanya dan segera tidur.


"Apakah Tuan Muda sudah baik-baik saja Nyonya?" Tanya Mang Diman dengan sopan.


"Iya Mang Diman. Sekarang Jacob sedang tidur. Untungnya saja kali ini dia tidak lagi membuat masalah besar untukku." Jawab Salisa dengan santai.


Mang Diman tersenyum mendengar penjelasan Nyonya mudanya.


"Oh iya mang, dimana biasanya Jacob pergi membeli bunga tabur? Antarkan saya kesana ya!" Pinta Salisa dengan ramah.


"Siap Nyonya." Jawab Mang Diman sambil mengangguk pelan.


"Satu lagi Mang Diman. Tolong rahasiakan dari Kakek tetang masalah Jacob yang mabuk ya. Salisa kasian jika Jacob dimarahi besar-besaran oleh Kakek."


"Baik Nyonya. Terimakasih karena Nyonya perhatian dengan Tuan Muda. Dari Dulu Tuan Muda sering menyendiri dan tidak punya banyak teman. Tuan muda juga selalu bersikap dingin dengan semua orang. Tapi sepertinya sejak kemunculan Nyonya, Tuan Muda sedikit bisa mengubah kepribadiannya itu menjadi lebih hangat dan tak sedingin biasanya."


"Ah masak sih Mang? Salisa itu tidak perhatian sama sekali kepadanya. Salisa hanya kasian jika Jacob dimarahi saat suasana hatinya sedang tidak baik." Jawab Salisa ingin meliruskan pandangan Mang Diman selama ini.


Mang Diman kembali tersenyum. Dan membenarkan perkataannya. Salisa sendiri juga hanya tersenyum dan tidak ingin memperdebatkan masalah itu lagi.


Sepulang membeli bunga. Salisa kembali ke kamar untuk melihat keadaan Jacob. Sepertinya Jacob sudah sadar dan bangun dari tidurnya. Terlihat dari tempat tidur yang sudah terlihat rapi lagi dan selimut yang sudah terlipat seperti semula.


Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Menandakan ada orang yang sedang mandi di dalamnya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku kekuar dulu saja." Gumam Salisa yang kemudian kembali menutup pintu kamar dan menuju ke dapur untuk mengambilkan Jacob sup anti pengar yang sudah di pesannya tadi kepada Bi Surti.


"Tuan Muda sudah bangun Nyonya?" Tanya Bi Surti dengan Ramah.


"Sudah Bi" kata Salisa Sambil mengambil Sup yang terlebih dulu ia panaskan. Salisa juga berpesan kepada Bi Surti agar tak memberitahukan masalah Jacob yang mabuk kepada Kakek Wisnu. Tentu saja Bi Surti mau melakukannya dengan senang hati.


Salisa membawa sup anti pengar itu kedalam kamar. Terlihat Jacob sudah berpakaian dan menyisir rambutnya dengan rapi.


"Dari mana saja kamu Salisa? Tadi aku mencarimu kemana-mana tapi tak dapat menemukanmu di rumah ini." Tanya Jacob penasaran.


"Memangnya kamu tak bertanya kepada orang rumah? Aku baru saja kembali dari toko bunga untuk persiapan kita ke makam orang tuamu. Tadi Kakek memintaku untuk menelfonmu. Tapi aku malah menerima pemberitahuan dari penjaga Bar jika kamu sedang mabuk dan tak sadarkan diri." Jawab Salisa dengan nada datarnya.


"Ohh iya Salisa. Terimakasih karena lagi-lagi kamu yang mengurusiku ketika aku sedang mabuk." Kata Jacob dengan lembut. Jacob juga mengingat sepintas ketika tadi ia memeluk Ana saat sedang mabuk. Namun akhirnya Jacob sadar jika yang tadi ia peluk adalah Salisa. Tentu saja itu Salisa, karena Ana tidak akan mungkin ada disini.


Jacob hanya menyimpan ingatannya itu dalam hati. Ia tidak ingin mengungkit masalah mabuknya lagi. Jacob juga meminta Salisa untuk merahasiakan acara mabuknya dari Kakeknya.


Salisa menyetujuinya, bahkan salisa juga bilang jika ia juga sudah meminta kepada para pelayan di rumah itu untuk tutup mulut.


Jacob sangat senang mendengar hal itu. Jacob juga berterimakasih karena Salisa juga sudah menggantikannya membeli bunga untuk orang tuanya. Jacob bahkan semakin dibuat senang karena perhatian Salisa yang sudah menyiapkan sup anti pengar untuknya.


Jacob segera menghabiskan Sup itu dan mengembalikan bekas mangkuknya ke dapur. Saat Jacob kembali ke kamar, Salisa terlihat sudah rapi dengan pakaiannya untuk pergi ke makam orang tua Jacob. Kali ini adalah kali pertama bagi Salisa untuk mengunjungi makam kedua mertuanya yang sudah tiada.


Jacob juga segera berganti baju dan bersiap-siap. Mereka berdua kemudian turun dan menumui Kakek Wisnu yang juga sudah siap dan menunggu mereka di ruang tamu.


"Ayo kita berangkat. Kalian satu mobil saja. Kakek akan berangkat dengan mobil lain dengan Mang Diman." Kata Kakek yang tidak ingin mengganggu kedua cucunya agar mereka bisa lebih dekat.


Salisa kemudian melirik ke arah Jacob dan menarik Suaminya itu agar lebih dekat dengannya. Salisa menjinjit dan membisikan kata-kata di dekat telinga Jacob.


"Kamu yakin sudah sadar dan sepenuhnya bisa mengemudi dengan baik?" Tanya Salisa dengan lirih agar Kakek Wisnu tidak bisa mendengar ucapannya.


Jacob kemudian membalas pertanyaan Salisa dengan ikut berbisik seperti yang dilakukan oleh Salisa.


"Kamu tenang saja Salisa. Aku yakin sudah baik-baik saja." Jawab Jacob tak kalah lirih dari Salisa.


Kakek Wisnu merasa senang dan tersenyum ketika melihat Salisa dan Jacob sudah terlihat lebih dekat dan tak terlihat seperti sebelumnya yang akan lebih terlihat bagai musuh dalam satu rumah.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2