CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PERHATIAN


__ADS_3

Gejala mual-mual di pagi hari atau sering disebut dengan morning sickness selalu mewarnai keseharian Alisya. Aldo selalu menemani Alisya dan memijit-mijit tengkuk Alisya jika hal itu terjadi. Aldo bisa memahami bahwa mual dan muntah yang dialami istrinya itu adalah hal yang wajar dialami oleh para wanita hamil. Aldo selalu membuat Alisya agar selalu merasa nyaman.


Meskipun sering disebut sebagai morning sickness tetapi hal itu tidak terjadi pada Alisya. Alisya akan merasa mual dan muntah jika ia mencium bebauan yang cukup menyengat. Kondisi Alisya memang cukup parah, Alisya akan terus-terusan merasa mual ketika ia mencium bau bawang ketika sedang ingin memasak. Alisya juga merasa mual jika mencium wanginya sabun dan shampho atau wanginya produk-produk yang ia gunakan untuk perawatan tubuh ataupun produk keperluan rumah tangga yang berbau tajam.


Dengan kondisi Alisya yang seperti itu, memaksa Aldo untuk mencarikan alternarif produk lain yang tidak berbau dan lebih alami. Aldo bahkan juga harus mulai memasak untuk istrinya itu. Sering kali Mama Maria yang akan memasak untuk mereka dan mengantarnya kerumah. Namun akhir-akhir ini Aldolah yang meminta Mama mertuanya untuk mengijinkan dirinya memasak untuk Alisya. Semua itu bisa Aldo lakukan karena ia merasa terharu dan kasian kepada istrinya itu. Alisya harus mengalami dan merasakan itu semua karena ia sedang mengandung anak darinya. Aldo sangat menyayangi Alisya apalagi setelah tau jika istrinya itu sedang hamil. Untuk itulah Aldo memutuskan mengambil cuti bekerja bagi dirinya dan berencana memfokuskan hari-harinya untuk menemani Alisya yang bahkan harus turun berat badannya karena sering mual dan muntah sehabis makan.


Alisya juga tidak bisa memakan makanan yang terlalu berbau tajam, seperti bau amis dari ikan atau aroma dari terasi yang menyengat. Untuk itulah Aldo bisa seharian belajar mengolah ikan agar tidak berbau amis saat sudah dimasak. Dokter menyarankan agar Alisya bisa lebih banyak mengkonsumsi ikan karena bagus untuk kecerdasan anaknya kelak.


Semua yang baik untuk kehamilan istrinya selalu dilakukan dan di cari oleh Aldo lewat jaringan internet dan buku-buku yang khusus ia beli bersama dengan Alisya. Terkadang mereka akan membaca buku bersama tentang kehamilan. Melihat vidio proses terbentuknya janin sampai menjadi bayi yang siap menyambut dunia membuat keduanya begitu terharu.


Mereka juga mulai memikirkan nama yang akan diberikan kelak untuk anaknya, baik itu jika perempuan ataupun laki-laki. Keseharian Aldo adalah berfokus membuat Alisya bahagia dan nyaman dengan kehamilannya.


Hari itu Aldo ingin mengajak Alisya pergi ke perkebunan untuk melihat perkembangan pembangunan rumah impian mereka. Aldo telah memulai projek pembangungan rumah yang akan mereka bangun di atas bukit yang berada di perkebunan teh milik mereka.


Sayangnya saat ingin berangkat, tiba-tiba Alisya merasa sedikit pusing. Aldo ingin membatalkan rencananya, tapi Alisya memintanya untuk tetap pergi meski harus tanpa dirinya. Waktu itu Mama Maria juga datang kerumah, jadi selama Aldo pergi. Alisya akan aman ditemani oleh Mamanya.


Alisya meminta Aldo untuk membuatkan vidio sampai dimana proses pembangunan rumah mereka. Alisya dan Aldo berharap jika nanti si buah hati lahir, mereka sudah bisa menempati rumah baru mereka yang lebih luas dan lebih nyaman dari rumah yang saat ini masih ditempati mereka.


Setelah Aldo pulang, ia menceritakan semua kejadian yang tadi hampir saja menimpanya. Bukanya merasa kasian Alisya malah mengomeli Aldo yang tidak hati-hati. Alisya terus saja mengoceh, bagaimana jika tidak ada orang yang menolong suaminya itu. Alisya menceramahi Aldo agar suaminya itu harus lebih hati-hati dan selalu waspada akan berbagai hal. Sebenarnya Alisya sangatlah merasa cemas dan hatinya tetap merasa berdeguo kencang mendengar cerita dari Aldo. Ia sangat takut jika hal buruk menimpa suaminya itu, apalagi kali ini ia sedang mengandung anaknya. Sebuah kehawatiran besar tiba-tiba melanda dirinya. Alisya menjadi begitu emosinal dan meluapkannya dalam bentuk omelan.


Mendengar Alisya yang mengoceh sedari tadi, tak membuat Aldo merasa risih dan tak mau mendengarkan omelan dari istrinya. Justru Aldo merasa senang karena ia begitu diperhatikan dan dikhawatirkan oleh istrinya.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah puas mengomel Alisya? Jika belum istirahatlah sebentar. Kasian, nanti kamu kelelahan karenan terlalu banyak berbicara." Aldo beranjak kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Alisya.


"Kamu ini, bukanya bilang iya. Tapi malah menyimdirku seperti itu. Huft... Aku kan cuma ingin menasehati dan mengingatkanmu saja." gerutu Alisya sambil memeguk air putih yang diambilkan oleh Aldo.


"Iya-iya istriku sayang. Lain kali aku akan lebih waspada dan berhati-hati lagi." jawab Aldo yang sebenarnya ingin mencium bibir mungil istrinya itu. Akan tetapi Mama Maria juga ada disana, jadi Aldo mengurungkan niatnya yang terlanjur dibuat gemas oleh istrinya.


"Janji ya!" saut Alisya dengan manjanya.


"Iya, janji. Lagi pula sekarang kan aku tidak apa-apa. Tidak ada luka sedikitpun ditubuhku. Jadi kamu jangan khawatir lagi Alisya. Bagaimana kalau setelah ini aku akan membuatkanmu bubur kacang hijau. Semalam aku sudah browsing nagaimana cara membuatnya. Aku jamin kali ini akan lebih enak dari bubur jagung wakyu itu." bujuk Aldo kepada Alisya agar istrinya itu bisa lupa akan kejadian yang baru saja ia ceritakan itu dan kembali menjadi ceria seperti biasanya.


"Emmm baiklah. Aku juga akan membantumu kali ini. Sepertinya aku sudah bisa lebih tahan bau dan bisa mulai memasak untukmu." jawab Alisya dengan penuh semangat.


"Ya sudah, kalau begitu ayo Ma, kita lanjutkan episode dari cerita pacarku Alien yang kemarin. Ceritanya lagi seru-serunya. Bye-bye suamiku. Emuach muach muach. Love you full" Alisya lalu menggandeng Mama Maria dan Mengajaknya ke ruang keluarga untuk nonton drakor bersama seperti banyaknya waktu yang sering mereka lewati bersama saat sedang suntuk dan tidak ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan.


Tak lama kemudian Papa Antoni dan Salisa juga menyusul datang kerumah yang cukup sempit jika dihuni oleh beberapa orang itu. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Hal itu malah membuat mereka nyaman dan menikmati kebersamaan mereka.


Semua orang ikut menikmati bubur kacang hijau buatan Aldo yang cukup enak bagi seorang koki pemula dikeluarganya. Salisa mengambil porsi lebih banyak seperti biasanya, gadis itu memang doyan sekali makan.


"Asiknya punya suami seperti ka Aldo. Ya Tuhan sisakanlah satu untukku yang seperti Kakak iparku ini. Karena aku tidak begitu pintar memasak aku berharap suamiku kelak akan lebih mahir memasak dari pada aku." Ocehan Saalisa itu membuat semua orang tertawa dan geleng-geleng kepala.


"Kamu ini lucu semali Alisya. Kamu doyan sekali makan dan selalu menghabiskan porsi yang banyak. Tetapi kamu sendiri tidak bisa memasak. Jadi bagaimana nanti jika kamu menikah dan mempunyai suami yang sama-sama tidak bisa masak?" Ledek Alisya kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Hehehe entah lah. Makanya aku mau mencari suami yang bisa masak seperti Ka Aldo. Semenjak Salisa tinggal sendiri dirumah, Salisa sudah belajar untuk memasak sendiri. Tapi entah mengapa Salisa selalu saja gagal dan gagal lagi. Selain gosong, masakanku juga tidak bisa dimakan karena rasanya yang aneh. Aku tidak mau memasak lagi. Mendingan Salisa beli di luar dari pada harus makan makanan yang kubuat sendiri." Keluh Salisa dengan kesal.


Walaupun Salisa dari dulu jarang sekali memasak, tetapi gadis itu sangat suka dengan mebersihan. Salisa akan memilih untuk mencuci piring atau membereskan bekas perabotan memasak setelah Kakak dan Mamanya yang membuatkan makanan untuk mereka.


"Terserah kamu saja, Mama hanya bisa mendiakanmu. Karena kamu yang lebih banyak makannya dari pada kami. Kali ini kamu yang bertugas mencuci semua mangkuk ini. Kakakmu Aldo yang laki-laki saja porsinya tak sebanyak dirimu."


Salisa hanya bisa tersenyum kecut mendapat sindiran dari Kakak dan Mamanya. "Siap komandan." Salisa kemudian segera membereskan mangkuk-mangkuk itu dan membawanya ke washtafel.


Mama Maria kemudian pulang bersama dengan Papa Antoni, Karena suaminya itu besok harus kembali ke kota untuk mengontrol perusahaannya. Sedangkan Salisa masih asik mengobrol dengan kakaknya Alisya. Salisa menceritakan tentang Johan yang telang sengaja menipunya selama ini karena perintah dari Paman Doni yang membayarnya dengan mahal untuk merencanakan sesuatu yang buruk kepadanya. Namun saat itu, Salisa tidak berani bercerita tentang pertemuannya dengan Jacob. Salisa takut jika Kakanya akan marah dan memberitahukan semuanya kepada orang tua mereka.


Mendengar hal itu Alisya ikut geram dengan kelakuan Paman Doni yang dari dulu masih saja menaruh dendam kepada keluarganya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2