
Suara tangisan Salisa tanpa sadar telah menyita perhatian laki-laki yang duduk disampingnya. Pria yang sedari tadi menunduk itu menoleh ke arah Salisa. "Kenapa gadis ini tak malu menagis di pesawat." gumam pria itu sambil mengintip wajah wanita yang dipikirnya tak tau tempat untuk menangis.
"Wajahnya sangat mirip dengan Salisa teman SMA ku dulu, tunggu-tungu. Jangan-njangan wanita ini benar-benar Salisa. Tapi kenapa sekarang jadi dia yang berkacamata? Dunia ini sungguh lucu." Pria itu mengingat kembali waktu dirinya sering dipanggil bocah berkacamata oleh Salisa.
"Apakah aku harus benar-benar memastikan jika dia adalah Salisa. Tapi sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik, sebaiknya aku tidak mengganggunya dulu." Ucap laki-laki itu dalam hati. Kemudian pria itu melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terusik oleh suara tangisan Salisa.
Salisa masih tak bisa mengendalikan emosi di hatinya, air mata terus berjatuhan takkala hatinya memang sedang sedih. "Kenapa sapu tangan ini jadi basah seperti ini? hah menyebalkan sekali." Umpat Salisa dalam hati. Salisa kemudian mencari tisu di dalam tasnya. Sialnya ia tidak menemukan tisu atau apapun itu untuk mengelap air mata dan ingusnya. "Kenapa nasib buruk masih saja mengikutikku? Bagaimana ini, jika aku ke kamar mandi akan banyak orang yang melihatku menangis. Itu pasti memalukan sekali." Salisa ingin mengelap wajahnya dengan baju yang dikenakannya. Tetapi Salisa kemudian mengurungkan niatnya. "Jangan jadi wanita yang jorok Salisa, setidaknya jika kamu sedang sedih dan menangis, kamu harus kuat dan tampil cantik kembali setelahnya." Begitu benak Salisa untuk menenangkan hatinya yang sudah mulai membaik.
Salisa menoleh ke arah sampingnya. "Apakah pria ini benar-benar tidur? Bagaimana jika sedari tadi ia mendengar suaraku menangis? Dia pasti akan mengumpat dan mengataiku dalam hatinya." Gumam Salisa sambil memastikan betul-betul apakah pria itu tertidur lelap atau tidak.
Tiba-tiba laki-laki itu merenggangkan tubuhnya sambil menguap. Masker yang tadi sempat ia pakai juga ia lepas. Sepertinya laki-laki itu tidak menyadari jika sedari tadi ada seorang wanita sedang memperhatikannya. Pria itu kembali menguap sambil menoleh ke arah Salisa. Begitu terkejutnya ia ketika mendapati sepasang mata sedang tertuju padanya.
Pria itu tampak sangat malu. Apalagi ia tadi tanpa segan membuka mulutnya lebar-lebar saat menguap dan tak menutupi dengan tangannya. "Maaf-maaf, maaf Nona. Saya tidak sengaja." Pria itu kemudian memasang wajah cool dan menjaga imagenya lagi di depan seorang wanita.
"Ti ti tidak apa-apa Tuan. Justru saya yang minta maaf. Sa saya hanya ingin, ingin bertanya apakah anda punya tisu atau tidak? Iya benar Tuan, itu maksud saya." Salisa juga gugup dan mencari alasan karena ia tidak ingin laki-laki itu tau jika sedari tadi ia sedang mengawasinya.
"Tisu? Maksudmu kertas tipis berwana putih itu? Untuk apa aku membawanya. Aku ini kan laki-laki." Jawab pria itu dengan polosnya.
"Ooh baiklah kalau begitu. Terimakasih." Jawab Salisa dengan sedikit malu.
"Tapi aku punya sapu tangan untuk mengelap ingusmu itu." Pria itu kemudian mengambil sapu tangan yang ia selipkan di saku celananya dan menyodorkan kain kecil berwana Navi itu kepada Salisa.
Salisa segera menyadari bahwa ia belum mengelap ingusnya. Dengan sangat malu Salisa segera mengambil sapu tangan itu dan memalingkan wajahnya untuk membersihkan sisa air mata dan ingusnya. "Ah, memalukan sekali. Kenapa aku bisa secereboh ini" gumam Salisa di hatinya.
"Terimakasih Tuan."
"Hemm, kamu tidak perlu mengembalikannya, kamu buang saja setelah kamu selesai menggunakannya. Aku bisa membeli lagi yang banyak" Kata laki-laki itu dengan nada datarnya.
"Tentu saja Tuan, saya mengerti." Jawab Salisa sambil menggerutu di hatinya "Memangnya siapa juga yang mau menyimpan sapu tangan ini? Sombong sekali pria ini."
"Tapi tunggu dulu Nona, sedari tadi aku sangat penasaran sekali. Kamu sangat mirip dengan teman sekolahku dulu. Kalau boleh tau siapa nama Nona?" Tanya pria itu untuk melepas rasa penasaran yang memuncak.
"Benarkah Tuan? Memangnya dimana dulu Tuan bersekolah?" Jawab Salisa yang masih enggan untuk menyebutkan namanya.
"Di SMA Bakti Bangsa. Sekolahan paling elit di kotaku."
__ADS_1
Mendengar pria itu menyebut nama sekolah yang sama dengannya membuat mata Salisa membulat sempurna. "Itu kan juga tempat sekolahku dulu." Batin Salisa sambil memandangi wajah pria itu dan mengingat siapa gerangan pria disampingnya. Salisa berusaha dengan keras mengingat wajah teman-temannya dulu yang sekiranya mirip, namun ia tidak mengingat sama sekali jika dulu ia mempunyai teman sekeren dan setampan laki-laki yang dari tadi masih menunggu jawaban darinya.
"Siapa nama anda Tuan? Saya mamang dulu bersekolah disana, tetapi sepertinya saya tidak pernah memiliki teman seperti Anda."
Pria itu malah tertawa dengan senangnya. "Jadi kamu benar-benar Salisa? Apakah kamu tidak mengingatku?"
Salisa menggelengkan lepalanya sambil terus memikirkan siapa sebenarnya pria itu.
"Ako Jason, Salisa. Apakah sekarang kamu ingat?"
"Jason? Jason yang dulu berpenampilan cupu dan berkacamata?" Salisa mengernyit keheranan karena penampilan Jason saat ini sangatlah berbeda dengan Jason yang ia kenal dulu.
"Iya Salisa, Jason yang dulu sering kamu panggil bocah berkacamata itu. Sekarang aku melepas kacamataku dan menggantinya dengan softlens. Tetapi lucunya kenapa sekarang malah kamu yang memakai kacamata." Kata Jacob sambil menunjuk kacamata Salisa dengan dagunya.
"Ahh iya. Tiba-tiba saja mataku menjadi minus setelah lulus perguruan tinggi. Mungkin karena aku terlalu banyak membaca buku." Jawab Salisa dengan sedikit malu.
"Buku apa yang kamu suka Salisa?"
"Sebenarnaya aku lebih banyak membaca kumpulan Novel-novel percintaan ketimbang membaca buku pengetahuan." Jawab Salisa semakin malu.
"Emm banyak sih, tapi salah satu Novel favoritku adalah kumpulan karya dari penulis berbakat yang berinisial J. Starman. Apakah kamu pernah membacanya?"
Mendengar perkataan Salisa membuat Jason benyemburkan minuman yang sedang ditengguknya. "Apa kamu bilang? J. Starman." Jason terlihat sangat terkejut, namu tersirat raut kebahagian di wajahnya.
"Iya, menurutku karya-karyanya sangatlah funtastis. Saat ini aku bahkan membawa Novel karyanya yang ke enam. Tadi malam aku baru saja selesai membacanya. Sebenarnya aku sangat penasaran dengannya. Karena dia tidak pernah menyematkan wajahnya di biografinya atau jumpa fans. Padahal aku sangat mengaguminya dan ingin sekali mendapat tanda tangan darinya." Kata Salisa dengan penuh semangat di setiap ucapannya.
Jason kembali tertawa kecil. Hatinya sangat senang mendengar semua pujian dari Salisa. Karena sebenarnya penulis berinisial J. Starman itu adalah dirinya. Selama ini Jason memang tidak ingin jika dirinya yang asli terpublikasi. "Bolehkah aku meminjam novel itu Salisa?"
"Tentu saja. Apakah kamu juga menyukainya?" tanya Salisa dan mengambil Novel di dalam tasnya yang sedari tadi berada diatas pangkuannya. "Ini dia." Kata Salisa sambil menyodorkan Novelnya kepada Jason.
"Kamu punya bolpen?"
"Tentu saja." Jawab Salisa dan segera mengambilkannya untuk Jason.
Tiba-tiba Jason membuka lembar pertama Novel itu dan membubuhkan tanda tangannya di dalamnya.
__ADS_1
"Hei, apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak ijin dulu kepadaku dan mengotori Novelku." Kata Salisa dengan sedikit kasar dan merebut kembali Novel dan penanya.
"Tapi tadi kamu bilang, kamu ingin mendapat tanda tangan dari penulis aslinya. Dan sekarang kamu sudah mendapatkannya." Jawab Jason dengan santainya.
"A a apa? Jadi sebenarnya kamu adalah J. Starman? dan inisial J itu untuk Jason?" Salisa tampak sangat terkejut sekaligus malu setengah mati karena dari tadi ia memujinya setengah mati dan juga sedikit membentaknya saat Jason baru saja menandatangani Novelnya.
Jason hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum kecut kepada gadis itu.
"Tapi kenapa selama ini kamu tidak pernah mempublikasikan siapa sebenarnya dirimu? bukankah mempunyai karya yang laris terjual hingga jutaan exemplar itu sangat membanggakan?"
"Memang membanggakan bagiku, tapi tidak untuk orang tuaku. Mereka ingin agar aku meneruskan bisnis mereka dan tak mengijinkanku untuk menyalurkan bakat menulisku. Jadi selama ini aku bersembunyi dan diam-diam menulis diwaktu senggang." Raut wajah Jason terlihat sedikit sedih.
"Huuh, benar juga." Salisa ikut menghela nafasnya. Sebenarnya aku juga suka sekali menulis. Tetapi aku juga harus membantu papaku mengurus perusahaannya. Jadi waktu untukku untuk menulis sangatlah terbatas, dan aku juga tidak semahir dirimu dalam menulis. Karyaku hanya dipublikasikan di media online dan tidak terkenal sama sekali."
"Ternyata kamu juga suka menulis?" Tanya Jason yang ikut senang ternyata Salisa juga memiliki hobi yang sama dengannya.
"Iya, tapi aku sangat salut padamu. Walaupun kamu sibuk dengan pekerjaan bisnis yang menguras waktu dan tenaga, tetapi kamu masih bisa memerbitkan Novel sekeren ini." Kata Salisa sambil menunjukan Novel yang masih ia pegang di tangannya.
"Hahaha, aku sangat senang kamu memujiku seperti itu Salisa. Tapi aku mohon kamu jangan memberitahu kepada siapapun tentang identitas asli penulis Novel ini. Aku tidak ingin jika suatu saat berita itu sampai ketelinga orangtuaku.
"Iya-iya aku janji. Padahal tadi aku sudah berencana untuk bercerita dengan Kakaku yang juga sangat suka dengan semua karyamu. Kami sering membaca bersama saat punya waktu luang yang sama."
Kini keduanya berbincang kesana-kemari tentang dunia pernovelan. Tak ada habisnya topik-topik menarik yang mereka bicarakan. Sampai pesawat itu lepas landas dan mendarat di bandara tujuan mereka. Keduanya masih berbincang, sesekali mereka juga bercerita tentang masa-masa sekolah mereka yang penuh kenangan.
Dulunya Jason adalah siswa yang cukup pendiam dan tak banyak bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Hanya Salisa yang sering menyapanya, tetapi itupun Salisa juga sering mengejeknya dengan sebutan bocak berkacamata. Sangat berbeda 180° dengan penampilan Jason saat ini yang terlihat keren dan memesona. Setelah tiba di bandara, mereka berpisah dan saling bertukar kontak.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1