CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
SEMAKIN CINTA


__ADS_3

Dengan dubantu oleh Reno, Aldo pergi ke rumah sakit karena merasa sedikit pusing dan pandangannya menjadi kabur. Sesampai di rumah sakit, Aldo kemudian berkonsuktasi dengan Dokter tentang apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Aldo menceritakan semua keluhannya kepada Dokter.


Dokter kemudian memeriksa dengan menempelkan stetoskop di dada Aldo. Dokter juga memeriksa mata dan mulut Aldo dengan senter. Dokter berkata bahwa sepertinya semua gejala yang dialami Aldo terjadi karena efek obat yang dapat menurunkan tingkat kesadaran dan bersifat seperti bius.


Dokter juga menjelaskan bahwa untungya kadar obat dalam tubuh Aldo tidaklah banyak dan hanya memberikan efek pusing dan menurunnya penglihatan mata.


Aldo sangat kaget dengan penuturan dari Dokter, Aldo kemudian mengingat jika sebelum ia hendak pulang, Aldo sempat menyeruput sedikit kopi yang dibuat oleh Karin. Tidak ingin berburuk sangka terlebih dulu, Aldo memutuskan untuk tidak memberitahukan keadaannya itu kepada Reno yang masih menunggunya di luar ruangan. Aldo juga ingin memastikannya terlebih dahulu secara pasti sebelum nanyinya ia akan bertidak sesuai dengan fakta yang akan ditemukannya. Jika benar itu adalah perbuatan Karin, maka Aldo akan mencari tau apa alasan dibalik tindakannya itu. Apakah itu murni perbuatannya sendiri atau ada orang lain dibaliknya yang ingin berusaha mencelakainya. Dalam dunia persaingan bisnis, terkadang hal-hal seperti itu mungkin saja terjadi.


Aldo kemudian keluar dari ruangan Dokter setelah mendapatkan obat penawar yang bisa menetralkan efek obat dalam tubuhnya. Aldo berdalih bahwa ia hanya anemia dan sekarang sudah merasa sedikit lebih baik ketika Reno menanyakan keadaannya. Aldo juga meminta tolong sekali lagi kepada Reno untuk mengantarnya ke rumahnya saja ketimbang harus kembali bekerja di kantornya.


Dengan senang hati Reno mengantarkan rekan kerja bosnya itu. Dan berencana kembali ke kantor dengan menggunakan taksi. Sesampai di rumah, Alisya istrinya langsung menyambut suaminya yang tiba-tiba pulang lebih awal dan bahkan harus diantat oleh orang lain untuk bisa sampai ke rumah.


"Ada apa denganmu Aldo? Apakah kamu sakit? Ayo segeralah istirahat di kamar. Aku akan memanggilkan seorang Dokter untuk memeriksa keadaanmu." Ucap Alisya yang begitu khawatir melihat Aldo nampak kurang sehat dan bahkan dibantu berjalan oleh Reno.


"Aku tadi sudah ke Dokter Alisya. Aku hanya butuh istitahat saja. Setelah istirahat sebentar, aku yakin nanti akan pulih dan kembali bugar." Jawab Aldo tak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan keadaannya.


Reno kemudian juga segera pamit undur diri agar Aldo dapat segera beristirahat. Setelah Reno pulang, Alisya segera membantu suaminya pergi ke kamar dengan menggandeng lengannya. Sesampai di kamar Alisya kemudian membantu Aldo melepas dasi dan juga jasnya agar suaminya bisa segera beristirahat dengan nyaman.


Saat sedang membuka jas yang dikenakan suamunya, Alisya dibuat kaget dengan noda berwana merah melekat di kemeja putih yang dikenakan Aldo. Noda itu lebih mirip dengan bekas noda lipstick yang berbentuk bibir menempel dengan jelas di kemeja berwana putih itu.


"Siapa wanita yang tadi bersamamu Aldo? Apakah diam-diam kamu telah menghianati aku?" Tanya Alisya yang membuat Aldo kaget bukan kebayang.


"Apa maksud perkataanmu Alisya. Aku sama sekali tak pernah dan tak akan pernah berniat untuk menghianatumu." Jawab Aldo yang memang tak merasa dibenarkan oleh tuduhan istrinya itu.


"Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan noda bekas kecupan bibir di bajumu ini?" Tanya Alisya mulai merasa kesal.


Aldo kemudian memeriksa noda lipstik yang bahkan belum ia sadari sebelumnya itu di bajunya. Aldo mulai berpikir bagaimana bisa hal itu bisa terjadi padanya. Aldo kemudian mengingat tentang masalah Karin yang sempat membantunya ketika akan terjatuh. Aldo berpikir mungkin saja hal itu dilakukan oleh Karin yang setengah memeluknya ketika sedang menopang tubuhnya. Aldo berpikir apakah itu disengaja atau tidak oleh Karin.

__ADS_1


Aldo kemudian menceritakan semua detail kejadian siang tadi kepada istrinya Alisya. Tentu saja Alisya langsung bisa menangkap jika semua itu adalah ulah dari Karin. Alisya juga menjelaskan pada suaminya bahwa sebenarnya ia sudah mulai curiga dan tidak suka dengan sikap Karin yang waktu itu pura-pura jatuh dihadapan Aldo. Alisy menjelskn bahwa semua itu hanya trik yang dilakukan Karin untuk bisa mendekatinya.


Tentu saja Aldo yang selalu berpikir positif tidak pernah menduga hal itu. Aldo minta maaf kepada Alisya mengenai hal itu. Untungnya Alisya sangat pengertian dan tau betul jika suaminya tidak akan sesuatu yang akan menyakiti hatinya.


Alisya meminta Aldo untuk menjaga jarak atau bahkah sebisa mungkin menghindari wanita yang bernama Karin itu. Tentu saja Aldo akan selalu mengingat pesan dari istri yang begitu dicintainya itu.


Karena cukup lelah dan masih terkena efek obat, akhirnya Aldo meminta kepada Alisya untuk ikut tidur lebih cepat bersama dengannya. Aldo menepuk-nepuk kasur di sebelahnya untuk meminta Alisya ikut berbaring disampingnya.


Alisya tidak keberatan dengan permintaan Aldo suaminya dan segera berbaring disamping Aldo dengan berbantalkan lengan Aldo yang begitu nyaman dirasakannya. Aldo memeluk erat Alisya dari belakang sambil mengelus dengan lembut perut Alisya yang semakin membesar.


"Terimakasih istriku sayang. Kamu bersedia mempercayaiku dan tak mempermasalahkan hal yang mungkin saja akan mrmbuat wanita lain akan menaruh curiga dan marah kepada suaminya ketika melihat noda seperti bekas kecupan di baju suaminya. Aku sangat bersyukur telah memilikimu." Ucap Aldo dengan lembut.


Alisya tak membalas pernyataan dari suaminya itu akan tetapi Alisya menggungkapkan rasa percaya dan kepeduliannya terhadap suaminya itu dengan mengusap lembut punggung tangan Aldo yang masih bengelus perutnya sedari tadi.


"Alisya, sepertinya aku merasa tubuhmu semakin gempal dan berisi semenjak kehamilanmu ini. Lihatlah! Sekarang aku bahkan bisa mencubit pipimu yang tembam ini dengan begitu leluasa." Goda Aldo yang sambil mencubit pipi Alisya berkali-kali.


"Astaga Alisya, menapa kamu malah jadi berprasangka yang tidak-tidak seperti itu. Memang serba salah jika sedang berurusan dengan seorang wanita hamil yang jadi lebih sensitif dengan kata-kata saja."


Ucapan Aldo itu malah semakin membuat Alisya geram dan menjaukan tubuhnya dari Aldo. "Jadi selama ini kamu tidak suka dengan sikapku yang selalu sensitif terhadapmu. Ok baiklah kalau begitu. Aku tidak akan berbicara denganmu lagi. Kamu pasti merasa jenuh dengan sikapku yang seperti ini." Alisya lagi-lagi menggeser tubuhnya untuk menghindar dari tangan Aldo yang masih bisa meraihnya.


"Hei hei hei. Mau kemana kamu? Kenapa malah menghindar seperti itu? Bukan maksudku seperti itu sayangku, cintaku, permaisuriku, pujaan hatiku. Tadi itu justru aku ingin bilang jika aku semakin suka dengan perubahan tubuhmu yang semakin berisi. Aku merasa kamu malah menjadi semakin seksi dan lebih terlihat cantik." Ucap Aldo untuk meluluhkan hati istrinya yang lagi-lagi merajuk karena pemilihan kata-katanya yang kurang tepat.


"Jadi dulu aku tidak cantik? Lalu kenapa kamu menikahiku?" Tanya Alisya yang sebenarnya hanya menginginkan jawaban manis dari suaminya.


"Tentu saja kamu selalu yang oaling cantik Alisya. Dari dulu, kamu adalah wanita incaranku. Kamu adalah wanita yang sudah menjadi tujuan pertamaku dan yang paling aku inginkan di dunia ini. Itulah alasanku sampai harus mengejar musampai mati-matian bersaing dan akhirnya isa merebut kembali wanitaku yang hampir saja akan menjadi milik orang lain. Aku selalu mengingat betapa susahnya dulu ketika aku harus mendapatkanmu Alisya. Apakah sekarang kamu masih meragukan cintaku ini?" Aldo benar-benar sibuat pusing mengenai bagaimana ia harus menyusun kata-katanya agar jangan sampai disalah artikan lagi oleh Alisya.


"Lalu bagaimana jika suatu saat nanti aku tidak lagi cantik dan seseksi sekarang ini?" Pertanyaan Alisya lagi-lagi membutuhkan jawaban yang harus ketika menjawabnya. Aldo harus berpikir cukup keras untuk membuktikan kesungguhan cintanya melalui jawaban yang akan ia berikan dari pertanyaan-pertanyaan yang sering diucapkan istrinya beberapa kali dalam setahun itu. Aldo juga heran kenapa Alisya masih saja sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama walau sepertinya dulu sudah berhasil Aldo jawab dengan begitu memuaskan istrinya itu.

__ADS_1


Jika biasanya Aldo akan menjawab dengan yidak akan pernah berpaling dan akan tetap mencintainya walau apapun yang terjadi namun kali ini Aldo ingin menjawab dengan kata-kata yang berbeda untuk lebih memuaskan Alisya.


Aldo bergeser dan bemuat Alisya menjadi berhadapan denganya. Kini wajah mereka begitu dekat. Aldo bahkan bisa melihat bayangan dirinya dibalik bola mata Alisya yang kecoklatan.


"Mungkin saja nanti baik aku ataupun kamu bisa saja berubah menjadi jelek karena termakan usia. Mungkin nanti tubuhku tak lagi kekar seperti sekarang ini. Gigiku akan menjadi ompong dan rambutku akan menjadi putih. Mungkin nanti kamu akan memiliki kulit yang menjadi berkerut dan kamu tak bisa lagi memperlihatkan gigi gingsulmu saat tersenyum. Tapi hal itu akan selalu menjadi sebuah kebahagiaan untukku Alisya. Semua itu karena aku selalu bersamamu. Aku akan selalu bersamamu hingga akhir hayatku. Rasa cintaku juga tidak akan berkurang dan akan semakin bertumbuh setiap harinya. Aku tidak akan membagi cintaku dengan anak-anak kita, karena aku juga akan memberikan porsi cinta yang sama kepada mereka. Disaat nanti anak-anak kita sudah besar dan hidup sendiri dengan pasangannya, disaat itulah kita akan kembali berdua lagi Alisya. Saat itu kita akan mengulang kembali masa-masa seperti saat kita pacaran dan memadu cinta seperti anak muda yang baru saja dibuat mabuk oleh karena cinta. Apakah kamu mau melakukan semua itu bersama denganku Alisya?"


Alisya begitu terharu dan tak bisa lagi berkata-kata ataupun mengajukan pertanyaan-pertanyaan andalannya. Alisya menganguk dan seketika itu juga langsung mengecup dan mencium bibir Aldo.


Aldo sempat terkejut karena itu adalah kali pertama bagi Alisya untuk berani memulai dengan terlebih dulu mencium bibirnya. Tentu saja Aldo menyambutnya dengan semangat yang menggebu. Aldo membalas ciuman istrinya dengan gairah yang memuncak. Jika biasanya Aldo akan mencium Alisya dengan lembut dan penuh penghayatan, kali ini Aldo menciumnya dengan sedikit kasar karena gairah yang tak terelakan lagi berkat ciuman pembuka yang dilakukan oleh Alisya.


Alisya sendiri juga tak inhin menyia-nyiakan momen itu dengan hanya berdiam diri. Alisya langsung berinsiatif untuk membuka bajunya sendiri hingga tak menyisakan satu pakaian yang menutup tubuhnya.


Lagi-lagi Aldo dibuat terkejut akan tindakan Alisya yang semakin membuatnya ikut bersemangat dalam bercinta. Aldo menhikuti langkah Alisya dengan segera membuka seluruh pakaian yang dikenakannya juga.


Dua insan yang saling mencintai itu kini lagi-lagi meluapkan rasa cinta mereka dengan setiap tindakan yang mereka lakukan untuk pasangannya. Sepertinya hal tabu itu tak pernah bosan mereka lakukan setiapa harinya. Semakin hari semakin menggebu dan semakin tak bisa terkendali. Tak ada lagi rasa malu ataupun jaga image yang selama ini secara tidak sadar mereka lakukan untuk menutupi seperti apa aslinya mereka saat dihadapkan pada sesuatu yang tadinya bahkan tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Mereka semakin bisa mengekspresikan cinta mereka dengan membuat pasangannya menjadi tuan putri ataupun rajanya. Mereka siap menjadi seorang pelayan bagi pasangannya ketika hal itu memang dibutuhkan. Begitulah cinta Alisya dan Aldo menjadi semakin besar dan bertumbuh setiap harinya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


Hi readers, maaf ya jika akhir-akhir ini updatenya nggak se rutin biasanya. Dimarenakan Hp yang biasanya untuk nulis sedang bermasalah. Jadi mau tidak mau nunggu Hp suami bisa dipinjam dulu.. 😂😅


__ADS_2