CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MELEPASKAN


__ADS_3

Adrian menyaksikan semuanya di depan mata. Apa yang terjadi antara Alisya dan Aldo di dalam dapur. Adrian jadi tersadar jika sepertinya hati Alisya tak kan pernah jadi miliknya.


"Haruskah aku melepaskan Alisya kali ini?" Hati Adrian dipenuhi dengan keraguan. Di Satu sisi ia tak mau kehilangan Alisya, tapi disisi lain ia ingin Alisya bisa bahagia dengan cintanya.


Ketika melihat Alisya dan Aldo beranjak dari tempatnya. Adrian buru-buru kembali ke ruang tamu dan berpura-pura tidur kembali.


Ternyata yang kembali ke ruang tamu hanyalah Alisya, sedangkan Aldo masih berada di dapur. Sepertinya setelah adegan ciuman itu mereka kembali canggung dan tak saling bertegur sapa.


"Eh Alisya. Maaf ya aku ketiduran."


"Iya ka. Nggak papa kok. Ka adrian kalau mau tidur lagi nggak papa."


"Tidak-tidak. Aku sudah tak mengantuk lagi sekarang. Kelihatannya hujan juga sudah mulai reda. Sebaiknya kita segera pulang agar aku tak sampai ketinggalan pesawat untuk pulang ke Swiss."


"Baiklah ka. Kalau begitu."


Aldo menemui Alisya dan Adrian setelah menyelesaikan pekerjaannya menata makanan di meja dapur.


"Hei kalian. Ayo makan sup dulu. Nanti keburu dingin."


"Aldo. Kenapa dengan kakimu?" Adrian pura-pura bertanya kejadian apa yang menimpanya. Padahal sebenarnya ia sudah tau semuanya.


"Iya ini akibat kecerobohan ku sendiri. Tadi tersiram air panas saat memasak. Tenang saja, lukanya pasti akan cepat sembuh kok. Ini juga bukan luka yang parah."


"Aku jadi merasa sungkan kepadamu. Kau sudah bersusah payah membuatkan makanan ini untuk kami. Bahkan kakimu juga sampai terluka karenanya. Aku sangat berterimakasih padamu Aldo."


"Ah jangan sungkan-sungkan. Lagipula ini kan sebuah kecelakaan. Kamu tak usah merasa bersalah begitu."


"Oh iya, Aldo. Sepertinya setelah ini aku akan langsung ke bandara untuk mengejar pesawat. Karena kondisi di luar masih sedikit hujan mungkin aku tak bisa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Maukah kamu menolongku untuk mengantar Alisya pulang?"


Alisya kaget mendengar ucapan dari Adrian.


"Tapi ka..."


"Aku minta maaf ya Alisya. Sepertinya jika aku mengantarmu pulang lebih dulu. Aku akan ketinggalan pesawat. Kamu nggak papa kan pulang bareng Aldo?"


"Baiklah kalau begitu."


Adrian memang sengaja mengatur semuanya itu untuk Alisya dan Aldo. Walaupun hatinya sakit. Namun, dia berharap keputusannya ini adalah yang terbaik untuk dirinya dan Alisya.


Mereka makan bersama di ruang makan. Alisya tampak kebingungan dengan sikap Adrian. Tak seperti biasanya Adrian seperti ini. Laki-laki itu pasti akan mengantar Alisya pulang dengan selamat sampai ke rumah apapun yang terjadi. Tapi kali ini Adrian tak mengantarnya pulang dengan alasan deadline pesawat.

__ADS_1


Selesai makan, Adrian langsung berpamitan untuk langsung menuju bandara. Sedangkan Alisya masih tinggal di Villa bersama dengan Aldo.


Alisya dan Aldo mengantar kepergian Adrian sampai mobilnya hilang dari pandangan mata.


"Aku akan mengantarmu pulang setelah hujannya benar-benar reda. Diluar masih gerimis. Ayo masuk dulu Alisya."


Keduanya kembali masuk ke dalam Villa.


"Apa kamu yakin bisa mengendarai mobil dengan lukamu itu Aldo?"


"Iya aku masih bisa menyetir kok. Rasa sakitnya juga berangsur reda karena bantuan mu tadi. Kamu tidak usah khawatir."


"Mengenai ciuman tadi. Maafkan aku Alisya. Aku benar-benar tak bisa menahan diriku sendiri. Kamu tau sendiri kan kalau aku sangat mencintaimu. Aku berharap kamu bisa membalas cintaku ini Alisya."


"Aldo, kamu kan juga sudah tau tentang perasaanku padamu. Bahkan aku tak bisa menolak ciuman darimu. Tapi sebentar lagi aku akan jadi milik orang lain. Kamu kan juga tau kalau Adrian itu orang yang baik. Aku tak ingin menghancurkan hatinya dan juga hati papaku. Jadi aku mohon kepadamu. Sebaiknya setelah ini kita saling menjaga jarak. Aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang kembali Aldo."


Tanpa sadar. Air mata Alisya berjatuhan. Alisya memang tak bisa membohongi hatinya sendiri.


"Lalu apakah kamu tega melukai hatiku Alisya. Apakah kamu tidak memikirkan perasaanku kepadamu? Kamu bahkan juga mengorbankan kebahagiaanmu sendiri."


"Aku tau itu Aldo. Tapi kamu juga datang diwaktu yang tidak tepat. Andai waktu dapat berputar kembali, aku pasti sudah menerimamu dan kita bisa bahagia bersama. Kau datang setelah aku menerima cintanya Adrian. Lalu apa yang harus aku lakukan?"


Tangisan Alisya semakin menjadi. Kali ini dia tak bisa menahannya lagi. Alisya menangis sejadi-jadinya.


Aldo juga tak bisa menahan luapan emosi dihatinya. Butiran bening mengalir dari sudut matanya. Namun Aldo tak ingin menunjukan rasa sedihnya dihadapan Alisya. Aldo segera menghapus air matanya dan memeluk Alisya.


Hanya itu yang saat ini bisa Aldo lakukan untuk meringankan kesedihan Alisya.


Aldo mengelus rambut Alisya dengan lembut sambil terus memeluknya. Sudahlah Alisya. Jangan menangis lagi. Jika kita memang berjodoh, aku yakin Tuhan akan membukakan jalan untuk kita.


"Aku sangat ingin bisa bersamamu Aldo. Kamu tau itu. Bahkan jika itu mungkin, aku rela kau bawa pergi jauh bersamamu. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan keluargaku. Aku juga sangat menyayangi mereka."


"Iya Alisya. Aku tau beban apa yang sedang kamu hadapi saat ini. Aku hanya berdoa semoga kita memang ditakdirkan untuk bersama."


"Terimakasih Aldo. Mungkin esok aku akan jadi milik orang lain. Tapi hati ini akan tetap jadi milikmu selamanya. Besok kita tak bisa lagi sedekat ini Aldo. Ijinkan aku untuk memelukmu sebagai tanda perpisahan."


Kini Alisya yang memeluk Aldo dengan begitu erat. Sepertinya Alisya begitu enggan melepaskan pelukan itu. Aldo juga membalas pelukan dari Alisya. Mereka menumpahkan semua rasa yang mereka miliki dalam pelukan itu.


Rasa gelisah, senang, sedih, kecewa, bahagia, dan cinta tertuang dalam pelukan itu.


Aldo menghapus air mata di pipi Alisya dengan tangannya, kemudian Aldo mengecup kening Alisya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi Alisya. Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Ayo tersenyumlah! jika kamu masih menangis aku akan mencium mu lagi."


"Kau ini, dalam situasi seperti ini masih saja menjahili ku." Alisya kemudian mengelap sendiri air matanya dan melebarkan senyuman di bibirnya.


"Nah gitu dong. Kamu terlihat manis saat tersenyum dan tertawa. Apalagi dengan gigi gingsul mu itu. Membuat hatiku klepek-klepek. Andai saja aku bisa melihat senyuman manis mu di setiap aku terbangun dari tidurku. Menjahili Mu setiap hari pasti sangat menyenangkan. Tapi sepertinya harapan itu semakin menjauh dariku.


"Tuh kan, mulai lagi."


"Iya-iya. Yang penting kamu bahagia dan tersenyum setiap saat, itulah yang aku harapkan saat ini. Sekarang semua keputusan terserah padamu Alisya. Aku akan menerimanya dengan lapang dada."


Alisya terdiam. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Perasaan tak menentu menghantui hati dan pikirannya.


Aldo dapat melihat jelas wanita dihadapannya itu sedang dihadapkan dengan pilihan yang sulit.


"Ayo Alisya, Aku akan mengantarmu pulang. Sepertinya hujan sudah benar-benar reda."


"Huum baiklah."


"Tunggu disini sebentar ya. Aku akan pakai celana panjang dulu."


"Tapi lukamu kan belum sembuh Aldo. Pasti akan sakit jika tergesek kain."


"Tak masalah Alisya. Masak aku pakai celana seperti ini mengantarmu pulang. Bisa-bisa aku di golok paman Antoni."


"Kamu bawa saja celana mu. Kau boleh memakainya saat sudah dekat dengan rumahku saja. Aku tak mau kamu menahan sakit terlalu lama."


"Baiklah kalau kamu tak keberatan." Aldo mengikuti saran Alisya. Karena memang sangat perih jika luka dikakinya terkena kain.


Aldo mengantar Alisya dengan mobilnya. Aldo masih mengenakan celana pendek sesuai saran Alisya. Aldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan sangat hati-hati. Ia tak mau jika sampai tergelincir licinnya jalan karena masih basah sehabis hujan.


Sesekali Alisya melirik ke paha Aldo yang terlihat masih memerah. Ia juga melihat banyaknya bulu di sana. Membuat Alisya membayangkan hal-hal absurd yang membuat ia harus menelan salifa nya berulang kali.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2