CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
RUMIT


__ADS_3

Begitu rumitnya dunia hanya karena sebuah rasa, Cinta.


Alisya masih tak bisa membendung perasaannya sendiri. Butiran-butiran air mata berjatuhan membasahi pipinya.


"Kenapa kamu menangis Alisya," Ucap Aldo sembari mengusap pipi Alisya dengan tangannya.


"Kenapa jadi serumit ini Aldo? Kenapa kamu baru mengungkapkannya sekarang? Sebenarnya aku juga sudah menantikan kata-kata itu sejak lama."


"Aku juga sangat mencintaimu, bahkan aku masih menyimpan semua pemberian darimu sejak kita masih kecil dulu."


"Buku bersampul pemain bola, Uang saku dua ribu perak, Pensil 2B yang bertuliskan namamu, Stiker Conan edogawa kesukaanku, Sapu tanganmu, dan masih banyak barang-barang kenangan kita tersimpan dengan rapi di kamarku."


"Apa yang harus kulakukan sekarang Aldo..? Bahkan kau sudah mengambil ciuman pertamaku. Tadinya aku sudah berjanji bahwa aku hanya akan memberikan ciuman pertamaku ini untuk suamiku." Pipi Alisya terlihat memerah setelah mengutarakan perasaannya itu.


Aldo terbelalak mendengar pengakuan Alisya, Ia kemudian memeluk Alisya dengan begitu erat.


Sebenarnya itu juga ciuman pertamaku Alisya. Bahkan selama ini aku sudah menutup rapat-rapat hatiku untuk wanita lain yang mencoba mendekatiku. Aku begitu yakin bahwa kamulah cinta pertama dan terakhirku.


Aldo semakin menyadari betapa bodohnya ia. Penyesalan itu semakin bertambah dihatinya.


Pelukan mereka begitu lama menyiratkan betapa merindunya mereka. Alisya menangis di pelukan Aldo, Ia tak bisa menyembunyikan kekalutan dalam hatinya.


Bagaimana perjalanan cintanya bisa jadi seperti ini. Alisya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai mencintai Adrian dan akan menikah dengan laki-laki yang sudah begitu baik dan berjasa untuk keluarganya itu.


Tapi kini, hatinya tergoyahkan dengan kenyataan yang baru ia tahu. Kenyataan jika cintanya selama ini ternyata tak bertepuk sebelah tangan.


Aldo melepaskan pelukannya kemudian menghapus kembali air mata Alisya yang kini sudah mulai terlihat membaik dan lebih tenang.


"Alisya, Apakah aku bisa mendapatkan satu kesempatan lagi..? Aku ingin memperbaiki ini semua."


Alisya terdiam, Ia memandangi Aldo dengan tatapan sendunya.


"Maafkan aku Aldo, Aku belum bisa menjawab pertanyaan mu itu. Kamu tau betul kan bagaimana posisiku saat ini."


Aldo menyiratkan kekecewaannya, namun ia juga tidak mau membuat gadis yang dicintainya itu berada dalam kondisi yang menyulitkannya.


"Baiklah Alisya, Aku tau. Yang terpenting sekarang kita sudah sama-sama tau tentang isi hati kita sebenarnya. Biarkan waktu yang menjawab semua ini. Namun sebelum janur kuning melengkung, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan mu. Akan aku buktikan pada semua orang bahwa hanya akulah yang akan bersanding denganmu."


Kata-kata itu begitu menyejukkan hati Alisya, tapi sekaligus menjadi bom waktu bagi Alisya. Akan sangat menyakitkan jika dirinya yang telah tau kebenaran bahwa Aldo juga mencintainya. Namun harus merelakan menikah dengan orang yang tidak dicintainya.


"Sebaiknya kita kembali ke villa dulu Alisya. Pasti Salisa sedang menunggu kita untuk makan malam. Jangan pikirkan masalah ini lagi. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku tak mau melihatmu bersedih lagi Alisya."


Alisya hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya. Aldo kemudian berdiri dan membatu Alisya untuk berdiri juga.

__ADS_1


Sesampai di villa Salisa terlihat sedang duduk di meja makan dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa kalian lama sekali sih..? Aku kan sudah kelaparan," Tutur Salisa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya maaf adik kecilku yang manis." Aldo mengacak-acak rambut Salisa.


"Aku akan segera bersih-bersih dan mengajak kalian ke resto terlezat di kota ini."


Salisa terlihat begitu girang mendengar kata-kata makanan enak. Sementara Alisya juga bergegas ke kamarnya untuk segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket dan dipenuhi pasir pantai.


Alisya masuk ke kamar mandi kemudian mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari shower. Ia membayangkan kembali ciuman manis dari Aldo. Alisya memegang bibirnya sendiri, sepertinya ia masih bisa merasakan setiap kecupan bibir Aldo. Tanpa disadari hal itu membuat Alisya senyum-senyum sendiri.


"Kenapa aku jadi seperti ini..?" Hati Alisya begitu berbunga-bunga. Namun menjadi sedih kembali ketika mengingat kenyataan yang harus ia hadapi.


Sudahlah, aku tak mau memikirkannya sekarang. Setidaknya akan kunikmati kebersamaan ini, mungkin esok aku tak bisa lagi merasakan kebahagiaan ini.


Alisya segera menyelesaikan sesi mandinya, kemudian ia bergegas menghampiri Salisa yang masih menunggu di meja makan. Di sana juga sudah ada Aldo yang terlihat begitu tampan dengan baju santainya.


"Ayok kita berangkat sekarang," Tutur Aldo kemudian menyaut kunci mobil yang ia letakan di atas meja.


Mereka makan malam di Resto ternama di kota itu. Diantara mereka bertiga, Hanya Salisa yang begitu lahap menikmati makannya.


Aldo dan Alisya hanya tersenyum melihat Salisa yang makan sangat rakus.


"Ayo minum dulu. Kau ini seperti kuli bangunan saja makanya."


"Biarin. Abis kalian lama banget sih tadi, Aku kan jadi kelaparan," Saut Salisa dengan makanan di mulutnya.


Aldo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Salisa. " Untung kau ini calon adik ipar ku, Kalau tidak aku akan merekam dan memviralkan mu di sosmed."


"Apa katamu..? Adik ipar..? Memangnya siapa yang mau menikah denganmu..?" Saut Alisya dengan tatapan tajam mengarah ke Aldo.


"Hehehe.. Bukankah Ciuman pertamamu itu hanya ingin kau berikan untuk suamimu..? Jadi kau tidak perlu merasa bersalah, Karena akulah yang akan jadi suamimu. Bahkan adikmu ini juga sudah merestui hubungan kita. Benar kan Salisa..?


Uhuk... Uhuk... Uhuk..


Salisa tersedak dengan makanannya.


"Jadi kalian sudah ********* ? " Tanya Salisa sambil memperagakan adegan berciuman dengan kedua tangannya.


Pipi Alisya tampak begitu memerah seperti buah tomat.


"Siapa yang bilang aku merestui hubungan kalian. Kalau aku sudah di traktir makan pizza sepuasnya. Baru aku akan merestui kalian berdua."

__ADS_1


"Jadi kau sudah tau Salisa..?" Pipi Alisya terlihat tambah merah padam.


"Iya... Salisa sudah tau semua tentang kalian berdua. Kenapa kalian tidak mengakuinya saja kepada semua orang. Dengan begitu semua masalah akan beres."


"Tak semudah yang kamu bayangkan Salisa. Kau itu masih belum mengerti. Kau juga harus memikirkan bagaimana perasaan orang lain juga. Kita tak boleh egois adikku sayang."


"Lalu bagaimana dengan perasaan kalian..? apakah akan dikorbankan begitu saja..?"


"Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan semua ini. Dan sepertinya aku sudah mendapatkan jalan keluarnya." Ucap Aldo yang sudah selesai dengan sesi makannya.


"Rencana seperti apa yang akan kamu lakukan Aldo..?" Kau jangan bertindak sembrono."


"Kamu tenang saja Alisya. Tolong beri kesempatan padaku satu kali ini saja."


"Entahlah Aldo. Aku begitu pusing memikirkan semua ini. Tapi aku mohon pikirkan tentang kesehatan papaku dan juga perasaan Ka Adrian juga. Ka Adrian itu orang yang baik. Aku tidak mau menyakitinya."


"Tenang saja Alisya, Percayalah padaku. Sini mendekat lah kemari, Aku akan membisikan rencana ku padamu."


Alisya kemudian mencondongkan tubuhnya mendekati Aldo. Alisya memasang telinganya dengan menyibakkan rambutnya ke belakang.


Aldo mendekatkan mulutnya di dekat telinga Alisya. Kemudian Aldo bersendawa begitu keras di samping telinga Alisya hingga membuat wanita itu reflek menjauhkan tubuhnya dan....


"Plaaaak"


Satu pukulan mendarat di bahu Aldo.


"Kau ini dari dulu tak pernah berubah ya Aldo. Bisa-bisanya kau mengerjai ku disaat seperti ini."


Salisa dan Aldo tertawa bersamaan.


"Maafkan aku Alisya. Dari tadi itu mukamu ditekuk terus kaya pakaian kusut. Aku hanya mencoba untuk menghiburmu." Tutur Aldo sembari mencubit kedua pipi Alisya karena begitu gemas melihat Alisya yang tampak begitu imut jika sedang marah.


"Hiiiss Sakit tau Al. Puas kau mentertawakan ku..? Lihat saja, suatu saat aku akan membalas mu."


"Sudah-sudah kalian jangan berantem lagi. Mendingan kalian pikirkan kapan kalian akan mentraktirku makan pizza." Ucap Salisa dengan wajah polosnya.


*


*


~Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2