CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PERJALANAN SYAHDU PART 2


__ADS_3

Rombongan Alisya kini tiba di perbatasan Desa. mereka memutuskan untuk istirahat telebih dulu setelah menempuh jarak yang melelahkan.


Mereka beristirahat di kantor kepala desa setempat, sebelum melanjutkan perjananan. Andre dan Aldo mewakili rombongan untuk meminta izin kepada kepala desa dan memberi tau maksud dan tujuan kedatangan mereka.


Setelah meminta izin, Aldo kembali ke rombongan dan menghampiri Alisya yang sedang duduk di emperan teras. Alisya terlihat sibuk mengutak-atik layar ponselnya.


Aldo berdiri membungkuk persis di belakang Alisya. Tanpa sengaja, Aldo melihat layar ponsel Alisya, disana tertulis nama Adrian, karna penasaran Aldo sengaja membaca pesan yang dikirimkan Alisya untuk calon suaminya itu.


Sepertinya Adrian memang begitu perhatian dengan Alisya, terlihat dari khawatirnya Adrian yang selalu menanyakan kabar Alisya setiap saat. Aldo menggerutu sendiri di dalam hatinya.


"Hah tau gini tadi aku nggak bakalan ngitip percakapan mereka. Shit, penebang pohon itu datang lagi. Kali ini dia begitu kuat mengayunkan kapaknya ke jantungku, rasanya sakit sekali."


"Alisya, seandainya aku berani mengutarakan perasaan ini kepadamu, tapi aku terlalu takut jika nanti kamu malah akan menjauh dariku. Aku tidak akan sanggup jauh darimu."


"Sebentar lagi kamu akan menikah dengan orang lain, apa yang harus ku lakukan?"


"Mulai sekarang aku akan berusaha menunjukan rasa ini padamu Alisya. Aku ingin kamu tau tentang perasaan ini. Aku tak bisa hanya berdiam diri sekarang. Aku akan berusaha memperjuakan cinta ini, apapun keputusanmu nanti. Aku akan terima. Setidaknya aku tak kan menyesal jika harus melepaskanmu."


Aldo berulang kali meyakinkan hatinya untuk segera mengutaran perasaannya pada Alisya.


"Dooor" Aldo menepuk bahu Alisya kemudian duduk disamping wanita yang dicintainya itu.


"Aldo, kau ini hobi sekali mengagetkanku." Teriak Alisya tak terima selalu dijahili Aldo.


"Hehehe sory-sory, nieh buat ganti biar nggak cemberut lagi."


Aldo menyodorkan kotak nasi untuk makan siang mereka. Alisya menerimanya kemudian meletakkan dipangkuannya.


"Tunggu ya Al, aku balas chat dari ka Adrian dulu."


Tanpa sadar perkataan Alisya membuat hati Aldo semakin sesak. Aldo semakin tersadar Alisya mungkin akan menjadi milik orang lain. Memikirkan saja sudah membuat Aldo semakin frustasi.


"Nie minum dulu, tuh kringetmu dilap, udah netes sejagung-jagung." Aldo terbahak sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutup botolnya.


"Tumben baik banget, biasanya juga selalu usil, jail, ngerjain aku turus."


"Wkwkwkwkwk anggep aja buat perkataan maaf, tadi ngagetin kamu."


"Lah ini tambah aneh lagi, minum obat apa tadi kamu Al?" tanya Alisya keheranan.


Tiba-tiba awan hitam menyelimuti kawasan itu, menandakan hari akan segera hujan. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan sebelum hujan menghentikan perjalanan mereka.


"Alisya apakah kamu nyaman dengan buku-buku itu?" tanya Aldo yang belum menyalakan motornya memastikan Alisya tak kesulitan dengan barang bawaannya sekarang.


Semua Sembako dan Alat tulis yang berada di mobil jeep kini telah berpindah ke rombongan motor, mereka membagi-bagi muatan agar semua barang dapat dibawa tanpa ada yang merasa keberatan dengan sedikit beban tambahan mereka.


Alisya dan Aldo mendapat jatah membawa beberapa pak buku tulis, dan Alisya menaruhnya dipangkuan kakinya. Walau sebenarnya Alisya merasa sedikit tak nyaman karna ia hanya mendapat sedikit ruang untuknya duduk ditambah beratnya buku-buku itu membuat paha Alisya mati rasa, dan kesemutan.


Hujan gerimis mulai mengguyur mereka dari langit, memaksa rombongan untuk berhenti sejenak untuk memakai jas hujan mereka. Begitu juga dengan Alisya dan Aldo.

__ADS_1


"Kita pakai mantel dulu ya!" Seru Aldo yang sudah menghentikan laju motornya.


"Perjalanan kita nanti akan semakin sulit Alisya, ditambah diguyur hujan pasti jalanan jadi semakin licin. Kulihat kamu kesusahan dengan barang bawaan kita. Kalau begitu biar aku aja yang bawa bukunya. Kamu cukup pengangan yang erat aja biar nggak jatuh atau terbang ketiup angin."


"Emangnya aku kertas bisa terbang ketiup angin?" Celoteh Alisya dengan kesal.


"Kamu juga lucu sih Al, gimana caranya kamu bawa semua buku ini?" Imbuh Alisya dengan nada menyindir.


"Kamu tenang saja, serahkan semuanya padaku."


Aldo melepas tas ranselnya yang sedari tadi ia gendong tetapi dengan posisi tebalik di depan dadanya agar Alisya tetap nyaman membonceng di belakangnya.


"Buka tasmu!" Perintas Aldo pada Alisya.


"Buat apa?"


"Sudah jangan banyak tanya." Aldo kemudian memindahkan semua barang bawaannya ke tas Alisya. Lagipula Aldo juga tak membawa banyak barang jadi masih bisa dipaksa masuk ke dalam tas Alisya yang sekarang terlihat menggembuh kepenuhan.


Alisya masih diam saja sambil memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Aldo.


Setelah semua bawaan Aldo sukses berpindah tempat. Kini Aldo membuka pengunci di tasnya, tak bisa dipercaya ternyata tas Aldo bisa berubah menjadi tas ransel ukuran jumbo.


Alisya tersenyum kegirangan, akhirnya dia tau apa maksud Aldo kali ini. Mereka berdua memasukan semua buku ke dalam tas Aldo yang telah bertransformasi menyesuaikan kebutuhan. Tas itu juga berbahan dasar parasut, yang akan menjaga buku-buku itu akan tetap aman dari jangkauan air hujan.


"Ayo sekarang cepat pakai mantelmu, apa kamu mau bajumu basah kuyup?" Aldo memberi instruksi pada Alisya agar segera mengenakan baju hujannya, sementara ia sendiri juga memakai miliknya.


Aldo lebih dulu selesai memakai jas hujan, kemudian Aldo memperhatikan Alisya yang baru selesai dan hendak memakai helmnya.


Teriakan Aldo menghentikan Aktivitas Alisya. Aldo mendekat dan berdiri tepat di hadapan Alisya.


Aldo mengulurkan tangannya kebelakang bahu Alisya, membuat wajahnya semakin mendekat ke muka Alisya. Alisya yang kaget hanya bisa berdiri mematung sambil terbelalak karna merasakan hembusan nafas Aldo di wajahnya.


Duk duk duk duk duk duk. Jantung Alisya mendadak ingin loncat keluar dari dadanya.


Ternyata Aldo mengambil penutup kepala yang menjutai di belakang, kemudian menelungkupkannya ke kepala Alisya.


"Seharusnya seperti ini memakainya, masak begini aja nggak tau" Tutur Aldo yang sedang mengikat tali yang menjuantai dibagian kanan dan kiri dan membuat simpul di bawah dagu Alisya.


Sejenak mereka beradu pandang, terlihat dengan jelas dimata Aldo sekarang ada bayangan dirinya sendiri, Alisya langsung tertunduk malu menghindari tatapan mata Aldo yang penuh dengan pesona itu.


Aldo menyaut Helm ditangan Alisya, kemudian memakaiannya dikepala Alisya. Tak lupa Aldo juga mengaitkan pengunci helm itu hingga menimbulkan bunyi Klik.


Di depan Alisya dan Aldo ada Cerin dan Andre yang juga sedang berhenti untuk memakai jas hujan mereka. Memang agak jauh jaraknya namun Cerin tetap bisa melihat dengan jelas perhatian yang diberikan Aldo pada Alisya memang tak biasa. Hal itu membuat Cerin begitu cemburu.


Sepertinya Andre juga melihat adegan romantis itu, sontak Andre memberi suitan dari jauh..


"Ehem Ehem. Prikitiiiuuww. "


Suara itu membuyarkan kegembiraan hati Aldo yang masih memandangi wajah Alisya yang terlihat memerah tertunduk karena malu. Apakah mungkin Alisya juga ada rasa kepadaku, batin Aldo dengan penuh penasaran.

__ADS_1


"Ayo Aldo kita berangkat lagi" Teriak Andre memberi intruksi.


"Shit" Umpat Aldo dalam hati, Aldo mengacungkan ibu jarinya mengisyaratkan akan segera menyusul.


Aldo mengalungkan tasnya yang berisi banyak buku itu di depan dadanya. Kemudian Alisya juga naik ke bangku penumpang.


"Kenapa nggak dari tadi aja begini Al? kan enak, kakiku juga jadi nggak kesemutan." Keluh Alisya sambil memukul mukul pahanya yang masih terasa kebas.


"Yang ada ntar elo terlalu keenakan, lah gue. udah capek mengemudi masih harus bawa ini buku berat." Gerutu Aldo tak jelas.


"Ya udah, sini biar aku bawa lagi aja bukunya, lagian itu kan kemauan kamu sendiri." Saut Alisya membela diri.


"Iya-iya aku yang mau, udah pengangan aja, jalannya makin licin ini." Balas Aldo dengan nada ramahnya membuat Alisya meleleh.


Hujan semakin deras menguyur pedesaan itu, bahkan sekarang mereka sudah tidak lagi di jalanan beraspal.


Jalanan tanah berlumpur dan licin menjadi santapan mereka kali ini. Tak jarang hal itu membuat motor yang mereka tumpangi nyaris tergelincir beberapa kali.


Aliya semakin mengeratkan pegangannya karna takut.


Mendung dan awan hitam ditambah hujan yang semakin deras membuat pandangan Aldo menjadi sedikit kabur.


"Chhiiittt" Suara rem terdengar begitu nyaring. Motor Aldo tergelincir untuk yang kesekian kalinya. Kali ini bahkan hampir membuat mereka terjatuh, namun dengan sigap Aldo bisa mengatasinya hingga tak sampai membuat mereka jatuh tersungkur.


Alisya yang merasa kaget tanpa sadar lansung melingkarkan tangannya memeluk Aldo dengan erat. Aldo juga merasa kaget, namun ia tak keberatan dipeluk Alisya, sebaliknya kini hatinya sedang melonjak-lonjak kegirangan.


Aldo mengelus dengan lembut punggung tangan Alisya, yang memeluk tubuhnya namun telhalang oleh tasnya. kemudian Aldo mengarahkan tangan Alisya untuk memeluknya dengan tangan di balik tasnya, jadi Alisya bisa berpegangan lebih erat.


"Udah nggak papa, tenang aja." Aldo mencoba menenangkan Alisya yang masih telihat ketakutan dan makin mengencangkan pelukannya.


Aldo yang merasa ada sesuatu yang empuk menempel di punggungnya mendadak oleng, ada yang tiba-tiba mengeras disana, Aldo seperti tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tentu saja itu hanya bisa dirasakan oleh Aldo sendiri. Sedangkan Alisya masih saja menempel begitu lekat karena ketakutan.


Aldo kemudian mengurangi laju kecepatan motornya, ia takut nanti malah akan tejadi sesuatu karna sekarang ia sedang tak bisa fokus mengemudi.


*


*


~Bersambung~


*


*


Gimana..? semakin seru nggak sih ceritanya..?


Yuk kasih like dan Comenya,


kira-kira nanti ceritanya bakal gimana ya..?

__ADS_1


Penasaran nggak sih..?


Tunggu Updatetannya ya..!!


__ADS_2