CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Malam itu Alisya masih menunggu Aldo yang sedang mandi. Alisya masih dihantui oleh rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya.


"Ayolah Alisya. Apa yang membuatmu begitu nervous. Kamu harus tenang, jangan sampai Aldo tau jika kamu begitu tegang. Bisa-bisa nanti kamu akan merusak suasana dan mengacaukannya." Alisya berusaha membuat hatinya sedikit lebih tenang.


Malam itu Alisya memakai setelan piyama dengan motif tedy bear. Alisya merebahkan tubuhnya di atas ranjang kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai di bagian dada. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar. Kemudiaan beralih ke arah jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh malam.


Terdengar dari arah kamar mandi gemericik air yang membuyarkan lamunan Alisya. Kali ini Alisya mulai membayangkan tubuh tegap dan dada bidang Aldo yang putih bersih. Alisya kembali membayangkan kejadian apa yang akan terjadi nanti seusai Aldo mandi.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Alisya diserang kepanikan yang semakin menjadi. Tanpa berpikir panjang, Alisya memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur.


"Astaga Alisya, apa yang sudah kamu lakukan. Kenapa kamu malah pura-pura tidur. Bagaimana jika hal ini membuat Aldo kecewa dan marah. Bagaimana ini? haruskah aku bangun dan menyambutnya. Tapi aku benar-benar sangat gugup. Sudah lah, pikirkan saja nanti. Aldo pasti sudah melihatku saat ini. Akan sangat malu jika sampai ketahuan Aldo aku sangat grogi dan bingung bagaimana harus menghadapinya." Alisya bergumul dalam hatinya dengan tetap memejamkan matanya.


Aldo yang melihat Alisya tertidur sedikit merasa kecewa. Namun, ia juga merasa kasian.


"Mungkin Alisya begitu kelelahan." Begitu benak Aldo saat ini. Aldo kemudian mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di samping ranjang mereka.


Suasana menjadi hening dengan cahaya lampu yang remang-remang. Aldo kemudian naik ke ranjang. Ia memperhatikan wajah Alisya yang begitu tampak cantik walau tanpa make up di wajahnya.


Aldo menyibakkan sedikit rambut Alisya yang menutupi wajahnya.


"Kamu cantik sekali Alisya. Aku sangat beruntung bisa memilikimu."


Aldo berencana untuk mencium kening istrinya itu kemudian segera menyusul untuk tidur.


Alisya yang masih tersadar, sedari tadi mendengarkan dan menerka apa yang dilakukan Aldo. Jantungnya berdegup begitu kencang semenjak Aldo ikut berbaring ke tempat tidur.


Saat Aldo mendekatkan tubuhnya hendak mencium kening Alisya. Tiba-tiba Alisya membuka mata dan secara spontan menutup wajahnya dengan selimut.


"Apa yang akan kamu lakukan serigala liar?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Alisya.


"Apa kamu bilang? Serigala liar?" Aldo yang kaget sontak menjauhkan tubuhnya. Aldo begitu bingung dengan tingkah Alisya kali ini.


"Apakah kamu tadi berpura-pura tidur Alisya? Apakah kamu benar-benar tidak menginginkanku?"

__ADS_1


Aldo kemudian berpura-pura ngambek dan merebahkan tubuhnya membelakangi Alisya.


Alisya yang begitu merasa bersalah langsung memeluk Aldo dari belakang.


"Maafkan Aku Aldo. Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya...."


"Hanya apa?" Suara Aldo sedikit meninggi. Membuat Alisya semakin merasa bersalah.


"Tolong maafkan aku suamiku. Aku tadi begitu merasa gugup. Entah dapat bisikan dari mana secara spontan aku tiba-tiba memejamkan mata dan berpura-pura tertidur ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka."


Aldo yang mendengar penjelasan Alisya hanya bisa menahan tawanya.


Kemudian Aldo memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Alisya. Ia menatap tajam mata Alisya.


"Aku tidak berbohong Aldo. Aku benar-benar merasa gugup. Aku juga tidak tau kenapa bisa seperti ini."


Aldo semakin dibuat gemas dengan kelakuan Alisya kali ini. Tentu saja Aldo tidak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk sedikit menjahili Alisya.


Aldo menghimpit Alisya dengan menindihnya. Ia masih menatap Alisya dengan begitu lekat.


"Apakah sekarang kamu mengakui kesalahanmu?"


Melihat hal itu Aldo jadi benar-benar tak tega. Aldo kemudian tersenyum. Ia mengusap lembut pipi Alisya. Bahkan saat ini Aldo bisa merasakan degup jantung Alisya yang begitu kencang.


"Aku tidak marah Alisya. Aku juga tidak menyalahkan mu. Sebenarnya aku juga merasa sedikit gugup. Kenapa kamu sampai berkaca-kaca seperti ini. Apakah aku membuatmu takut?"


Alisya menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar menyesal dan merasa bersalah. Seharusnya aku tidak melakukan hal memalukan seperti ini" Alisya kembali berkaca-kaca.


"Sudahlah tidak apa-apa Alisya. Mana mungkin aku bisa marah dengan istri secantik ini." Aldo kembali mengusap pipi Alisya. "Ayo sekarang tersenyumlah."


Alisya langsung menampakkan senyuman termanisnya. Alisya sedikit merasa sesak menahan beban tubuh Aldo yang sedari tadi menimpanya. Alisya juga mulai merasa ada yang membesar dan mengeras dibawah sana.


Aldo tak bisa lagi menahan hasratnya. Tapi ia ingin memastikan bahwa Alisya benar-benar sudah siap untuk melakukannya. Aldo tidak ingin membuat Alisya mau melakukannya karena terpaksa.


"Lalu apakah sekarang kamu mau melakukannya Alisya? Bukankah kita ingin segera memiliki seorang bayi yang imut? tapi aku juga tidak akan memaksamu Alisya. Jika kamu memang belum siap aku akan menunggunya. Lagi pula bukankah kita akan tetap bersama seumur hidup." Kali ini Aldo berkata-kata dengan begitu lembut. Ia tidak ingin membuat Alisya sampai berkaca-kaca lagi.

__ADS_1


Tanpa ragu Alisya mengecup bibir Aldo dengan lembut. Kemudian membisikan kata-kata di telinga Aldo.


"Aku juga menginginkannya Aldo. Mari habiskan malam kita dengan bercinta"


Bisikan Alisya sontak membuat bulu kuduk Aldo merinding. Hal itu juga merupakan hal baru bagi Aldo di sepanjang hidupnya.


Tiba-tiba Aldo teringat dengan kata-kata Alisya tadi. "Tunggu dulu Alisya. Bukankah tadi kamu menyebutku serigala liar. Apa maksud dari semua itu?"


"Hehehe itu hanya sekedar imajinasi liar ku Aldo." Alisya jadi tersipu malu. Pipinya jadi memerah karenanya.


"Baiklah. Aku memang seekor serigala liar yang siap menerkam mangsanya. Kamu harus siap dengan konsekuensinya berani menyebutku serigala liar."


Aldo mendaratkan bibirnya di bibir mungil Alisya. Ia mengecupnya dengan penuh gairah. Sementara tangannya mulai membuka satu-persatu kancing baju yang dikenakan Alisya. Pemandangan indah menyambut mata Aldo. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Aldo mulai melancarkan aksinya.


Alisya juga tak mau kalah dan hanya berdiam diri. Mereka menggunakan seluruh kemampuan yang mereka punya untuk memuaskan lawan mainnya. Semua anggota badan ikut bergerak mengikuti tuntunan hasrat yang begitu menggebu dari keduanya.


Malam semakin larut. Berjam-jam mereka berseteru di atas ranjang. Bahkan sekarang mereka mendengar ayam jago sudah mengeluarkan kokokannya. Tanda sang surya akan segera menampakan keagungan nya. Namun mereka masih menikmati keintiman yang mereka ciptakan sendiri.


Menjelang pagi mereka begitu kelelahan dan tertidur pulas dengan mimpi yang indah mewarnai keduanya. Mereka tidur sambil berpelukan dan masih tanpa busana yang menutupi tubuh polos mereka.


Matahari semakin meninggi. Namun tetap tidak membangunkan mereka.


"Mah, bukankah sebentar lagi waktunya kita untuk makan siang bersama. Tapi sedari pagi aku belum melihat ka Alisya dan ka Aldo keluar dari kamarnya. Apakah aku perlu mengetuk pintu mereka dan menyuruhnya untuk segera ikut bergabung dengan kita?" Salisa bertanya kepada mama Maria dengan begitu polosnya.


"Jangan ganggu kakakmu. Biarkan saja mereka tetap berada di dalam kamar. Jika mereka lapar, pasti mereka akan turun dan mengambil makanan sendiri."


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu?"


Perkataan Salisa sontak membuat gelak tawa semua orang yang sedang berkumpul di ruang makan itu.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2