CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
ABOUT SALISA


__ADS_3

Salisa, putri kedua dari keluarga Antoni. Ia adalah gadis yang riang dan lugu. Sebagian banyak waktunya ia gunakan untuk membaca buku, menulis novel, sedangkan hobinya adalah ngemil dan makan, tetapi hal itu tak membuat tubuhnya yang langsing menjadi melar. Salisa memiliki bulu mata yang lentik dan dagu runcing, rambutnya hitam legam bergelombang seperti rambut Alisya dan mamanya Maria.


Hari ini Salisa telah selesai berkemas untuk perjalanan bisnisnya ke pulau Dewata Bali. Namun Salisa juga punya rencana sendiri dengan pacarnya diperjalanan bisnis kali ini. Setelah urusan perusahaan selesai, Salisa setuju untuk mengikuti keinginan Johan. Lelaki yang baru-baru ini menjadi kekasihnya. Mereka berencana untuk liburan bersama di pulau nan cantik itu.


Johan adalah pacar pertama bagi Salisa. Di usianya yang ke 21 tahun ini Salisa memang belum pernah menanggapi dengan serius jika ada laki-laki yang berusaha untuk mendekatinya. Sampai akhirnya Salisa bertemu dengan Johan. Satu-satunya pria yang diberi nilai oleh Salisa karena kegigihannya selama ini dalam mengejarnya.


Walaupun selama ini Salisa sedikit cuek dan jarang setuju jika diajak berkencan, namun kali ini Salisa menyetujui rencana kekasihnya itu. Salisa ingin benar-benar membuka hati untuk Johan dan ingin mengenalnya dengan lebih baik.


"Mungkin sekarang adalah waktunya bagiku untuk menemukan cinta sejatiku." Gumam Salisa dalam hati sambil menenteng koper berwarna silver yang sebagian besar isinya adalah makanan itu.


Salisa telah berjanji dengan Johan bahwa mereka akan berangkat bersama dengan memesan tiket pesawat dengan duduk bersebelahan.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Salisa melihat batang hidung Johan yang berjalan santai menghampirinya.


"Apakah kamu sudah menunggu lama Salisa? Maafkan aku karna telah membuatmu menunggu. Seharusnya aku tak membiarkan hal itu terjadi."


"Emm enggak kok. Aku juga baru saja sampai, kamu santai aja."


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita segera cek in."


"Huum, baiklah." Jawab Salisa sambil meletakan botol minumanya kembali kedalam tas dan segera berdiri sambil kemudian memegang handel kopernya.


"Biar aku saja yang bawakan kopernya." Saut Johan dengan tangan yang sudah mengambil alih koper milik Salisa.


"Terimakasih" Kemudian Salisa mengekor di belakang pria dengan tubuh tegap berbalut jaket kulit hitam itu.


Perjalanan mereka kali ini cukup singkat. Hanya memakan waktu empat puluh lima menit bagi mereka untuk sampai di bandara Ngurah Rai Bali.


Salisa dan Johan segera menuju hotel tempat dimana Salisa akan melakukan meeting dengan klien dan mengujungi langsung beberapa tempat produksi yang akan bekerjasama dengan perusahaan ayahnya.


Hotel Eiden yang begitu mewah dengan interior modern itu memang menjanjikan pelayanan dan keindahan pemandangan alami yang mengagumkan.


Seperti kamar yang ditinggali Salisa saat ini. Kamar yang menghadap laut biru yang menyejukan mata. Hotel itu memiliki kolam renang yang berbatasan langsung dengan laut. Menambah keindahan dan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang mengunjunginya.


Sementara Johan tinggal di kamar yang letaknya berada disebelah kamar Salisa. Selesai membongkar koper, Salisa ingin mengajak Johan untuk berkeliling untuk menikmati pemandangan sekitar.


Sudah beberapa kali Salisa mengetuk pintu kamar yang ditempati Johan namun tak ada balasan dari pemiliknya. Salisa kemudian mencoba memutar handle pintu, tapi ternyata pintu itu terkunci.


"Kemana perginya Johan ya? Mungkinkah dia sedang tidur?" Salisa kemudian mengambil ponsel dan menghubungi nomor kekasihnya itu. Tapi sama saja, tak ada jawaban dari Johan.


Setelah mencoba beberapa kali menghubugi dan kunjung mendengar jawaban seperti yang diinginkannya, Salisa akhirnya memutuskan untuk berkeliling sendirian.


Gadis berkacamata itu mulai menyusuri lorong hotel dan menuruni anak tangga menuju restoran yang berada di lantai pertama. Rasa sedikit lapar membuat Salisa memutuskan untuk mencari camilan manis sebelum ia berkeliling.

__ADS_1


Salisa memesan beberapa cake yang terlihat menggiurkan lidah. Ada Red Veled, Tiramisu, Dark Cokolate, Banana Ice cream dan secangkir kopi Amerikano.


Saat asik menikmati disert itu, Salisa dikejutkan dengan menda berkilau yang terjatuh dari atas dan mendarat tepat di cake yang berada ditangannya.


"Apa ini?" Salisa segera mengambil benda itu dan membersihkannya dengan tisu. "Bukankah ini cincin berlian. Siapa yang menjatuhkannya?" Salisa mendongak ke atas beberapa saat dan mencari sosok orang yang mungkin tak sengaja menjatuhkan cincin itu namun sepertinya tak ada orang yang terlihat kehilangan barang.


Salisa mengamati dengan seksama cicin dengan sebuah batu permata berwana putih berkilau itu. "Apa yang harus aku lakukan dengan cincin ini? Pemiliknya pasti saat ini sedang gelisah karna kehilangan benda berharga seperti ini." Salisa kembali mendongakkan kepalanya.


"Sebaiknya aku membawanya ke ruang informasi." Begitu pikir Salisa dalam hati. Namun melihat keindahan cincin itu membuat Salisa tergiur untuk mencoba memakai di jari manisnya. "Sepertinya ini adalah cincin yang biasanya digunakan untuk melamar seorang gadis seperti di film-film itu. Bahagianya jika ini adalah cincin pemberian dari Johan. Mungkinkah Johan dengaja menjatuhkannya dari atas dan sengaja bersembunyi untuk membuatku terkesan."


Berbagai imajinasi konyol memenuhi pikirannya. Mebuat gadis itu tersenyum sendiri dan memutuskan untuk memasukan cincin berlian itu di jari manisnya. "Wah cantik sekali, sangat cocok di tanganku." Salisa tampak begitu bahagia sambil mengamati cincin yang kini sudah melingkar dijarinya.


"Tidak-tidak, ini tidak boleh aku lakukan. Ini bukan miliku, sebaiknya aku harus mengembalikan kepada pemiliknya. Saat hendak beranjak dari tempat duduknya, seorang pria tampan tiba-tiba menghampiri Salisa dan berdiri tepat dihadapannya.


"Akhirnya aku menemukannya. Nona, bisakah anda mengembalikan cincin saya."


"Ba ba baik tuan" Salisa terperanga dan mendadak hilang konsenterasinya. Karena kaget dengan keberadaan pria dihadapanya yang begitu dekat dengan dirinya itu membuat Salisa melangkahkan kaki kebelakang namun akhirnya ia terhuyung hendak terjatuh dengan pijakan high hill yang tak seimbang.


Pria dengan busana rapi berjas dan berdasi itu segera menopang tubuh Salisa dengan sigap.


"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya laki-laki itu setelah membantu Salisa kembali berdiri dengan baik.


"Ti ti tidak, eh maksuk saya, saya baik-baik saja." Salisa menjawab dengan terbata-bata karena masih terbayang tatapan lembut pria didepannya itu ketika tanganya menopang tubuhnya beberapa menit yang lalu.


"Ooh pantas saja saya tidak melihat tuan ketika melihat ke lantai atas dan memeriksa tangga. Maafkan saya tuan, tadi saya berencana untuk membawa cincin ini ke ruang informasi. Tapi melihat keindahan cincin ini membuat hati saya tergerak untuk mencobanya sebentar."


Pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sementara Salisa berusaha dengan keras untuk melepaskan cincin yang melingkar di jarinya itu.


"Kenapa cincin ini sulit sekali untuk dilepaskan." Gumam Salisa dalam hati. Jari Salisa mulai memerah karena tak bisa melepas cincin itu.


"Apakah ada kesulitan nona? Sepertinya cincin itu susah untuk dilepaskan."


"Maafkan saya tuan, saya pasti akan mengembalikan cincin ini." Salisa mulai merasa bersalah dengan berusaha lebih keras untuk melepas benda melingkar itu.


"Apakah anda butuh bantuan nona? Coba berikan tangan anda. Saya akan mencoba membatu untuk melepasnya. "


Dengan sedikit ragu, Salisa mengulurkan tangannya. Pria itu mulai mencoba membantu, namun sepertinya juga tak membuahkan hasil. Setelah cukup lama berusaha, pria itu terlihat mulai putus asa dan menarik paksa cincin itu dengan lebih kuat.


"Aauw sakit." Teriak Salisa kesakitan.


"Maaf nona, saya tidak sengaja." Pria itu kemudian melepaskan tangan Salisa dan duduk dengan raut wajah yang terlihat sedih.


Salisa juga ikut duduk di kursi dengan raut wajah yang tidak kalah sedihnya.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan. Saya pasti akan mencari cara agar bisa melepas cincin ini." Salisa mulai berpikir bagaimana bisa mengembalikan barang berharga itu.


"Oh iya, saya tau tuan. Mungkin cincin ini bisa terlepas dengan mudah jika saya membukanya dengan memakai sabun."


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita coba."


"Heemm" Salisa menganggukan kepalanya dan segera berdiri. "Ayo ikut saya tuan. Saya akan mencoba melepasnya di kamar.


Tanpa pikir panjang kedua orang itu segera bergegas untuk menuju ke kamar dimana Salisa tinggal. Sesampainya di depan kamar, Salisa berhenti dan meminta agar laki-laki itu menunggunya di depan kamar saja.


Cukup lama pria itu mondar-mandir di depan pintu kamar Salisa. Namun ketika Salisa keluar ia kembali kecewa karena cincin itu belum berhasil terlepas.


"Apakah kamu sudah mencobanya dengan benar?" Pria itu bertanya dengan gusar seperti tak percaya. " Sebaiknya aku mencobanya sendiri." Pria itu menggandeng tangan Salisa dan menyeretnya menuju kamar mandi di kamar itu.


Seperti mendapat kemalangan bertubi-tubi, walaupun pria itu sudah mencoba berulang kali, namun cincin itu masih dengan kuat melekat di jari Salisa. Pria itu juga terlihat tak tega dan kasian dengan Salisa yang sedari tadi terlihat menahan rasa sakit.


Keduanya terlihat putus asa dengan bersandar di dinding kamar mandi. "Bagai mana ini? Besok kekasihku akan datang ke hotel ini dan aku sudah mempersiapkan berbagai hal untuk melamarnya, tapi sekarang aku telah mengacaukannya."


Salisa semakin merasa bersalah. Ia kembali berusa dengan semangat yang lebih besar. Sedangkan pria itu masih bersandar lemas sambil memandangi usaha keras yang dilakukan Salisa.


"Istirahatlah dulu nona, jika seperti itu bisa-bisa nanti jarimu terluka."


"Maafkan saya tuan. Ini semua salah saya." Tanpa sadar butiran bening menetes dari sudut mata Salisa.


Menyadari hal itu, pria itu segera menyodorkan sapu tangan dan meminta Salisa untuk mengelap air matanya.


"Jangan menangis nona. Ini semua bukan salah anda. Semua ini murni kesalahanku karna tidak berhati-hati."


Tangisan Salisa malah semakin menjadi karena semakin merasa bersalah atas tindakan konyolnya. "Andai saja saya tidak mencoba memakai cincin ini, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi."


Pria itu terlihat bingung dengan Salisa yang menangis terisak-isak. Disamping kasian, ia juga takut jika ada orang yang melihat mereka dan salah paham dengan apa yang terjadi. Secara sepontan pria itu bendekap tubuh Salisa dan menepuk-nepuk dengan lembut punggung wanita yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Karena kaget, Salisa yang belum pernah terlibat kontak fisik dengan lawan jenis merasakan gejolak dihatinya. Hal itu membuat Jantungnya mendadak berdebar dengan kencang. Salisa yang kebingungan dengan perasaan aneh yang menghantuinya sontak meronta dengan kuat dan berlari keluar dari kamar mandi sambil menutup pintu dengan keras dan menguncinya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2