
Sepulang dari acara dinner itu Alisya langsung masuk kamar. Pikirannya begitu kacau. Alisya memang belum menceritakan kejadian di air terjun itu kepada keluarganya. Sebenarnya Alisya masih ingin memikirkan dengan sungguh-sungguh keputusan yang ingin ia ambil.
Alisya sudah mengganggap Adrian seperti kakaknya sendiri. Jika Alisya bercerita pada keluarganya tentang ungkapan cinta Adrian padanya, pasti mereka akan setuju dan merestui hubungan mereka.
Di satu sisi Alisya ingin membahagiakan papanya dengan menikah dengan seorang lelaki yang begitu mencintainya. Dan Alisya pikir laki-laki itu adalah ka Adrian. Tapi bagaimana dengan perasaannya.
Alisya tak bisa membohongi perasaannya yang begitu mencintai Aldo. Tapi saat ini justru Aldo membuat hatinya begitu hancur.
Air mata tak bisa dibendung lagi. Alisya menangis terisak-isak dengan memeluk guling kesayangannya. Sesekali Alisya harus membuang ingus yang membuat hidungnya tersumbat karena terlalu lama menangis.
Matanya bengkak, hidungnya memerah, dan akhirnya Alisya tertidur karena kelelahan menangis.
Pagi harinya Alisya terbangun karena pantulan sinar matahari yang menerobos masuk ke ruangan itu. Cahayanya begitu menyilaukan mata.
"Hah, bahkan semalam aku sampai lupa tak menutup tirai jendela karena menangis." Alisya mengucek kedua matanya kemudian berusaha mengumpulkan kembali seluruh tenaga dan semangatnya.
Hari itu adalah hari Minggu, jadi Alisya tak perlu datang kekantor.
"Untungnya hari ini aku tak perlu pergi kemana-mana. Aku akan menghabiskan waktu di rumah saja. Membuat kue bersama mama sepertinya bisa mengalihkan pikiranku tentang semua masalah ini."
Alisya bangun dan merapikan tempat tidurnya. Ia juga membersihkan semua tisu yang berceceran di lantai, semalam Alisya memang sengaja membuang dan melemparkan tisu yang telah ia pakai ke sembarang tempat.
"Nanti aku akan cerita soal ka Adrian. Lagipula Aldo juga sudah punya kekasih. Apa lagi yang bisa ku harapkan. Aku juga tak mau jadi pelakor." Gumam Alisya dalam hatinya.
"Sebaiknya mulai sekarang aku harus mencoba melupakan Aldo dan berusaha untuk membalas cinta ka Adrian. Aku akan membuka hati untuknya. Mungkin aku akan hidup bahagia bersamanya."
Hati Alisya kini mulai tenang, yang ia pikirkan sekarang hanyalah kebahagiaan dan kesehatan papa yang begitu disayanginya. Alisya berharap keberuntungan berpihak kepadanya dengan mengambil keputusan itu.
Seusai merapikan kembali kamarnya, Alisya segera mandi dan bergegas menuju dapur.
"Eh anak gadis mama sudah bangun. Gimana makan malamnya nak? ayo ceritain ke mama, semalam kan kamu langsung tidur." Ucap Mama Maria yang menghentikan sejenak aktivitas memasaknya.
"Iya ma. Semalam Alisya capek banget jadi langsung tidur deh. Oh ya ma kita bikin Brownies yuk! Alisya pengen belajar bikin kue. Nanti Alisya akan ceritain semuanya sambil kita kumpul-kumpul di gasebo."
"Asik bikin Brownies" Saut Salisa yang nyelonong menyauti pembicaraan kakak dan mamanya.
"Iya Salisa, kaka pengen belajar bikin brownies, mama lanjutin masak sarapannya, Alisya akan bikin brownisnya. Nanti mama tinggal kasih instruksi buat Alisya."
__ADS_1
"Dan kamu Salisa, kamu cukup jadi food testernya. Tapi jangan langsung dihabisin, nanti kita makan sambil nyantai di taman belakang."
"Ide bagus tuh ka. Jangan lama-lama ya, Salisa udah ngiler" ucap Salisa dengan toples di hadapannya berisi nastar yang sudah menganga sedari tadi. Salisa memang tak bisa berhenti mengunyah jika melihat makanan di dekatnya.
Alisya mulai mempersiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat brownies, diantaranya tepung terigu, telur, gula pasir, dark chocolate, coklat bubuk, mentega, emulsifer, dan beberapa bahan tambahan.
Alisya membuatnya sesuai instruksi dari mama Maria yang sudah pakarnya membuat berbagai macam bolu, kue, dan aneka macam kudapan yang menggugah selera.
"Mama seneng deh sayang, kamu mau belajar bikin kue. Ingat baik-baik langkah-langkahnya dan yang paling penting buatlah dengan hati. pasti hasilnya akan bagus dan enak. Nanti kamu juga bisa masakin untuk keluargamu sendiri kalau kamu sudah menikah."
"Iya mamaku sayang, mulai saat ini Alisya nggak hanya bantuin mama masak, tapi Alisya juga akan belajar bikin kue kaya mama. Alisya ingin jadi Istri yang serba bisa kaya mama."
"Cie-cie, kayaknya ada yang udah siap jadi ibu rumah tangga nie" Tutur Salisa menggoda kakaknya.
"Emang kenapa? Kaka kan calon ibu rumah tangga yang baik. Kamu tuh mulai sekarang harus serius belajar masaknya. Masak tiap kali disuruh bantuin masak ada aja alasannya. Nanti Suaminya bewokan lhoh kalo nggak pinter masak. Hiiiii, kalo Kaka sih Ogah"
Salisa memang sering kebanyakan alibi jika diminta membatu memasak di dapur. Kalaupun mau pasti ia akan sebentar saja membantu, paling banter ngupasin bawang abis itu ditinggal buka kulkas cari makanan dan nongkrong di pojokan sambil ngabisin sebanyak mungkin makanan sampai mama dan Alisya selesai memasak.
"Nggak papa dapet suami bewokan, Kan malah seksi." Ucap Alisya yang tak mempan dengan perkataan kakaknya.
"Ayo cicipi, bilang jujur bagaimana rasanya?" perintah Alisya pada adiknya.
"Hemmm Yummy, kaka pinter deh bikinnya. Sebelas dua belas lah sama bikinan mama. Tapi tetep aja, bikinan mama tetap yang Nomero Uno."
****
Mama maria, papa Antoni, dan Salisa sudah berada di gasebo seusai sarapan. Sementara Alisya kembali ke kamarnya untuk mengambil cincin yang diberikan Adrian kepadanya.
Alisya menghampiri keluarganya itu dengan membawa brownies buatannya tadi, dan cincin yang ia letakan di saku celananya.
"Taraaa, Alisya punya kejutan untuk kalian semua"
"Hahaha, itu sih bukan kejutan namanya, kami sudah tau dari tadi kalau kaka bikin brownies" tutur Salisa menertawai kakaknya.
"Eits, bukan ini saja. Alisya juga punya kejutan satu lagi. Kalian sepertinya akan suka, terutama papa."
"Kejutan apa sayang? bikin papa penasaran aja."
__ADS_1
Alisya merogoh kantong celananya kemudian mengedarkan kotak kecil berwarna merah itu di depan mata mereka secara bergantian.
Salisa dengan cepat menyaut kotak kecil itu dan membukanya. " Woow cantik sekali ini ka, siapa yang kasih cincin sebagus ini kepada kaka?" tanya Salisa begitu penasaran.
"Pa, ma, kemarin waktu Alisya survei tempat bersama ka Adrian, Dia mengajak Alisya ke Air terjun di dekat lokasi itu. Di sana ka Adrian mengungkapkan perasaannya pada Alisya."
"Alisya belum menjawab pertanyaan ka Adrian. dan Alisya bilang Alisya akan memberi tau Mama, Papa dan Salisa terlebih dulu. Jika kalian setuju maka Alisya akan menerima cinta ka Adrian."
Salisa begitu heboh yang paling terkejut dengan ucapan dari saudara perempuannya itu. Sementara Mama dan Papa Antoni tak begitu terkejut. Karena mereka memang sudah tau jika Adrian sedang berusaha mendekati dan mengambil hati putrinya itu.
"Papa dan mama akan selalu mendukung semua keputusan Alisya. Papa juga sudah berjanji tidak akan menjodohkan mu lagi ataupun mencampuri urusan percintaan kalian."
"Mama hanya berharap kalian akan memikirkan dengan sungguh-sungguh setiap keputusan yang akan kalian ambil."
Mama Maria mengusap dengan lembut kepala putrinya itu.
"Mama dan papa tenang saja, Alisya sudah memikirkannya dengan matang-matang. Alisya akan menerima ka Adrian sebagai kekasih Alisya."
"Pertama, waktu itu kami kan sudah bersandiwara di depan paman Doni sebagai sepasang kekasih. Kedua, Papa kan udah ngebet banget tuh pengen menimang cucu. Ketiga, Alisya juga sudah cukup umur untuk menikah. Keempat Ka Adrian sangat mencintai Alisya, bahkan sejak dia jadi tetangga kita dulu. Kelima, Alisya yakin ka Adrian nantinya pasti bisa membantu mengembangkan perusahaan kita."
"Dan ke enam, Alisya juga harus memiliki perasaan yang sama pada Adrian." ucap mama Maria meneruskan cek list putrinya."
Alisya membalas dengan memberikan senyuman termanisnya.
"Tenang saja Ma, Pa, Kalian tidak perlu khawatir. Alisya yakin pasti akan bahagia jika bersama ka Adrian."
Alisya semakin melebarkan senyumannya. mencoba untuk menyembunyikan keraguan yang menggerogoti hatinya.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1