CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
TRAGEDI DALAM PERJALANAN


__ADS_3

Salisa dan juga Jacob akhirnya berangkat berdua saja dengan satu mobil, sedangkan Kakek Wisnu dengan mobilnya sendiri yang di kendarai oleh Mang Diman.


Mereka memang sengaja berangkat saat malam hari. Lebih tepatnya jam delapan malam setelah mereka selesai makan malam bersama. Jarak yang akan mereka tempuh memang cukup jauh. Mereka harus memakan waktu dua belas jam jika tanpa berenti untuk beristirahat.


Akan tetapi karena saat ini mereka bersama dengan Salisa yang sedang mengandung, maka mereka memutuskan untuk istirahat beberaja jam di Hotel Sky Garden yang telah Kakek reservasi sebelumnya.


Kira-kira pukul 11.43 mereka sampai di Hotel Sky Garden. Kakek Wisnu telah sampai lebih dulu dan lansung beristirahat di kamarnya. Sedangkan Salisa dan Jacob harus bertanya kepada recepsionis dalhulu di kamar berapa mereka akan tinggal.


Ternyata Kakek Wisnu memesankan merekan Salisa dan Jacob di sweet room dengan dekorasi khusus untuk pasangan yang biasanya ingin menghabiskan waktu bersama.


"Karena Kakek sudah tidur, bagaimana kalau aku memesan satu kamar lagi saja Jacob. Jadi malam ini kita tidak perlu untuk berbagi ranjang lagi." Bujuk Salisa kepada Jacob.


"Terserah kamu saja. Aku sudah ngantuk mau langsung tidur." Jawab Jacob yang meninggalkan Salisa begitu saja.


"Tunggu dulu Jacob. Kenapa kamu langsung pergi. Aku kan belum selesai bicara." Pekik Salisa sedikit keras.


"Ada apa lagi Salisa?" Tanya Jacob sambil menguap.


"Pinjami aku uang. Aku lupa tidak membawa uang kali ini." Pinta Salisa dengan memelas.


Jacob kemudian mengekuarkan kartu kredit dari dompetnya dan menyerahkannya pada Salisa. "Ingat baik-baik Salisa! Kita hanya akan beristirahat di sini kurang lebih lima jam saja. Kita akan berangkat lagi esok hari pagi-pagi sekali agar kita bisa sampai di pemakaman saat siang hari."


"Baiklah Jacob. Aku akan memasang Alarm jam empat pagi. Trimakasih Jacob."


Salisa kemudian bergegas kembali ke recepsionis untuk memesan satu kamar lagi untuknya. Sayang nya semua kamar telah dibooking dan Salisa tak bisa lagi mendapatkan kamar. Salisa merasa kebingungan, kemudian dengan terpaksa Salisa mencari kamar yang ditempati Jacob. Untung saja tadi Salisa ikut mendengarkan saat Jacob bertanya kepada receptionis dan Salisa masih mengingatnya.


Salisa bergegas mencari kamar yang seharusnya juga ia tempati bersama dengan Jacob.


"Aha ini dia."


"Salisa mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Namun sayangnya Jacob tak kunjung keluar dan membukakan pintu untuknya. "Apakah Jacob sudah tidur?" Salisa kemudian mengambil ponselnya dan memcoba untuk menghubungi Jacob. Sayang sekali nomor Jacob tidak bisa dihubungi.


"Sial sekali aku hari ini. Jika Jacob sedang mabuk sepertinya semua masalah akan bertubi-tubi datang kepadaku." Salisa kemudian mengingat pertama kalinya ia membantu Jacob saat sedang mabuk dan akhirnya terjadilah kecelakaan yang membuatnya hamil. Kedua kali Salisa membantu Jacob saat mabuk adalah ketika Jacob dipaksa minum wine yang begitu banyak oleh Mama Maria. Hari itu Salisa juga sial karena harus membersihkan muntahan Jacob dan membantu Jacob menggatikan bajunya hingga harus memandikannya juga. Sayangnya niat baiknya malah disalah artikan oleh Jacob yang malah menuduhnya memanfaatkan keadaan.


Kali ketiganya adalah hari ini. Salisa sangat takut jika ia harus tidur di depan kamar dan takut jika Kakek tiba-tiba keluar dari kamar dan melihatnya. Pasti akan menjadi masalah besar bagi dirinya maupun Jacob.


Salisa duduk lemas di depan kamar sambil memikirkan cara agar jangan sampai ia tidur kedinginan diluar kamar. Salisa mencoba lagi mengetuk pintu ataupun memanggil Jacob dari ponselnya. Usahanya tetap sia-sia. Salisa mulai putus asa dan berniat mencari hotel lain terdekat dari sana. Salisa membuka ponselnya dan mencari hotel terdekat, mungkin saja tak jauh dari sana ia bisa menemukan penginapan ataupun sebuah motel.


"Apa? 10 KM lagi. Mana mungkin aku bisa kesana." Saat Salisa sedang mencari-cari lagi penginapan terdekat di ponselnya, tanpa sengaja Salisa melihat seorang petugas kebersihan kamar sedang berjalan ke arahnya.


Salisa kemudian menghampiri petugas itu untuk membantunya. "Maaf Tuan, bisakah Tuan membantu saya? Suami saya berada di dalam kamar saat ini. Tapi sepertinya ia sudah tertidur dan tidak mendengarku saat saya mengetuk pintu. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi karena mungkin saja ponselnya mati kehabisan daya."


"Benarkah anda memesan kamar ini? Bisakah anda menunjukan buktinya?" Tanya sang petugas yang tidak mau mengambil resiko dengan sembarangan membukakan pintu.


"Emm bagaimana ya, oh iya sepertinya kamar ini dipesan atas nama suamiku Jacob Oetama dan juga namaku Salisa. Bisakah Tuan memeriksanya." Pinta Salisa penuh harap.


Petugas itu kemudian mengecek reservasi melewati ponsel pintarnya. "Maaf Nyonya karena harus membuat anda menunggu. Saya tadi hanya menjalankan SOP sebelum bisa membukakan pintu." Petugas itu kemudian mengeluarkan kunci cadangan dan membukakan pintu untuk Salisa.

__ADS_1


"Selamat beristirahat Nyonya. Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?"


"Ah tidak Tuan, terimakasih banyak." Kata Salisa yang sangat merasa lega akhirnya ia bisa tidur di dalam kamar.


Ternyata benar dugaan Salisa. Jacob sudah tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Tak inginembangunkan Jacob, Salisa naik ke ranjang dengan sangat hati-hati. Salisa juga segera memejamkan matanya karena ia juga sudah merasakan kantuk yang luar biasa.


Pagi itu Jacob dibangunkan oleh suara Alarm dari ponsel Salisa. Jacob kaget setengah mati ketika menyadari Salisa tidur bersamanya. "Kenapa Salisa bisa tidur disini? Bukankah semalam ia bilang jika ingin mencari kamar sendiri." Gumam Jacob yang masih setengah sadar karena masih mengantuk.


Seperti hari sebelumnya, Salisa tidur sambil memeluk Jacob seperti ketika ia tidur dengan memeluk gulingnya.


Jacob pura-pura tidur kembali ketika menyadari sepertinya Salisa akan segera bangun untuk mematikan alarm di ponselnya.


Salisa membuka matanya perlahan dan memperhatikan keadaan sekitar yang tampak asing baginya. "Oh iya, semalam kan aku ikut menginap di hotel." Gumam salisa dalam hati.


Salisa akhirnya menyadari jika ia tidur dengan Jacob dan sekarang ia sedang memeluk laki-laki yang seperinya tidak mengenakan pakaian. Salisa memang menggunakan selimut yang sama dengan Jacob. Ia bahkan mengira Jacob adalah guling dan memeluknya dengan satu tangan dan kaki yang menindih tubuh Jacob.


Salisa merasakan sesuatu yang aneh. Untuk memastikannya Salisa meraba-raba apakah benar jika Jacob tidak memakai baju atau itu hanya khayalannya saja. Salisa dapat merasakan otot perut Jacob dengan tangannya.


"Astaga apakah benar Jacob tak memakai baju." Kata Alisya dengan pelan. Kini Salisa bahkan bisa merasakan sesuatu yang membesar dan mengeras menempel pada kakinya. "Astaga apa lagi ini" ucap Salisa semakin takut.


Dengan sangat hati-hati Salisa mengankat tangan dan kakinya. Salisa kemudian bangun dan ingin segera mematikan Alarm yang sedari tadi masih berbunyi dengan volume yang semakin meninggi. Salisa Sangat takut jika Jacob akan terbangun dan memarahinya.


Setelah berhasil bangun. Salisa mengambil ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Semalam Salisa menggantung tasnya itu di atas gantungan baju yang terletak di sudut ruangan. "Akhirnya berhenti juga. Sepertinya Jacob juga tidak bangun karena semalam terlalu lelah mengemudi." Gumam Salisa setelah berhasil mematikan alarm.


Betapa kagetnya Salisa saat ia berbalik badan dan melihat Jacob yang ternyata tak memakai busana sama sekali. Tanpa Salisa sadari ternyata saat Salisa bangun, ia juga membuat selimut yang tadinya menutupi tubuhnya dan juga Jacob terseret dan tak lagi menghalangi pandangannya untuk bisa melihat tubuh polos Jacob yang tak tertutup sehelai benang sama sekali.


Secara sepintan Salisa malah berlari ke arah Jacob untuk membungkam mulut Jacob yang masih menganga dan menjerit. Salisa takut jika jeritan yang lebih lebih keras dari jeritannya itu bisa membangunkan se isi hotel. Apalagi hari itu masih terlalu pagi.


Setelah berhasil membungkam mulut Jacob, Salisa baru sadar jika ia malah semakin dekat dengan Jacob. Saalisa langsung menutup matanya dan meminta Jacob untuk segera mengenakan pakaiannya.


"Apakah kamu sudah selesai Jacob?" Tanya Salisa kepada Jacob.


"Hemm" jawab Jacob singkat.


Salisa kemudian membuka matanya kembali. "Kenapa kamu bisa tidur dengan telanjang seperti itu?" Tanya Salisa dengan nada yang sedikit tinggi.


"Harusnya aku yang bertanya kepadamu. Bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku dan tiba-tiba tidur bersamaku? Semalam aku bahkan sudah mengunci pintunya. Jangan-jangan kamu ini mantan maling ya?" Kata Jacob yang malah balik bertanya kepada Salisa.


"Se semalam aku ingin memesan kamar. Tapi ternyata kamarnya sudah penuh. Jadi aku pergi mencarimu. Aku sudah mengetuk pintumu dan juga menelponmu. Tapi kamu tak membukakan pintu. Ponselmu juga tudak bisa dihubungi, jadi aku meminta tolong kepada petugas kebersihan kamar untuk membukakan pintu." Jawab Salisa dengan sedikit gugup.


"Tapi tetap saja, kenapa kamu harus telanjang? Aku kan jadi..."


"Jadi apa?" Tanya Jacob sambil mendekatkan wajahnya meminta penjelasan dari Salisa.


"Aku jadi marah karenamu." Jawab Salisa yang kemudian memalingkan muka karena merasa terlalu dekat dengan wajah Jacob saat itu.


"Dengar aku baik-baik Salisa. Aku sudah terbiasa tidur seperti itu sebelum akhirnya kamu masuk ke dalam rumahku dan mengacaukan semua kebiasaanku Salisa. Aku merasa sangat nyaman jika seperti itu. Lagi pula aku kira kamu tidur di kamar lain, jadi aku pikir, aku bisa merasakan lagi nyamanya tidur dengan tak memakai baju seperti kebiasaanku sebelumnya. Walau hanya satu malam tapi aku sungguh-sungguh ingin merasakannya lagi. Tapi ternyata lagi-lagi kamu telah mengacaukan hidupku." Jawab Jacob dengan penuh penegasan.

__ADS_1


"Dasar laki-laki cabul. Mana ada orang yang tidur dengan telanjang sepertimu."


"Apa kamu bilang? Cabul? Aku fikir kamu yang seharusnya pantas disebut wanita cabul Salisa. Bukankah tadi kamu meraba-raba perutku? Aku bahkan merasa jika kamu menikmatinya." Kata Jacob yang tak terima disebut sebagai laki-laki cabul.


"Oh jadi ternyata tadi kamu sudah bangun? jadi kenapa kamu harus pura-pura tidur?" Tanya Salisa tak mau kalah untuk menyudutkan Jacob.


"A... a... aku tadi memang masih tidur, tapi aku jadi terbangun karena kamu merabaku dengan tanganmu itu. Tentu saja aku akan bangun. Bukankah kamu tadi juga merasakan bukan hanya aku saja yang bangun karenamu?" Jawab Jacob yang memang terkadang akan bicara apa adanya tanpa dan tak disaring terlebih dulu.


"Apa maksudmu?" Tanya Salisa agak takut.


"Ayolah Salisa. Aku fikir saat ini kamu itu juga sudah cukup dewasa untuk menyadarinya. Kamu menikmatinya bukan?" Tanya Jacob sambil mendekatkan kembali wajahnya ke arah Salisa.


Salisa semakin takut dan bibirnya seperti terkunci dan berat sekali untuk menjawab pertanyaan dari Jacob.


"Ja ja jacob, apa yang ingin kamu lakukan? Kenapa kamu semakin mendekat." Tanya Salisa dengan jantung yang semakin berdebar dan tubuh yang menjadi sedikit gemetar karena takut.


Bukannya menarik diri, Jacob malah semakin mendekat dan memaksa Salisa untuk menghindar dengan menarik tubuhnya kebelakang hingga akhirnya ia terbaring di atas kasur dan tak bisa menghindar lagi karena tangan Jacob yang bertumpu pada kedua sisi tubuhnya.


Jacob semakin mendekatkan wajahnya dan hal itu membuat Salisa memejamkan wajahnya. Jacob tersenyum melihat Salisa memejamkan mata dan membuatnya ingin melanjutkan niatnya yang sebenarnya hanya ingin menakut nakuti Salisa.


Baru saja Jacob mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Salisa, suara ketukan pintu kamar membuayarkan keduanya. Salisa langsung membuka mata dan mendorong dengan kuat tubuh Jacob agar menyingkir darinya.


Salisa dan jacob kemudian merapikan baju mereka yang tidak berantakan dan segera menyauti ketukan pintu dengan beberengan.


"Ya tunggu sebentar."


Salisa dan Jacob saling pandang ketika mereka menyadari mereka bisa begitu kompak dengan menjawab dengan bersamaan.


Jacob kemudian bergegas membukakan pintu karena mungkin saja itu adalah Kakeknya. Dan ternyata benar, saat Jacob membuka pintu, terlihat Kakek Wisnu berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Bersiap-siaplah Jacob. Sebentar lagi kita akan berangkat lagi. Apakah Salisa sudah bangun?" Tanya Kakek Wisnu sambil mendongakkan kepalanya ke dalam kamar.


"Sudah Kek." Jawab Salisa yang masih terduduk di atas ranjang.


"Oh baiklah kalau begitu. Kakek akan kembali lagi ke kamar Kakek, maaf sudah mengganggu kebersamaan kalian ya" kata Kakek yang melihat sepertinya baru saja terjadi sesuatu antara kedua cucunya karena mereka terlihat begitu gugup saat menjawab pertanyaan darinya.


Setelah Kakek Wisnu kembali ke kamarnya lagi, Jacob dan Salisa langsung berkemas dan tak saling bertegur sapa karena mereka saling merasa gugup dengan kejadin beberapa menit yang lalu sebelum Kakek datang ke kamar mereka.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2