
Salisa tak menggubris ucapan dari Jacob. Ia segera menyiapkan baju kantor untuk Jacob. Walaupun suasana hatinya sedang tidak baik, akan tetapi Salisa masih saja mengerjakan tugas-tugas sebagai seorang istri. Mungkin itu karena Salisa sudah terbiasa dengan kegiatannya itu.
Jacob sendiri juga langsung mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Setah melihat Jacob berlalu pergi ke kamar mandi, Salisa duduk di sofanya dan menghela nafas dengan kasar.
"Siapa juga yang akan tertarik dengan laki-laki super nyebelin sepertimu. Aku harah suatu hari nanti kamu akan mencintaiku dan bahkan memujaku seperti seorang putri raja. Di hari itulah aku akan bilang kepadamu, maaf Jacob aku tidak menyukaimu. Jadi jika kau mau maka jadilah budak cintaku saja." Salisa tertawa kegirangan mrmbayangkan Jacob berlutut di hadapannya memohon belas kasihan cintanya.
"Lebih baik sekarang aku fokus dengan mengejar mimpiku menjadi seorang penulis terkenal." Salisa mengambil ponselnya dan mencari kontak Jasson teman sekolahnya dulu yang kini telah menjadi penulis super star yang sedang booming. Sayang sekali identitas aslinya isembunyikan. Jika tidak mungkin saja saat ini Jason sudah seperti seorang artis yang selalu diburu para penggemarnya.
"Hallo Jason, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja Salisa. Ada apa? Tumben sekali kamu menelfonku. Aku bahkan sempat dibuat tak percaya dengan semua ini."
"Ah kamu ini bisa-bisa aja. Aku ingin meminta bantuanmu Jason. Apakah tawaran menjadi mentor waktu itu masih berlaku?"
"Aha, kamu sudah tertarik untuk menekuninya Salisa? Tentu saja. Aku akan merasa terhormat untuk bisa menjadi mentormu. Tapi kamu masih ingat akan syaratnya kan? Kamu harus tetap merahasiakan identitasku."
"Huum, tentu saja. Bukan masalah besar Jason. Tapi masalahnya bisakah kamu datang ke rumahku untuk mentoringnya?"
"Baiklah. Aku malah merasa senang karena bisa tau dimana kamu tinggal. Aku akan mengatur jadwalku dulu. Mungkin aku hanya bisa datang seminggu dua kali Salisa. Kamu kan juga tau sendiri jika aku juga menjadi bisnisman dan harus bekerja di perusahaan orang tuaku."
"Tak masalah Jasson. Aku sudah sangat senang kamu mau meluangkan waktumu untuk ku."
"Kamu beruntung sekali Salisa. Sepertinya hari ini aku punya sedikit waktu luang setelah jam makan siang. Kamu share alamatmu ya! Nanti aku akan datang ke rumahmu."
"Benarkah? Asik. Kalau begitu sekalian saja kamu makan siang di tempatku. Aku akan menyiapkan hidangan special untukmu."
"Ok, setuju. Bailah kalau begitu aku harus bekerja lagi Salisa. Sampai bertemu nanti siang. Bye."
"Bye-bye." Salisa menutup pangilannya dan melonjak kecil kegirangan. Impian terkuburnya mungkin saja akan segera terwujud. Dulu Salisa memang bercita-cita sebagai seorang penulis. Hanya saja keinginannya itu harus ia kubur dalam-dalam karena ia harus membantu perusahaan papanya. Saat Salisa mendapat kesempatan langka seperti sekarang ini, tentu saja Salisa tak ingin melewatkannya begitu saja."
__ADS_1
Jacob yang sedari tadi sudah selesai mandi, dihentikan dengan suara Salisa yang sepertinya sedang berbincang dengan seorang pria di dalam telepon. Berkali-kali Jacob mendengar Salisa menyebut nama Jason di dalam panggilannya. Jacob yang ingin keluar dari kamar mandi kemudian mengurungkan niatnya. Jacob mendengarkan Salisa sampai selesai. Dengan pintu kamar mandi yang sudah sedikit terbuka itu memudahkan Jacob mendengar semua yang diucapkan Salisa. Walaupun Jacob tak mendengar perkataan lawan bicara Salisa namun Jacob dapat memperkirakan apa yang dikatakan laki-laki di balik percakapannya dengan Salisa.
"Hah dasar wanita. Apakah dia tidak takut atau trauma dengan laki-laki. Bukankah dia baru saja putus dengan kekasihnya karena diselingkuhi dan ditipu mentah-mentah. Berani sekali Salisa sudah dekat dengan laki-laki lain dan sudah terlihat begitu dekat seperti itu. Aku jadi penasaran seperti apa laki-laki itu? Palingan juga laki-laki cupu, kalau tidak pasti laki-laki baj*ngan yang pandai mempermainkan wanita. Aku tak percaya Salisa bisa mengenal laki-laki yang lebih tampan dan lebih hebat dariku." Gumam Jacob yang kemudian keluar dari kamar mandi setelah mendengar Salisa mengakhiri panggilannya.
Jacob pura-pura tak mendengar percakapan yang dilakukan Salisa. Jacob akan sangat malu jika sampai ketahuan Salisa jika dirinya telah diam-diam menguping Salisa.
Salisa yang melihat Jacob keluar dari kamar mandi menjerit dan menutup matanya. Lagi-lagi Jacob hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya dan bertelanjang dada.
"Bukankah kemarin aku sudah bilang, pakailah bajumu di kamar mandi. Kenapa kamu masih saja mengitori mataku seperti itu Jacob. Kamu sengaja ingin menggodaku ya?"
"Cih, besar kepala sekali kamu Salisa. Aku sudah biasa seperti ini. Bahkan tadinya aku telanjang bulat sebelum kamu datang ke rumah ini. Karena kamu aku dibuat repot dan harus merubah kebiasaanku ini. Lagi pula ini kan kamarku sendiri, seharusnya kamu yang harus menyesuaikan diri. Jika kamu tidak suka, bilang saja kepada Kakek untuk pindah kamar dan jangan sekamar lagi denganku. Paham?"
Perkataan Jacob membuat Salisa bungkam. Karena merasa jengkel, Salisa keluar dari kamar dan pergi ke tempat favoritnya. Taman belakang yang begitu indah membuat Salisa nyaman dan betah untuk berlama-lama berada disana. Sering kali Salisa menghabiskan waktunya yang membosankan di rumah itu untuk membaca buku di taman atau sekedar bersantai sambil mendenharkan musik. Terkadang Salisa juga menonton film disana dengan tablet. Udara yang sejuk dengan pepohonan rindang membuat Salisa selalu ingin kembalinkesana. Apalagi disana juga ada sebuah gasebo yang selalu ia gunakan untuk bersantai. Gasebo itu mengingatkan Salisa dengan rumahnya yang juga terdapat sebuah Gasebo kecil yang sering digunakan keluarganya untuk berkumpul dan bercanda tawa. Tentu saja hal itu membuat Salisa bisa sedikit mengobati rasa rindunya dengan keluarganya.
Belum lama Salisa disana, namun ia sudah dibuat kesal lagi dengan panggilan dari Jacob yang memintanya untuk kembali dan membuatkan secangkir kopi untuknya.
Salisa mengetuk pintu dan membukanya. Di dalam kamar terlihat Jacob sedang duduk sambil membaca sebuah koran. Salisa kemudian meletakan nampannya di atas meja yang terletak di hadapan Jacob.
"Ini kopinya. Jika sudah tidak ada hal lain aku akan kembali keluar untuk menonton TV. Nanti kalau kamu sudah akan berangkat bilang saja. Aku akan mengantarmu sampai depan rumah seperti biasanya. Walaupun aku benci kepadamu, tapi aku masih bisa selalu berpura-pura akur di hadapan Kakek." Ucap Salisa yang kemudian berbalik hendak berlalu pergi begitu saja.
"Tunggu. Kembali kemari dan duduk di sampingku. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Salisa berhenti dan berdecak kesal. Ia kembali dan duduk di samping Jacob sesuai perintah dari suaminya itu. Salisa hanya diam dan menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh Jacob saat itu.
"Siapa yang kamu undang untuk menjadi mentor menulismu?" Tanya Jacob dengan dingin.
"Apakah itu penting? Lagi pula itu kan juga tidak ada kaitannya denganmu. Kamu tidak perlu dibuat pusing karenanya, karena aku sudah memilih seorang penulis terkenal dan sangat profesional dalam bekerja." Salisa tidak ingin mengatakan lebih detail mengenai Jason. Lagi pula ia sudah berjanji kepada Jason untuk menyembunyikan identitasnya. Salisa juga berpikir jika saat Jason datang kerumah, Jacob sedang bekerja di kantornya. Hal itu tentu saja menguntungkannya karena Jacob pasti tidak akan pernah bertemu dengan Jason.
"Baiklah. Jika kamu tak ingin mengatakannya kepadaku. Aku juga sebenarnya malas sekali ikut campur dengan masalah pribadimu. Aku hanya tidak mau jika kamu membawa seorang yang sama sekali belum kamu kenal dan orang itu hanya berniat jahat kepadamu. Aku akan dimarahi Kakek jika sesuatu terjadi kepadamu. Apa kamu tidak takut dengan laki-laki setelah kejadian di pulau Bali itu?" Kata Jacob dengan serius.
__ADS_1
"Apakah kamu mengkhawatirkan aku Jacob. Tapi bukankah aku belum bilang kepadamu jika mentorku itu adalah seorang laki-laki? Kamu tenang saja. Aku sudah mengenalnya sejak SMA jadi aku tau betul seperti apa dirinya. Jika ada laki-laki yang seharusnya pantas aku takuti dan harus aku waspadai itu kamu. Bukankah kamu yang pada akhirnya membuat aku terjebak dalam pernikahan ini?" Salisa menjawab dengan santainya.
"Hah benar juga. Bukankah akhirnya aku laki-laki yang telah membuatnya hamil. Tapi itu kan sebuah kecelakaan. Mana mungkin aku mau tidur dengan wanita sepertinya jika waktu itu aku dalam kondisi sadar." Gumam Jacob yang terdiam sesaat karena perkataan dari Salisa.
"Jangan sembarangan bicara kamu Salisa. Waktu itu kan aku sedang dalam kondisi tidak sadar. Seharusnya kamu yang patut aku curiai. Bukannya waktu itu kamu tidak minum sama sekali. Seharusnya kamu dalam keadaan sadar. Jangan-jangan kamu sengaja menggodaku malam itu dan membuat aku khilaf karenanya."
"Mana mungkin aku menggodamu. Malam itu jelas-jelas kamu yang terus-terusan memaksaku. Sudah lah aku tidak mau membicarakan hal itu lagi. Kepalaku jadi pusing dan perutku terasa jadi mual jika mengungkit-ungkit masalah itu."
Salisa memang merasa sedikit mual dan pusing. Tentu saja hal itu bukan karena perbincangannya dengan Jacob. Hal itu karena efek dari kehamilannya. Salisa segera berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan lagi. Salisa memuntahkan semua sarapan paginya.
Jacob yang mendengar suara Salisa muntah di kamar mandi merasa bersalah dan segera menyusul Salisa. "Kamu tidak apa-apa Salisa?" Tanya Jacob sampil menepuk-nepuk pelan punggung Salisa. "Maafkan aku jika perkataanku membuatmu pusing dan mual. Aku berjanji tidak akan mengungkit masalah itu lagi." Kata jacob yang saat ini berganti mengelus punggung Salisa dengan lembut.
Salisa yang masih merasa mual hanya diam saja dan tidak menggubris perkataan Jacob. Setelah dirasa lebih baik, Salisa kembali ke kamar dibantu oleh Jacob yang memapahnya.
Jacob membantu Salisa tidur di atas ranjang. Tempat dimana Salisa belum pernah menempelkan tubuhnya sama sekali. Karena selama ini Salisa selalu tidur di atas sofa.
"Mulai malam ini, kamu saja yang tidur di sini. Aku akan menggantikanmu untuk tidur di sofa. Sekarang kamu istirahat dulu saja Salisa. Kamu tidak perlu mengantarku ke depan untuk pergi bekerja. Nanti aku akan meminta Bi Yani untuk menengokmu. Jika nanti masih pusing, bilang saja kepada Bi Yani. Aku akan meminta dokter untuk datang kemari." Ucap Jacob dengan nada yang lembut.
Salisa hanya mengangguk dan tak menjawab sama sekali. Salisa di buat bingung dengan perubahan sikap Jacob yang tiba-tiba lembut dan begitu perhatian kepadanya.
*
*
~ Bersambung~
*
*
__ADS_1