CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KEMBALI BERBUNGA


__ADS_3

Setelah mengetahui Alisya akan menikah, Aldo selalu tak bisa tidur dengan nyenyak, banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.


Sebenarnya ada apa dengan Alisya? kenapa Alisya memutuskan untuk menikah secara mendadak seperti ini? padahal aku tau betul Alisya itu belum punya kekasih.


Aldo mengacak-acak rambut di kepalanya yang terasa menjadi begitu gatal. Bahkan kini Aldo juga merasa kegerahan, Aldo mengambil remote AC didalam laci meja di samping tempat tidurnya.


"Astaga..!! aku sudah menyetelnya dengan suhu 19° tapi kenapa terasa begitu panas." Aldo mengubahnya menjadi 16° kemudian mengembalikan remote itu dengan melemparkannya begitu saja dengan hati yang sedang galau.


Di tengah pemikiran yang menyesakan dada itu, Aldo dikagetkan dengan bunyi nyaring nada dering telepon selularnya.


"Siapa yang tengah malam begini meneleponku..?" Aldo segera menyambar ponsel yang ia letakan di atas meja.


"Salisa?" Aldo kemudian menggeser icon berwana hijau di layar ponselnya.


"Halo ka Aldo, maaf malem-malem telfon. Salisa nggak ganggu kan..?"


"Hi Salisa, Nggak kok. Aku juga lagi tiduran aja. Tumben banget telfon kaka. Ada apa Salisa..?"


"Emm..., Besok kaka ada waktu luang nggak ka..? Salisa pengen ketemuan, ngajak ka Aldo ngobrol bentar, ini menyangkut ka Alisya. Bisa kan ka..?"


"Alisya..? Ada apa memangnya dengan Alisya..? Alisya nggak kenapa-napa kan..? Apakah hal buruk terjadi dengan Alisya..? Ayo cepat katakan Salisa..!!"


"Ih ka Aldo santai aja kali, pokoknya besok aja ngobrolnya. Kalo bisa, besok Salisa tunggu di cafe Abah Awak jam 10.00 ya ka..!!"


"Ok, besok pasti kaka akan datang. Sekarang tidurlah! udah malem ini. anak cewek jangan begadang!!"


"Iya-iya, kalo gitu Salisa tutup ya ka. Good Night."


Aldo semakin dibuat gelisah setelah menerima telefon dari Salisa.


****

__ADS_1


Esok harinya Aldo dan Salisa bertemu di Cafe yang telah disepakati. Aldo langsung menghujani Salisa dengan segala pertanyaan menyangkut Alisya.


"Satu-satu kenapa ka tanyanya. Salisa kan jadi pusing, jawabnya mesti dari mana. Sebelum Salisa jawab pertanyaan ka Aldo, Salisa mau mengajukan satu pertanyaan. Plis jawab dengan jujur."


"Iya, Ayo cepat katakan." Aldo sedikit geram dengan Salisa yang tak segera menjawab pertanyaannya malah balik memberinya pertanyaan.


"Apakah ka Aldo mencintai ka Alisya..?"


Aldo terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk calon adik iparnya itu. Aldo masih begitu berharap suatu hari bisa bersanding dengan Alisya.


"Aku sangat mencintai Alisya, Sampai-sampai aku memendam perasaan ini begitu lama karena takut menerima penolakan dari Alisya. Aku sangat takut jika harus kehilangannya Salisa. Tapi justru kini aku melukai hatinya. Kini penyesalanku terasa begitu terlambat. Sekarang Alisya akan benar-benar pergi dan bersama dengan laki-laki lain."


"Hemm,,,, sudah kuduga." Salisa tersenyum pelik tak kala keputusannya untuk mengajak bertemu dengan Aldo kali ini adalah tindakan yang paling tepat menurutnya.


Begitu nampak jelas penyesalan itu di wajah Aldo. Bahkan Salisa juga dapat melihat kesedihan yang mendalam di hati laki-laki yang kini tertunduk dengan rasa bersalahnya.


"Aku tak tau harus berbuat apa Salisa, Apakah aku harus begitu egois merusak rencana pernikahan itu. Tapi apakah aku juga akan berdiam diri saja melihat gadis yang sangat aku cintai jadi milik orang lain. Makanya saat ini aku berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku mohon jelaskan padaku Salisa..!! Apa yang sebenarnya yang membuat Alisya memutuskan menikah..? Aku rasa ini terlalu mendadak."


"Kau ini, banyak sekali pertanyaan ku yang bahkan satu pun belum kau jawab, sudah bertanya lagi. Ayo cepat katakan!"


"Siapa Ka Nesyah itu..? dan apa hubungan wanita cantik itu dengan ka Aldo..?"


"Itu dua pertanyaan Salisa, bukan satu," Tutur Aldo dengan tawanya.


"Hah.. ka Aldo dalam situasi seperti ini masih saja bercanda. Ayo cepat jawab pertanyaan Salisa. Atau kaka mau Aku tidak akan menjawab pertanyaan kaka," Ancam Salisa dengan nada penuh penekanan.


"Sebenarnya, Nesyah itu pacar bayaran ku. Aku meminta tolong kepada Nesyah agar mau jadi pacar Pura-pura ku. Waktu itu aku terlalu berpikir pendek, Aku hanya ingin tau apakah kakakmu Alisya cemburu jika aku bersama wanita lain. Dengan begitu aku bisa tau perasaan Alisya yang sebenarnya dengan melihat responnya. Selama ini kan aku selalu dingin dengan setiap wanita yang mencoba untuk mendekatiku, makanya sesekali aku ingin mengetes Alisya."


"Lalu sekarang ka Aldo juga tau kan kalau ka Alisya juga sangat mencintai Ka Aldo. Bahkan waktu itu ka Alisya menangis tanpa henti disepanjang perjalanan pulang dari pesta itu. Ka Alisya mengendarai mobil kami dengan kecepatan tinggi, aku masih ingat betul waktu itu. Bahkan Salisa harus membujuk ka Alisya agar mau bertukar mengemudinya. Apakah ka Aldo tau ka Alisya begitu terpukul dengan sandiwara ka Aldo itu..?"


Salisa menunjukan ekspresi kekecewaannya pada laki-laki dihadapannya.

__ADS_1


Aldo begitu terbelalak mendengar pengakuan dari Salisa. Matanya membulat sempurna, kini penyesalannya bertambah memuncak.


Kenapa aku jadi sebodoh ini. Bahkan aku tidak tau jika Alisya begitu terluka dengan tindakan konyol ku itu.


"Untungnya waktu itu ada ka Adrian yang membatu ka Alisya menenangkan hatinya. Sebenarnya sih Salisa suka-suka aja ka Alisya akan menikah dengan ka Adrian. Laki-laki itu cukup tampan dan baik hati. Salisa lihat ka Adrian juga sangat mencintai ka Alisya. dan dia yang membantu ka Alisya selama ini untuk melewati hari-hari kaka yang bertambah berat dengan papa yang tiba-tiba kambuh penyakitnya."


"Tapi Salisa apakah kamu tidak sedikit saja kasian padaku yang sangat mencintai kakakmu..?" Tutur Aldo dengan wajah memelas nya.


"Astaga ka Aldo.." Salisa menghela nafas begitu dalam.


Kenapa laki-laki itu kurasa jadi begitu bodoh jika dihadapkan dengan hal percintaan ya..?


"Inilah alasan Salisa mengajak ka Aldo bertemu. Sejak Salisa mengamati kedekatan kalian yang tidak biasa dan adegan kejar-kejaran seperti Tom and Jerry di acara Baksos itu, Salisa jadi tau kalau kalian itu sebenarnya saling suka."


Aldo merasa sedikit malu tatkala perasaannya diketahui oleh gadis yang dirasa masih begitu naif jika berurusan dengan masalah percintaan. Namun semua pandangannya itu kini sirna, berganti dengan kekaguman dengan tingkat kedewasaan bocah yang selalu dianggapnya sebagai adik kecilnya itu.


"Walaupun Salisa tidak sepenuhnya menolak ka Adrian sebagai calon kaka ipar, tapi Salisa tidak ingin jika ka Alisya sampai menyesal dikemudian hari karena keputusannya yang hanya memikirkan kebahagiaan orang lain. Sepertinya ka Alisya menerima cinta ka Adrian karena ingin membahagiakan papa yang saat ini sedang sakit dan ingin sekali mendapatkan seorang cucu sebelum kepergiannya. Ka Aldo bisa memahami kan kalau orang yang sedang sakit itu terkadang pikirannya suka aneh-aneh. Padahal Salisa yakin Papa akan segera pulih seperti sedia kala."


"Salisa juga berpikir mungkin kaka juga putus asa karena patah hati dengan Ka Aldo yang sudah punya wanita lain yang dicintai. Begitu pemikirannya saat ini yang tak tau jika ka Aldo bersandiwara."


Aldo seperti mendapat angin segar mendengar penjelasan dari Salisa. Kini hatinya sedikit menjadi berbunga-bunga kembali. Walaupun saat ini juga ia harus memikirkan cara bagaimana untuk mendapatkan Alisya kembali.


Aldo sangat berterimakasih pada Salisa yang sudah mau memberinya informasi sepenting itu padanya. Sebagai imbalan Aldo mentraktir Salisa makan sepuasnya di Cafe itu. Aldo sangat tau jika Salisa calon adik Iparnya itu sangat doyan makan. Begitu pikir Aldo yang baru saja mendapat sinar terang dari Surga.


*


*


~Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2