
Jacob bersama dengan Reno datang ke perusahaan milik Aldo dan berencana untuk menjalin hubungan bisnis dengan pengusaha muda yang akhir-akhir ini ramai diperbincankan karena prestasinya.
Setiba di kantor yang bergaya khas bagunan industrual modern itu, Jacob dan Reno segera menuju ke receotionis dan menanyakan keberadaan Tuan Aldo putra winata selaku pimpinan sekaligus pemilik dari perusahaan.
Sayangnya saat itu Aldo sedang tidak ada di kantor. Akhir-akhir ini Aldo memang lebih sering work from home ketibang pergi ke kantornya. Semua itu ia lakukan untuk menebus waktu yang terbuang selama ini ketika ia harus meninggalkan Alisya untuk bekerja seharian penuh. Bahkan saat ia harus tak pulang ke rumah selama beberapa hari karena harus bekerja dan menemui klien di luar kota.
Aldo sudah berjanji kepada Alisya jika permasalahan yang selama ini memperlambat proses produksi bisa teratasi maka ia akan lebih banyak tinggal di rumah. Apalagi saat ini Alisya istri yang sangat dicintainya sedang hamil, mengandung anak mereka.
Semua lelah dan kerja keras Aldo sudah terbayarkan. Walaupun belum sesuai target utamanya untuk go international akan tetapi setidaknya saat ini ia sudah bisa menepati janjinya untuk Alisya.
Jacob cukup kecewa karena ia tidak bisa bertemu dengan Aldo saat itu. "Bagaimana ini Jacob? apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Reno yang tak tau harus mengambil keputusan seperti apa untuk bisa membantu bosnya itu.
"Kamu tenang saja. Aku akan mencari cara lain agar bisa bertemu dengan Tuan Aldo." Jawab Jacob dengan nada datarnya.
Receptionis sudah mengatakan jika saat ini Tuan Aldo sedang cuti selama sebulan untuk watu bersama dengan keluarganya. Tuan Aldo juga telah berpesan untuk tidak mengganggunya selama cuti berlangsung. Perusahaan cukup melaporkan semuanya melalui email. Tuan Aldo hanya sesekali datang ke perusahaan untuk cek quality control. Itupun perusahaan juga tidak tau kapan Tuan Aldo akan datang untuk berkunjung. Semua pekerjaan penting sudah diserahkan kepada asistannya yang akan melaporkan setiap hari tanpa harus bertemu.
"Tapi bagaimana caranya Jacob? Bahkan kita tidak mendapatkan nomor contak untuk menghubunginya." Sambung Reno bertanya-tanya apa rencana dari Jacob yang terlihat santai seperti sudah mendapat jalan keluar terbaik untuk bisa bertemu dengan Tuan Aldo.
"Aku pernah mendengar rumor bahwa Tuan Aldo mempunyai sebuah Villa yang terletak di perkebunan Tehnya. Tadi aku juga sempat membaca di internet bahwa ia saat ini sedang membangun sebuah rumah mewah di atas bukit khusus untuk istrinya saat diwanwancarai wartawan setempat yang datang ke perkebunannya langsung saat wawancara."
"Jadi sekarang kita akan datang ke perkebunannya?" tanya Reno sekali lagi yang sebenarnya sudah tau jika hari ini ia akan bekerja lembur lagi dengan bosnya.
"Tentu saja. Jadi mau kemana lagi? Kenapa lama-lama kamu jadi lemot begini, sia-sia aku membayarmu mahal." Sindir Jacob kepada Reno.
"Tuh kan mulai lagi. Aku hanya bertanya saja, barang kali kita akan pulang dulu atau setidaknya beristirahat sebentar saja. Kamu kan juga tau jika semalam kamu memaksaku untuk ikut begadang sampai menjelang pagi untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan dari lima tahun yang lalu. Dan aku baru tidur selama dua jam, tapi kamu sudah mengajakku kemari. Bukankah itu termasuk kerja rodi? aku bisa saja melaporkanmu ke dinas pekerjaan." Keluh Reno yang matanya tampak hitam dan sudah menguap berulang kali selama ia mengikuti bosnya yang gila kerja itu.
"Ayolah Reno, bukankah kamu ini sahabatku. Bahkan kamu juga aku gaji tiga kali lipat selama ikut denganku ke perusahaan kopi ini. Waktu kita saat ini tidak banyak. Bisa-bisa perusahaan kita sudah keburu bangkrut jika kita tidak segera mengatasi masalah perusahaan yang begitu banyak itu."
"Iya-iya, kalau sedang seperti ini saja kamu sebut aku sebagai sahabat. Tapi tak apalah, karena aku sudah memutuskan untuk ikut, aku akan menemanimu sampai akhir. Untung kamu menggajiku tiga kali lipat, jika tidak siapa juga yang mau ikut berjuang di perusahaan yang sudah remuk seperti itu." saut Reno yang akhirnya mengalah.
"Nah gitu dong. Tak sia-sia aku punya teman sepertimu." jawab Jacob sambil merangkul Reno dan mengajaknya kembali ke mobil mereka.
"Sebenarnya aku ragu kita bisa memperbaiki dan membangun perusahaanmu itu Jacob. Akan tetapi jika kita berhasil, kamu harus berjanji kepadaku untuk membelikanku paket liburan ke Maldives selama seminggu." pinta Reno dengan wajah yang berbinar-binar membayangkan berlibur dan bersantai di pulau yang sudah terkenal akan keindahannya itu.
__ADS_1
"Ide bagus juga tuh. Aku pasti juha akan berlibur kesana. Mungkin saja nanti Ana juga bisa ikut dengan kita." saut Jacob yang ikut senang saat hanya membayangkannya saja.
"Ana? Ngomong-ngomong bagaimana kabar kekasihmu itu? bukannya Ana saat ini berada di Paris? Aku ikut sedih ketika mendengar bahwa rencana lamaranmu gagal. Apakah Ana sudah tau jika kamu ingin melamarnya saat itu?"
"Tidak Reno. Sampai saat ini Ana belum tau jika waktu itu aku memintanya untuk ikut ke bali karena untuk melamarnya. Ana pasti akan merasa bersalah jika mengetahui kebenarannya."
"Benar juga. Tapi hubunganmu dengannya masih hangat-hangat saja kan? Banyak yang bilang jika hubungan jarak jauh itu membutuhkan cinta yang lebih besar agar bisa tetap bertahan. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk kalian. Bukankah kalian ini sudah menjadi pasangan sejati semenjak dari kecil? " Reno menimpali pertanyaannya.
Jacob terdiam sejenak. Ia berharap perkataan sahabatnya itu benar adanya. Karena entah mengapa akhir -akhir ini Jacob merasa begitu jauh dari Ana. Jacob masih selalu berprasangka baik bahwa apa yang dirasakannya saat ini memang karena jarak dan perbedaan waktu yang memisahkan mereka berdua. "Entahlah, Saat ini Ana sedang sibuk dengan usahanya untuk mencapai puncak karir. Begitu juga dengan aku yang saat ini juga sangat sibuk dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran ini. Mungkin itu sebabnya akhir-akhir ini jarang berkomnikasi." jawab Jacob membenarkan apa kata hatinya.
"Sudahlah Jacob. Jika nanti Ana sudah pulang, kalian pasti bisa seperti dulu lagi yang bagaikan sendok dan garpu yang selalu tak terpisahkan." saut Reno mencoba menyemangati sahabatnya. Mungkin saat ini hanya Renolah yang mengetahui bagaimana kisah tentang Jacob dan Ana.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai bekerja lagi." ucap Jacob sambil menyalakan mesin mobilnya. Setiba di perkebunan, Jacob dan reno dibuat kagum dengan para pekerja yang merawat pekebunan itu dengan kesungguhan hati. Dari kejauhan juga terlihat para pekerja bangunan yang sedang mengerjakan pekerjaanya membangun sebuah rumah yang kelihatannya akan menjadi hunian mewah nan megah.
Jacob dan Reno datang ke perkebunan karena mungkin saja Tuan Aldo sedang berada disana untuk melihat perkembangan pembangunan rumahnya.
Saat Jacob sedang melihat-lihat dan ingin bertanya kepada seseorang disana, ia melihat sebuah balok kayu di atas bangunan yang sepertinya akan jatuh dan menimpa seseorang yang saat ini tidak menyadari dan tengah berada dibawahnya. Besar kemungkinan orang itu akan tertimpa balok jik tak segera pergi menghindar.
"Gedebuug" Suara tubuh kedua orang itu yang terjatuh ke tanah. Orang itu tak lain adalah Jacob dan seorang lagi yang ternyata adalah Tuan Aldo yang Jacob cari saat itu.
Melihat kejadian yang hampir mencelakai Tuannya itu, para pekerja segera berlari dan berkerumun mengelilingi Jacob dan Aldo yang saat ini sedang dibantu berdiri oleh Reno dan beberapa pekerja yang tak jauh dari tempat kejadian.
Seorang laki-laki yang sepertinya adalah seorang mandor di tempat itu segera menghampiri dan menanyakan keadaan Tuannya dan meminta maaf atas kelalaian dari para pekerjanya itu.
"Tuan, Tuan Aldo. Bagaimana keadaan anda saat ini. Sangat sangat bersalah dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini Tuan. Saya akan bertanggungjawab sepenuhnya atas kelalaian saya. Bagaimana jika sekarang kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Tuan Aldo." Sekali lagi laki laki-laki itu membungkuk dan meminta maaf dengan tulus kepada Tuannya itu.
"Sudah-sudah tidak perlu. Aku baik-baik saja. Untung saja ada Tuan ini yang segera menyadari keadaan dan dengan sigap menolongku." Ucap Aldo sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor. "Terimakasih banyak Tuan. saya sangat berterumakasih kepada Tuan, jika tadi Tuan tidak ada disini dan menyadarinya mungkin saja saat ini saya sedang berada di rumah sakit." ucap Aldo kepada Jacob.
Jacob cukup terkejut ketika laki-laki yang sepertinya mandor itu menyebut orang yang ditolongnya dengan sebutan tuan Aldo. "Tidak masalah Tuan Aldo, sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong Tuan Aldo." jawab Jacob dengan santun.
"Apakah Tuan mengenaliku? dan untuk apa Tuan kemari? Sepertinya Tuan datang dari jauh." tanya Aldo kepada orang yang telah menolongnya itu.
"Oh iya Tuan, sebenarnya.... Ahh perkenalkan dulu, saya Jacob dan ini asistan saya Reno. Saya dari perusahaan Kopi anak cabang dari group Sanhai." ucap Jacob sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. "Sebenarnya saya kemari memang ingin bertemu dengan Anda Tuan Aldo. Tadi saya datang ke perusahaan Tuan, tapi ternyata Anda sedang tidak ada di tempat. Saya iseng-iseng datang kemari karena mungkin saja Tuan Aldo sedang ada disini. Saya juga tidak menyangka jika pertemuan pertama kita akan seperti ini Tuan. Tetapi saya sangat senang bahwa saya bisa menolong Tuan."
__ADS_1
"Benarkah? Sepertinya ada hal penting yang ingin Tuan Jacob bicarakan."
"Benar Tuan Aldo. Panggil saja saya Jacob Tuan. Sepertinya sebutan itu lebih pantas untuk saya."
"Baiklah kalau begitu kamu juga boleh memanggilku dengan sebutan Aldo saja. Aku sudah berhutang budi padamu Jacob. Jadi jika ada sesuatu yang bisa aku bantu, maka aku akan membantumu." ucap Aldo dengan wibawanya. "Astaga Jacob, sepertinya sikumu terluka." sambung Aldo yang melihat di lengan kemeja Jacob yang terlihat kemerahan karena luka.
Jacob segera melihat sikunya dan memeriksa lukanya. Sebenarnya Jacob sudah tau jika ia terluka karena rasa perih yang Jacob rasakan. Akan tetapi, Jacob menahannya sedari tadi karena tidak ingin kehilangan momen berharga itu untuk berbicara dengan Aldo. Setidaknya agar ia bisa mendapatkan kontak dari orang yang sangat diharapkan bisa bekerja sama dan bisa menjadi konsultan bisnisnya saat ini.
"Hanya luka kecil Tuan Aldo, tidak masalah. Setelah ini saya akan menhobatinya di dalam mobil. Kebetulan saya selalu membawa kotak P3K."
"Tidak apa-apa bagaimana? Luka itu harus segera dibersihkan dan diobati. Nanti bisa-bisa malah terkena inveksi jika tidak segera menganganinya. Bagaimana jika sekarang kamu ikut denganku kerumah. Nanti Aku bisa membantumu mengobatinya. Kita juga bisa berbincang-bincang setelah itu." ajak Aldo dengan kesungguhan hatinya.
"Terimakasih banyak Tuan Aldo. Tapi sepertinya dilain waktu saja. Setelah ini asistan saya reno akan membantu mengibati luka saya. Sebaiknya Tuan Aldo juga beristirahat dan menenangkan hati terlebih dulu. Saya yakin hati anda juga sedikit terguncang karena kecelakaan yang hampir melukai Anda." tutur Jacob ingin membuat kesan baik untuntuk pertemuan pertamanya dengan Aldo.
"Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya ijinkan aku pergi setelah melihatmu selesai diobati." jawab Aldo dengan sungkan.
"Terimakasih atas perhatian anda Tuan Aldo. Tetapi bolehkah saya mendapatkan nomor kontak Anda?" tanya Jacob dengan penuh harap.
"Tentu saja." Kemudian mereka saling bertukar kartu nama. "Di dalam kartu nama itu ada kontak pribadiku, kamu boleh sewaktu-waktu menghubungiku."
"Terimakasih Tuan Aldo." Jacob kemudian mengibati luka di sikutnya dibantu oleh Reno. Aldo juga berada disana sampai Reno selesai membubuhkan anti septik, obat merah dan menutup lukanya dengan kain kasa dan juga plester.
Selesai diobati, kemudian Jacob dan Reno pamit undur diri. Tetapi sebelum mereka pergi. Aldo bilang kepada Jacob bahwa nanti saat ia ada waktu luang Aldo akan menghubungi Jacob dan bertemu dengannya. Saat ini Aldo juga tidak bisa sembarangan lagi membuat janji temu dengan orang lain. Karena Aldo sudah berjanji kepada Alisya bahwa waktu sebulan ini ia khususkan untuk menemani istrinya. Oleh sebab itu Aldo harus meminta ijin kepada Alisya terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan orang lain, terutama jika itu berhubungan dengan perusahaan atau bisnis yang selama ini telah banyak menyita waktu kebersamaan mereka.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1