CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PERMINTAAN PAPA


__ADS_3

Sementara, setelah kejadian menemui paman Doni itu berlangsung, Adrian semakin sering berkunjung ke rumah Alisya, laki-laki itu semakin dekat dengan keluarga Alisya.


Suatu hari penyakit jantung papa Antoni tiba-tiba kambuh. seisi rumah begitu panik. saat itu Adrian juga sedang ada dirumah Alisya, mereka semua segera membawa papa Antoni ke Rumah Sakit dengan Adrian sebagai drivernya.


Papa antoni memang sudah mengidap sakit jantung sejak lama. didalam jantungnya sudah dipasang Ring untuk membantu mengatasi pembuluh darah yang tersumbat oleh kolesterol.


Sudah begitu lama penyakit papa Antoni tidak kambuh semenjak pemasangan Ring itu. Entah apa yang memicu kambuhnya penyakit papa Antoni.


Papa antoni terbaring di ruang ICU, doter yang menanganinya memohon kepada seluruh anggota keluarga untuk menunggu di luar.


Terlihat ketakutan dan kecemasan di wajah mereka semua. Mama maria berdiri sambil mondar mandir mencoba mengatasi kekhawatirannya. Alisya dan Salisa duduk bersebelahan saling menyandarkan tubuh mereka. terlihat butiran bening mengalir di ujung mata Alisya.


"Kaka tenanglah, salisa yakin papa akan baik-baik saja." tutur Salisa mencoba menenangkan kakaknya. diantara semuanya memang Alisyalah yang paling perasa. Alisya sering tak dapat menahan perasaannya ketika menghadapi kesedihan.


Adrian juga masih setia menemani keluarga Alisya, ia duduk di samping Alisya jan beberapa kali memberikan semangat untuk Alisya yang masih menangis dengan mengusap lembut bahu Alisya.


Dokter yang menangani papa Antoni akhirnya keluar, Ia menjelaskan bahwa saat ini tuan Antoni sudah tidak apa-apa, hanya saja tuan antoni harus dirawat beberapa hari sampai keadaanya membaik.


"Serangan jantung pasien terjadi karna faktor kelelahan dan stres yang berlebihan. saya sudah memberikan beberapa obat untuk tuan Antoni, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang inap. Kalian bisa menemaninya disana" Kemudian Dokter itu pamit undur diri.


"Mungkin papa stres karna kemarin terlalu memikirkan soal perjodohan itu. tapi kenapa kambuhnya malah sekarang setelah masalah itu teratasi." Alisya begitu sedih memikirkan semua itu.


Adrian berpamitan untuk pulang karna hari sudah malam. Ia berjanji jika esok akan kembali lagi kerumah sakit untuk menemani mereka lagi.


Mama Maria duduk disamping Suaminya yang sedang tertidur di atar pembaringan. Alisya dan Salisa berdiri dibelakang mamanya sambil memberikan pijatan ringan di bahu mama maria.

__ADS_1


"Mama istirahatlah dulu, Alisya dan salisa yang akan menemani papa." bujuk Alisya pada mamanya.


"Tidak Alisya, biar mama saja yang menemani papa, kalian istirahatlah dulu."


"Kami kan masih muda ma, masih kuat untuk begadang. lagipula kami juga tidak ingin mama nanti ikut-ikutan sakit karna kirang tidur."


Mama maria akhirnya menyetujui permintaan Anaknya, lagipula ia juga punya riwayat vertigo, mama tidak ingin tambah menyusahkan kedua putrinya jika penyakitnya ikut kambuh.


Mama akhirnya membaringkan tubuhnya di kasur yang khusus disediakan untuk keluarga pasien. tak butuh waktu lama bagi wanita parubaya itu untuk terbawa dalam tidurnya.


waktu sidah menunjukan pukul 02.00 dini hari. Salisa sudah berkali-kali menguap dan tak tahan dengan rasa kantuknya. namun salisa terlihat memaksakan diri untuk tetap terjaga.


"Salisa tidurlah di sofa, jangan sampai nanti papa terbangun gara-gara kamu jatuh tersungkur ke lantai karna tertidur."


"Baiklah ka, Salisa tidur dulu ya.. kalau ada apa-apa cepat bangunlan aku." Salisa berjalan terhuyung menuju sofa panjang di sudut ruangan.


Alisya terbangun ketika merasakan sentuhan lembut yang membelai rambutnya.


"Papa sudah bangun..? apakah papa ingin minum..?" papa Antoni mengangguk pelan. Alisya kemudian menuangkan air putih ke dalam gelas yang berada diatas meja kecil tepat disebelahnya.


"Ayo pa, Alisya bantu untuk bangun." Alisya membantu papanya untuk duduk, kemudian Alisya memegangkan gelas berisi air itu dan membantu papanya untuk minum.


"Bagaimana pa..? Ada yang bisa Alisya bantu..? atau papa mau tidur lagi..?"


"Yidak Alisya, terimakasih." papa antoni menyandarkan tubuhnya untuk menyangga berat tubuhnya.

__ADS_1


"Alisya, sebelum papa meninggal papa ingin melihat kamu menikah dan mempunyai seorang anak, papa ingin sekali menimang cucu. Papa takut umur papa sudah tidak lama lagi. untuk itulah kemarin papa menyetujui perjodohan itu, mamun ternyata papa disadarkan bahwa tak semua laki-laki itu baik. papa juga tidak mau jika anak papa yang cantik ini harus menikah dengan pria yang tidak baik."


Papa antoni berbicara denganata sayunya, sedangkan Alosya mendengarkan perkataan papanya dengan begitu seksama.


mulai sekarang papa tidak akan menjodohkanmu lagi, tapi papa mohon segeralah mencari laki-laki yang benar-benar tulis mencintaimu Alisya .


Dengan penyakit papa yang tiba-tiba kambuh ini, papa takut papa tidak bisa melihatmu bersanding dengan pria idamanmu, bahkan untuk menimang cucu.


"Papa ini bicara apa sih. papa akan segera sembuk dan baik-baik saja, besok kita akan pulang, kita akan berkumpul kembali dan bersenda gurau lagi pa, Alisya janji. akan segera menemukan laki-laki itu pa. tapi Alisya mohon. papa harus semagat. papa juga harus janji kepada Alisya, bahwa papa akan segera pulih dan nanti akan menjadi wali dipernikahan Alisya. Alisya juga berjanji papa akan mendapatkan cucu-cucu yang menggemaskan. " Alisya begitu terharu, tak sadar jika butiran-butiran bening sudah membasahi pipinya.


"Baiklah Anakku sayang. sekarang papa sudah begitu lega, papa akan tidur lagi agar cepat pulih dan besok bisa segera pulang kerumah."


Papa Antoni kemudian kembali berbaring, tentu saja dengan bantuan dari alisya, Alisya kemudian merapikan lagi selimut papanya. Papa antoni sudah memejamkan matanya kembali, nafasnya sudah terlihat teratur tanda pria itu sudah tertidur kembali.


Alisya memandangi papanya dengan begitu pilu, ia mengingat kembali perkataan dari papanya tadi. Alisya sangat ingin membuat papanya bahagia, Namun ia begitu sedih karna Laki-laki yang ia harapkan menjadi pendampingnya kini sudah memiliki pujaan hatinya sendiri.


"Doakan Alisya, agar segera menemukan pria itu pa, laki-laki yang benar-benar mencintai Alisya apa adanya. dan menyayangi Alisya dengan cinta yang begitu hangat. Laki-laki yang mau berjuang bersama dalam suka maupun duka, laki-laki yang dengan gentle mau mengakui kesalahannya dan mau berusaha untuk memperbaikinya. Alisya tidak mengharuskan seorang yang kaya raya tapi dia harus mau bekerja keras untuk menghidupi keluarganya nanti" begitulah kira-kira harapan Alisya tentang laki-laki idamannya.


Alisya begitu lelah dengan angan-angannya yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya. Alisya sangat takut jika ia tidak bisa memenuhi permintaan papanya. Alisya memang ingin segera menikah, usianya kini sudah menginjak 23 tahun dan selama ini Alisya masih begitu setia menunggu jika suatu saat Aldo ternyata juga menaruh rasa padanya dan mengutarakan perasaannya. namun pengakuan Aldo kemarin sungguh membuat hati Alisya terluka. harapannya pupus begitu saja. Alisya sangat sedih dan tak tau apakah ia bisa membuka hatinya untuk pria lain. tanpa sadar akhirnya Alisya kembali tertidur di kursinya lagi.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2