CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PINDAH RUMAH PART 3


__ADS_3

Akhirnya Alisya dan Aldo sampai di tempat tujuan mereka. Keduanya disambut dan dilayani dengan begitu ramah oleh para pegawai yang ada disana.


Karena tidak ingin Alisya yang sedang hamil terlaku kelelahan, maka Aldo mengajak Alisya untuk duduk terlebih dahulu dan melihat beberapa katalog produk yang mereka sediakan.


Alisya terlihat begitu antusias dengan membolak-balik halaman demi halaman katalog berisi foto-foto semua produk yang di display di tempat itu. Bahkan Alisya dan Aldo juga bisa memesan furniture sesuai dengan selera keduanya.


"Bagaimana kalau kita ambil paket yang ini saja Aldo? aku sangat suka dengan modelnya yang minimalis tapi tetap terlihat elegan. Warnanya pasti juga akan serasi dengan rumah kita yang banyak didoninasi oleh warna-warna cerah." kata Alisya sambil menujuk satu set lengkap berisi Kitchen Set, Diningroom Set, Livingroom Set, Bedroom Set, Bathroom Set dengan model dan warna yang senada.


"Aku memang tak pernah salah memilih kamu sebagai istriku Alisya. Bahkan untuk selera kitapun sama. Aku sangat menyukai pilihanmu." jawab Aldo dengan mendedipkan satu matanya unyuk Alisya.


"Is narsis amat, kenapa aku bisa menyukai laki-laki yang sok ganteng seperti itu ya." gumam Alisya dan tak membalas kedipan mata suaminya. Pandangan Alisya kemudian mengikuti kemana Aldo pergi. Laki-laki yang dianggapnya begitu suka mencari peehatian kepadanya itu sedang melihat satu-persatu lukisan yang terpajang di setiap dinding ruangan itu.


"Tapi jima diperhatikan memang ganteng sih. Kalau tidak rupawan mana mungkin Aldo bisa membuatku terpikat sejak kami masih kecil." Alisya melanjutkan gumamanya dalam hati.


Hari itu Aldo memang tampak memesona dengan setelan kaos berwana putih dan jaket kulit berwana hitam. Aldo juga mengenakan celana jeans ketat yang membuat kakinya tampak begitu jenjang. Sepatu kulit model boat juga melengkapi penampilannya yang pasti akan membuat banyak perhatian tertuju padanya. Soal pakaian, Aldo memang selalu tampil trandy dan stylist dari sebelum ia memenangkan hatinya Alisya.


Berbeda dengan Alisya yang sering tampil apa adanya dan tak berdandan layaknya kebanyakan wanita pada umumnya. Tapi semua itu tak membuat Alisya keurangan pesonanya. Alisya memang sudah terlahir dengan wajah yang rupawan. Walaupun Alisya tak berdandan sekalipun, ia akan tetap terlihat cantik dan memikat. Alisya juga pandai memadu-madankan pakaiannya sehingga tetap terlihat trendi walau sebenarnya Alisya tak pernah mengeluarkan biaya yang mahal untuk mengikuti trend busana yang kekinian.


Hari itu, Alisya dan Aldo begitu puas melihat-lihat perabotan rumah tangga yang akan mereka boyong ke rumah baru mereka. Setelah dirasa cukup, Alisya dan Aldo meminta agar pengiriman dilakukan hari itu juga, Mereka berdua sengaja ingin mengundang keluarganya untuk makan malam bersama sekaligus untuk merayakan kepemilikan rumah baru mereka.


Alisya juga tak lupa untuk mengundang adiknya Salisa yang kini telah hidup dan perpindah rumah ke keluarga barunya. Alisya sengaja mengirimkan pesan undangan ke nomor Jacob, karena ia tau bahwa hubungan Salisa dan Jacob saat ini tidaklah seperti hubungan normal suami istri. Dengan mengirimkan pesan itu kepada Jacob, tentu laki-laki yang saat ini menyandang gelar sebagai suami adiknya itu pasti juga akan ikut datang. Berbeda jika Alisya mengirimkan udangannya kepasa Salisa langsung, adiknya itu pasti tidak akan memberitahukannya kepada Jacob dan akan datang sendirian dengan mencari alasan bahwa suaminya sedang sibuk bekerja dan tidak bisa datang.


Memang benar prediksi Alisya, Jacob langsung membalas undangannya dan berjanji akan datang bersama Salisa. Sedangkan Salisa yang mendapat kabar dari Jacob langsung menelfon Alisya dan mempertanyakan kenapa Kakaknya tidak menberitahunya langsung.


Sore harinya, semua ruangan di rumah Alisya dan Aldo telah terisi dengan interior dan hiasan yang membuat rumah itu semakin terlihat cantik dan elegan. Alisya juga sengaja memotong beberapa bunga mawar yang tumbuh di taman depan dan taman belakang rumah mereka. Alisya merangkainya dengan begitu cantik dan meletakannya si dalam fas bunga yang kini semakin mempercantik hunian baru mereka.


Karena hari itu mereka sangat lelah karena seharian menata dan mempercantik rumah, maka Alisya dan Aldo sudah memesan makanan favorit keluarga mereka dari resto ternama untuk hidangan makan malam kali ini. Setelah pesana mereka datang, Alisya buru-buru menata semua hidangan di meja makan dan dibantu oleh suaminya.


Walaupun rumah baru mereka cukup besar dan luas, namun Aldo dan Alisya telah sepakat untuk tidak mempekerjakan orang untuk membantu mereka. Aldo juga berjanji bahwa ia yang akan beetugas untuk membersihkan dan merawat rumah mereka dengan baik. Hal itu memang sudah jadi keputusan Aldo juga karena ia tidak suka jika aka orang luar yang akan mengganggu keintiman keluarganya.


"Kamu istrirahatlah dulu Alisya, jangan sampai kamu dibuat kelelahan karena semua ini. Aku tidak mau jika sampai kamu dan bayi kita kenapa-napa karena kamu terlalu kelelahan." ucap Aldo yang menyeret salah satu kursi di meja makan mereka dan mempeesilahkan Alisya untuk duduk.


"Biarkan aku yang akan menyelesaikan pekerjaan ini. Kamu tunggulah sebentar dan duduk manis di kursi ini. Nanti setelah aku selesai menata hidangan ini, aku akan membawamu ke kamar dan memijit kakimu. Aku tau jika saat ini kakimu pasti merasa pegal-pegal karena sudah bekerja keras seharian ini." tutur Aldo melanjutkan kata-katanya.


Alisya tersenyum dan menuruti kemauan suaminya. Lagi pula Alisya memang merasa capek dan pegal-pegal karena hari ini ia terlalu banyak berjalan dan beraktifitas. "Terimakasih sayangku." ucap Alisya yang telah duduk di kursi yang disediakan Aldo untuknya. Alisya memberikan senyuman termanisnya untuk suaminya itu. Alisya juga mengelus lembut perutnya yang kini mulai tampak sedikit berisi ketimbang biasanya.


Melihat istrinya mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, membuat Aldo tergerak hatinya. Aldo menunda sebentar pekerjaannya dan datang menghampiri Alisya. Aldo jongkok di hadapan Alisya dan ikut mengelus perut istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Baik-baik di dalam perut Mama ya sayang, Papa akan menyayangimu sebesar Papa juga menyayangi Mamamu. Jika kamu laki-laki Papa akan memberimu nama Gandi Winata, dan jika kamu perempuan maka Papa akan memberimu nama Gloria Origita. Apakah kamu suka?" Aldo bertanya kepada anaknya yang tentu saja tidak akan menyautinya.


"Cerita apa yang nanti malam ingin kamu dengar anakku sayang? Papa sudah membelikan lagi buku dongeng untukmu."


"Emm seoertinya aku ingin mendengar kumpulan cerita Kancil yang cerdik Papaku sayang." ucap Alisya mewakili anaknya. Selama ini mau tidak mau Alisyalah yang menjadi pendengar setia ketika Aldo mendongeng untuk buah hati mereka. Lama-kelamaan Alisya menikmati cerita yang hampir setiap malam dibacakan oleh suaminya itu. Terkadang Alisya bahkan yang meminta Aldo untuk mendongeng untuknya agar ia bisa cepat tertidur dengan lelap.


Selesai dengan menata hidangan, Aldo menepati janjinya untuk Alisya. Aldo membopong istrinya ke kamar dan membaringkannya dengan pelan. Aldo kemudian mengambil minyak zaitun untuk membalur dan memijit kaki Alisya. Saat itu mereka memang masih mempunyai waktu satu jam untuk menunggu kedatangan keluarga besar mereka.


Alisya terlihat begitu menikmati pijitan dari suaminya. Alisya bahkan sempat teetidur sebentar dan kembali tersdar karena ulah Aldo yang menggelitiki telapak kakinya.


****


Sementara malam itu di kediaman keluarga Oetama, Jacob telah berpakaian rapi dan menunggu Salisa yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Salisa memperhatikan Jacob yang sudah terlihat rapi dan beepakaian formal dari balik kaca yang sama dengannya. Jacob terlihat sedang merapikan kemejanya yang ternyata salah dalam penempatan kancingnya.


Salisa terlihat menahan tawanya melihat tingkah Jacob yang begitu polos seperti sekarang ini. Bahkan Salisa belum pernah Jacob terlihat begitu gugup karenanya.


"Kamu sedang mentertawakan aku Salisa?" tanya Jacob dengan nada yang tak bersahabat.


"Hah, apakah kamu tidak tau jika kata-katamu itu begitu menyakitkan hatiku Salisa." ucap Jacop sambil menggerutu tidak jelas.


Salisa terdiam, ia tak menyangka jika Jacob ternyata juga begitu perasa hatinya. "Maafkan aku Jacob, aku benar-benar menyesal karena telah mengatakannya."


"Jika kamu memang menyesal bantu aku memakainya dengan benar." kata Jacob memberi perintah.


"Baiklah." Salisa mematikan hairdryer yang masih menyala dan berbalik menghampiri Jacob. "Harusnya seperti ini Jacob." kata Salisa yang kini berdiri di hadapan Jacob dan membetulkan urutan kancing kemeja yang dikenakan Jacob.


"Apa yang membuatmu begitu gugup hingga tak memperhatikan kancing bajumu Jacob?" tanya Salisa penasaran.


Jacob yang sedari tadi terpesona dengan wajah Salisa yang begitu tampak cantik dengan rambut yang teruai dan setengah basah itu merasa kaget ketika mendengar namanya disebut. "Eem, a.. apa Salisa tadi aku tidak mendengarkanmu?"


Salisa termenung dan menatap Jacob dengan tajam. Sedangkan Jacob jadi salah tingkahdan berusaha menghindar dari tatapan Salisa.


"Aku hanya bertanya apa yang menjadi beban pikiranmu hingga membuat seorang Jacob Oetama bisa salah mengaitkan kancing baju seperti ini?" ucap Salisa mempertegas pertanyaannya.


"Ah itu, aku hanya merasa gugup saja karena harus bertemu dan bercengkerama dengan keluarga besarmu ditambah lagi keluarga Aldo yang sudah pasti juga akan datang ke acara makan malam ini. Aku takut mereka akan mengucilkanku Salisa. Kamu tau sendiri jika aku..."

__ADS_1


"Kamu boleh tidak datang Jacob, lagipula sebenarnya mereka juga bukan keluargamu. Bukankah pernikahan kita ini tidak sah dimata kita?" kata Salisa memotong perkataan Jacob.


"Bicara apa kamu ini? Walaupun aku tidak menganggapmu sebagai istri, tetapi aku telah menganggap mereka sebagai keluarhaku juga Salisa. Aku sangat senang melihat kedekatan keluarga kalian. Terkadang aku merasa sedikit iri karena sudah begitu lama aku tidak pernah mendapatkan perlakuan hangat dari keluarga." ujap Jacob sedikit murung.


Salisa tidak jadi melanjutkan kata-katanya yang akan memberi saran jika ia bisa mencarikan alasan untuk Jacob jika memang Jacob tak ingin datang ke acara makan malam itu.


Salisa kemudian kembali duduk di depan meja riasnya. Ia kembali mengeeibgkan rambutnya yang masih setengah basah.


"Kenapa kamu lama sekali Salisa. Aku bahkan sudah siap sedari tadi. Aku tidak suka jika harus menunggumu terlalu lama. Bawa kemari hairdryernya aku akan membantumu, sementara kamu cepatlah berdandan."


"Tidak perlu Jacob, aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula bukan salahku juga karena memang kamu duluan yang memakai kamarmandinya. Setelah rambutku kering nanti aku juga akan selesai lebih cepat karena aku tak perlu beedandan. Aku tinggal mengganti bajukusaja. Kamu tunggulah diluar saja sana." tolak Salisa yang memang merasa dirinya akan selesai sebentar lagi.


"Tidak mau. Aku benci jika harus menunggu. Kamu menurut saja agar aku tidak akan menunggumu lebih lama lagi." ucap Jacob yang kini telah merebut alat pengering rambut itu dari tangan Salisa.


Jacob berdiri di belakang Salisa dan mulai mengeringkan rambut Salisa. Sementara Salisa tak bisa menolaknya lagi. Salisa kemudian membubuhkan bedak tipis di wajahnya dan menggunakan lipstik berwarna coral di bibirnya.


Jacob diam-diam mempeehatikan Salisa yang tengah sibuk dengan kegiatannya itu. Tanpa sadar Jacob dibuat tersenyum karenanya. Sepertinya Jacob merasa bahwa Salisa semakin terlihat cantik dengan polesan make up minimalis seperti itu.


"Apa kamu tak berniat membubukan pewarna pada kelopak matamu Salisa? atau menggunakan pensil alis untuk menghitamkan alismu. Aku selalu merasa jika setiap wanita yang aku temui pasti akan menggunakan riasan di sekitar mata mereka." tanya Jacob penasaran karwna sepertinya tak ada alat make up lagi yang dikeluarkan Salisa dari tas make up nya.


"Benarkah? tapi Kakak dan Mama juga tidak pernah memakai riasan seperti itu." jawab Salisa dengan polosnya. "Aku memang jarang sekali merias wajahku dengan riasan yang tebal, dan aku lebih nyaman jika aku berdandan seperti ini Jacob. Apakah kamu keberatan dan merasa malu pergi bersamaku?"


"Tentu saja tidak, aku merasa kamu sudah terlihat cantik walau tanpa riasan." ucap Jacob keceplosan. "Maksudku, kamu tidak perlu menjadi orang lain Salisa, aku tidak akan merasa keberatan karenanya."


Setelah rambutnya kering, Salisa kemudian mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya tinggi seperti kucir kuda. Salisa kemudian mengambil baju yang sudah ia siapkan sebelumnya dan kembali ke kamar mandi untuk mengenakannya.


"Ayo kita berangkat Jacob, aku sudah siap." kata Alisya keoada Jacob yang terlihat sexang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2