CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Alisya dan Aldo memutuskan untuk makan siang di luar. Karena hari sudah siang dan Aldo merasa kasian jika istrinya harus masak lagi untuk mereka berdua.


"Kamu ingin makan apa sayang?" Tanya Aldo sambil tetap fokus mengemudi.


"Emm, aku ingin sekali makan Ketoprak dan es Dawet dengan gula merah." Jawab Alisya yang sepertinya sedang mengidam.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita cari tempatnya dulu." ucap Aldo sambil menggenggam tangan istrinya dan mencium punggung tangannya. " Terimakasih Alisya, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua bagi anak pertama kita. Aku ingin setidaknya kita bisa mempunyai anak sebelas agar bisa menjadi kesebelasan dan mewakili Indonesia bermain bola." Sikap usil dan jailnya Aldo tetap saja masih melekat dan tak bosan-bosannya untuk mengerjai Alisya.


"Kamu gila ya? aku tidak mau. Memangnya aku kucing? sebentar-sebentar bisa beranak? ngebayangin proses lahiran aja sudah bikin parno. Lah ini malah disuruh punya anak sebelas. Nggak mau pokoknya aku nggak mau." Tolak Alisya mentah-mentah.


"Hahahahaha, wajahmu ini menggemaskan sekali jika sedang ngomel-ngomel tidak jelas seperti itu." Aldo tertawa dengan girang karena berhasil membuat Alisya merasa badmood.


Alisya yang merasa dikerjai suaminya, kemudian berpaling dan melihat ke arah jalanan. Tiba-tiba Alisya melihat pedagang Cilok yang sedang mangkal di tepi jalan. Alisya meminta Aldo untuk menepi dan membelikan cilok untuknya.


Aldo segera menepi dan menghampiri sang penjual Cilok. "Ciloknya seporsi ya pak!" Kata Aldo kepada sang penjual.


"Siap Tuan. Segera disajikan." Jawab sang penjual Cilok dengan ramah.


Setelah membelikan Cilok untuk Alisya, Aldo kembali ke mobil dan menyerahkan kudapan berbentuk bulat-bulat layaknya bakso itu kepada Alisya. Bedanya Cilok terbuat dari tepung Kanji dan disajikan dengan siraman bumbu kacang diatasnya.


Alisya langsung melahap butil demi butir Cilok dengan tusuk Sate yang disediakan penjual. "Kamu mau Aldo?" Alisya berniat menyuapi suaminya.


"Terimakasih Alisya, kamu habiskan saja. Lagi pula aku juga sedang mengemudi." Tolak Aldo yang sebenarnya ingin sekali mencobanya. Akan tetapi melihat Alisya begitu lahap memakannya, Aldo jadi tidak tega menguranginya untuk Alisya walau hanya sebiji. "Lagi pula sekarang kan yang makan dua orang. Pasti akan butuh lebih banyak porsi makannya." Gumam Aldo dalam hati. Kenapa tadi aku tidak membeli dua porsi ya?" Pikir Aldo dengan sedikit penyesalan.


Dengan polosnya, Alisya melahap kembali sebutir cilok yang tadinya ingin ia suapkan untuk suaminya. Alisya sangat menikmati jajanannya yang tinggal dua butir saja. Tanpa sengaja Alisya melihat suaminya menelan ludah sambil melihat box Cilok yang hampir habis."


"Kenapa suamiku begitu baik dan selalu mengalah kepadaku. Ahh beruntungnya aku." Gumam Alisya yang merasa bahagia sekaligus terharu.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang, aku tidak mau menghabiskan Cilok ini lagi." ucap Alisya agar ia bisa memberikan sisa Cilok itu untuk Aldo.


"Habiskan saja Alisya. Lagi pula juga tinggal dua biji. Jangan buang-buang makanan. Kita harus mengajarkan hal baik untuk anak kita." Jawab Aldo memberi nasehat.


"Tidak mau. Pokoknya Alisya tidak mau. Kamu saja yang habiskan." Alisya kemudian munyuapkan sisa Cilok ke mulut Aldo dengan paksa.


"Ternyata cukup enak juga ya rasanya. Pantas saja kamu lahap memakannya." ucap Aldo sambil mengunyak sisa Cilok di mulutnya.


"Tentu saja. Dulu waktu kecil, bukankah kita sering membelinya bersama lalu kita akan memakannya sambil memanjat pohon jambu di samping rumahmu." Jawab Alisya yang sedang mengingat kembali masa kecilnya dengan Aldo yang begitu menyenangkan dan penuh dengan kenangan-kenangan manis.


Setelah menemukan penjual Ketoprak, Aldo kembali menepikan mobilnya. Aldo segera memesan dua porsi Ketoprak dan menemani istrinya makan. Alisya tetap saja masih lahap walau tadi sudah menghabiskan hampir seporsi penuh Cilok. Tak jauh dari sana juga terdapat kedai yang menjual Es Dawet. Tanpa pikir panjang Aldo segera membeli dan menuruti semua yang Alisya inginkan tadi.


Sudah merasa kenyang dengan makan siangnya, Alisya dan Aldo memutuskan untuk segera pulang kerumah dan istirahat sejenak karena sudah seharian lelah mengantri.


Sesampai di rumah. Alisya segera memanjakan tubuhnya dengan duduk di kursi goyang dan memejamkan matanya beberapa saat. Sedangkan Aldo duduk di sofa sambil menikmati potongan buah segar yang baru saja ia ambil dari dalam Kulkas.


Salisa yang masih menikmati nyamannya duduk dengan ayunan kursi goyang, tiba-tiba beranjak dan duduk di sebelah Aldo. "Ayo kita beri kabar bahagia ini kepada Papa dan Mama. Mereka pasti akan sangat senang mendengar kabar bahagia ini." tutur Alisya dengan begitu bersemangat.


Dari layar ponselnya terlihat Papa Antoni dan Mama Rahma duduk bersebelahan dan memberi salam kepada kedua anaknya. Tak lama kemudian Papa Antoni juga mengangkat panggilan vidio itu, Papa Antoni segera memanggil Mama Maria untuk segera ikut bergabung yang ternyata kala itu sedang sibuk dengan aktifitasnya menyirami tanaman.


Mereka semua saling sapa dan menanyakan kabar masing-masing. Alisya juga segera memberitahukan kabar kehamilannya kepada mereka. Tentu saja kabar kehamilan Alisya membuat mereka semua begitu senang dan bahagia. Tersirat raut kebahagian diwajah mereka semua.


Mama Rahma dan Mama Maria memberi usulan agar sore ini mereka akan berkumpul dan datang ke rumah Aldo untuk merayakan kehamilan Alisya. Tentu saja Alisya dan Aldo merasa sangat senang jika kedua orang tuanya bisa datang berkunjung kerumahnya. Apalagi mereka juga sudah cukup lama tidak berjumpa dan sudah merasa rindu.


Akhirnya waktu yang dituggu datang juga. Kedua pasang orang tua Alisya dan Aldo datang dengan mobil mereka masing-masing. Salisa juga ikut bersama dengan mereka. Sebelumnya Mama Maria dan Mama Rahma telah berbelanja berbagai macam Buah, Sayur, Daging, dan masih banyak lagi bahan makanan yang mereka beli terlebih dahulu untuk dijadikan buah tangan untuk anaknya.


Sore itu tampak cerah, walaupun rumah Alisya dan Aldo cukup kecil, namun rumah itu mempunyai halaman yang cukup luas dan dihiasi dengan berbagai macam tanaman berbunga dan pepohonan yang menambah kesan teduh dan nyaman tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Mereka menggelar tikar di atas rerumputan yang menghijau dan berbincang bersama melepas rasa rindu yang selama hinggap di hati masing-masing.


Mereka asik bercengkerama dan bersenda gurau, berbincang tetang berbagai hal yang sepertinya tak pernah habis topik yang mereka ceritakan. Terutama tentang kehamilan dan juga cara merat bayi yang baru lahir. Salisa yang belum begitu mengerti tentang hal itu hanya bisa medengarkan sambil mengunyah berbagai jenis makanan yang ada dihadapannya. Mereka juga mempertanyakan wajah Aldo yang terlihat masih sekikit memar-memar.


Dengan sedikit terpaksa, akhinya Alisya dan Aldo menceritakan semua peristiwa yang baru saja mereka Alami. Kedua orang tua Alisya dan Aldo merasa sedih mendengar cerita itu, terutama Mama Maria yang kemuadian langsung meminta Papa Antoni untuk mencari rumah sewa yang letaknya dekat dengan rumah Alisya.


Mama Maria ingin menemani Alisya ketika Aldo harus pergi bekerja. Rumah yang ditempati Alisya saat ini memang cukup kecil dan tak muat jika harus menampung dua orang lagi.


"Papa sih setuju-setuju saja Ma, tapi bagaimana dengan Salisa? Salisa kan juga harus bekerja. Jarak Dari si ke perusahaan kita kan cukup jauh. Kasian Salisa jika harus tinggal sendiri. Papa setidaknya juga harus datang ke Kantor setidaknya seminggu dua kali untuk mengontrol perusahaan." Papa Antoni sedikit ragu dengan rencana itu.


"Tenang saja Pa, Ma. Salisa sekarang sudah bukan anak kecil lagi. Salisa bisa tinggal di rumah sendirian. Salisa pasti juga akan pulang kemari jika sedang hari libur. Pokoknya Papa dan Mama tidak usah khawatir tentang Salisa." Saut Salisa yang merasa dirinya masih selalu dianggap anak kecil oleh orang tuanya. Semenjak Alisya menikah Salisa memang terkadang menjadi lebih manja kepada orang tuanya. Akan tetapi setelah mendengar Kakaknya hamil ia juga merasa bahwa dirinya bukanlah seorang gadis yang patut bermanja-manja lagi. Kali ini Salisa juga ingin mengetes kemandiriannya sendiri.


"Tapi benar juga kata Papa Antoni. Jika kita tinggal disini siapa yang akan memasak untuk bocah manja yang bisanya cuma makan ini?" Ledek Mama Maria dengan mencubit pipi putri kecilnya Salisa.


"Tuhkan Mama mulai lagi. Makanya Ma, mulai sekarang Salisa juga akan belajar untuk memasak sendiri. Salisa juga ingin pandai memasak seperti Ka Alisy dan Mama. Selama ini kan Salisa cuma bertugas sebagai petugas icip-icip. Salisa sekarang sudah 21 tahun Ma. Salisa juga sudah bekerja. Sekarang saatnya Salisa belajar untuk mandiri." imbuh Salisa mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.


Papa Antoni dan Mama Maria sebenarnya juga merasa senang karena menyadari bahwa sekarang putri kecilnya sudah bisa berpikir lebih dewasa.


Kebetulan sekali di dekat rumah Alisya dan Aldo ada sebuah rumah sederhana yang tertulis di depannya sebuah tulisan yang menerangkan bahwa rumah itu dijual.


Dengan segera Papa Antoni menghubungi kontak yang tercantum dan berencana membeli rumah itu dan bukannya menyewanya. Lagipula di kawasan itu juga ada lahan perkebunan milik keluarganya yang perlu sesekali disambangi.


*


*


~ Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2