CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KETIGA KALINYA


__ADS_3

Hari itu adalah hari pernikahan Salisa dan Jacob, pernikahan yang seharusnya dinantikan bagi para pasangannya, akan tetapi tidak begitu dengan penikahan Salisa dan Jacob. Mereka menikah karena sebatas untuk kepentingan keluarga dan untuk anak yang telah tumbuh di rahim Salisa saat ini.


Pernikahan digelar secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga inti dari kedua mempelai. Pernikahan yang dianggap kebahagian bagi sebagian orang dan kepedihan bagi yang lainnya.


Setelah upacara pernikahan selesai. Salisa berpamitan kepada keluarganya karena mulai hari itu juga ia akan tinggal di kediaman keluarga Oetama. Mama Maria dan juga Alisya menangis melepas kepergian Salisa. Begitu juga dengan Salisa. setelah kepergiannya ini, Salisa sadar bahwa ia tak bisa lagi bermanja-manja seperti biasanya kepad Mama dan Kakaknya.


Salisa jyga mengerti bahwa ia akan tinggal bersama orang-orang asing yang mungkin saja akan memperlakukannya tak sebaik keluarganya. Diperjalanan, Salisa terus saja ingin meneteskan air mata. Akan tetapi Salisa sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa sebisa mungkin dirinya tak akan meeasa bersedih dan meneteskan air mata lagi. Salis juga berjanji bahwa ia tidak akan membuat keluarganya cemas dan mengkhawatirkannya jika ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di balik senyum dan tawanya.


Jacob yang duduk disampingnya hanya diam saja, dan tak berani berkomentar. Jacob sebenarnya tau jika saat ini Salisa sedang merasa sedih. Akan tetapi dirinya juga tak berdaya dan tidak ingin membuat Salisa semakin sedih dengan mengungkit-ukit tentang keluarganya ataupun tentang masalah mereka berdua.


Setiba di kediaman Kekuarga Oetama, Kakek Wisnu yang sudah sampai terlebih dulu dengan mobilnya, sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut cucu menantunya itu. Disana juga berdiri tiga orang perempuan dan juga tiga orang laki-laki dengan baju seragam. Sepertinya mereka adalah pelayan di rumah itu. Salisa disambut mereka dengan begitu hangat dan senyuman mengembang di bibir mereka.


"Selamat datang Tuan Jacob dan Nyonya Salisa." Para oelayan itu menyapa dengan ramah dan juga memperkenalkan diri mereka sekaligus tugas apa yang mereka emban di keluarga Oetama.


"Ayo Salisa kita masuk. Kakek akan mengajakmu berkeliling di rumah ini. Jacob kamu juga ikut bersama kami." kata Kakek Wisnu dengan wibawanya. Salisa mengangguk dan mengikuti kemana langkah Kakek pergi dan membawanya. Sementara Mang Diman dan Bik Surti sebagai kepala masing-masing group pekerja laki-laki dan perempuan mengintruksikan kepada semua pelayan untuk membawa koper dan barang bawaan Salisa ke kamar Salisa dan merapikannya.


Kakek Wisnu membawa Salisa mengelilingi tiap sudut dan tiap ruangan yang ada di rumah itu. Kakek menunjukan dimana letak dapur, taman belakang, kolam renang, rumah bagi para pelayan yang terpisah dari rumah utama, perpustakaan, ruang olahraga, ruang kerja Kakek, ruang kerja Jacob, dan juga ruang bioskop. Salisa selalu saja dibuat terkagum-kagum oleh desain dan interior yang menghiasi rumah itu. Dengan perlengkapan dan fasilutas rumah yang begitu lengkap itu Salisa merasa yajin dirinya tidak akan pernah merasa bosan dan boring. Di dalam benaknya Salisa sudah membayangkan untuk melakukan berbagai macam kegiatan agar dirinya jangan sampai merasa bosan dan sedih kembali. Mungkin saja jika menyibukan dirinya dengan berbagai kegiatan dan pekerjaan maka tidak akan membuat Salisa teringat kembali dengan kepedihan yang selama ini menyeret dirinya kedalam kegelapan dan kesunyian.


Kakek Wisnu kemudian mengajak Salisa ke lantai atas. Disana ada Kamar Kakek, dan tiga kamar lagi. Tentu saja salah satunya adalah kamar Jacob. "Nah sekarang sudah selesai sesi perkenalan rumahnya. Kamu boleh beristirahat di kamar Salisa. Kakek juga akan istirahat. Kakek juga capek" ucap Kakek dengan senyuman di bibirnya.


"Tapi Kek, kamar Salisa ada dimana? Kakek kan belum memberitahukannya." tanya Salisa dengan polosnya.


"Apa?" jawab Salisa dan Jacob bersamaan.


"Kalian ini lucu sekali. Kalian ini kan sudah menikah, tentu saja kalian akan tinggal disatu kamar yang sama."


"Salisa keberatan Kek, bisakah Salisa tidur di kamar lain saja? Salisa kalau tidur butuh tempat yang luas, lagi pula Salisa juga takut kalau Jacob mendengkur. Pasti akan sangat mengganggu tidur Salisa." pinta Salisa dengan memelas.


"Kamu ini ada-ada saja. Orang yang sudah menikah memang harus berbagi kasur dengan istrinya." Kakek tidak bisa mengabulkan permintaan ini.


"Hei siapa juga yang mendengkur. Jangan-jangan kamu tersangka utamanya Salisa. Kamu takut ketahuan dan membuat fitnah seperti itu. Iya kan?" kata Jacob dengan kesal.


"Mana mungkin aku mendengkur. Lihat saja nanti siapa yang akan mendengkur. Aku pasti akan merekamnya dan menunjukannya kepada Kakek. Kakek harus berjanji jika Salisa sudah mendapatkan bukti itu, maka Kakek harus mengabulkan permintaan Salisa untuk pindah kamar."


"Baiklah, aku setuju. Tapi jika kamu yang ketahuan mendengkur maka kamu harus tidur bersama para pelayan di rumah belakang rumah." saut Jacob tak mau kalah.


Kakek hanya tertawa kecil melihat pertengkarang Salisa dan Jacob. "Sudah-sudah jangan berdebat lagi. Kakek sudah ngantuk ingin istirahat."


"Tapi Kek, Kakek harus berjanji dulu dengan Salisa." ucap Salisa tak ingin membiarkan masalah itu menggantung. Salisa mengangkat tangannya dan menjetikan jari kelingkingnya. "Janji ya Kek?"


Kakek Wisnu masih mematung karena tidak mengerti maksud dari cucu menantunya itu. Jacob kemudian mengaitkan jarinya dengan jari Salisa.


"Maksud Salisa seperti ini Kek, ini kelakuan bodoh Salisa untuk mengikat janji dengannya." kata Jacob memberi contoh kepada Kakek Wisnu.

__ADS_1


Kakek tersenyum menyadari kedekatan Salisa dan Jacob. Kakek Wisnu memang berharap Salisa dan Jacob bisa saling akur dan mulai mencintai satu sama lain.


"Baiklah Salisa. Kakek janji." kata Kakek dengan mengaitkan jarinya persis seperti yang dicontohkan cucu laki-lakinya. Kakek kemudian kembali ke kamarnya. Sementara Jacob sudah terlebih dulu masuk ke kamarnya.


Dengan sedikit ragu, Salisa melangkah menuju kamar Jacob yang akan jadi kamarnya juga. Sebenarnya tadi Salisa hanya mencari alasan saja agar ia bisa terpisah kamar dengan Jacob. Tetapi sepertinya hal itu sangatlah mustahil saat ini. Salisa tidak ingin Kakek Wisnu ataupun keluarganya akan curiga jika ia tak sekamar dengan Jacob.


Dengan pelan Salisa mengetuk pintu kamar Jacob. Tapi sepertinya Jacob sengaja tidak menjawab ataupun membukakan pintu untuk Salisa. "Huh dasar laki-laki kurang ajar, kamu pasti sengaja kan Jacob. Baiklah, akan aku ikuti permainanmu. Lihat saja nanti. Jika ada kesempatan aku akan langsung membalasmu." gerutu Salisa dengan kesal.


"Kek, Kakek. Jacob tidak mau...." Sebelum Salisa menyelesaikan kata-katanya pintu sudah terbuka dan Jacob mempersilahkan Salisa untuk masuk.


Salisa tersenyum dengan penuh kemenangan. Tadi Salisa sengaja berbicara keras-keras agar Jacob bisa mendengarnya. Salisa tau jika kelemahan Jacob adalah Kakeknya.


"Hahaha kamu ini lucu sekali Jacob. Aku ada sedikit ungkapan untukmu. Kamu ini seperti Naga diluar sana tapi menjadi cacing di rumah sendiri." kata Salisa menyindir Jacob.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? tadi aku sedang di kamar mandi dan tak mendengarmu." jawab Jacob mencari alasan.


"Benarkah? ayolah mengaku saja. Kamu takut kan dimarahi oleh Kakek?" ucap Salisa tak membeei celah sedikitpun kepada Jacob.


"Beraninya kamu beebicara seperti itu. Baiklah, jika kamu mau tidur di luar silahkan saja." ucap Jacob sambil menutup pintunya kembali. Akan tetapi Salisa menahan pintu itu dengan kakinya.


"Maafkan aku Jacob. Aku kan hanya bercanda. Biarkan aku ikut masuk, aku sangat lelah hari ini." Pinta Salisa dengan mata kelincinya.


Jacob meninggalkan Salisa tanpa menanggapinya. Jacob lansung merebahkan tubuhnya diatas kasur dan tak membeeikan tempat sedikitpun untuk Salisa.


"Cih, siapa juga yang ingin satu kasur denganmu." jawab Salisa tak kalah sadis.


"Baiklah, karena aku masih menganggapmu sebagai teman baik, maka kamu boleh menggunakan sofaku untukmu tidur. Tapi ingat kamu tidak boleh mendengkur. Jika hal itu terjadi, maka aku akan langsung menendangmu." Kata Jacob dengan penuh penekanan.


Salisa menggerutu tidak jelas, dan pergi ke Sofa yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri. Salisa kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dan pegal-pegal. "Siapa juga yang sudi menjadi teman baikmu. Teman baik macam apa yang akan memperlakukan temannya seperti ini." gumam Salisa yang mulai merasa nyaman dengan tempatnya berbaring. Tak butuh waktu lama Salisa sudah tertidur pulas dan hanyut dalam mimpinya.


Sementara Jacob masih sibuk memeriksa beberapa pekerjaan katornya yang menjadi sedikit terbengkalai karena beberapa hari ini ia tak datang bekerja.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Jacob segera mematukan leptopnya dan ingin segera tidur. Saat ingin mematikan lampu, Jacob melirik ke arah Salisa yang terlihat sudah begitu lelap dengan tidurnya.


Jacob merasa sedikit iba dengan Salisa. Jacob mengambilkan Salisa sebuah bantal dan juga selimut tebal dari lemarinya. Jacob menyelimuti tubuh Salisa yang bahkan belum berganti pakaian itu. "Pasti Salisa sangat kelelahan seharian ini. Gadis yang begitu cinta kebeesihan ini bahkan tidak mencuci kaki dan sikat gigi sebelum ia tidur." ucap Jacob dengan pelan agar jangan sampai membangunkan Salisa.


Jacob kemudian mengambil bantal yang tadi ia ambil dan ingin menarunya di bawah kepala Salisa. Jacob mengangkat kepala Salisa dengan pelan dan menyelipkan bantal itu di bawah kepala Salisa. Jacob berhenti sejenak dan mempeehatikan wajah Salisa yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya. Jacob memperhatikan bibir Salisa yang merah bak buah ceri itu. Hal itu membuat Jacob harus menelan salifanya berulang kali. Entah kenapa Jacob tiba-tiba teringat dengan ciuman mesra yang pernah ia lakukan dengan gadis di hadapannya itu. Hal itu sempatembuat imannya sedikit tergoda.


"Ayolah Jacob. Tahanlah Jacob, kamu bisa melakukannya." Saat ingin mengangkat tangannya yang menahan kepala Salisa, tiba-tiba Salisa membuka matanya dan mendorong Jacob dengan begitu keras.


"Apa yang sedang kamu lakukan Jacob? Berani sekali kamu mau mencuri-curi kesempatan disaat aku tertidur." ucap Salisa galak.


"Hei, kenapa kamu mendorongku. Bahkan sekarang kamu juga menuduhku hal yang tidak-tidak. Memangnya kamu tidak lihat kalau aku sedang berbaik hati memberikanmu sebuah bantal dan juga selimut. Seharusnya kamu berterimakasih padaku dan bukannya mendorongku seperti ini, sakit tau." ucap Jacob dengan begitu marah karena ia sampai jatuh tersungkur akibat tenaga Salisa yang begitu kuat saat mendorongnya.

__ADS_1


"Ma, maaf Jacob. Aku tidak sengaja." jawab Salisa merasa bersalah.


"Bantu aku berdiri." perintah Jacob yang masih terduduk di atas lantai sambil mengulurkan tangannya.


"Baiklah." jawab Salisa yang kemudian berdiri dan memegang tangan Jacob hendak menariknya untuk membantu Jacob berdiri. Jacob sengaja tak mengeluarkan tenaganya untuk bisa berdiri. Dengan begitu beban tubuhnya akan semakin berat. Kali ini Jacob memang ingin mengerjai Salisa.


"Ayo bangunlah. Kenapa kamu berat sekali." keluh Salisa dengan terus berusaha menarik tubuh yang munkin saja dua kali lipat dari beratnya dari badannya sendiri.


Karena sudah merasa iba, akhirnya Jacob berencana menyudahi kejailannya. Jacob berusaha bediri dengan bantuan tangan Salisa. Akan tetapi sepertinya hal itu malah membuat tubuh Salisa tertarik karena berat tubuh Jacob yang menggunakan tangan Salisa sebagai pegangan.


Salisa yang tak bisa mengontrol berat tubuhnya ikut tertarik dan menabrak tubuh Jacob yang baru saja akan berdiri. Jacob kembali terjatuh dengan tubuh Salisa yang berada di atasnya. Tanpa sengaja, kali ini bibir Salisa mendarat mulus di bibir Jacob. Jika dihitung sebuah ciuman, maka kali ini adalah kali letiga bagi mereka berciuman.


Menyadari bibirnya telah menyatu dengan bibir Jacob, Salisa langsung bangkit berdiri dan mengelap bibirnya dengan kedua tangannya secara bergantian.


"Hei, kenapa harus dilap seperti itu. Memangnya aku ini kuman?"


"Iya, kamu sengaja menarikku dan mencari kesempatan kan kuman dekil." ucap Salisa dengan terus saja mengelap bibirnya beberapa kali.


"Enak saja. Justru aku yang seharusnya mencurihaimu. Kenapa kamu tidak menahan tubuhku dengan kuat. Kamu saja tadi bisa mendorongku dengan kuat. Tapi kenapa barusan sama sekali seperti tak ada tenaga untuk menahanku seperti itu?"


"Cih, kamu jangan asal bicara ya. Aku malas sekali menanggapi ocehanmu kali ini." gerutu Salisa yang kemudian kembali ke sofanya dan kembali membaringkan tubuhnya dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Menyebalkan sekali. Kenapa dulu aku bahkan mempercayai dan mau berteman dengan kuman dekil seperti itu. Dulu aku bahkan menyebutnya sebagai dewa penyelamat dan menganggap dirinya adalah laki-laki yang begitu baik,lembut dan pengertian. Kenapa sejarang dia jadi seperti iblis kolong jembatan seperti ini." Gumam Salisa dalam hati dengan meremas selimut yang dipegangnya.


Salisa memegangi bibirnya dan membayangkan kembali adegan ciuman yang tak disengaja itu."Jangan dipikirkan lagi Salisa. Kamu harus bisa melupakannya. Kenapa bibirku ini selalu saja menjadi santapannya. Aku bahkan belum pernah memberikannya untuk laki-laki yang aku cintai." Salisa terus saja menggerutu dengan kesal.


Sementara Jacob, juga kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Jacob mematikan lampu utama dan kini hanya tersisa lampu tidur yang membuat ruangan itu menjadi remang-remang. Jacob menghadap ke langit-langit kamar dan menatapnya dengan nanar.


Jacob masih merasa tubuhnya begitu panas dan merasa sesak. Tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya Jacob sudah merasa sedikit terangsang mulai saat tadi ia memandangi bibir Salisa yang merah ketika ingin meletakan batal untuk Salisa. Ditambah lagi, ternyata hasratnya terpenuhi tanpa sengaja oleh tindakannya.


"Hei, hei, hei Jacob. Sedang berpikir apa kamu?" Jacob menanyai dirinya sendiri karena ia merasa Salisa swlalu saja bisa membuat syahwatnya naik dengan begitu cepat saat berada di dekatnya.


"Tidak,tidak,tidak. Ini semua masih wajar dan terjadi karena aku adalah laki-laki normal dengan tingkat kesehatan yang prima." gumam Jacob menyangkal hati kecilnya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2