
Salisa sedang membuat sarapan di dapur ditemani oleh dua asisten rumah tangga di rumah itu. Bi Yani dan Bi Surti sudah melarang Nyonya mudanya itu untuk tidak mengambil pekerjaan mereka di dapur. Karena mereka takut akan dimarahi Tuan besar jika membiarkan Salisa melajukan tugas yang seharusnya menjadi kewajiban mereka. Akan tetapi Salisa begitu memaksa dan beralasan bahwa dirinya tidak bisa memasak dan sangat ingin belajar memasak.
Salisa juga meminta kepada Bi Yani dan Bi Surti untuk mengajarinya membuat sebuah menu yang sangat ingin dimakannya. Sepertinya Salisa sedang ngidam kepengen rujak dan merasa malu untuk bilang kepada Jacob untuk membelikannya. Apalagi hubungan mereka tidaklah sedekat yang dibayangkan.
"Kenapa Nyonya ingin sekali makan Rujak? Jangan-jangan Nyonya Salisa ngidam ya?" Tanya Bi Surti dengan ramah.
"Entah lah Bi Surti, Salisa juga tidak tau. Salisa sungguh tidak tau menau soal kehamilan. Kehamilanku ini sangat berbeda dengan Kakak ku yang saat ini juga sedang mengandung. Jika Ka Alisya sering merasa mual dan muntah di pagi hari. Tapi aku sepertinya baik-baik saja. Kakak ku bahkan sempat merasa mual hanya karena mencium bebaun yang menyengat sampai-sampai ia tak bisa memasak karena mau bawang yang akan membuatnya mual dan muntah. Semua itu berbanding terbalik dengan Salisa yang sangat menyukai aroma makanan lezat dan jadi ingin belajar memasak karena selalu ingin memakan beraneka makanan yang aneh-aneh." Silisa menceritakan panjang lebar mengenai kondisinya saat ini kepada dua orang yang saat ini telah menjadi teman mengobrolnya semenjak Salisa tinggal di rumah itu.
"Jika Nyonya ingin makan sesuatu, bilang saja kepada kami Nyonya muda. Kami akan membuatkannya untuk Nyonya." Kata Bi Yani dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak perlu Bi, aku tidak ingin menambah beban kerja kalian. Lagi pula aku memang ingin belajar memasak. Jadi jika Bi Surti dan Bi Yani ingin membantuku, maka ajari Salisa cara membuatnya saja. Bibi tau kan kalau saat ini Salisa sering merasa bosan karena tak ada yang bisa Salisa kerjakan selain makan dan tidur di rumah ini." Ucap Salisa dengan sedihnya.
Salisa tak diperbolehkan lagi bekerja oleh Kakek Wisnu karena kehamilannya. Kakek Wisnu memang begitu peduli dan menyayangi cucu menatunya. Akan tetapi hal itu membuat Salisa sering merasa bosan karena selalu berada di dalam rumah dan tak mengerjakan banyak hal karenanya. Semua pekerjaan rumah telah dihandle oleh para asistan rumah tangga.
"Sebenarnya Salisa ingin sekali mencoba menulis Novel Bi, Salisa sudah mempunyai kandidat mentor yang sangat hebat untuk mengajariku menulis. Tapi sayangnya Salisa tak berani bilang baik itu kepada Jacob ataupun Kakek. Sepertinya Kakek juga tidak akan mengijinkan Salisa sering pergi ke luar rumah dalam waktu yang lama." Nada bicara Salisa semakin seperti orang yang putus asa.
"Bibi punya ide Nyonya Salisa. Bagaimana kalau Nyonya bilang saja kepada Kakek untuk memanggil mentor itu datang ke rumah. Pasti Tuan besar akan menyetujui permintaan Nyonya Salisa." Ucap Bi Yani bersemangat.
"Ah benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku ya Bi." Salisa kembali ceria dan membuang jauh wajah sedihnya. "Nanti Salisa akan membicarakan hal ini saat makan sarapan. Kalau begitu Salisa bantu Bibi memasak ya. Biarkan Salisa yang memasaknya. Bi Yani dan Bi surti cukup memberi instruksi saja."
"Baik Nyonya. Tapi setidaknya ijinkan kami membantu menyiapkan bahan-bahannya. Akan jadi masalah besar bagi kami jika nanti tangan Nyonya terluka karena pisau. Bibi lihat Nyonya belum lihai dalam menggunakan benda tajam ini."
"Ahh baiklah Bi, terimakasih banyak. Dengan begini aku akan punya senjata untuk merebut hati Kakek. Nanti tolong katakan jika Salisa yang memasaknya ya Bi."
"Siap Nyonya." Jawab Bi Surti dan Bi Yani dengan kompak.
Kini semua menu sarapan pagi itu telah tertata rapi di meja makan. Jacob dan Kakek Wisnu juga sudah ada disana untuk santapan pagi mereka.
__ADS_1
Salisa sengaja mengambilkan porsi yang cukup banyak untuk Jacob dan Kakeknya. Salisa kemudian memberikan kode kepada Bi Surti yang saat itu sedang menuangkan susu kedalam gelas. Berulang kali Salisa berkedip untuk meminta Bi Surti menjakankan misi yang telah mereka sepakati.
"Tuan besar, Tuan muda, sarapan pagi ini dibuat oleh Nyonya Salisa. Kami sudah melarang nyonya untuk mengerjakan pekerjaan kami Tuan. Tapi karena Nyonya bilang ingin membuatkan hidangan special untuk Tuan maka kami mengijinkannya. Maaf jika kami sedikit lancang Tuan."
"Kakek jangan marahi mereka ya. Memang Salisa yang memaksa mereka. Salisa mulai sedikit bosan karena tak melakukan apapun di rumah ini. Jadi biarkan Salisa belajar memasak ya Kek." Pinta Salisa dengan menunjukan mata kelincinya.
"Ah benarkah. Tentu saja Salisa sayang. Kakek tidak akan memarahi ataupun melarangmu belajar memasak. Asalkan kamu jangan sampai dibuat lelah katenanya. Kakek sudah tak sabar untuk mencicipinya. Karena ini masakan kamu maka Kakek akan menghabiskanya."
Kakek Wisnu kemudian menyendok makanannya dan memasukannya kedalam mulut. "Wow, ini enak sekali Salisa. Kakek sungguh bangga kepadamu." Puji Kakek wisnu atas menu yang baru saja dicicipinya itu.
"Benarkah Kek? Salisa Sangat senang jika masakan Salisa benar-benar enak."
"Hah pintar sekali kamu mengambil hati Kakek Salisa. Aku yang jadi cucu kandungnya saja belum pernah dipuji Kakek sampai sebegitunya." Gerutu Jacob dalam hati.
"Pantas saja rasanya aneh. Tak heran jika ini memang masakanmu Salisa. Bagaimana bisa Kakek bilang jika ini enak. Lebih tepatnya masakan ini terasa seperti air laut ketimbang sup danging Salisa." Jacob mencela hasil masakan Salisa dengan begitu kejam.
"Kamu bohong Jacob. Aku rasa rasanya tak begitu buruk. Kamu pasti sengaja ingin mempermalukanku bukan?" Ucap Salisa dengan sadis.
"Hah mana mungkin. Aku kan hanya menyampaikan pendapatku saja. Lagi pula selera setiap orang itu berbeda Salisa. Jadi kamu juga tidak boleh menuduhku sembarangan seperti itu." Jawab Jacob dengan begitu tenang.
"Kalau memang tidak enak, maka jangan memakannya lagi." Kata Salisa bersugut-sungut.
"Aku memang tidak ingin memakannya lagi. Cepat buatkan aku roti isi selai." Perintah Jacob untuk menutupi kebohongannya. Jacob hanya tidak suka melihat Kakeknya begitu menyukai wanita itu. Bahkan sepertinya Kakek Wisnu lebih menyayangi Salisa ketimbang dirinya.
"Kamu jangan keterlaluan Jacob. Sepertinya kali ini kamu memang mengada-ada. Sudahlah Salisa, kamu jangan mengambil hati perkataan Jacob yang sering kekanak-kanakan itu. Ayo dimakan lagi sarapannya. Biar Bi Surti saja yang memnyiapkan roti untuk Jacob." Kakek wisnu membela Salisa dengan lembut dan berbicara kepada Jacob dengan nada tingginya.
"Iya Kek, terimakasih. Oh ya Kek. Bolehkah Salisa memanggil seorang guru untuk mengajari Salisa menulis Novel. Akhir-akhir ini Salisa sedikit merasa bosan. Jadi Salisa ingin sedikit mencari kesibukan dengan kegiatan yang Salisa suka." Lagi-lagi Salisa memasang mata kelincinya untuk memohon kepada kakek Wisnu.
__ADS_1
"Kamu atur saja Salisa. Jika perlu Kakek akan mencarikan mentor terbaik untukmu. Kakek juga tak bisa selalu membatasi keinginanmu. Selama itu tak melelahkan dan membahayakan calon cicit Kakek, maka Kakek akan mendukungmu."
"Trimakasih banyak Kek. Nanti Salisa akan menghubungi guru yang sudah Salisa kenal untuk datang kerumah memberi pengajaran untuk Salisa."
"Cih, lagi-lagi memanfaatkan kebaikan Kakek untuk kepentingannya sendiri. Memangnya Novel apa yang bisa dibuat olehnya. Paling-paling juga hanya cerita sampah." Lagi-lagi Jacob mengerutu di dalam hatinya merasa tidak suka akan perhatian Kakek yang lebih memihak kepada Salisa ketimbang Cucunya sendiri.
Salisa begitu senang karenanya. Salisa kemudian melihat ke arah Jacob yang juga sedang menatapnya dengan sinis. Salisa sengaja menjulurkan lidahnya dan tersenyum penuh kemenangan sambil mengejek Jacob dengan sengaja.
Selesai sarapan Salisa kembali ke kamarnya. Disana sudah ada Jacob yang lebih dulu kembali ke kamar karena hanya sarapan dengan sepotong roti dan segelas susu.
"Hei kuman dekil. Tadi kamu sengaja kan ingin menjelek-njelekan aku di depan Kakek." Ucap Salisa dengan sinisnya.
"Huh, dasar penjilat. Bukankah tadi aku sudah bilang kepadamu? Aku memang tidak suka dengan masakan anehmu itu. Jangan- jangan kamu sengaja belajar memasak dan memamerkannya kepada Kakek karena kamu sudah sadar jika aku ini terlalu tampan dan kamu benar-benar ingin menjadi anggota keluarga besar Oetama ya?" Ucap Jacob begitu percaya diri.
"Hahahahaha, dengarkan aku baik-baik ya Tuan Jacob. Aku benar-benar tidak pernah berniat untuk menjadi istrimu. Kamu itu terlalu pede untuk mengatakan hal itu kepadaku. Manamungkin aku akan jatuh cinta dengan laki-laki sepertimu. Aku sudah memiliki kriteria tersendiri di dalam hatiku. Kamu bahkan tidak ada apa-apanya dengan laki-laki impianku. Jika bukan demi Anak ini dan juga keluargaku. Aku tidak akan pernah menginjakan kaki di rumah ini." Jawab Salisa penuh dengan penekanan.
"Semoga ucapanmu itu benar Salisa. Tapi aku tidak setuju jika kamu sama sekali tidak melihatku ada dalam kriteriamu. Manamungkin laki-laki setampan diriku tak membuat hatimu meleleh. Asal kamu tau saja, diluar sana ada ribuat gadis yang mengantri untuk dapat bersama denganku. Hanya saja aku yang tak mau asal pilih karena standarku juga tinggi. Wanita sepertimu tak akan pernah bisa menarik simpatiku sama sekali." Ucap Jacob tak ingin kalah dari Salisa.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1