CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
SEMAKIN SEKSI


__ADS_3

Alisya dan Aldo berpisah dengan Salisa dan Jacob setelah makan malam bersama. Kini Alisya dan aldo sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Alisya terlihat sangat bahagia bahkan ia sampai ikut bernyanyi lagu-lagu yang diputarkan oleh Aldo.


"Aku senang sekali kamu seharian ini terlihat begitu bahagia Alisya." Ucap Aldo sambil menggenggam tangan Alisya dengan tangan kirinya dan tangan kanan tetap pada kemudinya.


"Tentu saja, tak ada alasan yang membuat aku harus merasa sedih. Hari ini sepertinya sungguh hari yang indah bagaikan keindahan taman bunga di musim semi." Jawab Alisya dengan senyuman manisnya.


"Emm kalau begitu, apakah nanti aku akan mendapatkan hadiah karena seharian ini selalu menemanimu?"


"Baiklah, kalau begitu tunggu kita sampai di rumah. Aku akan memberikan hadiah untukmu karena hari ini kamu telah membuatku bahagia." Jawab Alisya yang sudah terpikirkan ingin memberikan hadiah apa untuk suaminya.


Setiba di rumah, Alisya langsung pergi ke dapur dan memakai Appron. Alisya juga menyiapkan alat-alat untuk membuat kue dan bahan-bahannya.


"Apa yang kamu lakukan Alisya. Kenapa kamu malah berad di dapur?" Tanya Aldo yang baru saja masuk rumah setelah memarkirkan mobilnya dalam garasi.


"Bukankah tadi kamu memintaku untuk memberikanmu hadiah? Ini aku sedang membuatnya. Aku akan membuatkan brownies untukmu." Jawab Alisya dengan senyuman.


"Kita kan baru saja pulang dari perjalanan Alisya. Bagaimana jika nanti kamu kelelahan." Kata Aldo memperingatkan Alisya.


"Aku tidak lelah sama sekali Aldo. Lagi pula aku juga ingin sekali makan kue yang manis untuk melengkapi hariku yang terasa manis ini." Jawab Alisya dengan argumennya.


"Astaga Alisya, sebenarnya aku menginginkan hadiah yang lain darimu. Kenapa kamu tidak peka sama sekali." Gumam Aldo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kue mu yang paling lezat di sini. Dengan begitu aku yakin kuenya akan semakin lezat karena ada aku yang menemanimu." Tutur Aldo yang sudah duduk di meja makan sambil memandangi istrinya membuat kue.


"Hahaha, kamu itu narsis sekali Aldo. Kue buatan ku memang selalu enak walau tanpa dirimu menemaniku." Jawab Alisya sambil terus sibuk dengan kegiatannya yang sedang melelehkan coklat batang dengan mentega.


"Jadi kamu tidak suka jika aku duduk di sini untuk menemanimu?" Ucap Aldo dengan wajah yang murung.


"Wajahmu itu lucu sekali Aldo. Rasanya aku ingin mencubitnya." Kata Alisya untuk membujuk suaminya yang sepertinya sedikit tersinggung dengan ucapannya.


"Jangan harap kamu bisa mencubit pipiku Alisya. Jika kamu mencubitnya, maka aku pasti akan langsung mencium mulut mu." Ancaman seperti ini biasanya ampuh untuk menghentikan niat jail istrinya.


"Selalu saja mengancam ku. Apakah kamu ini tidak bosan setiap hari sudah menciumiku berkali-kali?"


"Untuk apa bosan. Bibirmu itu bagai candu bagiku Alisya. Sungguh manis, bahkan lebih manis dari kue buatan mu."


"Gobal" walaupun Alisya sudah sering mendengan gombalan dari suaminya itu, akan tetapi tetap saja hatinya selalu merasa senang dan berbunga-bunga ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Tunggu 45 menit lagi kuenya sudah siap." Kata Alisya yang kini sedang mencuci peralatan yang tadi ia gunakan untuk mengolah adonan.


"Biar aku saja Alisya. Kamu duduklah saja." Ucap Aldo yang kini sudah ada di belakang Alisya.


"Waah terimakasih sekali suamiku sayang. Kalau begitu aku akan memakaikan Appron ini kepadamu sebagai tanda terima kasihku." Jawab Alisya yang kini melepaskan celemek yang tadi ia kenakan dan membatu suaminya untuk memakaikannya.


Saat Alisya ingin mengalungkan Appron itu di leher Aldo, suaminya itu sengaja berjinjit untuk mengerjai Alisya.


Alisya yang merasa suaminya semakin tinggi kemudian sampai dibuat berjinjit dan lebih mendekat ke arah suaminya.


Dengan susah payah akhirnya Alisya berhasil mengalungkan Appron itu di leher Aldo. Saat wajahnya begitu dekat dengan Aldo. Suaminya itu tentu saja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Aldo mencium bibir Alisya dan memeluk Alisya dengan erat agar istrinya itu tak berusaha untuk kabur. Aldo sangat senang ketika Alisya tak menolak ciumannya. Mungkin karena sudah terbiasa, Alisya juga sudah tak begitu canggung dan langsung menyambut ciuman dari suaminya.


Seperti biasa. Tangan Aldo sudah bergerilya menuruti nalurinya sebagai lelaki. Aldo menggendong Alisya dan menempatkannya di meja dapur. Aldo kemudian mengangkat ke atas kaos putih yang tadi Alisya kenakan dan melepasnya. Hingga kini bagian atas dari tubuh Alisya yang tinggal mengenakan bra semakin menbuat Aldo hampir ngiler karenanya.


"Jangan sekarang Aldo, kuenya belum matang. Kita bahkan juga belum mandi. Bahkan kamu juga belum jadi membantuku mencuci perabotan itu." Kata Alisya yang kemudian mengambil kembali kaosnya dan mengenakannya kembali.


"Kamu ini selalu saja pintar sekali menghancurkan hatiku Alisya. Pokoknya nanti aku akan meminta dua kali lipat darimu. Jika kamu menolaknya maka dengan terpaksa aku akan memperk*sa dirimu." Ucap Aldo sambil mengecuo bibir Alisya sekali lagi untuk mengobati kentangnya.


"Maafkan aku suamiku sayang. Aku hanya tidak mau jika nantinya kita malah merasa kurang puas karena aku yang tidak bisa totalitas dengan pikiran yang masih mengarah kepada kue yang belum jadi." Kata Alisya dengan lembut utuk membujuk Aldo agar jangan sampai suaminya merajuk.


"Cucian sudah beres." Ucap Aldo yang kemudian menanggalkan celemek yang di pakainya dan kembali menggantungnya pada tempatnya semula.


Cekring...


Suara oven yang menandakan kue telah matang berbunyi. Alisya segera mematikan ovennya dan mengeluarkan brownies panggang yang tercium wangi aromanya.


Alisya segera mengeluarkannya dari loyang dan menaruhnya dalam tatakan kue agar lebih cepat dingin.


"Sambil menunggu brownisnya dingin, bagaimana kalau kita mandi dulu saja Alisya." Bujuk Aldo yang sudah tak sabar melanjutkan sesi yang sangat tanggung tadi.


Tanpa pikir panjang Aldo langsung membopong Alisya begitu saja dan membawanya ke kamar mereka. Aldo menurunkan Alisya di atas ranjang.


"Biar aku bantu kamu melepaskan bajumu Alisya. Itu adalah keahlianku." Ucap Aldo yang kini telah berhasil melepaskan kaos yang tadi sempat ia buka sebelumnya.


Alisya tak dapat mengelaknya lagi. Kali ini Alisya menurut dan tidak keberatan dengan tingkah suaminya yang pasti tak akan tahan melihat tubuhnya yang terbuka tanpa ada kain yang menghalagi pandangan mata suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu semakin hari semakin cantik dan sexsi Alisya. Sepertinya aku sudah mabuk kebayang oleh pesonamu." Kata Aldo yang langsung menelan salifanya melihat belahan dada Alisya yang menggoda walau masih tertutup dengan bra.


Aldo jadi gelap mata dan jadi lupa jika tadinya ia melepas pakaian istrinya untuk mandi. Aldo ingin segera menikmati nikmatnya sebuah sensasi ketika wajahnya berada di antara kedua buah gunung besar dan bergantian mempratekan permainan seperti sedang memakan oreo.


Alisya sendiri juga tidak tahan jika bagian sensitifnya itu telah disentuh oleh Aldo. Laki-laki yang telah hampir satu tahun menemani hari-harinya itu kini telah berhasil membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuh mulus milik Alisya.


Alisya menggeliat dengan sensasi rasa geli dan membuat darahnya seperti berdesir ketika mulut Aldo sedang asik menikmati pucuk gunung yang padat berisi itu seperti layaknya sebuah permen. Aldo tak pernah menyia-nyiakan seluruh anggota tubuhnya untuk dapat membuat Alisya dapat merasakan puncak kenikmatan berkali-kali.


Saat Aldo masih dibuat terhanyut dan enggan meninggalkan permennya. Tangan kananya bersarang pada kembaran dari saudaranya. Tangan kiri Aldo tak mau kalah dengan meraba perut Alisya yang mulai buncit dan pergi menyelinap di balik celana dalam yang dikenakan Alisya.


Jari tengah Aldo ikut ambil andil dalam membuat wanita yang terbaring di ranjang bersamanya itu sampai mendesah dan bisa menikmati puncak kenikmatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Tak mau menyia-nyiakan waktu, Aldo kemudian melepas seluruh pakaian yang dikenakan Akisya hingga kini tak ada sehelai benang pun yang menutupinya.


Alisya kemudian juga melepas pakaian yang dikenakan Aldo agar dirinya juga bisa impas dan melakukan hal yang sudah sedari tadi terbayang dalam benaknya.


Otot-otok kekar dan potongan-potongan roti sobek di perut Aldo memang selalu membuat Alisya terkesima. Apalagi dengan senjata senjata paling ampuh yang bisa membuatnya bisa terbang ke langit ke tujuh itu telah menunjukan esistensinya.


Alisya membalas perlakuan Aldo padanya dengan melahap habis lontong panjang dan besar milik Aldo hingga ke pangkalnya. Tak lupa dua buah telur sebagai pelengkap makan malamnya juga tak luput dari mulutnya.


Aldo sebagai lelaki tak lagi bisa memnyembunyikan energi positif yang membuatnya semakin terbakar dan ikut mengerang dan mendesah karenanya. Semakin hari Alisya semakin pintar dan dapat membuat Aldo semakin jatuh hati kepadanya.


Kini giliran tugas adik kecil yang sedari tadi sudah tak sabar untuk mendatangi tempatnya menunjukan kehebatannya.


Karena perut Alisya yang semakin membesar maka malam itu mereka hanya melakukan hubungan badan dengan dua gaya yang berbeda. Yaitu dengan menyamping dan juga women on top. Walaupun mereka sedang dibakar dengan gairah yang menggebu, akan tetapi mereka tetap bisa mengontrolnya dengan melakukannya secara lebih halus.


Acara mandi yang tadinya ingin mereka lakukan di awal pertunjukan, kini harus rela menjadi yang nomor dua. Air dan sabun di kamar madi harus bersabar dan menunggu kedua tuannya selesai memuaskan hasrat yang tadi sempat tertunda saat di ruang makan.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2