CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MELAYANI TUAN PUTRI


__ADS_3

"Alisya ayo bangun, hari sudah pagi."


Aldo menggoyang dengan pelan tubuh Alisya yang hanya terbungkus selimut itu.


"Aku masih mengantuk Aldo, biarkan aku tidur sebentar lagi. Aku baru saja bisa tertidur dengan lelap setelah semalaman bekerja keras."


Aldo mengusap dengan lembut dahi Alisya dan menyibakkan rambut yang menutupinya. Aldo tersenyum mendengar kata-kata yang begitu polos dari istrinya itu. Aldo teringat jika memang semalam Alisya begitu bersemangat untuk bisa membuktikan dirinya pantas untuk mendapatkan rak buku bagian atas agar menjadi miliknya.


"Sungguh konyol sekali. Padahal bisa saja aku berikan semua bagian rak buku itu untukmu semua Alisya." Aldo bergumam dalam hatinya. Senyuman kemenangan terukir di bibirnya.


Aldo membenahi selimut Alisya kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka.


Aroma wangi nasi goreng menusuk-nusuk indra penciuman Alisya. Memaksa tubuhnya untuk bangun menuruti keinginan perut yang mulai terasa lapar.


Alisya melilitkan selimut di badannya untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan setengah sadar, Alisya berjalan ke arah dapur dan menghampiri Aldo yang sedang menyiapkan dua porsi nasi goreng ke dalam piring saji.


"Sepertinya lezat sekali Aldo. Apakah sudah siap?"


"Kamu yakin ingin makan dengan seperti itu?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa?"


"Is is is. Ternyata istriku yang biasanya terlihat seperti miss perfect bisa bertingkah seperti ini ya. Ayo pakailah baju dulu, cuci mukamu baru nanti akan aku suapi."


"Tidak mau. Aku masih mengantuk Aldo. Tapi aku juga lapar. Aku juga sangat lelah karena semalaman melayani mu. Sekarang giliran mu yang harus melayaniku."


"Uluh-uluh baiklah tuan putri. Hamba siap melayani. Karena tadi malam saya mendapat layanan VVIP maka hari ini saya akan membuat tuan putri merasa puas dengan pelayanan setulus hati dariku."


Aldo mengambil tali rambut dan mengikat rambut Alisya yang tergerai panjang. Tadinya Aldo berencana mengajak Alisya untuk sarapan dan menyuapinya. Namun melihat punggung Alisya yang terbuka, membuat Aldo tak tahan untuk meninggalkan beberapa kiss mark di sana.


Aldo memeluk Alisya dari belakang dan mulai menyusuri lekuk leher Alisya dan memberikan kecupan-kecupan lembut. Aldo juga mengecup kembali bekas tanda merah semalam di beberapa sisi tubuh istrinya itu.

__ADS_1


"Jangan mulai lagi Aldo. Kalau mau ikat rambut ya ikat saja. Aku benar-benar masih mengantuk."


"Siapa suruh kamu datang kemari dengan hanya berbalutkan selimut saja. Bukankan kamu sengaja ingin menggodaku. Jika kamu masih merasa lelah, kali ini kamu yang relaks saja. Kamu cukup menikmatinya Alisya. Aku akan membuatmu merasa nyaman. Setelah ini aku berjanji akan menuruti semua kemauan mu."


Tanpa persetujuan dari Alisya. Aldo mulai melancarkan aksinya yang tentu saja tak dapat ditolak oleh Alisya. Setiap kecupan dan belaian tangan itu memang membuat Alisya begitu menikmatinya. Tangan Aldo mulai menyelinap di balik selimut, menyusuri setiap lekuk tubuh Alisya dan bersarang di tempat favoritnya.


Alisya menggeliat bagai cacing kepanasan. Wanita bertubuh putih itu mulai mendesah dengan kenyamanan yang diberikan suaminya. Aldo yang merasa gayungnya disambut, segera mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya kembali ke kamar.


Mereka kembali bermain satu ronde. Jika semalam Alisya yang bekerja keras. Pagi ini Aldo yang begitu semangat menunjukan kejantanannya.


Selesai menikmati pagi yang spesial itu. Aldo menggendong Alisya kembali ke ruang makan. Aldo menyuapi Alisya dengan begitu sabar. Berulang kali Aldo mencubit pipi Alisya dan membelai rambut istrinya yang terlihat kelelahan dan masih mengantuk .


"Kamu terlihat begitu cantik Alisya. Aku sungguh beruntung bisa memandangi wajahmu setiap saat. Aku yakin jika nanti anak kita perempuan, dia juga akan secantik kamu. Tak sia-sia aku memilihmu untuk memperbaiki keturunan."


"Aku juga beruntung karena jika nanti anak kita laki-laki, wajahnya pasti juga akan setampan ayahnya."


"Tentu saja. Tapi anakku pasti akan lebih tampan dariku."


Alisya tersenyum mendengar pernyataan dari suaminya itu. Ia berharap segera mendapatkan hasil dua garis merah secepatnya.


"Huum baiklah. Apakah aku perlu membatu berkerja kembali di perusahaan Al? Mungkin aku bisa sedikit membatu menyelesaikan beberapa pekerjaan."


"Tidak perlu Alisya. Lakukan saja apa yang menyenangkan bagimu. Aku tidak ingin kamu kelelahan dan terbebani dengan pekerjaan perusahaan yang begitu berat."


"Tapi mungkin nanti aku akan merasa bosan jika harus di rumah terus. Bagaimana kalau aku membuka sebuah toko bunga? Pasti akan sangat menyenangkan jika bisa bekerja sambil memandangi bunga warna-warni yang begitu cantik."


"Kedengarannya menyenangkan. Baiklah kalai kamu memang suka, besok kita akan jalan-jalan untuk mencari lokasi yang pas. Bagaimana? Apa kamu merasa senang?"


"Hum, Tentu saja. Terimakasih suamiku sayang."


"Tapi ingat, jangan sampai pekerjaan ini membuatmu kelelahan. Jika dirasa begitu melelahkan, aku akan mencarikan pegawai untuk membantumu."

__ADS_1


"Iya-iya. Belum juga bekerja, tapi kamu sudah terlalu menghawatirkan ku. Tenang saja suamiku. Aku tidak akan memaksa diriku untuk bekerja begitu keras."


"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap-siap untuk pergi bekerja. Nanti aku akan mengirimi mu pesan. Hari ini kamu tidak usah masak. Nanti akan aku belikan makanan pesan antar untukmu dan Salisa. Adikmu sudah setuju untuk kemari."


"Benarkah? Aah aku begitu kangen dengan adik perempuanku itu." Salisa terlihat kegirangan. Ia langsung memeluk Aldo karena begitu senangnya membayangkan nanti bisa quality time dengan Salisa.


"Terimakasih suamiku. Kamu memang yang terbaik. Karena kamu begitu hebat, aku yakin kita bisa melewati masa sulit ini dengan segera."


"Tentu saja. Asalkan kamu berada di sampingku, apapun bisa aku lakukan Alisya."


Aldo kemudian bersiap untuk pergi bekerja. Alisya membantu menyiapkan pakaian Aldo dan memakaikan dasi untuk suaminya. Setelah kepergian Aldo, Alisya segera mandi dan juga membersihkan rumah. Karena semua pekerjaan sudah beres, Alisya berencana tidur kembali untuk mengganti waktu tidur semalam yang hilang.


"Masih jam sepuluh, sepertinya Salisa masih akan lama untuk datang kemari." Begitu benak Alisya sambil mencari posisi tidur yang nyaman di kasurnya.


Tok tok tok. Terdengar samar-samar suara ketukan pintu oleh Alisya yang sudah mulai terlelap. Rasa kantuk yang begitu berat membuat Alisya seperti halusinasi. Ia tak menghiraukan suara ketukan pintu itu, tetapi sepertinya itu memang nyata. Kali ini suaranya makin keras dan diiringi oleh suara seorang wanita yang memanggil-manggil namanya.


"Ka, ka Alisya. Aku sudah datang nih, kenapa lama sekali buka pintunya. Kaka ada di rumah kan?" Karena tak kunjung ada balasan dari dalam rumah membuat gadis bertubuh mungil itu menjadi panik.


"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ka Alisya." Alisya mengetuk pintu semakin keras dan memanggil-manggil kakaknya dengan begitu lantang.


Alisya yang baru saja terlelap akhirnya bangun juga mendengar suara adiknya yang begitu berisik. Alisya membuka pintu dengan wajah yang masih mengantuk.


"Kenapa ribut sekali sih kamu. Sudah kaya renternir penagih hutang saja. Ayo cepat masuk. Kaka mau tidur lagi."


"Astaga kaka, Salisa pikir terjadi sesuatu dengan ka Alisya. Makanya Salisa gedor-gedor pintunya. Abisnya kaka lama banget sih bukain pintunya." Salisa mencari alasan pembenaran diri karena melihat ekspresi kakaknya yang jutek dan cemberut.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2