CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KELUARGA HARMONIS


__ADS_3

Siang itu Aldo pulang ke rumah untuk makan siang seperti janjinya kepada Alisya sebelumnya. Aldo sangat senang ketika dirinya disambut oleh Alisya yang sudah menunggunya di teras depan rumah dengan senyumannya yang manis dan membuat Aldo terpesona untuk kesekian kalinya. Gigi gingsul Alisya memang menyempurnakan senyuman manis istrinya itu.


"Apakah kamu menungguku Alisya?" Tanya Aldo sambil memeluk Alisya dengan erat.


"Tentu saja. Kamu kan sudah berjanji untuk makan siang di rumah, jadi aku sengaja memakai sedikit bedak dan juga lipstick untuk menyenangkan hatimu. Apakah kamu suka Aldo?"


"Mana mungkin aku tidak suka. Jika kamu seperti ini terus, bisa-bisa aku akan malas bekerja dan memutuskan untuk selalu berada di rumah bersama denganmu. Jujur aku sudah begitu kangen denganmu walau baru setengah hari berpisah dengan istriku yang cantik ini."


"Aah gombal, itu mungkin hanya karena hari ini kamu baru pertama kali bekerja setelah cuti sebulan dan hal itu membuatmu masih bermalas-malasan."


"Kenapa kamu menuduhku menggombal Alisya? Aku benar-benar sangat rindu kepadamu, pikiranku sama sekali tak bisa lepas darimu. Jika aku tidak rindu. Mana mungkin aku pulang secepat ini dan langsung memelukmu ketika pulang."


Alisya terdiam, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi berkat ucapan suaminya yang begitu manis itu. "Iya-iya baiklah, maafkan aku karena telah menuduh mu yang bukan-bukan. Terimakasih juga karena sudah merindukanku suamiku sayang." Ucap Alisya dengan disusul kecupan manis di bibir Aldo yang masih memeluknya dengan begitu erat.


Aldo tersenyum penuh kemenangan, dengan bangga Aldo kemudian membalas kecupan Alisya tiga kali lipat lebih banyak untuk menyenangkan hati istrinya itu. "Ayo masuk istriku sayang. Aku sudah lapar, aku juga ingin segera mencicipi masakan mu yang sungguh nikmat, aku sungguh senang karena akhirnya rasa mualmu sudah berkurang dan bisa memasak lagi untukku."


"Humm bilang saja jika kamu sudah malas menggantikanku memasak Aldo."


"Astaga Alisya kenapa akhir-akhir ini aku merasa kamu lebih sensitif dan perasa. Sebuah kebanggaan bagiku bisa memasak untukmu sayangku. Apakah aku tidak boleh merindukan masakan istriku sendiri."


"Hehehe, maaf sayang. Aku hanya begitu senang jika selalu diperhatikan olehmu, seolah-olah aku tidak rela jika kamu tak lagi memerdulikanku. Aku takut jika kamu akan pergi bekerja lembur seperti dulu lagi dan tak lagi banyak waktu untukku." Ucap Alisya berkaca-kaca.


Hati Aldo tak kuat melihat istrinya berlinang air mata. Aldo juga menyadari mungkin saja Alisya berubah lebih sensitif karena efek dari kehamilannya. "Oloh-oloh-oloh istriku yang paling cantik, yang paling imut, yang paling cuby, yang paling unyu-unyu, kenapa matamu jadi berlinang seperti ini. Ayo kemarilah aku akan membopongmu masuk ke dalam rumah."


Alisya jadi tersenyum dan tak jadi menjatuhkan buliran air matanya. Aldo mengankat tubuh Alisya dan menurunkannya di atas sofa. Aldo mengusap ujung mata Alisya yang sedikit berair dengan kedua tangannya kemudian disusul dengan kecupan di dahi istrinya itu.


"Alisya sayang, jangan berpikir sembarangan. Akan tidak baik bagi bayi kita jika kamu sering bersedih seperti ini. Percayalah padaku bahwa aku akan menggunakan lebih banyak waktuku untuk menemanimu. Bukankan kemarin aku juga sudah berjanji bahwa aku akan selalu pulang untuk makan siang di rumah. Selesai bekerja aku juga akan langsung pulang. Apakah itu masih kurang? Atau jika perlu aku akan mengambil cuti lagi yang lebih panjang untuk kita bersama."


"Tidak Aldo, jangan ambil cuti lagi. Gunakan cuti panjangmu untuk menemaniku saat aku akan melahirkan nanti. Maafkan aku jika mungkin aku terlalu mengekangmu."


"Tuh kan mulai lagi. Tidak ada yang berfikir bahwa kamu mengekangku Alisya. Jika kamu masih saja berpikir sembarangan seperti itu maka aku akan menghukummu dengan sepuluh kali ciuman setiap kali kamu berulah lagi. Bagaimana? Apakah kamu setuju."

__ADS_1


"Hehehe, tidak mau. Bisa-bisa nanti bibirku akan bengkak karenamu." Ucap Alisya dengan senyumannya.


"Emm bagaimana jika besok kamu ikut saja denganku pergi ke perkebunan milik Jacob. Pasti kamu akan suka. Tadi aku juga kesana, dan aku melihat tumbuhan kopi disana sedang berbunga dan mengeluarkan aroma yang sungguh wangi. Saat itu aku langsung teringat padamu dan ingin mengajakmu kesana."


"Mau" jawab Alisya dengan suara manjanya.


Aldo tersenyum dengan lega setelah melihat Alisya tak lagi berwajah murung dan berkaca-kaca lagi. "Apakah sekarang kita bisa makan siang Alisya."


"Tentu saja, ayo kemarilah. Aku sudah memasak rendang jengkol kesukaanmu. Aku juga memasak sayur urap dan juga menggoreng ayam ungkep dengan bumbu yang semalam kamu beritahukan padaku." Kata Alisya sambil menyeret tangan Aldo dan membawanya ke ruang makan.


"Waah.. benar-benar menu kesukaanku semua ini, terimakasih sayangku. Aku pasti akan tambah sampai dua kali jika seperti ini. Kamu tidak malu kan jika tiba-tiba nanti perutku jadi buncit karena kebanyakan makan?"


"Tidak mau, bisa-bisa nanti orang akan bilang bahwa kamu yang hamil jika perutmu buncit. Mulai besok pagi kamu harus berolah raga setiap pagi sebelum beraktifitas."


"Ok baiklah, aku akan berolah raga setiap hari, tapi aku akan melakukannya beesamamu di atas kasur. Bukankah itu juga termasuk olah raga?"


"Mana boleh seperti itu. Itu tidak akan mengecilkan perutmu. Yang ada nanti perutku tidak akan kempes-kempes karena sudah terisi lagi berkat ulahmu. Pokoknya aku tidak mau mempunyai suami yang berperut buncit."


Aldo hanya tertawa melihat Alisya yang terlihat begitu khawatir dengan acamannya kali ini. Sampai-sampai Alisya menghentikan tanganya yang sedang mengambilkan nasi untuknya dan mengomel panjang lebar bahwa dirinya tak boleh berperut buncit dan harus menjaga tubuh dengan olah raga yang teratur. Aldo mendengarkan setiap ocehan dari istrinya yang begitu panjang dan tiada henti bagaikan rel kereta api.


"Sendiko dawuh kanjeng ratu" jawab Aldo dengan bahasa Jawa yang jika diartikan artinya adalah siap melaksanakan tugas tuan putri.


Alisya terlihat begitu senang dengan mengembangkan senyuman seratus watt nya. Alisyan kemudian melanjutkan aktifitasnya mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Alisya terlihat puas akan jawaban dari suaminya. Terlihat dari bagaimana Alisya mengambilkan nasi dan lauk yang begitu banyak untuk suaminya itu.


"Silahkan suamiku sayang. Kamu boleh makan dengan porsi yang besar karena nantinya kamu akan berolahraga dan mengubahnya menjadi kalori." Kata Alisya dengan lembut.


"Hehehe, kamu sungguh lucu Alisya. Dengan kata-kataku saja, aku sudah bisa mendapatkan kembali hatimu." Gumam Aldo dalam hati yang sebenarnya merasa menang dengan sedikit mengalah kepada istrinya. Aldo tau jika cara paling ampuh untuk menghadapi istrinya yang sedang mengomel adalah dengan mendengarkannya dengan sepenuh hati dan kemudian menuruti kemauan istrinya.


Alisya bukanlah tipe wanita yang akan takluk dengan suapan barang-barang brandet atau diajak jalan-jalan ke mall dan membelikannya barang yang dia mau. Aldo tau betul bahwa istrinya akan lebih suka jika kata-katanya di dengarkan dan kemudian diberi ciuman kasih sayang atau dengan mengajaknya ke tempat-tempat berpemandangan yang indah dan menghabiskan waktu seharian bersamanya.


Aldo begitu lahap memakan sesuap demi sesuap makanan yang telah dimasak oleh istrinya itu. Rasanya memang begitu memanjakan lidah. Aldo juga sangat bangga karena memiliki istri yang begitu pandai memasak.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Aldo terpaksa harus berpamitan kembali kepada Alisya untuk kembali bekerja di perusahaannya. Karena dari pagi tadi Aldo pergi ke perusahaan Jacob maka siang itu dirinya kembali ke pekerjaannya sendiri mengontrol dan mengecek jalannya proses produksi di pabrik teh dan perkebunanya.


Sebelum Aldo berangkat, terlebih dulu ia mencium perut Alisya yang sudah mulai kelihatan sedikit membuncit. Tak lupa Aldo juga memberikan jatah ciuman untuk itrinya agar jangan sampai ada seorang ibu yang merasa cemburu dengan anaknya sendiri.


Karena hari itu adalah hari pertama Aldo pergi ke kantornya. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Setumpuk berkas sudah menunggunya untuk ditandatangani. Aldo juga mulai mencari chanel dan peluang untuk membuat produknya bisa segera go internasional.


Aldo pulang jam lima sore, walaupun masih begitu banyak pekerjaan yang menunggu, akan tetapi Aldo sudah memutuskan untuk tetap pulang lebih awal dan membawa pulang beberapa pekerjaannya yang bisa ia kerjakan di rumah.


Setiba di rumah Aldo juga sudah disambut Alisya yang sudah membukakan pintu ketika mendengar suara mobil suaminya memasuki pekarangan rumah. Alisya terlihat sudah berganti pakaian dan sepertinya baru saja selesai mandi dengan aroma sabun yang masih tercium wangi ketika Aldo menghampirinya.


"Huum wangi sekali. Sini aku cium dulu." Ucap Aldo sambil mencium pipi Alisya sambil mengendus dengan hidungnya.


"Tentu saja aku kan istri yang baik dan pengertian. Lelahmu pasti akan sedikit berkurang dengan melihat istrimu yang selalu terlihat cantik ketika kamu pulang bekerja. Bawa kemari tasnya, aku akan membawakannya untukmu." Ucap Alisya sambil merebut paksa tak jinjing suaminya.


"Tidak perlu Alisya. Tas ini terlalu berat untukmu. Biarkan aku saja yang membawanya. Aku hanya butuh kamu sambil memelukku sembari kita masuk ke kamar."


Tanpa ragu Alisya memeluk Aldo dan mengikuti langkah suaminya yang berjalan pelan munuju kamar mereka. "Apakah kamu mau langsung mandi suamiku? Aku akan menyiapkan air dan baju ganti untukmu." Tanya Alisya sang terus saja menempel di rubuh suaminya seperti benalu itu.


"Kamu istirahatlah dengan duduk manis disini. Aku akan melakukannya sendiri Alisya. Aku tau jika seharian ini kamu pasti tidak mau berdiam diri dengan membereskan rumah. Padahal aku sudah bilang bahwa nanti aku yang akan melakukannya untukmu. Aku tidak mau kamu kelelahan lagi Alisya." Ucap Aldo yang merasa rumahnya menjadi semakin bersih dan rapi ketimbang siang tadi saat dirinya pulang untuk makan siang.


"Aku tidak capek Aldo. Aku hanya mengerjakan sedikit pekerjaan yang tidak menguras banyak tenaga. Aku masih menyisakan pekerjaan berat seperti mengepel dan mencuci baju untukmu." Jawab Alisya mencari pembenaran atas ucapannya.


Aldo tersenyum dan kembali menghadiahkan ciuman untuk istrinya yang saat ini duduk di sampingnya. "Baiklah-baiklah. Kalau begitu, sekarang ijinkan aku untuk sedikit lebih bekerja keras dengan melakukannya sendiri selama aku masih bisa melakukan hal-hal sepele seperti menyiapkan air dan pakaian ganti. Pikirkanlah jika kamu terlalu memanjakanku maka bisa saja nanti perutku akan buncit karena tak banyak bergerak karena semua pekerjaan rumah berusaha kamu selesaikan sendiri.


Alisya kemudian tak berkomentar lagi karena jawaban dari suaminya yang masuk akal itu.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2