CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
JOHAN YANG LICIK


__ADS_3

Sementara Johan yang sedari tadi membuntuti Salisa dan Jacob, merasa begitu senang takkala sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadanya.


Johan yang melihat Salisa dan Jacob pergi ke bar langsung menyusun rencana jahatnya. Johan dan Mita duduk di tempat yang jauh namun tetap bisa memantau keberadaan Salisa dan Jacob seperti sebelum-sebelumnya ketika mereka membuntuti kemanapun Salisa dan Jacob pergi.


Jacob dan Salisa duduk berhadapan di meja yang tak jauh dari bar tender. Jacob memesan sebotol wine kualitas premium untuknya dan jus jeruk untuk Salisa.


Salisa yang belum pernah datang ke bar sebelumnya hanya bisa mengamati keadaan sekeliling. Tempat itu dipenuhi oleh orang-orang mabuk dan wanita-wanita cantik dengan pakaian sexi. Salisa juga memandangi bagaimana Jacob meneguk setiap wine yang ia tuangkan di gelasnya.


Malam itu Jacob tak banyak bicara, Ia terus saja menenggak habis minuman beralkohol tinggi itu dengan sesekali mengernyitkan bibirnya.


Salisa mulai bosan dengan suasana itu, Ia menghabiskan jus jeruk di hadapannya kemudian mengajak Jacob untuk mengantarnya pulang ke hotel.


Tetapi sepertinya Jacob sudah terlalu mabuk dan tak bisa diajak berkomunikasi. "Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus meninggalkannya sendiri disini? tapi aku berhutang budi banyak sekali kepadanya. Tak mungkin aku membiarkannya bermalam di tempat ini."


Akhirnya Salisa membantu Jacob untuk berjalan dengan memapahnya perlahan. Salisa menggantikan Jacob untuk mengendarai mobil dan juga membantunya kembali ke kamarnya.


Sesampai di kamar Jacob, Salisa kesulitan bagaimana ia harus meletakan tubuh yang berat itu ke atas kasur. Karena tak kuat menahan beban yang berat tubuh Salisa ikut terseret dan jatuh menimpa tubuh Jacob. Kini wajah mereka begitu dekat dan hanya menyisakan jarak beberama sentimeter saja.


Salisa dapat melihat bulu mata Jacob yang cukup panjang dan cukup lentik bagi seorang pria, Salisa mengamati wajah tampan laki-laki yang masih tak sadaekan diri itu. Saat Salisa akan beranjak, tiba-tiba Jacob membalikan tubuhnya. Salisa mencoba menghindar dengan mengulingkan tubuhnya. Bukanya berhasil menghidar, kini tubuhnya malah berganti tertimpa laki-laki berbadan kekar itu.


Salisa mengerjapkan matanya beberapa kali."Apa yang harus kuperbuat? apa yang harus aku lakukan agar bisa terlepas dari tubuh yang berat ini. Saat ini bahkan Salisa dapat mencium aroma tubuh Jacob yang wangi itu.


Jacob mengigau dan mengeluarkan suara yang tidak jelas dari mulutnya. Salisa mencoba membangunkan Jacob dengan memanggil-manggil nama Jacob sambil menusuk-nusuk punggung pria itu dengan Jarinya.


"Kenapa tubuhku terasa panas sekali." Jacob mulai menggeliat dan terlihat kegerahan. Tiba-tiba Jacob beranjak dan menanggalkan pakaiannya.


Salisa menjerit melihat Jacob melepas baju yang Jacob kenakan. Entah mengapa Salisa juga merasakan tubuhnya juga menjadi panas. Secara sepontan Salisa menutup matanyadengan tangannya, namun ia tak menutup dengan benar, Salisa merenggangkan jari-jarinya sehingga ia tetap bisa melihat dada bidang dan perut kotak-kotak layaknya roti sobek itu.


Mendengar jeritan Salisa, Jacob mulai tersadar. Namun ia sedikit bingung kenapa ada wanita cantik di dalam kamarnya. Jacob mendekati wanita itu dan mencodongkan tubuhnya untuk mengamati dengan seksama siapa wanita dihadapannya.


"Salisa." Jacob mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tak dapat menemukan jawabannya. Jacob mendudukan tubuhnya disamping Salisa yang duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa kali ini kamu terlihat cantik sekali Salisa?" Jacob terpesona dengan kecantikan Salisa. Entah mengapa hasrat laki-laki itu tiba-tiba memuncak dan ingin sekali melampiaskannya.


Jacob mengaitkan tangannya di belakang leher Salisa. Ia mendekat dan mencium bibir Salisa yang terlihat merah seperti buah ceri. Ciuman itu begitu lembut dan penuh hasrat. Ini adah ciuman kedua bagi Salisa setelah ciuman pertama seumur hidupnya yang tak sengaja ia lakukan dengan laki-laki sama yang kali ini tanganya mulai bereaksi mengikuti hasrat alami seorang laki-laki normal yang keinginan birahinya tiba-tiba memuncak bagaikan disambar petir disiang bolong.


Hal aneh juga terjadi pada Salisa, Keinginan untuk merasakan kembali setiap kecupan dan belaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya itu membuat bulu kuduknya merinding dan degup jantungnya tak terkontrol lagi.


Salisa menyambut setiap perlakuan manis pria tampan yang kini berubah menjadi begitu bergairah dan mulai liar layaknya seekor Singa jantan yang siap menerkam mangsanya. Salisa bisa merasakan betapa laki-laki itu begitu mendambakan setiap jengkal tubuhnya yang sudah dijamah dengan penuh perasaan.

__ADS_1


Jacob terkesiap ketika melihat satu-persatu tubuh Salisa yang berhasil ia temukan dengan melucuti kain yang tadinya membungkus dengan rapi tubuh putih bersih dan mulus tanpa cacat sedikitpun. Tubuh dari seorang wanita dewasa yang telah tumbuh dengan sempurna dan mencengangkan laki-laki yang juga belum pernah melihat dan merasakan betapa indah dan memanjakan kelima panca indranya yang haus dan dahaga akan hal tabu dan hanya ada dalam benaknya selama ini.


Seperti saling membutuhkan, keduanya tenggelam di dalam hasrat yang membara. Malam itu Salisa dapat merasakan kejantanan dari seorang pria. Begitu pula dengan Jacob, Malam itu adalah malam dimana ia bisa meluapkan seluruh keinginan terpendamnya sebagai lelaki sejati.


Malam yang melelahkan sekaligus bendebarkan bagi keduanya. Sesekali terdengar jeritan mendesah Salisa yang kesakitan karena baru pertama melakukan hal itu. Entah berapa lama mereka bergulat di atas kasur yang empuk itu, Suara decitan kasur dan erangan keduanya menjadi saksi dari dua hasrat yang menggelora.


Suara alarm yang Salisa setting jam lima pagi di ponsel Salisa, bahkan tak mengusik keduanya. Karena kelelahan, Jacob dan Salisa tertidur dengan lelap dan belum menyadari apa yang sebenarnya telah mereka lakukan.


Kini Matahari mulai meninggi, Sinarnya menembus masuk kamar Jacob melalui sela-sela ruangan itu membuat tidur nyenyak Salisa terganggu dengan cahaya yang menyilaukan matanya. Sayangnya hal itu masih belum mengusik tidurnya, Salisa ingin sebentar lagi membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dan tak bertenaga.


Salisa menutup wajahnya dengan batal agar sinar matahari yang menyilaukan tak bisa mengganggunya lagi. Salisa juga menarik selimutya hingga menutupi seluruh tubuhnya yang terasa kedinginan oleh pendingin di ruangan itu. Anehnya Selimut itu susah sekali ia tarik. Dengan susah payah Salisa menarik selimut itu dengan sisa tenaganya.


Hal aneh kembali ia rasakan, tiba-tiba selimutnya tak lagi menghangatkan tubuhnya seperti ada yang menariknya dari sisi lain.


Menyadari hal itu, Salisa memaksakan untuk membuka matanya dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Salisa menjerit dengan sekuat tenaga ketika mendapati tubuhnya terekspose tanpa busana dan ada seorang laki-laki disampingnya yang terlihat bertelanjang dada dengan setengah tubuhnya tertutup oleh selimut.


Jacob terkesiap kaget dan terbangun dari tidurnya mendengan jeritan lantang yang memekakkan telingannya.


"Ada apa?" Jacob melihat Salisa ketakutan dengan meringkuk di ujung kasur dan hanya terlihat kepalanya saja. Sepertinya Jacob bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan jeritan gadis itu. Jacob mencoba memastikan praduganya dengan mengintip bagian bawah tubuhnya di balik selimut.


Menyadari hal yang ia takutkan terjadi Jacob ikut menjerit dan menarik selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya. Salisa juga tak mau kalah, ia mempertahankan sehelai kain yang melindungi tubuhnya itu dengan seluruh tenaganya.


Mereka mencoba mengurai ingatan mereka untuk mengingat kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Keduanya akhirnya melepaskan ego masing-masing untuk bisa menguasai seluruh selimut itu. Karena dengan berbagi mereka tetap bisa menutupi kehormatan mereka yang mungkin saja telah hilang dalam satu malam itu.


Saat ini yang terlintas di ingatan Jacob adalah adegan-adegan erotis yang membuat dirinya menelan ludah beberapa kali sambil membayangkan lekuk tubuh wanita dibalik selimut yang saat ini menutupinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Awas ya, jangan coba-coba berani mendekat kemari, jika hal itu kamu lakukan aku akan menjerit sekeras mungkin."


"Siapa juga yang ingin mendekatimu, aku hanya sedang berusaha untuk mengingat kejadian semalam. Sepertinya semalam aku terlalu banyak minum dan menjadi mabuk hingga tak sadarkan diri, aku mengingat sepintas bahwa kamu membantuku kembali ke hotel dengan memapahku. Setelah itu kita....."


Sebelum Jacob melanjutkan kata-katanya Salisa membungkam mulut Jacob agar tak melanjutkan perkataan yang sudah ia tau kemana ujungnya. Hal itu membuat kaki mereka yang masih dalam satu selimut saling bergesekan. Tanpa sengaja hal itu membuat Jacob gugup dan tak sadar membuat genggaman selimutnya terlepas. Dada bidangnya kembali terekspose.


Salisa menutup matanya dengan salah satu tangannya. Karena merasa canggung dan ingin menutup tubuhnya kembali, Jacob menarik dengan kuat selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga menyisakan kepalanya saja.


Karena begitu kuat tenaga yang digunakan Jacob untuk menarik selimut itu, membuat kain yang hanya di pegang dengan satu tangan oleh salisa ikut tertarik. Jacob melongo, kedua matanya terbealak dan membulat sempurna, tatapannya terpusat pada dua buah gundukan bulat bak buah melon yang telah ranum.


Salisa sangat malu dan dengan panik menyeret sedapatnya kain selimut itu untuk menutupi tubuhnya. Kini keduanya kembali beradu tarik-menarik untuk mendapatkan bagian lebih besar dari secuil kain itu. Hal itu tanpa sadar membuat mereka saling mendekat dan saling berhadapan.


Mereka saling pandang, Jacob melihat bibir Salisa yang merah dan terasa begitu manis ketika semalam ia mencicipinya. Kini pandangan Jacob beralih ke leher dan bahu Salisa yang sedikit terbuka. Terlihat banyak sekali bercak merah dan keunguan bukti peninggalan sejarah kebrutalannya semalam.

__ADS_1


Pikiran Jacob kembali tertuju kepada setiap adegan yang membuat urat dibawah perutnya kembali mengeras. Kali ini Jacob benar-benar dalam kondisi yang sadar, namun dinding pertahanannya mulai runtuh, gejolah yang semalam ia rasakan kembali terulang.


Jacob tak tahan melihat godaan dari pesona gadis cantik dengan rambut yang tergerai panjang menambah daya tarik tersendiri bagi Jacob. Cahaya matahari ikut ambil andil dengan membuat pancaran kulit Salisa terlihat bersinar, membuat laki-laki dihadapannya itu hampir meneteskan air liurnya.


Jacob mencium bibir Salisa kembali, Ia mendorong tubuhnya hingga membuat Salisa terbaring tepat di bawah tubuhnya. Jacob merasakan kembali manisnya bibir mungil itu.


"Ternyata semalam itu bukalah sebuah mimpi." kata Jacob dalam benaknya. Salisa ikut terbuai dalam suasana itu dan menikmati setiap kecupan lembut bibir laki-laki yang memperlakukannya dengan penuh perasaan dan membuatnya begitu merasa nyaman.


Jacob menarik selimut yang menghalangi tubuh mereka dan melemparkannya ke sembarang arah. Tubuh mereka kini saling menempel. Gesekan demi gesekan membuat darah di tubuh mereka seperti berdesir, mengalir lebih cepat.


Jacob kembali memenuhi tubuh Salisa dengan kissmark, hampir semua celah di tubuh Salisa yang belum ia beri tanda Jacob sambangi. Salisa terlihat begitu menikmati sensasi yang Jacob berikan untuknya. Gadis itu menggeliat tak kuat menahan rasa geli dan sensasi tersendiri yang sulit ia jelaskan dari hembusan nafas Jacob ketika menyentuh kulitnya, dari setiap sentuhan tangan Jacob yang menari di atas tubuhnya menyusuri setiap lekuk dan tak menyisakan satu bagian yang terlewatkan.


Setiap sentuhan-sentuhan nakal di bagian-bagian tersensitif dari tubuhnya. Kali ini Jacob ingin menggunakan senjata pamungkasnya untuk membuat wanita di dalam kuasannya itu menjerit dan mendesah seperti ingatannya semalam.


Namun sebelum hal itu terjadi, Salisa mulai tersadar dan menyadari jika hal itu tidaklah benar. Dengan sekuat tenaga, Salisa menghindar dan mendorong tubuh Jacob dengan kuat.


"Aku mohon hentikan Jacob, Kita seharusnya tidak pernah melakukan hal ini." Air mata Salisa mulai berjatuhan. Sepertinya Jacob juga sudah mulai tersadar. Ia berusaha untuk mengontrol dirinya dan mengembalikan kesadaran pikiran dan hasratnya.


"Maafkan aku Salisa, entah mengapa sepertinya aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku juga bingung kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan kemarin aku merasa biasa saja ketika melihat bule-bule yang mengenakan pakaian minim bahan itu. Aku merasa sepertinya hal ini diluar kendali dan akal sehatku."


Hal yang sama juga dirasakan oleh Salisa. Sepertinya ia memang tak bisa mengotrol pikiran dan perbuatannya dengan baik dan benar.


"Kamu cepatlah pergi ke kamar mandi dan kenakan pakaianmu! Aku akan menutup mataku rapat-rapat." Perintah Jacob kepada Salisa.


****


Ternyata dibalik semua kejadian itu adalah rencana licik Johan yang sudah mengikuti Salisa dan Jacob kemanapun mereka pergi. Merasa mendapat kesempatan bagus, Johan melancarkan aksinya. Laki-laki itu sengaja menyamar menjadi seorang pelayan yang mengantarkan pesanan kepada Salisa dan Jacob.


Johan telah menambahkan obat perangsang di dalam minuman yang dipesan Jacob. Ia juga khusus menambahkan obat penambah keperkasaan agar jika seorang laki-laki melakukan hubungan badan, maka akan bertambah besar kemungkinan untuk benihnya bisa berhasil dibuahi.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


**Jangan lupa dukung author selalu ya, dukunganmu adalah semangat untukku berkarya. โ™กโ™กโ™กโ™ก


Untuk sementara glori akan lebih banyak bercerita tentang kisah cintanya Salisa dan Jacob ya, tapi tenang saja. Alisya dan Aldo juga tetep lanjut kok. Porsinya aja yang sedikit berbeda. Yang udah kangen Alisya, tunggu episode berikutnya deh. Akan author sembuhkan rasa rindu kalian.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚**


__ADS_2