CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KEBERSAMAAN


__ADS_3

Sepulang dari berkeliling, Alisya dan Aldo kembali ke villa. Terlihat semua orang sedang sibuk untuk menyiapkan barbeque di teras samping.


"Ka Alisya, ayo cepat kesini bantu kami menyiapkan bumbu. Kaka kan paling enak kalo bikin bumbu barbeque." Salisa tampak begitu senang melihat kakaknya pulang.


"Baiklah. Tunggu sebentar ya. Aku akan ke kamar sebentar untuk berganti baju."


Terlihat senyum kebahagiaan dari dua keluarga besar tersebut. Semua orang ikut berpartisipasi di acara itu. Selesai bersantap, mereka berkumpul dengan membuat api unggun untuk menikmati kebersamaan mereka. Aldo mengambil gitar dan mulai memainkannya.


"Ayo Alisya benyanyi lah aku akan mengiringi mu."


"Bagaimana kalau kita semua saja yang bernyanyi. Pasti akan seru."


"Baiklah, kita akan menyanyikan lagu Kemesraan milik iwan fals."


Mereka bernyanyi sambil duduk mengelilingi api unggun. Orang tua Alisya dan Aldo sudah berteman sejak lama. Jadi acara itu termasuk juga sebagai ajang reuni untuk mereka.


"Antoni, mulai besok pagi Alisya akan tinggal di rumah kami untuk sementara. Apakah kamu keberatan? Dulu kita bahkan pernah bercanda untuk bertukar anak agar aku memiliki anak perempuan dan kamu punya anak laki-laki. Tapi lihatlah, sekarang keduanya menjadi anak kita."


"Kamu benar sekali Winata. Dulu waktu Alisya masih kecil, kalian sering membawanya pulang dan merawatnya seperti anak kalian sendiri. Sampai-sampai Alisya sering tak mau pulang ke rumah karenanya. Sekarang Alisya benar-benar menjadi anak kalian juga. Aku sangat lega dan bahagia, Karena anakku pasti akan diperlakukan dengan baik di keluarga mu."


"Tentu saja. Bahkan sebelum anak kita menikah, aku dan Rahma sudah menganggap Alisya sebagai anak kami juga."


"Oh iya Antoni. Aku hampir lupa untuk mengatakannya. Waktu itu saat di pesta pernikahan, aku melihat Doni Heriyanto datang ke acara itu. Tapi kulihat Doni tak datang menemui kita. Aku juga pernah dengar jika sebelumnya kamu pernah berencana untuk menjodohkan Alisya dengan Anaknya. Kenapa itu bisa terjadi, dan kenapa perjodohan itu dibatalkan."


"Itu memang benar. Tadinya aku tidak berencana untuk menjodohkan Alisya kepada siapapun. Waktu itu Doni bersikeras untuk menjodohkan anaknya yang bernama Bastian kepada Alisya. Karena aku menghargai persahabatan di atara kami jadi aku juga tak bisa menolaknya. Aku meminta biarkan saja mereka untuk saling mengenal terlebih dulu."


"Iya papa Winata. Waktu itu Alisya menuruti permintaan papa. Alisya setuju bertemu dengan Bastian untuk mengenal satu sama lain. Tapi Alisya langsung dibuat kecewa bahkan disaat pertemuan pertama kali."

__ADS_1


"Apa yang terjadi Alisya. Mama sangat penasaran." Mama Rahma ikut menimpali.


"Pokoknya Alisa sudah dibikin ilfeel dari pertemuan kami. Alisya bisa melihat jika Bastian bukanlah cowok yang setia. Matanya terus saja berpindah-pindah mengamati gadis-gadis cantik. Saat Alisya berpamitan ke kamar kecil, Alisya melihat dengan mata kepala sendiri jika Bastian sedang berusaha menggoda seorang wanita cantik yang baru saja datang. Langsung saja Alisya merekamnya dan Alisya perlihatkan kepada papa."


"Benarkah? selanjutnya apa yang terjadi?" Rahma kembali bertanya.


"Saat itu Alisya bersikap seolah tak ada yang terjadi dan kami masih mengobrol santai seperti biasanya. Setelah pulang Alisya menceritakan semuanya kepada papa dan mama. Jadi kami segera mencari cara untuk membatalkan perjodohan itu tanpa harus membuat paman Doni tersinggung."


"Lalu bagaimana kamu bisa mengatasi masalah itu Alisya?" Aldo ikut bertanya karena ia juga belum sepenuhnya tau mengenai masalah perjodohan itu.


"Awalnya Alisya ingin meminta bantuan mu untuk menangani masalah ini. Tapi waktu itu kamu malah bersikap kekanakan dengan membohongiku kalau kamu sudah berpacaran dengan Nesyah. Hal itu membuatku begitu patah hati."


"Maafkan aku Alisya. Waktu itu aku bersikap seperti pecundang dan malah menyakiti hatimu."


"Baiklah-baiklah aku sudah memaafkan mu dari dulu. Untung saja waktu itu ka Adrian mengajukan diri untuk memberikan bantuan. Kami berdua mendatangi paman Doni di perusahaannya. Waktu itu Alisya ketakutan jika paman Doni akan mengamuk atau melakukan hal diluar batas. Alisya meminta ijin ke kamar mandi untuk menghilangkan sedikit rasa takutku.Tapi entah apa yang dikatakan ka Adrian waktu itu. Setelah Alisya kembali dari kamar mandi raut wajah paman Doni sudah berubah menjadi lebih ramah. Dan ka Adrian bilang jika paman Doni bersedia untuk membatalkan masalah perjodohan itu."


"Mungkinkah Doni masih tak terima dengan kejadian itu Antoni? Kenapa Doni tak datang menyalami kita di acara pesta. Waktu itu aku juga melihatnya mengepalkan tangan dan meninjukan nya pada mobilnya sendiri. Seolah Doni menyimpan kemarahan dihatinya." Kata Winata dengan raut wajah kecemasan.


"Sekarang aku juga sedikit mengkhawatirkan hal itu Winata. Dari dulu Doni kan jadi saingan dan rival mu di dunia bisnis." Ucap Antoni sambil menggosok dahinya. Terlihat jelas raut kecemasan di wajahnya.


"Semoga saja kali ini Doni tak membalas dendam dan melakukan hal-hal tak terpuji seperti biasanya dalam persaingan bisnisku kepadanya."


Perusahaan Doni Heriyanto adalah saingan bagi perusahaan milik keluarga Winata. Dari dulu Doni sering melakukan banyak cara yang tak terpuji demi mendapat tender. Sebab itulah mereka semua sedikit khawatir, apalagi saat ini Alisya menikah dengan Aldo. Mungkin Doni akan berfikir dia ditipu dan dibodohi oleh keluarga Antoni.


"Sudahlah. Mari kita berhenti membicarakan hal itu lagi. Bukankah sekarang kita sedang bersenang-senang untuk pernikahan anak kita. Ayo kita menyanyikan beberapa lagu lagi." Maria mencoba menjadi penengah dan mencoba membuat suasana menjadi hangat kembali dan tak memikirkan kekhawatiran itu lagi.


Akhirnya mereka berusaha untuk tak memikirkan masalah itu lagi. Mereka kembali menyanyi bersama. Alisya dan Aldo saling berangkulan.

__ADS_1


Malam semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.


Alisya memijit-mijit kakinya karena merasa pegal dan ngilu setelah sore tadi berjalan-jalan mengelilingi kebun teh yang begitu luas itu.


"Kamu kenapa Alisya? apakah kakimu sakit? berbaringlah kesini! aku akan memijitnya untukmu."


"Benarkah kamu mau memijit kakiku Aldo?"


"Tentu saja. Mana mungkin aku akan membiarkan istriku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kelelahan."


"Ayo cepat berbaring!"


Alisya kemudian berbaring dan Aldo mulai memijit kakinya. Mungkin karena terlalu kelelahan Alisya tertidur saat baru saja Aldo mulai memijit.


"Bagaimana Alisya, apakah sekarang kakimu sudah mulai mendingan?"


Karena tak ada balasan dari Alisya. Aldo kembali bertanya kepada Alisya.


"Alisya, Apakah kakimu masih pegal?"


Akhirnya Aldo menyadari jika istrinya sudah tidur. Aldo kemudian menyelimuti Alisya dan mencium keningnya. Aldo mematikan lampu utama kemudian ikut membaringkan tubuhnya untuk ikut tidur bersama Alisya sambil memeluk istrinya itu.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2