CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KEKHAWATIRAN YANG TAK BERALASAN


__ADS_3

Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela membuat Alisya terbangun karna silaunya.


"Astaga. Dimana aku?" Alisya syok berat ketika mendapati tak ada sehelaipun benang yang menempel ditubuhnya. Ia buru-buru menarik selimut dan membungkus tubuhnya. Alisya menoleh kesamping dan melihat Aldo yang masih tertidur dengan tubuh polosnya. Alinya langsung menutup mata dengan kedua tangannya.


"Ya Tuhan. Teryata ini bukan mimpi. Aku benar-benar menikah dengan Aldo dan semalam....." Alisya mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Senyuman manis mulai terukir dibibirnya yang mungil. Pipinya juga memerah setiap kali adegan-adegan semalam menari-nari dengan jelas dibenaknya.


Alisya memberanikan diri untuk membuka matanya. Alisya kemudian membagi setengah selimutnya untuk menyelimuti Aldo yang masih terlihat lelap dengan tidurnya. Alisya memeriksa tubuhnya. Terdapat banyak sekali kissmark yang ditinggalkan Aldo.


"Ini bukan mimpi Alisya. Sekarang apa yang perlu kamu khawatirkan lagi. Laki-laki yang kamu cintai sekarang ada disampingmu. Dia akan selalu ada disetiap pagi saat kamu terbangun dari tidurmu." Tutur Alisya dalam hati sambil menuliskan kata I Love You di dada Aldo dengan jarinya.


Aldo terbangun karna merasa geli dengan tarian jari Alisya di dadanya. Ia membuka mata dan mendapati Alisya sedang tersenyum sendiri dengan memandang kesembarang arah.


"Apa yang sedang Alisya pikirkan? Kenapa dia senyum-senyum sendiri?" Aldo kemudian mendapat suatu ide untuk menjahili istrinya itu. Ia berpura-pura untuk tidur kembali. Aldo ingin tau apa yang akan dilakukan Alisya berikutnya.


Alisya yang tidak tau jika Aldo sudah bangun kemudian menusuk-nusuk dada Aldo dengan jarinya. "Kenapa dia tidak terbangun? Hah dasar kebo. Mau di goncang tubuhnya pun pasti tidak akan bangun." Alisya mengomel dan menjuluki Aldo dengan sebutan kebo.


Alisya beralih memandangi wajah Aldo yang rupawan bak aktor di drama korea itu. Alisya mengusap alis Aldo yang hitam tebal, kemudian menyentuh bibir Aldo dengan lembut.


"Srigala liarku. Ternyata aku bisa menjinakanmu." Alisya hendak mencium bibir itu namun sebelum bibirnya berhasil mendarat, ia sudah dibuat kaget dengan suara Aldo.


"Ada apa Alisya? Apakah semalam masih kurang? Kalau begitu aku akan memberikannya lagi."


Alisya yang kaget setengah mati membulatkan kedua bola matanya dan menjauhkan tubuhnya.


"A a a apa maksudmu Aldo. Aku hanya..."


"Hanya apa Alisya? Lalu siapa yang tadi kamu sebut kebo dan kembali menyembut srigala liar itu?"


"Mana berani aku menyebut dirimu kebo." Alisya tampak kelimpungan saat menjawab pertanyaan Aldo.


"Tunggu dulu. Sejak kapan kamu terbangun Aldo? Apakah sedari tadi kamu mengerjaiku." Karena merasa dipermainkan, Alisya dengan sepontan mencubit pinggang Aldo.


"Ampun, ampun, ampun tuan putri. Hamba mengaku salah." Aldo menggeliat kesakitan dan mengusap bekas cubitan Alisya dengan tangannya.


"Ayo cepat katakan ! Sejak kapan kamu terbangun?"


"Siapa juga yang tak akan terbangun jika jari-jarimu itu menari-nari di dadaku. Tapi ngomong-ngomong, sepertinya tadi kamu menuliskan sesuatu di dadaku. Apa itu Alisya? Aku benar-benar tidak tau apa yang kamu tulis?"

__ADS_1


"Mana ada. Siapa juga yang menulis kata-kata di dadamu. Tadi aku cuma berniat untuk membangunkanmu."


"Benarkah itu Alisya?" Aldo mendekatkan wajahnya di hadapan Alisya.


"Tentu saja." Alisya yang merasa grogi sontak bergerak kebelakang menjauhkan wajahnya dari tatapan maut Aldo.


Bukannya berhenti. Aldo justru semakin meringsek hingga membuat tubuh Alisya terbaring di atas kasur.


"Baiklah. Kamu menang Alisya. Kamu berhasil membangunkanku. Tapi sepertinya kali ini bukan cuma aku saja yang kamu bangunkan."


Aldo kembali menindih tubuh Alisya kemudian mulai mengecup bibir Alisya dengan lembut.


"Hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini Alisya." Aldo membisikan kata-kaka itu dengan begitu lembut di telinga Alisya kemudian menggigitnya.


Desahan Alisya membuat hasrat Aldo semakin meninggi. Aldo memperhatikan dada Alisya yang naik turun seiring dengan irama nafasnya. Mata Aldo kembali terbelalak, mkemudian membenamkan wajahnya disana.


Mereka kembali terhanyut dalam keintiman yang mereka ciptakan. Kicauan burung-burung bersautan menambah romansa siang itu.


Alisya menyeret selimut untuk membalut tubuhnya karna tak berhasil menemukan kembali bajunya yang entah kemana.


Aldo hanya tersenyum geli melihat tingkah Alisya.


"Untuk apa kamu masih begitu malu kepadaku Alisya. Kamu ini lucu sekali. Bukankah aku sudah melihat semuanya."


Alisya tampak begitu malu. Ia beranjak dan bergegas hendak ke kamar mandi.


"Aww sakit sekali, perih." Alisya terlihat sedang merintih kesakitan ketika mulai melangkahkan kakinya.


"Ada apa Alisya? Apanya yang sakit?" Aldo yang begitu khawatir langsung datang menghampiri Alisya.


"Aku tidak papa Aldo. Hal ini sepertinya sangat wajar. Kamu tidak perlu khawatir."


"Alisya, kenapa ada noda darah disini" Aldo memperlihatkan warna merah mencolok di selimut putih itu kepada Alisya. Hal itu semakin membuat Aldo panik.


"Aku akan menggendongmu kembali ke kasur dan memanggil seorang dokter untukmu."


Bukanya ikut panik, Alisya justru tertawa melihat suaminya begitu minim pengetahuan mengenai hal itu.

__ADS_1


"Aku tidak papa Aldo. Kamu jangan memanggil dokter. Nanti yang ada aku akan jadi bahan candaan di rumah ini. Tentu saja ada noda darah disitu karna aku tadinya masih seorang perawan. Dan mengenai rasa sakit ini, itu juga wajar bagi wanita yang melakukannya untuk pertama kali. Sebaiknya setelah ini kamu mencari informasi di Google mengenai hal ini."


"Apakah sungguh tidak apa-apa Alisya? Tadi kamu terkihat begitu kesakitan. Apakah perlu aku gendong kamu ke kamar mandi. Jika perlu aku juga akan membantumu untuk mandi."


Alisya tersenyum dan kembali meyakinkan Aldo bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengannya.


"Aku bisa pergi sendiri Aldo. Berhentilah mencari keuntungan lagi. Aku tau apa yang ada dipikranmu."


"Baiklah kalau begitu. Panggil aku jika kamu butuh bantuan. Aku akan segera datang."


Alisya kembali tersenyum dan segera menggerakkan tubuhnya ke kamar mandi. Sementara Aldo memunguti baju mereka yang berserakan di atas lantai kemudian kembali ke atas ranjang dengan duduk bersandar.


Aldo mengambil ponselnya dan mencari tau mengenai apa yang Alisya katakan tadi. Raut wajahnya kembali menjadi normal setelah selesai membacanya. Kemudian Aldo melihat waktu di layar ponselnya.


"Astaga. Bukankah kemarin semua orang sudah sepakat untuk kembali ke rumah setelah jam makan siang. Pasti sekarang mereka sedang menunggu kami berdua dan sudah merasa kesal karna kami tak kunjung muncul. Apa yang harus aku katakan nanti. Apakah aku bisa menghadapi ayah dan ibu mertua karna membiarkan putrinya melewatkan sarapan dan makan siangnya."


Aldo diserang rasa bersalah sekaligus khawatir jika keluarganya kecewa kepadanya. Aldo segera menyiapkan pakaian ganti untuknya dan untuk Alisya. Sepertinya Alisya kembali melupakan untuk membawa baju gantinya. Aldo menunggu Alisya dengan berdiri di depan pintu kamar mandi.


Setelah Alisya selesai mandi. Ia baru sadar jika melakukan kesalahan yang sama. Alisya membuka pintu pelan-pelan namun sudah mendapati Aldo di depannya.


"Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu. Bahkan aku sudah memilihkan pakaian dalam yang warnanya senada. Kamu sebaiknya berterima kasih pada suami yang begitu tampan dan pengertian ini."


"Trimakasih suamiku sayang."Ucap Alisya dengan mengembangan senyumannya dan segera menerima baju itu.


"Oh iya. Kamu pakai bajunya di kamar saja ya. Aku akan segera memakai kamar mandi ini. Setelah itu kita akan langsung turun dan memberi penjelasan pada keluarga kita."


Alisya menoleh ke arah jam dinding dan sudah paham apa yang dimaksud suaminya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2