CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
DOKTER KANDUNGAN


__ADS_3

"Selamat pagi Alisya" sapa Aldo kepada istrinya yang baru saja terbangun dari tidurnya. Pagi itu Aldo memang sengaja untuk bangun lebih pagi dan membuatkan sarapan berupa roti isi dan segelas susu untuk Alisya.


"Selamat pagi suamiku sayang, kenapa kamu sudah bangun duluan? Apakah kamu lapar? tunggulah sebentar, aku akan segera membuatkan sarapan untukmu." jawab Alisya sambil mengambil ikat rabutnya di dalam laci dan mengikat tinggi rambutnya seperti biasa.


"Tidak perlu sayangku. Kamu tetaplah disini, aku akan membawakan sarapannya kemari." saut Aldo dangan segera meninggalkan kamar tanpa menunggu jawaban dari Alisya.


Tak butuh waktu lama, Aldo kembali ke kamar dengan membawa nampan yang diatasnya tertata dengan rapi roti isi dengan potongan keju slice,tomat,selada,telur mata sapi yang digoreng setengah matang kesukaan istrinya. Segelas susu hangat dan selembar tisu makan. Aldo mengambil meja makan kecil dan meletakannya di atas kasur ditempat istrinya duduk berselonjor.


"Waah, sepertinya sarapannya enak sekali. Apalagi suami sendiri yang menyiapkannya. Terimakasih sayang. Kemarilah, aku juga akan menyuapimu."


Aldo tersenyum bangga mendengar sanjungan Alisya. Aldo kemudian menuruti keinginan istrinya dengan duduk di pinggir kasur menghadap Alisya yang sudah menyodorkan potongan roti untuk disuapkan ke mulut Aldo.


"Tak sia-sia aku bangun pagi kali ini, aku sangat senang melihatmu makan dengan lahap Alisya." ucap Aldo dibarengi dengan mencubit mancung hidung istrinya karena gemas.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu malah tetap bersantai-santai disini dan tak segera mandi Al? Bukankah kamu harus pergi bekerja?" tanya Alisya bermaksud mengingatkan suaminya.


"Tenang saja Alisya, hari ini sudah aku putuskan untuk mengambil cuti dan mengajakmu ke dokter kandungan. Aku sudah tak sabar untuk melihat perkembangan janin yang ada diperutmu." jawab Aldo sambil mengelus lembut perut Alisya yang masih datar dan belum kelihatan bahwa ia sedang mengandung.


"Iya kan sayang. Baik-baik di dalam perut mama ya! Papa akan menyayangimu sama seperti cinta Papa kepada Mamamu. Papa juga tidak akan membagi cinta Papa untuk kalian. Semua akan mendapatkan cinta yang penuh dari Papa." tutur Aldo yang kini berganti meciumi perut istrinya itu. Setelah puas menciumi perut Alisya, Aldo berganti mencium kedua pipi, dahi dan bibir Alisya.


Tersirat raut kebahagiaan dari wajah Alisya, senyumnya berseri-seri tak kala ia bisa merasakan kasih sayang dari seorang suami yang amat sangat mencintainya.


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita bergegas untuk bersiap-siap agar nanti kita bisa mendapat nomor antrian yang tidak cukup lama untuk menunggu. Ayo Aldo, kita berbagi kamar mandi saja kali ini. Aku juga sudah tidak sabar bertemu dengan dokter. Ada banyak sekali pertanyaan didalam benakku yang ingin aku tanyakan langsung kepada dokter. Nanti sebaiknya kamu juga sekalian memeriksakan luka-luka di tumuhmu Al, walaupun terlihat baik-baik saja dari luar, tapi sebaiknya kita juga melakukan pemeriksaan lengkap agar lebih tenang dan tau jika terjadi sesuatu keoada tubuhmu. Aku tidak mau hal buruk menimpamu lagi Aldo, jujur kemarin aku sangat ketakutan melihat wajah dan tubuhmu yang babak belur."


"Iya-iya sayangku yang sekarang mulai cerewet. Aku akan menuruti keinginanmu. Ayo kita mandi, setelah itu aku juga minta tolong untuk memberikan salep di punggungku, aku tak bisa melakukannya sendirian."

__ADS_1


"Tentu saja suamiku. Serahkan pekerjaan itu kepada istrimu." Jawab Alisya sambil mengalungkan tangannya di lengan Aldo dan mengajaknya mandi bersama.


Tak bisa di hindari lagi, bukannya selesai lebih cepat, mereka malah menghabiskan waktu cukup lama berada di kamar mandi. Rencana untuk berangkat lebih awal hanya menjadi angan-angan.


Sesampai di rumah sakit meraka mendapatkan nomor urut yang cukup tinggi dan sepertinya mereka harus mengantri lebih lama untuk bertemu dokter. Kini mereka duduk berdampingan di kursi ruang tunggu. Mereka saling menyalahkan satu sama lain dan menganggap dirinya tak bersalah.


"Ini semua salahmu Aldo, jika tadi kamu tidak menggodaku kita bisa datang lebih awal dan bisa mendapat nomor antrian yang lebih cepat." tutur Alisya dengan memasang wajah cemberut.


"Kenapa jadi salahku? tadi siapa yang memintaku untuk berbagi kamar mandi? lagi pula jangan salahkan aku yang jadi gelap mata melihat isi dibalik pakaianmu." Bantah Aldo tak mau disalahkan.


"Huh, nyebelin pokoknya semua ini salahmu." ucap Alisya yang masih tidak mau mengalah.


Melihat istrinya terlihat murung dan bete, membuat Aldo iba dan tidak melanjutkan sesi debatnya. Lagi pula sebenarnya Aldo juga tidak bersunggung-sungguh menyalahkan Alisya. Ia hanya ingin sedikit menggoda istrinya itu. Tetapi ternyata dampaknya cukup besar merubah mood istrinya. "Mungkin itu bawaan dari kehamilannya." pikir Aldo yang biasanya jarang melihat Alisya bersikap seperti itu.


"Baiklah-baiklah, aku yang salah. Jangan cemberut lagi dong. Kasian anak kita nanti bisa ikut cemberut. Bagaimana kalau aku membelikanmu eskrim coklat vanila kesukaanmu?"


"Baiklah, kamu tunggu disini saja Alisya. Aku pergi tidak akan lama, jadi kamu jangan kangen kepadaku!" Goda Aldo kepada istrinya.


"Siapa juga yang akan kangen juga hanya ditinggal membeli eskrim. Yang ada pasti kamu yang tidak rela meninggalkanku sendiri disini. Tenang saja. Istrimu ini hanya akan berdiam diri menunggu sampai kamu datang lagi."


"Haduh kenapa kamu menanggapinya dengan begitu serius, aku kan hanya ingin menggodamu." saut Aldo yang kemudian mencubit pipi Alisya.


"Hehehe, sudah-sudah cepatlah. Anak kita sudah ingin sekali makan eskrim." Perkataan Alisya yang langsung membuat suami siaga bergegas untuk mendapatkan eskrim.


Akhirnya tiba juga giliran Alisya dan Aldo memeriksa kandungan dan berkonsultasi dengan Dokter. Setiba di ruangan, Alisya diminta oleh seorang perawat untuk ikut dengannya ke ruangan tindakan yang berada disebelah ruang Dokter. Sedangkan Aldo diminta untuk tetap menunggu di ruangan Dokter.

__ADS_1


Perawat itu meminta Alisya untuk menimbang berat badannya kemudian perawat yang satunya lagi bertugas untuk mencatat semua rekam medik Alisya. Alisya diberi instruksi untuk berbaring dan membuka baju di bagian perutnya. Sang perawat mengoleskan semacam gel dingin di atas perut Alisya kemudian memanggil dokter bahwa pasien sudah siap untuk di USG.


Sang Dokter kemudian datang dan menempelkan alat yang membantunya untuk melihat kedalam kandungan Alisya. Alat itu juga terhubung ke layar yang ditempelkan di atas dinding di hadapan Alisya. Sehingga Alisya juga dapat melihat sama seperti yang Dokter lihat.


Aldo yang berada di ruang Doter juga bisa menyaksikan dari layar komputer yang ada di atas meja Dokter. Dokter mulai menjelaskan secara terperinci hasil dari USG kali ini. Alisya ditanya oleh dokter hari pertama haid terakhir yang dialami Alisya. Doter berkata bahwa saat ini usia kandungan Alisya menginjak usia delapan minggu. Janinnya masih sangat kecil sebesar biji kacang hijau.


Suara yang mirip seperti detak jantung mulai terdengar, hal itu membuat Alisya dan Aldo begitu bahagia sekaligus terharu. Doter menjelaskan bahwa sebenarnya itu bukanlah suara jantung, karena pada dasarnya diusia delapan minggu jantung janin belumlah terbentuk. Suara itu berasal dari bakal jantung sang bayi nantinya. Untuk itulah dokter menyarankan untuk berhati-hati dan menjaga dengan baik kandungan Alisya di awal kehamilan semester pertamanya.


Selesai dengan USG, Alisyaa dipersilahkan untuk kembali ke ruangan Dokter. Disana Dokter meresepkan beberapa vitamin berupa penguat janin, penambah darah dan juga pil penambah kalsium yang baik untuk proses perkembangan tulang dan gigi. Dokter juga mempersilahkan bagi oasangan untuk bertanya apasaja mengenai kandungan Alisya sambil menunggu hasil cetak USG.


Hari itu Alisya bertanya banyak hal seputar kehamilan kepada Dokter yang menangani mereka. Dokter wanita itu menjelaskannya dengan sangat ramah dan menyenangkan. Sesekali Alisya dan Aldo manggut-manggut mendengar penjelasan Dokter yang belum meraka ketahui sebelumnya.


Tiba-tiba Aldo teringat dengan hal yang selama ini membuatnya khawatir. "Dokter, saya mau bertanya, apakah kami masih bisa melakukan hubungan badan selama istri saya mengandung?" tanya Aldo dengan sedikit rasa malu karena Dokter itu seorang wanita.


Dokter dengan nama Celin di jas kebesarannya itu tersenyum dan menjalaskan kembali kepada pasangan muda yang sepertinya -sama belum tau itu.


"Tentu saja boleh Tuan Aldo. Kondisi kandungan istri anda saat ini tidak ada yang mengkhawatirkan. Semua baik-baik saja. Akan tetapi banyak hal yang harus diperhatikan."


Dokter Celin kembali menerangkan berbagai hal kepada pasangan pasutri itu. Diantaranya kapan sebaiknya hubungan badan boleh dilakukan, posisi apa saja yang aman dan yang tidak disarankan.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2