CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
JIKA


__ADS_3

Salisa dan Jacob baru saja selesai memasak. Mereka kemudian menghidangkan masakan mereka di atas meja makan, selagi Jacob selesai mengambil beberapa menu masakannya lagi, Salisa membereskan bagian dapur yang berantakan dan kotor. Salisa memang suka sekali dengan kebersihan, ia tidak melewatkan setitik kotoran terlewatkan. Hal itu juga membuat Jacob semakin kagum dengan Salisa.


Setelah semua selesai tertata di meja makan, Salisa kemudian memanggil Papa Antoni dan juga Mama Maria untuk segera ikut bergabung. Salisa juga membangunkan Kakaknya Alisya dan Aldo yang ternyata masih tertidur.


Mereka memuji masakan Salisa kali ini, tentu saja berkat bantuan Jacob yang hampir mengambil alih pekerjaan memasaknya. Suasana di meja makan memang tak se ramai dan seceria biasanya, mereka lebih banyak diam dan tak banyak yang mereka oblorkan.


Hari itu Jacob sengaja tidak pergi ke kantor, Jacob ingin sekali berbincang dengan Salisa mengenai pernikahan mereka. Jacob bernar-benar merasa bersalah dan tidak ingin membuat Salisa menjadi korban dalam pernikahan itu. Ketika salisa sedang membereskan cucian piring, Jacob mendekati Salisa dan memintanya agar nanti siang mereka bisa bertemu di suatu tempat. Mereka memang tidak bisa berbicara empat mata jika terus berada di rumah. Salisa menyetujui permintaan Jacob, karena pada dasarnya Salisa juga ingin berbicara beberapa hal dengan laki-laki itu.


Siangnya Jacob telah menunggu Salisa di sebuah Cafe tempat mereka janjian. Jacob juga sengaja membooking Cafe tersebut agar mereka bisa mengobrol dengan lebih leluasa. Jacob memesan secangkir Kopi Ekspreso dan sebuah desert manis untuknya. Jacob sengaja tak memesankan Salisa terlebih dulu agar nantinya Salisa bisa memesan sendiri sesuai kesukaannya.


Tak lama berselang, Salisa datang juga dan segera menghampiri meja dimana Jacob duduk saat ini. Salisa mengenakan celana Jeans dan sebuah kaos putih bergambar Domba kecil diatasnya. Seperti biasa Salisa juga tak berdandan sama sekali. Dikeluarganya memang tak ada yang suka berdandan layaknya para wanita-wanita pada umumnya. Mungkin karena dari dulu Mama Maria juga jarang sekali berdandan maka hal itu juga menurun kepada kedua putrinya.


"Kamu sudah datang Salisa, ayo duduk dulu. Kamu ingin pesan minuman apa? biar aku pesankan untukmu." kata Jacob dengan ramah.


"Umm, tidak perlu jacob. Biar aku sendiri saja yang pesan." Salisa kemudian pergi meninggalkan Jacob untuk memesan segelas Kopi Amerikano dan Cake tiramisu, salah satu kue kesukaannya. Setelah mendapat yang ia inginkan, Salisa segera membawa nampan berisi pesanannya dan kembali ke tempat duduknya.


"Apa yang ingin kamu katakan Jacob?" tanya Salisa dengan tenang.


"Eem, Apakah sekarang kamu tidak lagi merasa sedih Salisa?" tanya Jacob yang merasa keheranan kenapa sepertinya Salisa begitu tenang seperti tak ada masalah yang sedang menimpanya.


"Tentu saja. Memangnya aku harus bagaimana lagi?" Aku kemarin kan sudah bilang jika aku hanya ingin bahagia dan kelak bisa membesarkan anakku dengan segenap hati dan semua yang aku miliki. Aku tak ingin memikirkan hal-hal lain yang hanya akan membuatku bersedih Jacob. Aku juga akan menerima semua keputusan yang kamu ambil mengenai bagaimana kamu akan bersikap kepadaku dan juga anak yang ada di dalam kandunganku ini."


"Jika aku tak menginginkan anak itu, Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


Salisa terdiam sejenak dan tak segera menjawab pertanyaan dari Jacob. Sepertinya Salisa sedang berpikir tetang hal itu, ia tidak pernah menyangka jika ada seorang laki-laki yang tidak menginginkan anaknya. Dahi Salisa berkerut, matanya menyipit dan pandanganya fokus kepada laki-laki dihadapannya.

__ADS_1


"Aku belum memikirkan hal itu Jacob. Tapi yang pasti aku akan tetap mempertahankan anak ini dan membesarkanya." jawab Salisa penuh keyakinan.


"Bagaimana jika nantinya anak itu kelak menanyakan tentang keberadaan ayahnya? Apakah kamu tidak merasa kasian kepadanya Jika nanti dia akan di olok-olok oleh teman-temannya karena tidak memiliki ayah?"


Pertanyaan Jacob semakin membuat Salisa bingung dan tidak mengerti, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jacob. "Sebenarnya apa maksudmu Jacob? tolong katakan secara langsung saja. Aku tidak mau berbelit-belit lagi."


Jacob tak langsung menjawab pertanyaan dari Salisa. Terlebih dulu, Jacob menyeruput Kopi yang masih tampak mengebul dan terlihat panas itu. Jacob menghela nafasnya panjang dan menatap Salisa dengan lekat.


"Aku akan bertanggungjawab terhadap anak itu Salisa. Tapi semua ini aku lakukan hanya demi anak itu. Aku setuju untuk menikah denganmu agar anak kita bisa tercatat di akta negara dan kelak bisa tumbuh layaknya seperti anak-anak yang lainnya. Aku juga akan memberikanmu nafkah layaknya seperti seorang istri. Haya saja aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu. Kamu tau sendiri jika aku saat ini sudah memiliki wanita yang aku cintai. Kelak aku akan menceritakan semua ini kepada Ana. Aku harap kamu bisa bekerja sama denganku."


"Tentu saja Jacob, aku sudah sangat berterimakasih kamu mau mengakui anak ini. Kelak aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan pribadimu. Aku juga tidak mengharapkan nafkah darimu. Aku masih bisa bekerja dan menghidupi diriku sendiri. Satu hal yang aku minta kepadamu. Sembunyikan rahasia ini kepada semua orang, terutama keluargaku. Aku tidak ingin mereka bersedih untukku."


"Setuju, memang itulah yang juga aku inginkan darimu. Aku juga tidak ingin membuat Kakek bersedih dan mengecewakannya. Aku juga meminta kepadamu agar kita bisa bersandiwara dihadapan mereka layaknya suami istri yang harmonis dan saling mencintai."


"Dokter kandungan? Kalau begitu aku akan mengantarmu Salisa. Lagi pula aku tidak bekeeja hari ini."


"Tidak perlu Jacob, aku bisa melakukannya sendiri." jawab Salisa tak mau merepotkan Jacob.


"Ayolah, lagi pula aku mengantarmu juga bukan untukmu. Aku melakukannya untuk anakku."


Akhirnya Salisa menyetujui tawaran dari Jacob. Salisa mengikuti kemana laki-laki itu berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Selama perjalanan mereka tak saling bertegur sapa sekalipun. Salisa terus saja menatap nanar keluar jendela mobil tanpa menoleh kepada Jacob sedikitpun. Jacob juga terus saja fokus kepada kemudinya.


Sesampaindi rumah sakit, Salisa segera menemui Doter yang telah ia reservasikan sebelumnya. Jacob tak ikut ke dalam ruangan dan tak berniat masuk ke ruangan periksa. Tapi tiba-tiba seorang perawat menghampirinya dan memintanya ikut masuk.


"Silahkan ikut masuk Tuan, istri anda akan merasa lebih senang jika Tuan bisa menemaninya."

__ADS_1


"Trimakasih suster." jawab Jacob yang kemudian ikut masuk ke ruangan periksa. Di dalam sana, Salisa terlihat sedang berbaring. Dokter mengambil stetoskop dan menempelkan ujung yang berbentuk bulat itu di perut Salisa.


Jacob sedikit berpaling ketika melihat perut Salisa terbuka. Jacob hanya mendengarkan percakan Salisa dengan Dokter. Jacob merasa lega karena Dokter berkata bahwa Kandungan Salisa baik-baik saja. Dokter juga mengintruksikan agar Salisa bisa memperiksakan kandungannya secara rutin sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan.


Setelah Selesai dengan pemeriksaan, Salisa dan Jacob segera berpamitan dan berterimakasih kepada Dokter.


"Hari sudah siang Salisa, sebaiknya kita makan siang bersama saja." kata Jacob sambil melihat sekeliling mungkin saja ada restoran di dekat sana.


"Tidak perlu Jacob. Kamu tidak perlu terlalu baik kepadaku seperti ini. Aku masih bisa melakukan semuanya seorang diri." kata Salisa tak ingin selalu menggantungkan hiduonya kepada Jacob.


"Siapa juga yang sedang peduli dan ingin bersikap baik padamu. Tadi kan aku sudah bilang. Aku melakukan semua hal yang baik untuk anakku. Aku tidak melakukan ini untukmu Salisa. Jadi kamu tidak perlu merasa sungkan seperti ini. Mana mungkin aku membiarkan anakku harus menunggu sampai kelaparan."


Jacob kemudian membelikan mobilnya di sebuah resto yang terlihat mewah dan berkelas. "Ayo turun." ucap Jacob kepada Salisa.


Salisa mengikuti kemauan Jacob dan masuk ke resto yang Jacob pilihkan untuknya. Hari itu Jacob memesan begitu banyak makanan yang semuanya adalah kesukaan dari Salisa. Jacob sedikit tau tenteng kesukaan Salisa ketida dulu mereka beberapa kali makan bersama di Bali.


*


*


~Bersmbung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2