CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
DENDAM PAMAN DONI


__ADS_3

Melihat dan menyaksikan keluarga Antoni harmonis dan bahagia ditambah perusahaan yang maju dengan pesat, membuat Doni merasa iri dan dengki. Apalagi setelah pernikahan Alisya dengan Aldo anak dari keluarga Winata yang merupakan saingan terbesar perusahaannya. Doni heriyanto semakin dibuat murka karenanya. Ia merasa dihianati sahabatnya sendiri.


Dulu Doni berencana menjodohkan anak laki-lakinya Bastian dengan Alisya untuk kepentingan bisnis dan mendapatkan dukungan serta kerjasama dengan perusahaan milik Antoni untuk bisa mengalahkan Winata. Sayangnya semua rencananya gagal karena waktu itu Doni juga tak bisa menolak permintaan dari Adrian, salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya.


Doni merasa telah dipermainkan dan ditipu. Karena nyatanya Alisya tak menikah dengan Adrian seperti yang di katakan mereka untuk menolak perjodohan dengan anaknya itu.


"Bagus juga trik mu Antoni. Kamu bahkan meminta bantuan dari Adrian untuk bersandiwara menipuku. Kamu pasti tau jika aku tak bisa menolak permintaan dari keluarga Wisnutama karena mereka adalah investor terbesarku." Doni menggebrak meja kerjanya sambil mengepalkan tangannya. Di dalam hatinya penuh dengan kebencian dan dendam.


"Mulai saat ini aku memastikan bahwa keluargamu tidak akan hidup dengan tenang. Apalagi keluargamu Winata. Saat ini kalian boleh merasa bahagia. Tapi itu semua tidak akan berlangsung lama. Aku telah menyiapkan rencana untuk membalaskan dendam ku."


Doni terus saja mengumpat dan mengatai Antoni dan Winata dengan sumpah serapah yang buruk akan menimpa keluarga mereka.


"Hal buruk pertama yang akan menimpamu adalah bangkrutnya perusahaan kelurga Winata. Dengan begitu anakmu Salisa pasti juga akan merasa menderita karena suaminya tak lagi kaya." Begitu pemikiran Doni saat ini.


Dan benar saja, Doni telah menyiapkan rencana dengan begitu matang dan sempurna. Doni memfitnah dan menyebarkan berita buruk tentang produk yang dihasilkan perusahaan Winata. Hasilnya banyak klien yang membatalkan kerjasama dan tak mau lagi menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan Winata.


Akibatnya perusahaan Winata berada di titik yang paling kritis. Perusahaan Winata harus menanggung kerugian yang begitu besar dan terpaksa memakai uang simpanan keluarga untuk menutupi kerugiannya.


Aldo yang sedang ingin merintis usaha sendiri mendirikan pabrik teh juga belum mendapatkan investor. Aldo juga tak bisa membantu menyokong dana untuk menghidupkan lagi perusahaan keluarganya. Ia sudah terlanjur menggunakan sebagian besar tabungannya untuk mendirikan pabrik yang bahkan sampai sekarang juga belum jadi itu.


Sementara keluarga Alisya juga tak bisa membantu banyak. Karena Doni telah mengatur jika perusahaan Antoni membantu dan berpihak kepada perusahaan Winata, maka perusahaan Antoni juga dianggap terlibat dalam kasus dan pasti ikut terkena dampaknya. Keduanya pasti akan sama-sama hancur.


Tadinya keluarga Alisya tidak peduli dan tetap ingin membatu dan bekerjasama dengan perusahaan Winata. Mereka yakin semua itu hanya fitnah dan ingin membantu Winata meluruskan kembali kebenaran yang ada. Namun Winata dan Aldo secara khusus menolaknya dengan halus. Mereka tidak ingin perusahaan Antoni juga terkena imbasnya.


Alisya ikut sedih melihat Aldo yang akhir-akhir ini terlihat begitu kelelahan dan dipenuhi banyak pikiran sepulang bekerja.


"Kemarilah suamiku. Aku bantu melepaskan dasi dan sepatumu. Aku sudah menyiapkan air panas untuk mandi dan sudah ku tambahkan aroma relaksasi agar tubuh dan pikiranmu bisa lebih nyaman."


"Terimakasih istriku tercinta. Kamu memang paling tau apa yang aku mau." Aldo segera mandi dan membersihkan badannya. Kali ini Aldo cukup lama menghabiskan waktunya berendam di kamar mandi.

__ADS_1


Alisya sedikit khawatir karena sedari tadi Aldo belum juga selesai dengan mandinya. Beberapa kali Alisya mondar mandir di depan pintu kamar mandi dan berusaha mendengarkan suara dari dalam kamar mandi dengan menempelkan telinganya di pintu.


"Kenapa dari tadi sunyi sekali ya. Tumben sekali Aldo butuh waktu lama untuk mandi. Bahkan sekarang sudah hampir satu jam Aldo di dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar."


Alisya semakin panik dan mulai berpikiran yang aneh-aneh. Alisya mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada balasan juga. Kemudian Alisya memutar knop pintu, ternyata tak dikunci oleh Aldo.


Alisya masuk dan melangkah dengan perlahan, kemudian mencari keberadaan Aldo. Ternyata Aldo masih berendam dengan air hangat. Mungkin karena merasa nyaman dengan ditambahnya aroma esensial membuat Aldo sampai ketiduran.


Alisya duduk di samping bat up dan memperhatikan wajah suaminya yang terlihat begitu tampan dengan rambut yang sedikit basah dan dada putih bersih yang terlihat bidang membuat Alisya semakin terpesona.


Alisya tak tega ingin membangunkan suaminya itu. Namun ia juga takut jika nanti terlalu lama berendam bisa-bisa malah masuk angin. Alisya memberanikan diri untuk menggoyangkan tubuh Aldo untuk membangunkannya.


"Al, Aldo. Ayo bangun Al. Kalau mau tidur jangan disini. Nanti masuk angin."


"Heemm." Aldo masih saja memejamkan matanya dan tak berniat untuk bangun.


"Suamiku sayang, ayo bangun."


Berulang kali Alisya mencoba membangunkan Aldo. Namun tetap saja mendapatkan respon yang sama dari Aldo. Merasa usahanya dari tadi sia-sia membuat Alisya sedikit jenuh dan kesal.


"Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, ti..... Kalau tidak bangun juga aku akan....."


Aldo membuka sedikit matanya dan mengintip raut wajah istrinya yang berhasil ia kerjain. Alisya begitu tampak imut dengan setelan piama nya. Walau wajahnya sedang cemberut namun hal itu malah membuat Aldo gemas dibuatnya.


"Akan apa Alisya?" Aldo menarik wajah Alisya dengan mengalungkan tangannya di leher Alisya.


Cup, cup, cup, ciuman mendarat di bibir mungil Alisya.


Alisya meronta dan berusaha melepaskan diri. Namun Aldo justru menahan semakin kuat dengan memeluk Alisya dengan tangan yang satunya lagi.

__ADS_1


"Lepaskan Aldo. Bajuku jadi basah ini. Aku tak mau dibuat repot jika harus ganti baju lagi."


"Siapa suruh kamu masuk ke kandang serigala. Tanggung sendiri akibatnya."


Dengan sengaja Aldo mengangkat tubuh Alisya dan ikut membenamkan nya ke dalam batup. Alisya yang tenaganya tak sebanding dengan Aldo tentu saja tak kuat melawannya.


"Kenapa kamu usil sekali sih Aldo. Bagaimana ini? Semua bajuku sekarang jadi basah karena mu."


"Kamu tenang saja. Jika kamu malas ganti baju nanti aku yang akan memakaikannya untukmu. Sekarang kamu jadilah kelinci yang penurut. Temani aku mandi dan ikuti permainanku. Jika tak menurut aku akan memakan mu."


"Tapi aku kan sudah mandi. Lagipula aku juga tidak mau jadi kelinci penurut. Aku akan jadi serigala betina yang ganas."


Aldo dibuat tertawa dengan jawaban dari Alisya. Hal itu semakin membuat Aldo jatuh hati untuk kesekian kalinya dengan wanita yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan itu. Aldo mulai membantu Alisya menanggalkan pakaiannya.


Aroma wangi lavender membuat romansa malam itu semakin syahdu dan semakin membangkitkan hasrat keduanya.


Setelah puas bercumbu. Alisya dan Aldo berbincang-bincang di ranjang mengenai kondisi perusahaan saat ini. Alisya memberi gagasan bagaimana jika mereka berdua tinggal di rumah sendiri dengan membeli rumah kecil yang sederhana. Dengan begitu mereka bisa lebih menghemat pengeluaran mereka.


Waktu itu mereka berencana untuk membangun rumah impian mereka yang letaknya di atas bukit di perkebunan teh nan indah. Namun sepertinya impian itu akan tertunda dengan kondisi perusahaan dan keuangan mereka yang saat ini tidak stabil. Aldo juga baru saja memulai projek pembangunan pabrik dan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk bisa menyelesaikannya.


Mereka juga tidak bisa tinggal berlama-lama di rumah orang tua. Karena mereka berpendapat bahwa orang yang sudah berkeluarga sendiri harus tinggal bersama pasangannya dan meninggalkan orang tua untuk hidup mandiri.


*


*


~Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2