
Aldo memakan baksonya dengan lahap sesekali ia menatap lekat wajah Alisya yang menerutnya selalu terlihat manis dengan gaya ikat rambut tingginya, rambutnya sedikit bergelombang, berponi dan sedikit rambut menjuntai di sisi pipinya menambah kesan imutnya. begitulah Aldo menilai paras wanita disampingnya.
"Kamu benar-benar tidak mau baksonya Alisya..? biasanya kamu semangat sekali kalau ku ajak makan bakso pak totok, malahan kamu sering mengambil paksa beberapa bakso di mangkokku. mau aku pesankan satu untukmu..?" Aldo mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung karna tak biasanya Alisya terdiam seribu bahasa. Alisya juga belum mulai bercerita tentang apa yang ingin ia sampaikan.
" Tidak usah Al, aku masih kenyang"
"Kalau begitu ayo, mulailah bercerita..!! kamu sedang ada masalah..? " tanya Aldo penasaran.
"Sepertinya Alisya sedang ada masalah, sangat terlihat dari raut wajahnya yang tak seceria biasanya"
Aldo mengira-ira dalam hatinya.
Alisya masih membungkam, ia bingung bangaimana menyusun kata-kata yang pas untuk bercerita.
"Ayolah Alisya, kan tadi kamu sendiri yang bilang mau curhat, jangan membuat penasaran napa..!!"
Aldo semakin geram karna dari tadi Alisya belum membuka mulutnya utuk bercerita, Masalah apa gerangan yang membuat Alisya begitu berat untuk bercerita. pertanyaan itu yang dari tadi terlintas di pikiran Aldo.
Aldo menghentikan Aktivitas makannya, ia meletakkan mangkok yang baru berkurang setengah dari isinya itu di sampingnya. Kini Aldo memandangi Alisya dengan tajam tanpa berkedip. berharap Alisya segera meceritakan masalahnya.
Alisya yang sedari tadi memandangi air danau yang begitu tenang kini menoleh ke arah Aldo yang sedang menatapnya dengan tajam.
Alisya memperhatikan Alis Aldo yang tebal, bak ulat bulu yang hinggap diatas mata laki-laki dihadapannya itu. Alisya benar-bernar tak berani menatap langsung ke mata Aldo yang bisa membuat Jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton.
Alisya menelan ludah, kemudian mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengucapkan kata-kata yang sedari tadi sudah tersusun dalam pikirannya namun belum bisa ia keluarkan.
" Aku dijodohkan dengan anak sahabat papaku Al.." kata-kata itu akhirnya telontar dengan lirih, entah Aldo bisa mendengarnya atau tidak..?
" Uhuk uhuk... Uhuk uhuk.."
Aldo tiba-tiba tersedak oleh cairan yang baru saja ia minum dari gelas yang ia pegang. matanya terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"kau kenapa Aldo..?" tanya Alisya sambil menepuk-nepuk bahu Aldo.
Aldo memegangi dadanya yang dirasa sangat sakit karna tersedak, ditambah dengan ucapan dari Alisya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
" minumlah pelan-pelan saja " tambah Alisya yang saat ini berganti mengelus dengan lembut bahu Aldo.
" Aku sudah tidak apa-apa alisya, tenang saja. tadi aku cuma kaget saja dengan ucapanmu."
"laki-laki mana yang akan dijodohkan padamu Alisya..? Paman Antoni kenapa tiba-tiba ingin menjodohkanmu..? itu sungguh mengejutkan."
"Kamu kenal paman Doni rekan kerja papa kan Al..? Anaknya yang bernama Bastian akan dijodohkan denhanku. Papa sebenarnya juga tak ingin menjodohkan anak-anaknya, tapi paman doni yang begitu memaksa ingin menjodohkan Anak laki-lakinya denganku. karna tak enak hati papa menerima tawaran itu dengan syarat aku mau dijodohkan."
Alisya menjelaskan dengan nada yang begitu berat. sangat terlihat ada beban tersendiri di hatinya.
" Papa menyuruhku untuk berkenalan dulu dengan bastian, cobalah untuk mengenal sosok laki-laki itu dengan lebih baik. jika aku menyukainya maka papa akan menyetujui penjodohan ini."
"Tadi aku baru saja bertemu dengan Bastian" imbuh Alisya dengan suara datar.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus kamu..? di luar sana kan masih banyak wanita lain. " Aldo meningikan suaranya seolah tak terima dengan keputusan itu.
" kenapa kamu jadi seperti memarahiku Al, Aku kan disini jadi korban. harusnya kamu bersimpati padaku." Alisya mulai terlihat semakin murung.
" Eeh maaf-maaf Alisya, Aku tidak sengaja. ini minumlah biar hatimu sedikit tenang." Aldo menyodorkan gelasnya pada Alisya.
"Hah... inikan bekasmu, aku tidak mau."
Sepertinya Alisya tidak suka kepadaku, Aldo megumam dalam hatinya. jika kuutarakan perasaanku padanya barangkali Alisya Akan menolakku, bisa-bisa nanti Alisya malah jadi benci kepadaku dan tidak mau lagi berteman denganku.
Kata-kata itu yang selalu menghantui Aldo ketika ingin mengutarakan perasaanya pada Alisya. Aldo benar-benar takut jika Alisya menolak dan berbalik menjauhinya.
Tidak begitu dengan Alisya yang selalu dibuat bingung dengan tingkah Aldo yang terkadang begitu manis dan perhatian padanya. namun terkadang begitu jahil dan kadang keterlalian dalam mengerjainya. Alisya selalu dibuat bertanya-tanya dengan sikap Aldo kepadanya. Sebagai seorang wanita ia hanya bisa menunggu dan berharap Aldo, laki-laki yang mampu meluruhkan hatinya mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
Alisya tak mau berharap begitu banyak, ia takut hatinya akan terluka jika terlalu mengharapkan sesuatu yang belum pasti.
Sebenarnya Alisya menolak untuk minum dari bekas Aldo karna ia berpikir itu sama saja seperti berciuman secara tidak langsung dengan Aldo. membayangkannya saja membuat hatinya jadi meletup-letup tak karuan. Terkadang Alisya memang pernah membayangkan dicium Aldo dengan begitu lembut dibibirnya. imajinasi konyol yang membuat Alisya mengernyit setelahnya." Entah apa yang merasukiku" begitu gumamnya jika adegan itu mulai merputar seperti sebuah film dipikirannya.
" Apakah laki-laki itu lebih tampan dariku..? apakah kamu menyukainya Alisya..? bagaimana penampilannya..? apakah sepertinya dia orang yang baik..? " apakah kamu akan menerima perjodohan ini Alisya..?" pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Alisya.
"Ngomong apa sih kamu, tanya satu-satu kenapa..!! aku kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu."
"Seharusnya kamu tau dengan ekspresiku saat ini, apa jawabanku dari semua pertanyaanmu itu."
"Apa Alisya..? Aku bukan paranormal yang bisa membaca pikiran orang."
Alisya menghela nafasnya dengan panjang. kemudian ia mengambil ponselnya yang berada didalam tas. Alisya kemudian memutar sebuah vidio dan menyudorkan ponselnya pada Aldo.
"dasar laki-laki hidung belang, kau jangan mau dijodohkan dengan pria seperti ini Alisya. kau harus menolak dengan tegas perjodohan ini. Aku tidak terima wanita cantik dan baik sepertimu mendapatkan buaya seperti ini."
"Apa tadi kamu bilang..? Aku cantik..? " Alisya berbunga-bunga mendengar pengakuan Aldo.
" hah kau ini, dari sekian banyak kata-kataku kenapa malah membahas jal yang tidak penting seperti itu..?" Aldo menyangkal pernyataan dari hatinya yang keluar begitu saja.
Alisya manyun karna kecewa dengan balasan dari Aldo.
" Pokoknya kamu harus menolak perjodohan ini Alisya..!!" Aldo menekankan sekali lagi agar Alisya tak menyetujui perjodohan itu.
" Iya., iya.. " Alaisya menjawab dengan ketus.
" Tanpa kata-katamu tadi aku juga sudah tau kalau harus menolak perjodohan ini. memangnya aku bodoh mau menuerahkan hidupku pada laki-laki hidung belang."
" Jika aku mau menikah nanti, pastinya aku akan menikah dengan laki-laki pujaan hatiku. akan kupastikan itu terjadi."
"Siapa laki-laki itu Alisya..? Apakah kamu sudah menemukannya..?"
"Eeem.... mau tau aja, atau mau tau banget..?"
"Aku serius Alisya..!! ayo cepat katakan, aku yang akan menilainya untukmu, apakah laki-laki itu pantas untukmu."
__ADS_1
"hahahahaha.. Rahasia......!!!!! Suatu saat aku akan memberitahukannya padamu."
" *Siapa laki-laki itu..? apakah alisya sudah punya pacar..? kenapa aku tidak tau, aku harus mencari tau. "
" Aku berharap, laki-laki pujaan hatimu itu adalah aku alisya, apakah aku berharap terlalu berlebihan. aku harus mencari tau siapa pria beruntung itu alisya*." Kata-kata itu terus bergumul dihati Aldo.
" Sudahlah.. Ayo cepat habiskan baksomu..!! aku harus segera pulang. " alisya mengambil mangkok disamping Aldo kemudian meyodorkannya pada Aldo.
" Suapi..!! " kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Aldo.
" Hah kau ini menyusahkanku saja.."
Alisya menyendok penuh hingga menggunung bakso kerikil dimangkok yang masih ia pegang.
" Kalau kau mau aku suapi, Ayo cepat buka mulutmu..!"
Aldo membuka mulutnya lebar-lebar dan terlihat begitu kepayahan mengunyah isi penuh dalam mulutnya.
Alisya menahan tawa yang tak bisa ia kendalikan. Alisya begitu terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Aldo yang terlihat begitu lucu.
" Ini makanlah sendiri. nanti bisa-bisa aku mati kaku karna tertawa melihat wajahmu."
Aldo menerima mangkok dari tangan Alisya dengan kedua tangannya. tanpa sengaja Aldo menyentuh tangan Alisya yang masih memegangi mangkoknya. Aldo tidak begitu memperhatikan ketika mengambil mangkoknya karna merasa bahagia melihat Alisya yang kini bisa tertawa lepas kembali, tak menunjukan wajah murungnya lagi sedari awal perjuampaan mereka.
Alisya yang merasa canggung tangannya berpegangan dengan Aldo langsung menarik tangannya dengan kasar, sehingga sedikit kuah bakso tumpah karna tergoncang.
Aldo juga merasakan hal yang sama, hingga ia tidak memperdulikan kuah bakso yang membasahi celananya di bagian paha.
Alisya yang begitu gugup tanpa sadar langsung mengelap noda di celana Aldo dengan tangannya.
"Sory.. sory Al.. aku tak sengaja."
Alisya belum berhenti dengan aktivitasnya. ia tidak sadar dimana tangannya sekarang berada.
Aldo sendiri jadi panik harus bagaimana. lagi-lagi keberadaannya sebagai lelaki dewasa tak dapat dipungkiri.
Aldo semakin tak bisa mengontrol hal yang secara alami membuat hasratnya semakin meninggi.
Aldo sontak langsung berdiri dan mundur menjauh dari Alisya. kemudian ia mengelap sendiri celananya yang kotor dan basah.
"Aku tidak apa-apa Alisya"
"tapi Al, kamu kan harus kembali lagi ke kantor."
"Sudahlah, tidak apa-apa. lagi pula aku sudah mengirim pesan pada asistanku bahwa aku ada keperluan mendadak dan tidak akan kembali ke kantor tadi begitu kamu mengatakan ingin curhat."
"Ohh syukurlah kalau begitu, trimakasih juga sudah mau mendengarkan keluh kesahku."
" kau mau pulang sekarang alisya..? aku akan mengantarmu."
__ADS_1
"tidak usah aldo, aku bisa pulang sendiri. lagi pula aku juga bawa mobil kok, kamu tidak perlu repot-repot"
"baiklah kalau begitu, lagipula nanti aku bisa dikira ngompol dengan kondisi seperti ini." ucap aldo dengan senyuman garingnya.